Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tesis ini membahas kajian Penerapan Sistem Remunerasi Dan Kinerja Pelayanan bedah Jantung Dewasa Di Rumah Sakit Jantung Dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK). Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan melakukan kajian deskriftif data sekunder dan data primer dengan kuesioner self assessment dari responden terpilih, dilanjutkan Focus Group Disscusion dari informan terpilih.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar SMF dan perawat tidak puas dengan beberapa hal dalam penerapan sistem remunerasi. Namun ternyata ketidakpuasan tersebut terjadi karena kekurangpahaman terhadap isi dari Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 165 Tahun 2008. Pada penelitian ini juga terlihat kinerja pelayanan bedah jantung dewasa tetap mengalami kenaikan setiap tahunnya sebelum dan sesudah penerapan sistem remunerasi.
The result of the research showed that almost of functional medical staff dan nurse unsatisfied with several things in implementation of Remuneration system. However the unsatisfied due to not well informed with the content of Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 165/2008. But performance of adult cardiac surgery services increased for every year, before and after implementation of Remuneration System.
The researcher suggest that Ministry of Health facilitates RSJPD Harapan Kita to have remuneration system formulation that more appropriate with the present condition. RSJPD Harapan Kita make remuneration system that appropriate with regulation and the present condition that continued with a good socialization and evaluated regularly.
ABSTRAK Nama : Bambang Heriyanto PrgramStudi : Epidemiologi Judul : Hubungan Kepemilikan Jaminan Kesehatan dengan Pemilihan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Pembimbing : Prof. Dr. dr. Sudarto Ronoatmodjo, SKM, M.Sc Di Provinsi Jambi, kabupaten dengan cakupan persalinan terendah di fasilitas kesehatan yaitu kabupaten Tanjung Jabung Timur sebesar 32,42% pada tahun 2016.Secara nasional, sebanyak 50,5% penduduk Indonesia belum memiliki jaminan kesehatan. Di Provinsi Jambi, sebanyak 61,9% penduduk belum memiliki jaminan kesehatan. (Riskesdas, 2013). Tujuan penelitian adalah diketahuinya hubungan antara kepemilikan jaminan kesehatan terhadap pemilihan persalinan di Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2018 dan menilai hubungan antara kepemilikan jaminan terhadap pemilihan persalinan di Fasilitas Kesehatan setelah dikontrol dengan variabel-variabel lain seperti: usia, pendidikan, pekerjaan dan keterjangkuan fasilitas kesehatan.Penelitian ini menggunakan desain mixed method, yang mengkombinasikan antara pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan data sekunder yaitu data dari hasil pendataan keluarga sehat Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) yang telah dilaksanakan di kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2017. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang menjadi target pendataan di wilayah kerja kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2017. Sampel adalah ibu rumah tangga yang memiliki anggota keluarga berumur < 12 bulan, yaitu sebanyak 484 responden. Uji statistik pada analisis bivariat menggunakan chisquare test dan multivariat menggunakan cox regresi. Hasil analisis menunjukkan prevalensi ibu bersalin melakukan persalinan di fasilitas kesehatan sebesar 64,3%, ibu bersalin yang memiliki jaminan kesehatan 49%, serta terdapat hubungan antara kepemilikan jaminan kesehatan dengan pemilihan persalinan di fasilitas kesehatan, Ibu bersalin yang memiliki jaminan kesehatan mempunyai peluang 1,9 kali melakukan pemilihan persalinan di fasilitas kesehatan dibandingkan dengan ibu bersalin yang tidak memiliki jaminan kesehatan setelah dikontrol dengan variabel-variabel usia, pendidikan, pekerjaan dan keterjangkuan fasilitas kesehatan (PR : 1,934 95%CI : 1,146 – 3,263). Alasan ibu bersalin memilih persalinan difasilitas kesehatan karena memiliki jaminan kesehatan dan keterjangkauan fasilitas kesehatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2018. Disarankan perlu peningkatan dalam hal penyebarluasan informasi mengenai keikutsertaan jaminan kesehatan (BPJS) terutama dalam hal prosedur pendaftaran dan infromasi yang lain, peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan Rumah Tunggu Kelahiran untuk mengatasi masalah akses persalinan di fasilitas kesehatan. Kata kunci : Persalinan di fasilitaskesehatan, jaminankesehatan, mixed method
ABSTRACT Name : BambangHeriyanto Prgram Study : Epidemiology Title : Relationship of Ownership of Health Insurance with Elections Delivery at Health Facilities Counselor : Prof. Dr. dr. Sudarto Ronoatmodjo, SKM, M.Sc In Jambi Province, the district with the lowest coverage in health facilities is East TanjungJabung Regency at 32.42% in 2016. Nationally, 50.5% of Indonesians do not have health insurance. In Jambi Province, 61.9% of the population does not have health insurance. (Riskesdas, 2013). The objective of the study is to know the relationship between health insurance ownership to the election of delivery at Health Facility in East TanjungJabung Regency in 2018 and to assess the relationship between the ownership of the guarantee on the selection of delivery at the Health Facility after being controlled with other variables such as age, education, employment and health facility. This research uses mixed method design, which combines quantitative approach and qualitative approach. By using secondary data that is data from the result of healthy family data collection of Healthy Indonesia Program with Family Approach (PIS-PK) which has been implemented in East TanjungJabung Regency Year 2017. Target population in this research is all family which become target of data at work area of Regency TanjungJabungTimur Year 2017. Samples are housewives who have family members <12 months old, that is as many as 484 respondents. Statistical test on bivariate analysis using chi square test and multivariate using cox regression.The results of the analysis show that the prevalence of maternity delivery in health facilities is 64.3%, maternity mothers with 49% health insurance, and there is a relationship between the ownership of health insurance with the selection of delivery in health facilities, 9 times the selection of deliveries in health facilities compared with mothers who do not have health insurance after being controlled with age, education, employment and health facilities (PR: 1,934 95% CI: 1,146 - 3,263). The reasons for maternity mothers choose delivery in health facilities because they have health insurance and affordability of health facilities in the district of TanjungJabungTimur 2018. It is suggested to increase the dissemination of information regarding the participation of health insurance (BPJS) especially in the procedures of registration and other information, the improvement of community empowerment through the provision of Birth Ward to address the issue of access to delivery at a health facility. eywords : Delivery in health facilities, health insurance, mixed method
Latar Belakang: Hipertensi merupakan tantangan kesehatan global yang sering dikaitkan dengan rendahnya kepatuhan pasien dalam terapi, dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya. Budaya Minangkabau dengan sistem kekerabatan matrilineal berpotensi mendukung pengelolaan hipertensi melalui peran Bundo Kanduang, mamak, dan sistem Saiyo Sakato. Namun, belum ada model intervensi berbasis budaya yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efek model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pengendalian hipertensi dengan melibatkan keluarga dan kader kesehatan.
Tujuan penelitian untuk mengembangkan dan menguji efek model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dari kekerabatan matrilineal dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pengendalian hipertensi, dengan melibatkan peran aktif keluarga dan kader kesehatan di komunitas Minangkabau.
Metode penelitian ini menggunakan metode Mixed Method Exploratory Sekuensial dalam tiga tahap: kualitatif, pengembangan model, dan uji model. Penelitian kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan FGD pasien hipertensi, keluarga, tokoh adat, dan tenaga kesehatan untuk mengeksplorasi nilai budaya Minangkabau dalam pengelolaan hipertensi. Hasilnya digunakan untuk mengembangkan model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dalam bentuk modul intervensi. Model ini diuji dengan kuasi-eksperimen menggunakan desain pre-test dan post-test pada kelompok intervensi (n=53) dan kontrol (n=106). Analisis data dilakukan dengan General Linear Model Repeated Measures dan Difference in Difference (DiD) Analysis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model dukungan sosial "Saiyo Sakato" secara signifikan meningkatkan pengetahuan (p=0,000<0,05), sikap (p=0,005<0,05), dan perilaku pengendalian hipertensi (p=0,000<0,05) pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Model dukungan sosial “Saiyo Sakato” terbukti memliki efek dalam meningkatkan pengetahuan dengan peningkatan skor pengetahuan 8.15, peningkatan skor sikap 3.66 dan peningkatan skor perilaku pengendalian hipertensi 11.09 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Kesimpulan Model "Saiyo Sakato" efektif dalam meningkatkan pengelolaan hipertensi berbasis komunitas. Implementasinya direkomendasikan untuk program kesehatan di wilayah dengan budaya serupa.
Background: Hypertension is a global health challenge often associated with poor patient adherence to therapy, influenced by social and cultural factors. The Minangkabau culture, with its matrilineal kinship system, has the potential to support hypertension management through the roles of Bundo Kanduang, mamak, and the Saiyo Sakato system. However, no structured culturally based intervention model currently exists. This study aims to develop and evaluate the effectiveness of the Saiyo Sakato social support model in improving knowledge, attitudes, and behaviors related to hypertension management by involving families and community health cadres.
Methods: This study employed a Mixed Method Exploratory approach in three stages: qualitative research, model development, and model testing. The qualitative phase involved interviews and Focus Group Discussions (FGDs) with patients, families, cultural figures, and healthcare workers to explore Minangkabau cultural values in hypertension management. The findings were used to develop the Saiyo Sakato social support model in the form of an intervention module. The model was tested using a quasi-experimental design with pre-test and post-test assessments in an intervention group (n=53) and a control group (n=106). Data analysis was conducted using the General Linear Model Repeated Measures and Difference in Difference (DiD) Analysis.
Results: The Saiyo Sakato model significantly improved knowledge (p=0.000<0.05), attitudes (p=0.005<0.05), and hypertension management behaviors (p=0.000<0.05) in the intervention group compared to the control group. The active roles of Bundo Kanduang and health cadres in supporting hypertension patients contributed significantly to the intervention's success. Additionally, family social support encouraged adherence to therapy and lifestyle modifications. The integration of Minangkabau cultural values into health education enhanced patient and family engagement in hypertension management programs.
Conclusion: The culturally based Saiyo Sakato model is effective in improving community-based hypertension management. Its implementation is recommended for integration into community health programs, particularly in regions with similar social and cultural structures.
