Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indriyani; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Pudjo Hartono
S-6700
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shilla Ananda; Pemimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak: Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak dikatakan mengalami stunting jika tinggi badan terhadap usia mereka <-2 standar deviasi (SD) (WHO, 2015). Pada tahun 2022, angka stunting di Indonesia adalah 24,2%. Selain itu, angka prevalensi stunting di Provinsi Maluku pada tahun 2022, masuk ke peringkat ke-13 nasional yaitu 26,1% (SSGI, 2022). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan stunting pada anak usia 6-23 bulan di Provinsi Maluku berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional serta memanfaatkan data sekunder SSGI tahun 2022 dengan jumlah sampel sebesar 1954 baduta. Data dianalisa dengan uji chi square dan regresi logistic ganda. Hasil dari analisa bivariate penelitian ini, menunjukan bahwa variabel yang memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting diantaranya yaitu: jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, dan tingkat pendidikan ibu. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta (usia 6-23 bulan) di provinsi Maluku tahun 2022 yaitu tingkat pendidikan ibu nilai OR sebesar 2.645. Saran untuk faktor dominan. Saran dari penelitian ini, diharapkan program pendidikan minimal hingga lulus SMA lebih digencarkan, serta memaksimalkan program 1000 HPK untuk mencegah terjadinya BBLR dan PBLR, dalam rangka mengurangi kasus stunting di Provinsi Maluku.
Stunting is a growth and development disorder experienced by children due to malnutrition, repeated infections, and inadequate psychosocial stimulation. A child is considered to be stunted if their height for age is <-2 standard deviations (SD) (WHO, 2015). In 2022, the stunting rate in Indonesia was 24.2%. Additionally, the prevalence of stunting in Maluku Province in 2022 is 26,1% which ranked 13th nationally (SSGI, 2022). The aim of this study is to identify the dominant factors of stunting in children aged 6-23 months in Maluku Province based on data from the Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) 2022. This quantitative research uses a cross-sectional design and utilizes secondary data from SSGI 2022 with a sample size of 1954 toddlers. Data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. The results of the bivariate analysis indicate that the variables significantly associated with the occurrence of stunting include: gender, birth weight, birth length, and maternal education level. The dominant factor associated with the occurrence of stunting in toddlers (aged 6-23 months) in Maluku Province in 2022 is the level of maternal education, with an odds ratio (OR) of 2.645. Based on the result, the research suggests to intensifying educational programs until high school graduation and optimizing the 1000 Days Program to prevent Low Birth Weight (LBW) and Short Birth Length (SBL), thereby reducing stunting cases in Maluku Province..
Read More
S-11832
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nazlia Anjani; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Farida Ariyyani
Abstrak:
Wasting merupakan bentuk kekurangan gizi yang merepresentasikan berat badan balita kurus berdasarkan tinggi badan. Pada tahun 2022 berdasarkan data dari SSGI prevalensi wasting di DKI Jakarta lebih tinggi (8%) dibanding prevalensi nasional (7.7%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 0-23 bulan di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari SSGI 2022 dengan desain studi cross sectional dan metode stratified two stage sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 1192. Analisis data yang digunakan adalah chi-square, regresi logistik sederhana, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian didapatkan 8.47% balita mengalami wasting. Analisis bivariat menggunakan CI 95% didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia balita dengan kejadian wasting pada balita usia 0-23 bulan di DKI Jakarta (p value 0.043) tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan jenis kelamin, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, diare, ISPA, cacingan, TB paru, ASI eksklusif, status imunisasi, kunjungan ANC, MDD, IMD, kepemilikan KIA, pemberian vitamin A, PMT, BBLR, ketahanan pangan, sumber air minum, dan ketersediaan jamban. Analisis multivariat diperoleh tingkat pendidikan ibu merupakan faktor protektif dengan kejadian wasting (OR=0.467). Hasil uji interaksi diperoleh terdapat interaksi antara pendidikan ibu dengan infeksi ISPA (pvalue 0.030) dan TB paru (p value 0.021).

Wasting is a form of malnutrition that represents the weight of thin children based on height. In 2022, based on data from SSGI, the prevalence of wasting in DKI Jakarta was higher (8%) compared to the national prevalence (7.7%). The purpose of this study is to determine the factors associated with wasting in children aged 0-23 months in DKI Jakarta. This study used secondary data from SSGI 2022 with a cross-sectional study design and stratified two-stage sampling method. The sample size used was 1192. Data analysis used chi-square, simple logistic regression, and multiple logistic regression. The research found that 8.47% of children experienced wasting. Bivariate analysis using 95% CI found a significant correlation between the age of children with wasting among children in 0-23 months of age in DKI Jakarta (p-value 0.043), but there was no significant correlation with gender, mother’s education level, maternal occupation status, diarrhea, ARI, helminthiasis, pulmonary TB, exclusive breastfeeding, immunization status, ANC visits, MDD, IMD, ownership of KIA, vitamin A supplementation, PMT, LBW, food security, source of drinking water, and availability of toilets. Multivariate analysis found that maternal education level was a protective factor against wasting (OR=0.467). Interaction analysis found interactions between maternal education level and ARI infection (p-value 0.030) and pulmonary TB (p-value 0.021).
Read More
S-11727
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Asih Anggraeni; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Nurfi Afriansyah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada siswa di SMP Negeri 98 Jakarta. Penelitian dilakukan dengan desain studi cross sectional menggunakan data primer yang melibatkan 208 responden kelas VII dan VIII SMP Negeri 98 Jakarta. Waktu penelitian dimulai pada bulan April sampai dengan Mei 2017. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, pengetahuan, preferensi, self-efficacy, aktivitas fisik, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya, ketersediaan buah dan sayur di rumah, serta keterpaparan media massa. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan, preferensi, self-efficacy, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya, ketersediaan buah dan sayur, keterpaparan media massa dan kuesioner PAQ-C (Physical Activity Questionnaire for Older Children) yang diisi sendiri oleh responden, serta 2 kali wawancara food recall 24-hour. Analisis statistik dilakukan dengan uji korelasi dan regresi, t- independen, serta regresi linier ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi buah dan sayur siswa SMP Negeri 98 Jakarta tahun 2017 adalah 85.13±26.58 gram/hari. Sementara itu, menurut WHO, rekomendasi konsumsi buah dan sayur adalah 400 gram/hari. Analisis multivariat menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur, setelah dikontrol oleh variabel self-efficacy, aktivitas fisik, pengaruh orang tua, keterpaparan media massa, dan ketersediaan buah dan sayur. Oleh karena itu, dilakukan pendidikan gizi melalui sekolah agar terjadi peningkatan konsumsi buah dan sayur pada siswa. Kata Kunci: Konsumsi buah dan sayur, siswa SMP, dan pendidikan ibu.
Read More
S-9369
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive