Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Qomariyatus Sholihah, Ratna Setyaningrum, M. Trisetya Hadi Saputra
JPKMI Vol.1, No.1
Banjarbaru : FK Universitas Lambung Mangkurat - IAKMI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evelina Hotma Baringin Tiurma Panggabean; Pembimbing : Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra; Mila Tejamaya, Masjuli, Elsye as Safira
Abstrak: Gangguan fungsi pendengaran pada pekerja industri merupakan penyakit akibat kerja yang sampai saat ini masih ada dijumpai. Gangguan fungsi pendengaran ini disebabkan oleh pajanan bising. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pajanan bising yang diterima dan fungsi pendengaran pada pekerja di PT.X. Jenis penelitian adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional yaitu meneliti sekaligus variable independen, variable dependen dan variabel perancunya usia, masa kerja, merokok, penyakit HT, penyakit DM, Kebiasaan mendengar bising, pajanan vibrasi dalam waktu bersamaan. Analisis data adalah tabel dengan menggunakan analisis data univariat, bivariat dan multivariat. Didapatkan gambaran pajanan bising yang diterima pekerja > 85 dBA sebanyak 28 orang dan 11 diantaranya menderita gangguan fungsi pendengaran dan variable pajanan bising efektif, umur dan vibrasi memberi pengaruh terjadinya gangguan fungsi pendengaran pada pekerja di PT.X. Kata kunci : Pajanan bising, Gangguan fungsi pendengaran.
Read More
T-4824
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jhonwart Charmindo Agustin Siregar; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Febrina Dhayani Putri, Betty Nila Purnamasari
S-8124
Depok : FKMUI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Nuraini; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Hifni Baihaqi
Abstrak: Kebisingan merupakan suatu bahaya fisik yang masih menjadi masalah di dunia industri. Pajanan bising intensitas tinggi dapat mempengaruhi fungsi pendengaran dan non pendengaran pekerja. PT. X merupakan suatu industri semen yang memiliki bahaya bising di area produksi, khususnya area raw mill, pembakaran, dan finish mill. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran pajanan bising, serta melihat gambaran fungsi pendengaran dan keluhan subjektif non pendengaran yang dirasakan oleh pekerja. Penelitian dilakukan dengan metode cross sectional, dengan subjek penelitian adalah seluruh pekerja patrol untuk area raw mill, pembakaran, dan finish mill sebanyak 20 orang.
 
Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebisingan area produksi (raw mill, pembakaran, dan finish mill) secara keseluruhan berkisar antara 75,4-108,2 dBA, pajanan bising yang diterima pekerja berkisar antara 81,5 ? 92,8 dBA. Terdapat 2 orang (10%) pekerja mengalami tuli ringan berdasarkan Permenakertrans No. 25 Tahun 2008 dari hasil rata-rata frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000 Hz, dan terdapat 2 orang (10%) mengalami NIHL berdasarkan frekuensi 4000 Hz. Faktor yang berkontribusi pada kejadian gangguan pendengaran pada pekerja antara lain, usia, masa kerja, penggunaan alat pelindung telinga yang tidak disiplin dan penggunaannya tidak tepat, riwayat pekerjaan dan perilaku merokok. Keluhan subjektif non pendengaran terkait bising yang paling banyak dirasakan oleh pekerja yaitu, perasaan tidak nyaman (85%).
 

Noise is a physical hazard which still a problem in the industrialized world. Exposure to high intensity of noise can affect hearing function and non-hearing function. PT. X is a cement industry possessing the noise hazard in the production area, especially at raw mill, kiln and finish mill area. The purpose of this study is to provide an overview of the noise exposure, as well as the auditory function and subjective complaints of non auditory perceived by workers. This study was conducted by cross sectional method, and the subjects of this study were all patroler workers for raw mill, kiln and mill finish area, which all 20 subjects participated in the study.
 
The results showed that overall noise level at production area (raw mill, kiln and mill finish) ranged from 75.4 to 108.2 dBA, noise exposure to workers ranged from 81,5 ? 92,8 dBA. There are 2 workers (10%) suffering mild deafness from the calculation of the average frequency of 500, 1000, 2000 and 4000 Hz based on Permenakertrans No. 25 Tahun 2008, and there are two workers (10%) suffering NIHL based on frequency of 4000 Hz. Factors contributing to the incidence of hearing loss in workers are age, working period, undisciplined and improper use of ear protection, work history and smoking behavior. The majority subjective complaints of non auditory related noise perceived by workers is annoyance (85%).
Read More
S-9111
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harun Alrasyid; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Hanafi Basumi
Abstrak:
Noise Induced Hearing Loss (NIHL) atau gangguan pendengaran akibat bising merupakan penyakit akibat kerja yang paling umum diderita di dunia. Sekitar 16 % dari total gangguan pendengaran pada orang dewasa di dunia dikaitkan dengan kebisingan akibat pekerjaan. Diperkirakan 1,3 miliar orang menderita gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan. PT. XYZ merupakan perusahan manufaktur industri pulp and paper yang memiliki pajanan kebisingan tinggi khususnya pada SEG Operator unit recovery boiler dan SEG power boiler. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian pajanan kebisingan dengan menggunakan pendekatan Bayesian Decision Analysis (BDA) dengan menentukan distribusi prior, distribusi likelihood dan distribusi posterior pada SEG recovery boiler dan SEG power boiler. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan pada bulan April - Mei 2023. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pengukuran dosis kebisingan personal, dan expert judgment. Data dianalisis dengan menggunakan software IHData Analyst-AIHA dan EXPOSTATS. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat variasi yang moderate apda kedua SEG. Distribusi probabilitas prior pajanan kebisingan pada SEG recovery boiler memiliki certainty level 1 pada kategori 4 (poor control) sedangkan pada SEG power boiler memiliki certainty level 0,995 pada kategori 4 (poor control) dan certainty level 0,005 pada kategori 3 (controlled). Distribusi probabilitas likelihood pada kedua SEG recovery boiler dan power boiler memiliki certainty level 1 pada kategori 4. Sehingga distribusi probabilitas posterior kedua SEG recovery boiler dan power boiler adalah masing-maisng pada kategori 4 (poor control) dengan certainty level 1. Hal ini menunjukan bahwa pajanan kebisingan pada kedua SEG tidak dapat diterima (unacceptable). Peneliti menyarankan untuk melakukan pengendalian segera dengan menerapkan Hearing Consevation Program secara komprehensif dan berkelanjutan, melakukan refining SEG dengan uji variasi individual compliance test dan menggunakan metode BDA dalam melakukan penilaian pajanan kerja. 

Noise Induced Hearing Loss (NIHL) is the most common occupational disease worldwide. Approximately 16% of total adult hearing impairments in the world are associated with occupational noise. It is estimated that 1.3 billion people suffer from hearing impairments caused by noise exposure. PT. XYZ is a manufacturing company in the pulp and paper industry which has high noise exposure, especially for the SEG Operator in the recovery boiler unit and the SEG power boiler unit. This study aims to assess noise exposure using Bayesian Decision Analysis (BDA) approach by determining the prior distribution, likelihood distribution, and posterior distribution in the SEG recovery boiler and SEG power boiler. This research is a descriptive analytical study with a quantitative approach conducted from April to May 2023. Data collection was carried out through observation, personal noise dose measurements, and expert judgment. The data were analyzed using the IHData Analyst-AIHA and EXPOSTATS software. The results show that there are moderate variations in the two SEGs. The prior probability distribution of noise exposure in the SEG recovery boiler has a certainty level 1 in category 4 (poor control) while in the SEG power boiler it has a certainty level of 0.995 in category 4 (poor control) and a certainty level of 0.005 in category 3 (controlled). The likelihood probability distribution for both SEG recovery boilers and power boilers has certainty level 1 in category 4. So that the posterior probability distribution for both SEG recovery boilers and power boilers is respectively in category 4 (poor control) with certainty level 1. This shows that noise exposure in both SEGs is unacceptable. Researchers suggest carrying out immediate control by implementing a comprehensive and sustainable Hearing Conservation Program, refining SEGs with individual compliance test variations and using the BDA method of conducting occupational exposure assessments.
Read More
T-6677
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisyah Syafei; Pembimbing: Hendra, Robiana Modjo; Penguji: Heny D. Mayawati, Farida Tusafariah
T-3418
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Hanifa; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Fatma Lestari, Khaerani Suci Lestari
Abstrak:

Kebisingan merupakan salah satu bahaya fisik di tempat kerja yang berpotensi
menimbulkan gangguan auditori ataupun nonauditori. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis hubungan antara pajanan kebisingan, karakteristik pekerja (usia, lama kerja,
status merokok, status penggunaan alat pelindung telinga, dan kebiasaan penggunaan
perangkat audio), dan gangguan auditori – nonaudtiroi di pabrik X tahun 2025. Penelitian
ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data
dikumpulkan melalui kuesioner dan data sekunder dari perusahaan. Data diolah
menggunakan uji chi-square dengan software SPSS 22.0 untuk melihat adanya hubungan
signifikan secara statistik antara variabel independen dan variabel dependen. Hasil
penelitian mendapatkan prevalensi gangguan auditori sebesar 6%; gangguan komunikasi
68%; gangguan psikologis 59%; dan gangguan fisiologis 24%. Tidak ada variabel
independen yang berhubungan dengan gangguan auditori. Hubungan signifikan secara
statistik hanya ditemukan antara variabel intensitas kebisingan dengan gangguan
komunikasi (p= <0,001); gangguan psikologis (p=0,004); dan gangguan fisiologis (p=
<0,001) serta variabel durasi pajanan (p=0,036); usia (p=0,019); dan lama kerja (p=0,035)
dengan gangguan fisiologis. Temuan ini menegaskan pentingnya pengendalian
kebisingan dan peningkatan kepatuhan terhadap penggunaan alat pelindung telinga di
area kerja. Perusahaan juga disarankan untuk memperkuat program konservasi
pendengaran serta meningkatkan edukasi tentang bahaya kebisingan guna melindungi
kesehatan pendengaran pekerjanya.

Occupational noise is a common physical hazard that may lead to both auditory and non auditory health effects. This study aimed to examine the relationship between noise  exposure, worker characteristics (age, length of service, smoking status, use of hearing  protection devices, and audio device usage), and the occurrence of auditory and non auditory disorders among workers at Factory X in 2025. A quantitative cross-sectional  design was employed. Data were collected through structured questionnaires and  company records. Statistical analysis was conducted using chi-square tests via SPSS  version 22.0 to assess associations between independent and dependent variables. The  findings revealed a prevalence of 6% for auditory disorders, 68% for communication  disorders, 59% for psychological disorders, and 24% for physiological disorders. No  independent variables were significantly associated with auditory disorders. However,  significant relationships were found between noise intensity and communication  (p<0.001), psychological (p=0.004), and physiological disorders (p<0.001). Additionally,  exposure duration (p=0.036), age (p=0.019), and length of service (p=0.035) were  significantly associated with physiological disorders. These findings underscore the  importance of effective noise control and improving worker compliance in using hearing  protection. The company is encouraged to enhance its hearing conservation program and  noise hazard education efforts to protect worker’s auditory health.

 

Read More
S-12017
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Agustin: Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Hendra, Laksita Ri Hastiti, Wendri Wildiartoni, Ajeng Pramayu
Abstrak:
Kehilangan pendengaran adalah penyebab kecacatan tertinggi keempat didunia. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa 16% dari gangguan pendengaran yang dialami oleh orang dewasa diakibatkan dari pajanan kebisingan di tempat kerja. Tujuan utama dari penelitian ini untuk mengetahui prevalensi penurunan pendengaran, gambaran dan hubungan faktor-faktor risiko yang terkait dengan penurunan pendengaran pada pekerja factory dan warehouse PT XYZ. Penelitian ini mengadopsi desain cross-sectional dengan total populasi 421 karyawan, yang dikumpulkan melalui kuesioner, observasi dan tes audiometri. Hasil penelitian didapat prevalensi kejadian penurunan pendengaran pekerja di PT XYZ di area factory dan warehouse adalah 29 pekerja (6,9 %) dari total 421 responden. Gambaran faktor pekerjaan yaitu 25,4% responden dengan waktu kerja > 8 jam, 62% responden memiliki masa kerja ≥ 10 tahun, 47.0 % responden terpajan kebisingan melebihi dosis pajanan NAB >100%, 17,3% responden terpajan bising > 8 jam di PT XYZ. Gambaran faktor individu yaitu 39.7% responden usia ≥ 40 tahun, 64,4 % responden merokok, 25,4% responden terdiagnosa hipertensi, 5,5% responden memiliki diabetes, 76,2% responden hiperkolesterol, 1,9% responden termasuk dalam kategori penggunaan earphone kurang baik, 38,5% responden masuk dalam kategori kepatuhan penggunaan APT kurang baik. Kesimpulan bahwa usia, masa kerja, dan kepatuhan terhadap Alat Pelindung Telinga berkontribusi signifikan terhadap penurunan pendengaran pada tenaga kerja PT XYZ. Rekomendasi tes audiologi rutin, rotasi pekerjaan dari area bising tinggi, tindakan pengendalian kebisingan, program kesehatan yang menargetkan faktor gaya hidup seperti merokok dan kolesterol tinggi, dan peningkatan kepatuhan APT. Peneliti masa depan diharapkan untuk menyelidiki pajanan kebisingan sebelumnya, penggunaan obat ototoksik, dan tingkat kebisingan dan getaran tempat tinggal untuk lebih mengungkap faktor risiko NIHL.

Hearing loss is the fourth leading cause of disability worldwide. The World Health Organization reports that 16% of hearing loss in adults results from exposure to noise in the workplace. The main objective of this study was to determine the prevalence of hearing loss, description, and relationship of risk faktors associated with hearing loss among PT XYZ factory and warehouse workers. This study adopted a cross-sectional design with a population of 421 employees, who were collected through questionnaires, observation and audiometric tests. The results showed that the prevalence of hearing loss at PT XYZ in the factory and warehouse area was 29 workers (6.9%) out of a total of 421 respondents. An overview of work faktors, namely 25.4% of respondents with working time > 8 hours, 62% of respondents had a working period of ≥ 10 years, 47.0% of respondents exposed to noise exceeded the NAV exposure dose > 100%, 17.3% of respondents exposed to noise > 8 hours in PT XYZ. A description of other faktors, namely 39.7% of respondents aged ≥ 40 years, 64.4% of respondents smoked, 25.4% of respondents diagnosed with hypertension, 5.5% of respondents had diabetes, 76.2% of respondents had hypercholesterolemia, 1.9% of respondents included in the category of use of earphones is not good, 38.5% of respondents fall into the category of compliance with the use of APT is not good. The conclusion is that age, years of service, and compliance with ear protection devices contribute significantly to hearing loss among PT XYZ workers. Recommendations for routine audiology testing, job rotation from high noise areas, noise control measures, health programs targeting lifestyle faktors such as smoking and high cholesterol and increasing PPE compliance. Future researchers are expected to hide prior noise exposure, use of ototoxic drugs, and residential noise and vibration levels to better uncover risk faktors for NIHL.
Read More
T-6907
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive