Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nuril Rahmatika; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Rien Pramindari, Weni Muniarti
Abstrak: Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan remaja. Dari data tingkat pemenuhan SN-PKPR bulan Mei-Juni 2020, terdapat 34 Puskesmas yang melakukan evaluasi diri. Terdapat 5 Puskesmas yang telah mencapai tingkat pemenuhan SN-PKPR paripurna Tujuan penelitian ini ialah untuk melakukan analisis implementasi PKPR di Puskesmas Kota Depok dengan studi kasus pada Puskesmas Cinere (Tingkat pemenuhan SN-PKPR optimal) dan Puskesmas Cisalak Pasar (Tingkat pemenuhan SN-PKPR minimal). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Triangulasi yang dilakukan ialah trangulasi sumber, metode, dan data. Penyelenggaraan PKPR di Puskesmas Cinere didukung tim PKPR dimana Penanggung Jawab programnya telah mendapatkan pelatihan, jumlah Kader Kesehatan Remaja yang mencukupi, terdapatnya ruang untuk konsultasi, adanya pedoman, dan dana. Dari data kunjungan kasus Puskesmas Cisalak Pasar, kunjungan remaja cenderung menurun sejak tahun 2019. Terdapat penurunan pemanfaatan PKPR yang jelas terlihat pada bulan April 2020 (7 remaja) dibandingkan Maret 2020 (32 remaja). Permasalahan yang ditemukan terkait dengan belum rutinnya pelatihan PKPR, kurangnya koordinasi dengan remaja, tidak ada ruang untuk konsultasi dan penyimpanan rekam medik remaja, tidak ada penggunaan dana untuk PKPR, kegiatan PKPR sudah tidak rutin sejak 2019, kurang lengkapnya pengisian format pencatatan dan pelaporan, target PKPR belum ditentukan, dan kurangnya dukungan lintas sektor. Penurunan pemanfaatan PKPR dapat terkait dengan permasalahan pada masing-masing Puskesmas. Penanggung Jawab program PKPR berserta tim PKPR perlu mengambil langkah yang tepat untuk memperbaikinya. Diperlukan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga terkait untuk menyusun kebijakan perbaikan penyelenggaraan PKPR
Read More
T-6026
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisaatul Maharanita Fitrianingrum; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Hadi Pratomo, Evi Martha, Wara Pertiwi Osing, Rahmadewi
Abstrak:
Deklarasi SDGs 2030 menyebutkan remaja di beberapa instansi sebagai populasi rentan, terutama pada kondisi kesehatan dan perilaku berisiko. Dalam rangka melindungi sumber daya manusia potensial yang merupakan aset sekaligus investasi generasi mendatang, program kesehatan remaja perlu menjadi perhatian khusus. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengembangkan model pelayanan kesehatan remaja bernama Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), yang dilaksanakan di tingkat Puskesmas. Penelitian ini membahas analisis implementasi program kesehatan remaja pada tingkat Puskesmas di Jakarta Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan dari pelayanan kesehatan remaja menggunakan kerangka RE-AIM, disertai faktor-faktor pendukung dan penghambatnya, yang kemudian diklasifikasikan ke dalam analisis SWOT. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang melibatkan 5 informan koordinator PKPR, dengan validitas data menggunakan triangulasi wawancara 2 orang Kepala Puskesmas serta diskusi kelompok terfokus pada 2 kelompok remaja. Hasil penelitian ini memaparkan tentang capaian, efektivitas, adopsi, implementasi, dan pemeliharaan program kesehatan remaja yang ada di Puskesmas. Secara umum, Puskesmas telah melakukan pelayanan sesuai standar nasional PKPR dengan kelemahan berupa minimnya sumberdaya terlatih dan keterbatasan fasilitas pelayanan yang menjamin privasi remaja. Di samping itu, pelayanan mengalami perubahan karena adanya pandemi COVID-19 di Indonesia yang menjadi ancaman bagi Puskesmas dalam melaksanakan pelayanan PKPR. Sehingga, saran diberikan kepada Dinas Kesehatan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melakukan optimalisasi Sumber Daya Manusia dengan mengadakan pelatihan tentang PKPR secara rutin setiap tahun dengan sasaran SDM di Puskesmas Kecamatan dan Puskesmas Kelurahan. Kata kunci: PKPR, Puskesmas, COVID-19

The SDGs 2030 declared that adolescents in several institutions are vulnerable, particularly in health condition and risky behaviour. In order to protect potential human resources, who are assets as well as investments for future generations, youth health programs require special attention. The Ministry of Health, Republic Indonesia developed a youth health services model called Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), which is implemented at the Puskesmas (Public Health Centre) level. This thesis discussed the analysis of adolescents’ program implementation in Public Health Centre level in South Jakarta. The purpose of this study is to give a description of adolescents’ program services analysis using RE-AIM framework, along with supporting and inhibiting factors, which then classified into a SWOT analysis. This is a qualitative descriptive study using phenomenology approach which involved 5 key informants, with data validity using triangulation of interviews with 2 Heads of Puskesmas and focus group discussions with 2 mini groups of teenagers. The results of this study describe the reach, effectiveness, adoption, implementation, and maintenance of adolescent health programs in the Puskesmas. In general, the Puskesmas has provided services according to the PKPR national standard with weaknesses in the form of a lack of trained resources and limited service facilities that guarantee youth privacy. In addition, services have changed due to the COVID-19 pandemic in Indonesia, which has become a threat to Puskesmas in carrying out PKPR services. Therefore, the recommendation given to the Health Office to overcome these problems is to optimize training for health workforces on PKPR annually in regular way. Key words: PKPR, Puskesmas, COVID-19
Read More
T-6203
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risma Oktaria; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Susmita, Ida Kurniawati
Abstrak:
Setiap remaja berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi sesuai dengan tumbuh kembangnya melalui pelayanan klinis, konseling dan KIE pada pendidikan formal dan non formal. Berdasarkan penelitian awal melalui wawancara dengan siswa di salah satu sekolah di Kab. Ogan Ilir, diperoleh informasi bahwa siswa belum mendapatkan pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi di sekolah maupun dari orang tua, guru menuturkan bahwa siswa terkesan malu dan merasa tabuh ketika membahas masalah pernikahan dan kesehatan reproduksi, siswa menganggap materi yang disampaikan oleh guru kurang pantas untuk disampaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan analisis terhadap program pendidikan kesehatan reproduksi remaja tingkat SMA sederajat di Kab. Ogan Ilir pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengambilan data melalui wawancara mendalam pada 10 orang informan utama guru, tenaga kesehatan Puskesmas dan penyuluh KB dan 2 orang informan kunci dari Dinas Kesehatan dan Dinas P3AP2KB, Focus Group Discussion pada 4 kelompok siswa dengan total 40 orang siswa dari 4 sekolah dan telaah dokumen. Hasil penelitian ini yaitu semua sekolah telah menerapkan kebijakan pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui pendidikan kesehatan reproduksi remaja oleh guru di sekolah, program PKPR oleh tenaga Puskesmas dan Program PIK-R oleh penyuluh KB. SDM yang terlibat sebagian besar memiliki latar belakang yang sesuai dengan kesehatan reproduksi namun masih memerlukan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta telah memiliki panduan dalam pelaksanaan kegiatan namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa penyesuaian. Terdapat beberapa kendala yang menghambat proses pelaksanaan kegiatan diantaranya adalah ketersediaan anggaran, sarana dan alat pendukung yang belum memadai, serta tidak semua remaja dapat di jangkau dalam pelaksanaan kegiatan. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui pendidikan oleh guru di sekolah, program PKPR dan PIK-R sudah sesuai dengan kebutuhan dan sangat bermanfaat bagi remaja, namun masih perlu dioptimalkan lagi dalam hal pelaksanaannya.

Every teenager has the right to receive reproductive health services in accordance with their growth and development through clinical services, counseling and information in formal and non-formal education. Based on initial research through interviews with students at one of the schools in Ogan Ilir, information was obtained that students had not received good knowledge about reproductive health at school or their parents, the teacher said that students seemed embarrassed and felt timid when discussing marriage and reproductive health issues, students considered the material presented by the teacher to be inappropriate to convey. The aim of this research is to conduct an analysis of the adolescent reproductive health education program at high school and equivalent levels in Ogan Ilir in 2023. This research is qualitative research with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with 10 main informants, teachers, health workers at the Community Health Center and family planning instructors and 2 key informants from the Health Service and P3AP2KB Service, Focus Group Discussions on 4 groups of students with a total of 40 students from 4 schools and document review. The results of this research are that all schools have implemented adolescent reproductive health education policies through adolescent reproductive health education by school teachers, the PKPR program by Community Health Center staff and the PIK-R Program by family planning counselors. Most of the human resources involved have a background that is relevant to reproductive health but still require training to increase their knowledge and skills, and already have guidelines for implementing activities, but in implementation there are several adjustments. There are several obstacles that hamper the process of implementing activities, including inadequate budget availability, supporting facilities and equipment, and not all teenagers can be reached in implementing activities. Adolescent reproductive health education through education by teachers in schools, the PKPR and PIK-R programs are in accordance with needs and are very beneficial for adolescents, but still need to be optimized further in terms of implementation.
Read More
T-6928
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Verawati Pulungan; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Tris Eryando, C. Endah Wuryaningsih. Oki Permana, Nurlie Azwar
Abstrak: Tesis ini membahas tentang Pemenuhan Standar Nasional Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (SN PKPR) dengan menggunakan Instrumen Pemantauan Terbatas Standar Nasional Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (SN-PKPR) untuk menilai penyelenggaraan PKPR pada Puskesmas yang telah mampu laksana PKPR di kota Jambi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pemenuhan dari Standar Nasional PKPR dan aspek-aspek Standar Nasional PKPR di seluruh Puskesmas mampu laksana PKPR di Kota Jambi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross - sectinal Sampel pada penelitian sama dengan populasi yaitu seluruh puskesmas di kota Jambi yang berjumlah 20 puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian hasil perolehan pemenuhan SN-PKPR Pada Puskesmas Mampu Laksana PKPR di Kota Jambi sudah berjalan cukup baik, dengan Tingkat pemenuhan terbanyak adalah Optimal yaitu 65% dan 35% berada pada tingkat minimal dan belum ada Puskesmas di kota Jambi yang mencapai tingkat pemenuhan Paripurna. Untuk pemenuhan Standar Sumber daya manusia kesehatan pada Puskesmas Mampu laksana PKPR rata - rata adalah 66%. Diperlukan upaya koordinasi dan kerjasama antara lembaga terkait, Dinas kesehatan dan Puskesmas untuk meningkatkan dan perbaikan dari penyelenggaraan program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
Read More
T-6178
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Santi; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Ratna Kirana
S-6806
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melly Juwitasari; Pembimbing: Agustin Kusumayanti; Penguji: Mieke Savitri, Dian Ayubi, Ratna Kirana, Ratna Yunita
T-3429
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Varian Almerridho; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Bonnie Medana Pahlavie
Abstrak:

Latar Belakang. DKI Jakarta memiliki tingkat ketidakaktifan tertinggi di Indonesia (55,7%). Mahasiswa rentan terhadap gaya hidup sedentari karena tekanan akademik. Intensi aktivitas fisik dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, persepsi kontrol, dan dukungan sosial di media sosial.
Tujuan. Studi ini meneliti hubungan antara dukungan sosial di Instagram dan faktor TPB dengan intensi aktivitas fisik pada mahasiswa di DKI Jakarta.
Metode. Studi cross-sectional pada November 2024 melibatkan 376 responden untuk meneliti intensi aktivitas fisik, sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan dukungan sosial di Instagram menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square.
Hasil. Mayoritas responden memiliki intensi aktivitas fisik tinggi sikap positif, norma subjektif positif, persepsi kontrol perilaku tinggi, serta dukungan sosial di Instagram yang cukup terhadap aktivitas fisik. Sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan dukungan sosial di Instagram memiliki hubungan positif yang signifikan dengan intensi aktivitas fisik (p-value <0.001). Dukungan sosial di Instagram, serta faktor TPB, memengaruhi intensi aktivitas fisik pada mahasiswa di DKI Jakarta. Upaya promosi kesehatan dan intervensi perlu dirancang lebih spesifik melalui media sosial untuk membangun kebiasaan aktivitas fisik yang baik pada mahasiswa.


Background: Physical activity is essential for health, with WHO recommending 150 minutes of moderate to vigorous exercise per week to prevent chronic diseases. The 2023 SKI data indicates that DKI Jakarta has the highest inactivity rate (55.7%). University students are particularly prone to sedentary lifestyles due to academic pressures. Physical activity intention, influenced by attitudes, subjective norms, perceived control, and social support—especially via Instagram—plays a crucial role in predicting behavior. This study explores the relationship between Instagram social support and physical activity intention among students in DKI Jakarta. Methods: A cross-sectional study in November 2024 involving 376 respondents examined physical activity intention, attitudes, subjective norms, perceived behavioral control, and social support on Instagram using the Theory of Planned Behavior (TPB) framework. Data were analyzed univariately and bivariately using the chi-square test. Results: Most respondents showed high physical activity intention (58%). Additionally, they demonstrated positive attitudes, positive subjective norms, high perceived behavioral control, and sufficient Instagram social support regarding physical activity. Attitudes, subjective norms, perceived behavioral control, and Instagram social support had a significant positive relationship with physical activity intention (p-value <0.001). Conclusion: Social support on Instagram, along with attitudes, perceived behavioral control, and subjective norms, influences physical activity intention among students in DKI Jakarta. Health promotion efforts and interventions should be tailored through social media to foster better physical activity habits among students.

Read More
S-11874
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachmaika Utami; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Mieke Savitri, Ni Made Jendri
S-9414
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Imam Nawawi Syujai; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dien Anshari, Usbah
Abstrak: Hasil program Pedal! di SMA Negeri 2 Bogor mengalami signifikansi yang sangat sedikit dalam meningkatkan literasi kesehatan mental siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran faktor-faktor yang menghambat dan mendukung berjalanannya program. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan model deskriptif. Pedal! merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan mental pada siswa dengan bentuk program berupa penyuluhan, konseling, pengembangan media, dan pengoptimalan konselor sebaya di PKPR Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja. Pengambilan data dilakukan pada dua kelompok siswa dan satu kelompok konselor dari PKPR.
 
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor yang mendukung perubahan pengetahuan dan sikap siswa seperti penyampaian materi yang sesuai dengan cara komunikasi siswa, penggunaan gawai di generasi milenial, serta penggunaan istilah yang menarik sesuai dengan kaidah marketing. Penelitian ini juga menunjukan faktor-faktor yang menghambat seperti materi yang tidak komprehensif karena kegagalan dalam proses analisis kebutuhan, adanya stigma negatif terhadap penderita gangguan mental, kekurangan pada saat mengevaluasi kader PKPR, dan penggunaan media yang tidak masif.
 

 
The result of Pedal program in SMA Negeri 2 Bogor shows a lack of mental health literacy scale signification. This research has tried to confirm the factors that supports and inhibits the program to reach its goal. This reasearch is a cualitative research that use descriptive model for the research design. Pedal is a program that aims to increase a mental health literacy scale for students. There are four forms of this program class session, counseling, media developing, and upgrading for peer counsellors in PKPR Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja. The data has collected from two groups of intervention objects and a group from PKPR.
 
The result of this research shows that there are some factors that supports a knowledge and an attitude of student to mental health issues. That factors are a good communication that fits with students culture, a gadget using, and an interesting diction that appropiates with marketing concept. This research also shows some factors that inhibit the program goal a failure in assesment process, a strong negative stigma to someone with mental illness, imperfection in PKPR member evaluation, and a unoptimum media using.
Read More
S-9597
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Eka Pratiwi; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Yovsyah, Ernawati
Abstrak: Skripsi ini membahas keterpaparan terhadap Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja PKPR Dan Perilaku Seksual Berisiko Pada Remaja Di Wilayah Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo Tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cohort retrospektif dan pengambilan sampel dilakukan dengan Simple Random Sampling.
 
Hasil penelitian menunjukan siswa yang perilaku seksual berisiko rendah sebanyak 99 70,7 dan perilaku seksual tinggi 41 29,3. Responden yang mempunyai perilaku seksual berisiko tinggi lebih banyak pada remaja pasien baru PKPR 29 41,4, keterpaparan program PKPR sebanyak 0 0 pada pasien baru, jenis kelamin laki-laki 48 34,3, usia remaja akhir 104 74,3, umur pubertas dini 25 17,9, pengetahuan kurang 63 45, sikap negatif 40 28,6, sikap orang tua yang negatif 66 47,1 dan sikap teman sebaya yang negatif 63 45, pernah/punya pacar 112 80, frekuensi pertemuan dengan pacar sering 62 44,3, Terdapat hubungan antara keterpaparan terhadap Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja PKPR Dan Perilaku Seksual Berisiko Pada Remaja Di Wilayah Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo p=0,00.
 

This thesis discusses the exposure of the Program Adolescent Friendly Health Services AFHS and risky sexual behavior in adolescents at Puskesmas Pasar Rebo. This study is a quantitative study with cohort retrospective research design and sampling carried out by the Simple Random Sampling.
 
The results showed that students 39 lowrisk sexual behavior 70,7 and sexual behavior is high 29,3 . Respondents who have high risk sexual behavior more on students who do not follow AFHS 37.1, male gender 34,3, age ge 17 years 74,3, early puberty age 17,9, lack of knowledge 45, negative attitude 28,6, and negative parents attitude 47,1 and negative peer group attitude 45, had have a girlfriend 80, the frequency of meetings with boyfriend often 44,3, There is a relationship between exposure to the Adolescent Friendly Health Services AFHS and risky sexual behavior in adolescents at Puskesmas Pasar Rebo p 0.00.
Read More
S-9481
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive