Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Medawati Silalahi; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Anwar Hasan, Maryori
S-7590
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Rafqi; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Pujiyanto, Cendikia Sri Murwani, Deksa Persiana
Abstrak:
Anak usia sekolah yang sehat merupakan asset pembangunan bangsa. Keberadaan makanan di sekolah sangat penting , karena akan memenuhi 25-36% kebutuhan energi harian anak. Kebiasaan makan yang tidak sehat (kurang gizi) dapat menyebabkan stunting (perlambatan pertumbuhan anak); penyakit kardiovaskuler, kanker, diabetes dan osteoporosis, sementara untuk jangka pendek dapat menyebabkan dental caries, anemia, overwight dan obesitas. Hasil pengujian Badan POM tahun 2008-2010, menunjukkan 40-44% jajanan anak sekolah secara nasional tidak memenuhi syarat keamanan pangan. Kebijakan Aksi Nasional menuju pangan jajanan anak sekolah (PJAS) yang aman bermutu dan bergizi, merupakan salah satu upaya meningkatkan mutu pangan jajanan anak sekolah dengan cara memberdayakan komunitas sekolah secara mandiri mengawasi pangan jajanan di lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan Aksi Nasional PJAS di kota Batam beserta efektitasnya dengan menggunakan analisa implementasi kebijakan dari Mazmanian dan Sabatier. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan studi dokumen.. Hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa implementasi kebijakan Aksi Nasional PJAS di kota Batam sudah terlaksana cukup baik namun tidak berjalan efektif, karena ketidaktepatan dalam menentukan indikator kinerja, tidak ada NSPK terkait peran, tugas dan tanggung jawab kelompok pelaksana, tidak ada strukturisasi pelaksanaan kebijakan tersebut, dan tidak ada dukungan langsung dari DPRD dan Pemerintah kota Batam. Komitmen dari pemerintah daerah kota Batam masih kurang, karena pengawasan pangan jajanan anak sekolah ini belum menjadi prioritas dalam pembangunan kota Batam. Kata kunci : Pangan jajanan anak sekolah, efektifitas, mandiri, Batam
Read More
T-4277
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Heleyna Oktavia Siregar; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi kuantitas dan kualitasnya. Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus keracunan pangan tertinggi di Indonesia dengan 1.679 kasus keracunan pangan dan 19 KLB di tahun 2023. Kota Depok dan Kota Bogor merupakan kota dengan jumlah Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) terdaftar terbanyak di Jawa Barat. Namun banyak dari TPP yang tidak memenuhi syarat higiene dan sanitasi sehingga berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan pada masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kontaminasi E.coli dan praktik higiene sanitasi di Rumah Makan/Restoran dan Gerai Pangan Jajanan Keliling di Kota Depok dan Kota Bogor. Penelitian dilakukan bulan Juni sampai Agustus 2024 menggunakan desain studi cross sectional. Sebanyak 117 sampel TPP dipilih menggunakan purposive sampling dari data pengawasan TPP oleh Dinas Kesehatan Kota Depok dan Kota Bogor. Data dianalisis secara univariat dan bivariat (Chi-square). Hasil analisis menunjukkan tidak adanya hubungan antara fasilitas sanitasi, sanitasi peralatan, higiene penjamah pangan, pemilihan/penerimaan bahan pangan, penyimpanan pangan matang, pengangkutan pangan matang, dan status laik HSP dengan kontaminasi E.coli. Namun nilai Odd Ratio (OR) menunjukkan adanya potensi hubungan positif antara variabel sanitasi peralatan (OR=1,738) dan status laik HSP (OR=2,512) dengan kontaminasi E.coli.
Food is a fundamental necessity that must be met in terms of both quantity and quality. West Java Province has recorded the highest incidence of food poisoning in Indonesia, with 1,679 reported cases and 19 outbreaks in 2023. Depok and Bogor City are notable for having the highest number of registered Food Management Places (TPP) in West Java. However, many TPPs fail to meet hygiene and sanitation standards, posing significant health risks to the community. This study aims to identify E.coli contamination and assess hygiene and sanitation practices in restaurants and mobile food stalls in Depok and Bogor City. The research was conducted from June to August 2024 using cross-sectional. A total of 117 TPP samples were selected through purposive sampling based on data collected by the Health Office of Depok and Bogor Cities. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis (Chi-square). The results indicate no significant relationship between sanitation facilities, equipment sanitation, food handler hygiene, selection/receipt of food ingredients, storage of cooked food, transportation of cooked food, and HSP eligibility status with E.coli contamination. However, the Odd Ratio (OR) values suggest a potential positive relationship between the variable of equipment sanitation (OR=1.738) and HSP eligibility status (OR=2.512) with E.coli contamination.
S-11799
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rayi Kinanti Anandilla; Pembimbng: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Yuwanita Karlina
Abstrak:
Read More
Penyakit akibat pangan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan rendahnya penerapan higiene dan sanitasi pangan serta perilaku konsumsi yang kurang selektif, khususnya pada konsumsi makanan jajanan kaki lima. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan konten ulasan makanan di TikTok dengan perilaku selektif konsumsi makanan jajanan kaki lima pada remaja dan dewasa muda di Provinsi DKI Jakarta tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring kepada 207 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode Backward Likelihood Ratio (LR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 51,2% responden telah terpapar konten ulasan makanan di TikTok dan 52,7% memiliki perilaku selektif yang baik. Analisis bivariat menunjukkan bahwa paparan konten, jenis kelamin, dan pengetahuan keamanan pangan memiliki hubungan signifikan dengan perilaku konsumsi (p < 0,05), sedangkan usia dan pendidikan yang sedang ditempuh tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pengetahuan keamanan pangan merupakan faktor yang paling dominan (OR = 10,526), diikuti oleh paparan konten ulasan makanan di TikTok (OR = 3,484), dan jenis kelamin (OR = 2,341). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa paparan konten digital dan faktor individu berperan dalam membentuk perilaku selektif konsumsi makanan jajanan kaki lima. Oleh karena itu, pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi keamanan pangan perlu dioptimalkan guna meningkatkan pengetahuan serta mendorong perilaku konsumsi yang lebih aman serta sehat pada remaja dan dewasa muda.
Foodborne diseases remain a public health concern associated with inadequate food hygiene and sanitation practices as well as less selective consumption behavior, particularly in the consumption of street food. This study aimed to analyze the relationship between exposure to food review content on TikTok and selective consumption behavior of street food among adolescents and young adults in DKI Jakarta Province in 2026. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. Data were collected through an online questionnaire from 207 respondents who met the inclusion criteria. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression with the Backward Likelihood Ratio (LR) method. The results showed that 51.2% of respondents had been exposed to food review content on TikTok and 52.7% demonstrated good selective consumption behavior. Bivariate analysis indicated that content exposure, gender, and food safety knowledge were significantly associated with consumption behavior (p < 0.05), while age and current educational level were not significantly associated. Multivariate analysis revealed that food safety knowledge was the most dominant factor (OR = 10.526), followed by exposure to TikTok food review content (OR = 3.484) and gender (OR = 2.341). These findings suggest that digital content exposure and individual factors play a role in shaping selective street food consumption behavior. Therefore, optimizing the use of social media as a platform for food safety education is necessary to improve knowledge and promote safer and healthier consumption behavior among adolescents and young adults.
S-12233
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
