Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Heny Purbaningsih; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Trini Sudiarti, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Dewi Astuti, Eka Agustina
Abstrak:

Balita gizi kurang merupakan keadaan gizi pada balita dengan berat badan menurut tinggi badan atau berat badan menurut panjang badan pada Z-score -3 SD sampai dengan <-2 SD atau lingkar lengan atas (LiLA) 11,5 cm sampai dengan <12,5 cm. Pada tahun 2021, prevalensi wasting di Provinsi Banten melebihi angka nasional yaitu sebesar 7,9%. Bahkan di Kota Serang jauh lebih tinggi sebesar 11,4%. Sedangkan Kecamatan Serang merupakan penyumbang prevalensi gizi kurang tertinggi di Kota Serang dengan angka  30,71%. Tata laksana balita gizi kurang yang menjadi program Kementerian Kesehatan dengan memberikan makanan tambahan berbahan pangan lokal yang dilaksanakan salah satunya di Kecamatan Serang, Kota Serang. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status gizi pada balita gizi kurang usia 12-59 bulan dalam program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di Kecamatan Serang tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel balita gizi kurang usia 12-59 bulan berjumlah 130 balita yang telah mengikuti program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di Kecamatan Serang tahun 2022. Variabel independen meliputi faktor balita (usia, jenis kelamin, ASI eksklusif, PMT berbahan pangan lokal, konsumsi energi, konsumsi protein, konsumsi protein hewani, konsumsi protein nabati, penyakit infeksi dan imunisasi) dan faktor orang tua (pendidikan ibu dan pendapatan). Uji statistik yang digunakan pada uji bivariat menggunakan chi square dan uji multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat balita yang status gizinya naik sebanyak 56,2%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal (p-value = 0,012), konsumsi energi (p-value = 0,001), penyakit infeksi (p-value = 0,020) dan pendapatan (p-value = 0,003). Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan peningkatan status gizi adalah konsumsi energi (OR = 3,600). Balita dengan konsumsi energi kurang berisiko 3,6 kali lebih tinggi status gizinya tidak naik dibandingkan balita yang mengonsumsi cukup energi setelah dikontrol oleh variabel PMT berbahan pangan lokal, konsumsi protein, konsumsi protein hewani, penyakit infeksi, imunisasi dan pendapatan. Perlunya perbaikan pola pemberian makan dan asupan makanan yang baik dalam jumlah dan kualitasnya untuk menunjang tumbuh kembang balita dan meningkatkan kewaspadaan jika terjadi masalah gizi pada balita.


 

Wasted is a nutritional condition in children under five with weight for height Z-score or weight for length Z-score of -3 SD to <-2 SD or upper arm circumference of 11.5 cm to <12.5 cm. In 2021, the prevalence of wasting in Banten Province exceeded the national rate at 7.9%. In Serang City, it was even higher at 11.4%. Meanwhile, Serang sub-district contributed the highest prevalence of wasted in Serang city with 30.71%. The management of wasted children, which is a program of the Ministry of Health by local food-based supplementary feeding program is implemented one of them in Serang District, Serang City. The purpose of this study was to identify factors associated with improving nutritional status in underweight children aged 12-59 months in the local food-based supplementary feeding program in Serang District in 2022. This study used a cross sectional study design with a sample of wasted children aged 12-59 months totaling 130 children who had participated in the local food-based supplementary feeding program in Serang District in 2022. Independent variables included children factors (age, sex, exclusive breastfeeding, local food-based supplementary feeding program, energy consumption, protein consumption, animal protein consumption, vegetable protein consumption, infectious diseases and immunization) and parental factors (maternal education and income). Statistical tests used in bivariate tests using chi square and multivariate tests using multiple logistic regression determinant models. The results showed that there were children whose nutritional status improved by 56.2%. There was a significant relationship between local food-based supplementary feeding program (p-value = 0.012), energy consumption (p-value = 0.001), infectious diseases (p-value = 0.020) and income (p-value = 0.003). Multivariate analysis showed that the dominant factor associated with improved nutritional status was energy consumption (OR = 3.600). Children with insufficient energy consumption had a 3.6 times higher risk of not improving their nutritional status compared to children who consumed enough energy after controlling for the variables of local food-based supplementary feeding program, protein consumption, animal protein consumption, infectious diseases, immunization and income. It is necessary to improve feeding patterns and food intake both in quantity and quality to support the growth and development of children and increase vigilance in the event of nutritional problems in children under five.

Read More
T-6938
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oky Sutiarso; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Trini Sudiarti, Agus Triwinarto, Salimar
Abstrak: Penelitian ini mempelajari hubungan antara Pemberian Makanan Tambahan (PMT)untuk meningkatkan status gizi pada anak usia 10-12 tahun di Kelas Belajar Oky.Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, umur, pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, kontribusi energi dan protein sebelum dan sesudah intervensi terhadapBB/U, TB/U, IMT/U, status gizi, pengaruh PMT dalam peningkatan status gizisebelum dan sesudah diberikan intervensi. Analisis menggunakan data primer. Desainpenelitian menggunakan quasi eksperiment dan rancangan control time series design. Responden yang digunakan adalah sebanyak 42 orang, terdiri dari 22 orang yangmendapat perlakuan dan 20 orang kelompok control. Kelompok perlakuan mendapatkan PMT selama 90 hari berupa susu 200 ml, telor 1 butir dan buah 1potong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil kontribusi sebelum dan sesudah PMT terhadap analisa berat badan sebelum dan sesudah diberikan PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilai p=0.000 (p value <0.005) dan 1.37 point lebih tinggi yang mendapat dar ipada yang tidak mendapat PMT. Untuk analisa tinggi badan sebelumdan sesudah diberikan PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilai p=0.000 (p value<0.005) dan 2.3 point lebih tinggi yang mendapat daripada yang tidak mendapat PMT.Untuk BB/U sebelum dan sesudah PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.000 (p value <0.005) dan TB/U PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.001 (p value <0.005) serta untuk IMT/U terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.000 (p value <0.005).Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan status gizi secaranyata sebelum dan sesudah diberikan PMT. Penelitian ini menyarankan perludilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu penelitian lebih dalam serta dapatberkorelasi dengan hal-hal yang berkaitan tidak hanya dengan gizi tetapi juga denganhal-hal sosial, sosiologi, budaya, ekonomi dan pemberdayaan masyaraka dan denganmenggunakan kemampuan dan sumberdaya lokal. Daftar Bacaan : 44 (tahun 1978-2012) Kata kunci : Pemberian makanan tambahan, Status Gizi, anak usia 10-12 tahun
This research study relationship correlation Supplementary Feeding to increasenutrition status children 10-12 years old in Kelas Belajar Oky. Variable examined aregender, age, parents work, education, contribution energy and protein before andafter Suplementary Feeding against weight per age, height per age, BMI per age,nutrition status, impact supplementary feeding in an increase nutrition status beforeand after supplementary feeding. Analyses using primary data. Research design usingquasi eksperiment and control time series design. Respondents who used is as 42children, consist of 22 children is treatment group and 20 children control group.Groups of experiment get supplementary feeding 90 days is milk 200 ml, egg 1 pcs andfruit 1 pcs.The results showed that the result of the contribution before and after supplementaryfeeding for analyses weight before and after significant p value = 0.000 (p value<0.005). Analyses height before and after supplementary feeding are significant withp value = 0.000 (p value <0.005). Weight per age before and after SF are significantwith p value =0.000 (p value <0.005) and height per age significant with p value=0.001 (p value <0.005) and also significant for BMI/Age with p value =0.000 (pvalue <0.005).From the results of this study concluded that an increase in nutrition status before andafter supplementary feeding. This study suggests further research needs to be donewith more research time and can be correlated not only nutrition but also socialscience, sociology, culture, economy, and community development with ability localsource.Literatur : 44 (years 1978-2012) Keyword : Suplementary feeding, Nutrition Status, age 10-12 years
Read More
T-4099
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusi Fitriyanti; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Deasy Martini
S-9456
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
E Marlinawati Gurning; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Sudijanto Kamso, Siti Arifah Pujonarti, Yosnelli; Ribka Ivana Sebayang
T-5714
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Temy Ramadan; Pembimbing : Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Giri Wurjandaru
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Program PMT-P untuk Balita pada duaPuskesmas kecamatan di Jakarta Utara tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metodekualitatif deskriptif untuk mengetahui masukan (SDM, anggaran, sarana dan prasarana,bahan makanan tambahan), proses (perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi),dan keluaran (balita sasaran yang menerima makanan tambahan, hari makan anak) sertametode kuantitatif potong lintang untuk mengetahui proses (pelaksanaan, pemantauandan evaluasi) dan keluaran (balita sasaran yang menerima makanan tambahan, hari makananak) program pada kedua Puskesmas. Data penelitian didapatkan dengan metodewawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, wawancara terstruktur, dan observasi.Informan penelitian ini adalah masing-masing 1 orang TPG, 1 orang kepala Puskesmas,dan 8 orang kader pada kedua Puskesmas. Serta responden penelitian masing-masing 10orang ibu dari sasaran program pada kedua Puskesmas. Penelitian dilakukan diPuskesmas Kecamatan Pademangan dan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok. Hasildari penelitian di Puskesmas Kecamatan Pademangan menunjukkan TPG yang diisi olehtenaga kesehatan lain, belum tersedia gudang penyimpanan yang baik, makanantambahan dengan kuantitas berlebih dan kualitas kurang baik, perbedaan istilah sasaranprogram, perbedaan indikator, penolakan dari sasaran, hari makan anak yang tidakdipantau, dan kenaikan berat badan yang tidak terlalu bermakna. Sedangkan penelitian diPuskesmas Kecamatan Tanjung Priok menunjukkan anggaran yang dirasa kurang cukup,kuantitas makanan tambahan yang berlebih, perbedaan istilah sasaran, perbedaanindikator, kenaikan berat badan yang tidak terlalu bermakna, penolakan dari sasaran, danjumlah hari makan anak yang tidak dipantau.Kata Kunci:Evaluasi program; Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan untuk Balita.
Read More
S-9628
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riana Harumi Putri; Pembimbing: Ahmad Shafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Hermawan
Abstrak: Status gizi balita dipengaruhi oleh pola asuh. Skripsi ini bertujuan untuk menggaliinformasi terkait status gizi dan pola asuh balita pasca perawatan di PusatPemulihan Gizi (PPG) Rawat Inap UPT Puskesmas Kecamatan Sukmajaya, KotaDepok. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional dan studikualitatif. Penelitian dilakukan pada bulan September 2015 hingga Januari 2016.Gambaran pola asuh ibu diperoleh dari data primer dengan cara observasi danwawancara mendalam. Data status gizi diperoleh dari data sekunder yang ada diPPG Rawat Inap UPT Puskesmas Kecamatan Sukmajaya.Terdapat perbedaanyang signifikan (P value <0.05) antara nilai rata-rata status gizi pasienberdasarkan indeks BB/U, PB/U atau TB/U, dan BB/PB atau BB/TB saat masukdan pulang dari PPG Rawat Inap UPT Puskesmas Kecamatan Sukmajaya. Secaragaris besar, pola asuh ibu dalam PHBS dan perilaku pencarian kesehatan cukup.Pola asuh dalam hal persiapan dan pemberian makan anak masih kurang sehinggaperlu diperbaiki. Status gizi baik balita gagal dipertahankan karena persentaseasupan makanan balita di rumah pasca perawatan lebih rendah dibandingkan faserehabilitasi di PPG Rawat Inap UPT Puskesmas Kecamatan Sukmajaya.Kata Kunci : status gizi, pola asuh, balita, pusat pemulihan gizi, pemberianmakanan tambahan
The nutritional status of children is affected by caring practices. This researchaims to explore information related to nutritional status and child caring practicesin Therapeutic Feeding Center at Sukmajaya Community Health Center, Depok.This research used cross sectional study and and qualitative study. This researchwas conducted in September 2015 to January 2016. The primary data of childcaring practices was obtained by observation and in-depth interviews of mothers.Nutritional status of children aged 6 to 59 months was collected from secondarydata in Therapeutic Feeding Center at Sukmajaya Community Health Center,Depok.There is significant differences (P value <0.05) between the average scoreof the nutritional status of children based on index WAZ, HAZ, and WHZ beforeand after treatment in Therapeutic Feeding Center at Sukmajaya CommunityHealth Center, Depok. Generally, hygiene practices and health seeking behaviourare enough good. Food preparation and child feeding practive still need to beimproved. Healthy nutritional status after treatment fails to be maintain becausechildren consumed less energy than when they were in rehabilitation period inTherapeutic Feeding Center at Sukmajaya Community Health Center, Depok.Keywords : nutritional status, caring practice, children, therapeutic feeding center,supplementary feeding.
Read More
S-8960
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chantika Permata Demayanti; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Yovsyah, Dhora Yufita N
Abstrak:
Masalah gizi pada ibu hamil di Indonesia masih menjadi perhatian serius karena tingginya angka kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia. Untuk mengatasinya, pemerintah telah menjalankan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil sebagai intervensi gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran alasan pemberian PMT pada ibu hamil di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), menggunakan data sekunder SKI 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan PMT pada ibu hamil masih belum optimal, dengan proporsi terbesar penerima PMT berada pada kelompok usia 20–35 tahun, usia kehamilan trimester 2, berpendidikan dasar-menengah, tidak bekerja, dan tinggal di wilayah pedesaan. Alasan utama pemberian PMT adalah pemeriksaan kehamilan di posyandu (59,9%), karena ibu mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK), diikuti oleh anemia, berat badan selama hamil tidak naik, serta berasal dari keluarga tidak mampu. Pemberian makanan tambahan telah menyasar ke sasaran prioritas sesuai dengan aturan juknis PMT 2023, namun pendistribusiannya belum merata dan menjangkau seluruh ibu hamil yang membutuhkan. PMT juga belum sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan gizi, karena sebagian besar distribusi diberikan berdasarkan faktor administratif seperti kehadiran di posyandu. Temuan ini menyoroti pentingnya peningkatan ketepatan sasaran dalam implementasi program PMT.

Nutritional problems among pregnant women in Indonesia remain a serious concern due to the high prevalence of Chronic Energy Deficiency (CED) and anemia. To address this, the government has implemented a Supplementary Feeding Program (PMT) for pregnant women as a nutritional intervention. This study aimed to describe the reasons behind the provision of PMT to pregnant women in Indonesia based on data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A descriptive quantitative design with a cross-sectional approach was used, utilizing secondary data from the 2023 SKI. The results showed that the coverage of PMT among pregnant women remains suboptimal, with the majority of recipients being women aged 20–35 years, in their second trimester of pregnancy, with basic to intermediate education levels, unemployed, and residing in rural areas. The main reason for PMT provision was antenatal care visits at the posyandu (59.9%), followed by CED, anemia, inadequate weight gain during pregnancy, and low household income. While the provision of supplementary food has targeted priority groups in accordance with the 2023 PMT technical guidelines, its distribution remains uneven and has yet to fully reach all pregnant women in need. Moreover, PMT is not entirely based on nutritional need, as distribution is often influenced by administrative factors such as attendance at posyandu. These findings highlight the importance of improving targeting accuracy in the implementation of the PMT program.
Read More
S-11976
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghevira Aulia Sahara; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Triyanti, Fajrinayanti
Abstrak:

Masalah kekurangan gizi pada balita usia 12–59 bulan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, termasuk di Kota Depok. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal merupakan salah satu upaya intervensi yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dan faktor-faktor lain terhadap kenaikan berat badan balita di Puskesmas Cimpaeun Kota Depok Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 71 balita usia 12–59 bulan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan data sekunder dari Puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,6% balita mengalami kenaikan berat badan yang adekuat setelah mengikuti program PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal. Terdapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dengan kenaikan berat badan balita (p = 0,027; OR = 4,464; 95% CI: 1,155–17,252), yang berarti balita yang menerima PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal tidak habis memiliki risiko 4,464 kali lebih besar untuk mengalami kenaikan berat badan yang kurang dibandingkan dengan balita yang menerima PMT habis terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi dengan kenaikan berat badan (p = 0,015). Balita yang mengalami infeksi memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami kenaikan berat badan. Sementara itu, variabel seperti pola makan, pendidikan ibu, pengetahuan, pola asuh, kunjungan posyandu, dan PHBS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kenaikan berat badan balita.


Malnutrition among children aged 12-59 months remains a major challenge in Indonesia, including in Depok City. Local Food-Based Supplementary Feeding (PMT) is one of the government's intervention efforts to improve children's nutritional status. This study aims to determine the relationship between the provision of Local Food-Based Recovery PMT and other factors on toddler weight gain at the Cimpaeun Health Center in Depok City in 2024. This study used a cross sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 71 toddlers aged 12-59 months who were purposively selected. Data were collected through questionnaires and secondary data from the health center. The results showed that 60.6% of toddlers experienced adequate weight gain after participating in the Local PMT program. There was a significant association between the appropriateness of the provision of local PMT and weight gain (p = 0.027; OR = 4.464; 95% CI: 1.155-17.252), meaning that toddlers who received inadequate local food-based recovery PMT had a 4.464 times greater risk of underweight gain compared to toddlers who received inadequate PMT. There was a significant association between infection and weight gain (p = 0.015). Infected toddlers had a higher tendency to gain weight. Meanwhile, variables such as diet, mother's education, knowledge, parenting, posyandu visits, and PHBS did not show a significant relationship with toddler weight gain. 

Read More
S-11937
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Suci Anzarkusuma; Pembimbing: Sandra Fikawati; pENGUJI: Triyanti, Fathimah Sulistyowati Sigit, Ray Wagiu Basrowi, Mirsal Picaso
Abstrak:

Masalah malnutrisi balita masih menjadi tantangan global, dengan 45 juta anak mengalami wasting pada 2022. Di Indonesia, prevalensi wasting dan underweight masing-masing mencapai 8,5% dan 15,9%, termasuk di Jakarta Timur yang mencatat angka wasting 9,3% dan memiliki jumlah balita terbanyak di DKI Jakarta. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengimplementasikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan yang didanai melalui APBD maupun Corporate Social Responsibility (CSR).
Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Program PMT berbahan pangan lokal yang didanai oleh APBD dan CSR terhadap perubahan status gizi anak usia 6–59 bulan di Jakarta Timur tahun 2024. Menggunakan desain mixed methods sequential explanatory, yang menggabungkan analisis kuantitatif terhadap 2.183 anak (APBD: 1.812; CSR: 371) dan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pengelola program. Analisis dilakukan untuk mengevaluasi perubahan status gizi anak sebelum dan sesudah intervensi PMT berdasarkan sumber pendanaan (APBD dan CSR). Analisis statistik meliputi independent sampel t-test, oneway ANOVA, dan regresi linier dengan menggunakan indikator perubahan Δ z-score BB/U dan BB/TB.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan status gizi BB/U (APBD naik 6,4%; CSR naik 10%) dan BB/TB (APBD naik 1%; CSR naik 2,4%). Ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi awal dengan perubahan z-score BB/U (APBD p=0,000; CSR p=0,033) dan BB/TB (APBD p=0,000). Regresi linier multivariat menunjukkan bahwa status gizi awal, frekuensi, dan jenis PMT merupakan faktor signifikan dalam perubahan z-score (p<0,05), sedangkan sumber pendanaan tidak menunjukkan pengaruh signifikan setelah dikontrol variabel lain. Temuan kualitatif menyoroti perbedaan dalam pelaksanaan dan pemantauan antara skema APBD dan CSR, namun keberhasilan program lebih dipengaruhi oleh ketepatan sasaran dan kualitas implementasi.
Studi ini menyimpulkan keduanya pendanaan memiliki potensi yang setara dalam mendukung perbaikan status gizi anak. Tidak ditemukan perbedaan efektivitas antara PMT berbasis APBD dan CSR, di mana keberhasilan program lebih dipengaruhi oleh ketepatan sasaran dan pelaksanaannya. Penguatan monitoring serta kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan dampak intervensi gizi pada anak. Temuan penelitian ini menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan intervensi gizi anak berbasis kebutuhan lokal.


Child malnutrition remains a global challenge, with an estimated 45 million children experiencing wasting in 2022. In Indonesia, the prevalence of wasting and underweight among children under five remains high at 8.5% and 15.9%, respectively. East Jakarta, which has the largest number of under-five children in the capital, reported a wasting prevalence of 9.3%. To address this issue, the government has implemented the Supplementary Feeding Program (PMT Pemulihan), funded through both local government budgets (APBD) and Corporate Social Responsibility (CSR) schemes. This study aimed to evaluate the effectiveness of locally sourced PMT programs funded by APBD and CSR on the nutritional status improvement of children aged 6–59 months in East Jakarta in 2024. A sequential explanatory mixed-methods design was used, combining quantitative analysis of 2,183 children (APBD: 1,812; CSR: 371) and qualitative analysis through in-depth interviews with program implementers. The analysis assessed changes in nutritional status before and after PMT interventions, based on funding sources. Statistical methods included independent sample t-tests, one-way ANOVA, and linear regression using changes in weight-for-age (Δ z-score W/A) and weight-for-height (Δ z-score W/H) as indicators. The results showed improvements in W/A (6.4% in APBD; 10% in CSR) and W/H (1% in APBD; 2.4% in CSR). Significant associations were found between baseline nutritional status and z-score changes for both W/A (APBD p = 0.000; CSR p = 0.033) and W/H (APBD p = 0.000). Multivariate regression indicated that initial nutritional status, feeding frequency, and PMT type were significant factors affecting z-score changes (p < 0.05), while funding source was not significant after adjusting for other variables. Qualitative findings highlighted differences in implementation and monitoring between APBD and CSR programs, but emphasized that program success was more influenced by targeting accuracy and quality of implementation. The study concludes that both funding schemes have comparable potential in improving child nutritional status. No significant difference in effectiveness was found between APBD- and CSR-based PMT. Success was driven more by precise targeting and proper implementation. Strengthening monitoring systems and cross-sectoral collaboration is essential to maximize the impact of nutrition interventions. These findings provide evidence-based guidance for policymakers in developing locally tailored child nutrition strategies.

Read More
T-7294
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fauzan Antyanta; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Alfanissa Ilmaladuni
Abstrak:
Permasalahan gizi balita, yaitu gizi kurang, berat badan kurang dan berat badan tidak naik, merupakan masalah gizi yang masih tinggi prevalensinya secara nasional. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menerapkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut, termasukoleh Puskesmas Tanjung Priok di Jakarta Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status gizi pada balita bermasalah gizi usia 0-59 bulan dalam program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Priok tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel balita gizi kurang usia 0-59 bulan berjumlah 134 balita yang telah mengikuti program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal pada tahun 2025. Variabel independe meliputi faktor balita (usia balita, jenis kelamin balita, ASI eksklusif, PMT yang dihabiskan, penyakit infeksi dan imunisasi) dan faktor orang tua (pendidikan ayah dan ibzu, status pekerjaan ayah dan ibu dan jumlah anak dalam keluarga). Uji statistik chi square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 52,2% balita mengalami kenaikan status gizidan terdapat hubungan yang signifikan antara usia balita dengan peningkatan status gizi mereka (p-value = 0,001).

Nutritional problems of toddlers, namely malnutrition, underweight and weight faltering, are nutritional problems that still have a high prevalence nationally. To address this problem, the government implemented a local food supplementary feeding program as one of the efforts to overcome this problem. The local food supplementary feeding program is implemented by the Tanjung Priok Community Health Center in North Jakarta. The purpose of this study was to identify factors related to improving the nutritional status of toddlers with nutritional problems aged 0-59 months in the local food supplementary feeding program in the Tanjung Priok Community Health Center working area in 2025. This study used a cross-sectional study design with a sample of 134 malnourished toddlers aged 0-59 months who had participated in the local food supplementary feeding program in 2025. Independent variables included toddler factors (toddler age, toddler gender, exclusive breastfeeding, PMT consumed, infectious diseases and immunizations) and parental factors (father's and mother's education, father's and mother's employment status and number of children in the family). The chi-square statistical test was used to see the relationship between the studied variables. The results showed that 52.2% of toddlers had improved nutritional status and there was a significant relationship between the age of the toddlers and the improvement in nutritional status of toddlers (p-value = 0.001).
Read More
S-12151
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive