Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ahdiah Imroatul Muflihah; Pembimbing: Evi Martha, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Robiana Modjo, Sulistyo, Atho`illah
Abstrak:
Indonesia merupakan negara tertinggi kasus Tuberculosis ke 2 pada tahun 2020. Dalam empat tahun terakhir angka penemuan kasus di Kab. Sidoarjo masih <75%. Sehingga penelitian ini untuk menganalisis capaian penemuan kasus TBC paru di Puskesmas dengan angka penemuan kasus tertinggi dan terendah di Wilayah Kabupaten Sidoarjo tahun 2021. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2021. Hasil penelitian dari sisi input memiliki tenaga kesehatan yang cukup, sarana prasarana dan pendanaan yang memadai serta telah memiliki SOP pada setiap pelaksanaannya, namun untuk pelatihan SDM pada puskesmas penemuan kasus terendah 2 PJ program TB masih belum mendapatkan pelatihan dikarenakan baru memegang program TB. Dari sisi proses terdapat strategi pada kegiatan promosi kesehatan, penemuan kasus dengan menggunakan strategi pasif dan aktif, serta pencatatan dan pelaporan yang telah menggunakan SITB berbasis web yang ditunjang dengan formulir baku, namun terdapat kelemahan kurangnya sosialisasi kepada para kader TBC pada puskesmas dengan angka penemuan kasus terendah. Sisi Output cakupan penemuan kasus pada triwulan 1 masih jauh dari target yang ditentukan. Hasil penelitian menyarankan perlu adanya sosialisasi kembali terhadap para kader, adanya pemetaan kembali bagi tenaga kesehatan yang belum mendapatkan pelatihan, serta melakukan penyuluhan kepada masyarakat tanpa bertemu secara langsung

Indonesia is the country with the 2nd highest Tuberculosis case in 2020. In the last four years the case finding rate in Kab. Sidoarjo is still <75%. So this study is to analyze the achievement of pulmonary TB case finding at the Puskesmas with the highest and lowest case finding rates in the Sidoarjo Regency in 2021. This type of research is a qualitative research with a case study design. Held in June-July 2021. The results of the research from the input side have sufficient health personnel, adequate infrastructure and funding and already have SOPs for each implementation, but for HR training at the puskesmas, the lowest case finding 2 PJ TB program still has not received training because they are new to the TB program. From the process side there are strategies for health promotion activities, case finding using passive and active strategies, as well as recording and reporting that have used web-based SITB supported by standard forms, but there is a weakness in the lack of socialization to TB cadres at the puskesmas with case finding rates. Lowest. The output side of the coverage of case finding in the first quarter is still far from the specified target. The results of the study suggest that there is a need for re-socialization of cadres, re-mapping for health workers who have not received training, and conducting outreach to the community without meeting in person.
Read More
T-6241
Depok : FKM UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Paramita Nomseo; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Siti Nurliah
S-9697
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Ighwana Sari; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Raden Rara Diah Handayani
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penemuan kasus TB Paru BTA positif di Kecamatan Ciracas dengan analisis spasial. Penelitian ini menggunakan data primer untuk menentukan titik koordinat pasien TB dan puskesmas tahun 2019 & data sekunder untuk kepadatan penduduk, puskesmas, jumlah kasus TB Paru BTA positif, jumlah kematian, putus berobat, gagal, dan kesembuhan pasien TB Paru BTA positif di Kecamatan Ciracas tahun 2018-2019. Dalam penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan analisis spasial menggunakan buffer dan overlay.
Read More
S-10570
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilda Anandya Sugianto; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Tiur Febrina Pohan
S-8879
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Idris Ahmad; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Purnawan Djunadi, Nunuk Agustina
Abstrak: Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebebakan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. pada tahun 2012 mencapai prevalensi 12 juta prevalensi kasus dan 990 ribu kematian di dunia. Di Indonesia prevalensi penyakit ini sebesar 423/100.000 penduduk dan mortalitas sebesar 27/100.000 penduduk. Salah satu provinsi yang memiliki prevalensi yang lebih tinggi dari rata-rata nasional adalah Jawab Barat.Dalam sepuluh tahun terakhir pencapaian penemuan kasus baru TB BTA positif (CDR) kota Bekasi belum pernah mencapai target nasional. Selain itu, dari 31 puskesmas yang berada di wilayah Kota Bekasi hanya 3(10%) puskesmas yang mencapai target nasional.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan penemuan kasus baru TB BTA positif di puskesmas wilayah Kota Bekasi tahun 2012. Penelitian ini menggunkan metode cross sectional deengan analisis uji T dan Chi square. Penelitian ini dilakukan bulan April–Juni 2013 dengan menggunakan data sekunder baik register TB di puskesmas, dinas Kesehatan, dan laporan pendukung lainnya. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sistem.
 
Hasil didapatkan bahwa dilihat dari kondisi SDM, terdapat 14 (54,8%) puskesmas dengan kondisi kurang, tingkat tanggung jawab yang dimiliki oleh penanggung jawab program TB 23 (74,2%) puskesmas tinggi, terdapat 26 (83,9%) puskesmas dengan penanggung jawab program TB dengan tingkat pengetahuan baik, dan 16 (51,6%) puskesmas memiliki proporsi pelatihan tinggi. Dari kondisi sarana dan prasarana diperoleh bahwa terdapat 23 (74,2%) puskesmas memiliki kondisi sarana dan prasarana yang baik.
 
Berdasarkan alokasi dana tersebar merata 45,2% puskesmas untuk rendah ataupun tinggi. Dilihat dari angka penjaringan suspek diperoleh bahwa 16 (51,6%) puskesmas memiliki angka penjaringan suspek tinggi, dilihat menurut frekuensi kegiatan KIE TB terdapat 26 (83,9%) puskesmas dengan frekuensi KIE TB tinggi, terdapat 20 (64,5%) puskesmas dengan tingkat pemeriksaan kontak tinggi, dan terdapat 16 (51,6%) puskesmas dengan tingkat kemitraan masyrakat rendah.
 
Hasil analisis antara proses dan output didapatkan adalah terdapat hubungan yang signifikan antara angka penjaringan suspek dengan cakupan penemuan kasus baru TB BTA positif. Didapatkan hubungan yang tidak signifikan antara KIE TB, pemeriksaan Kontak, dan juga kemitraan masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah angka penjaringan suspek berpengaruh terhadap cakupan penemuan kasus TB BTA Positif.
 

Tuberculosis is a disease that caused by the Mycobacterium tuberculosis. In 2012, the prevalence of the cases reached 12 million and caused 990 thousand death cases in the world. In Indonesia, the prevalence of this disease is 423/100.000 with 27/100.000 for the mortality rate. One of the provinces which have a higher prevalence than the national average is West Java. Bekasi, as one of the city in West Java still has problem in TB control. In the last ten years, the Case Detection Rate has not reached the national target. In addition, there are only 3 (10%) health centers in Bekasi City which are achieved the national target.
 
This reaserch is aimed to determine the factors related to the scope of tuberculosis new cases detection in Bekasi Regional Health Center Area in 2012. It then cross-sectional analysis with the T and Chi square test. The research was conducted on April-June 2013 by using secondary data from health centers, health departments, and other supporting reports. Furthermore, a system approach is used in this study.
 
The results obtained that the human condition 14 (54.8%) in health centers with the low conditions, the level of responsibility held by the person in charge of the TB program 23 (74.2%) in health centers with a high level of responsibility, there were 26 (83.9% ) which had charge of the TB program with a good level of knowledge, and 16 (51.6%) with high training proportions. In term of infrastructure condition, it is obtained that there are 23 (74.2%) health centers in the good condition.
 
Based on the fund allocation, it is equally spread 45.2% for good and low condition. In crawl suspect, it is obtained that 16 (51.6%) health center with high crawl suspect, seen by the frequency of Communication, Information, and Education of TB (KIE TB) activities there were 26 (83.9%) centers with a high frequency of KIE TB, then there are 20 (64.5%) health center with high examination for the person in contact, and there are 16 (51.6%) health centers with low levels of society partnerships.
 
The result for the process and output is obtained that there is a significant correlation between the number of crawl suspected to number of coverage of the Tuberculosis (+) new case detection. Meanwhile, there is no significant correlation between KIE TB, contact examination and as well as community partnerships. The conclusion of this study is the crawl of the suspect affects number of coverage of the Tuberculosis (+) new case detection.
Read More
S-7886
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rendy Manuhutu; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Prima Yosephine, Darmawali Handoko
Abstrak:
COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan dan menjadi sebuah pandemi. COVID-19 dapat menyebar antar negara melalui pelaku perjalanan. Terdapat kasus-kasus importasi varian baru yang merupakan kasus yang berasal dari negara lain dan tertangkap di pintu masuk negara, salah satunya Bandara Soekarno Hatta. Dalam menanggapi permasalahan mengenai kasus importasi pemerintah dapat melakukan upaya cegah tangkal penyakit dan melaksanakan manajemen penemuan kasus pada pelaku perjalanan di Bandara Soekarno Hatta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi pelaksanaan manajemen penemuan kasus COVID-19 pada pelaku perjalanan dari luar negeri di Bandara Soekarno-Hatta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan data sekunder melalui telaah dokumen. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari Donabedian dan teori pendekatan sistem yaitu struktur, proses, dan output. Hasil penelitian didapatkan SDM kurang dan terbatas sehingga dibutuhkan tenaga tambahan. Sarana prasarana tercukupi atas dukungan dari berbagai pihak namun belum tersedia perangkat deteksi pemeriksaan RT-PCR di pintu masuk. Pendanaan tercukupi dari Dana Siap Pakai BNPB dan revisi anggaran Kementerian Kesehatan. Sistem informasi sudah tersedia, namun belum dapat digunakan maksimal. Koordinasi, jejaring, dan kemitraan sudah berjalan dan dilaksanakan oleh lintas program/lintas sektor. Kebijakan bersifat dinamis dan bersumber dari Kementerian Kesehatan dan Satuan Tugas. Perencanaan berjalan baik terdapat rencana operasi di tingkat nasional dan di Bandara. Pengorganisasian terdapat Satgas COVID-19 baik di tingkat pusat maupun di Bandara. Pelaksanaan berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Pengawasan berjalan baik karena adanya alat monitoring Intra Action Review. Pelaku perjalanan yang melakukan karantina/isolasi sebesar 95,5% melakukan karantina dan menyelesaikan masa karantina/isolasi. Penemuan kasus konfirmasi pada pelaku perjalanan sebanyak 1,1% dari total kedatangan. Penemuan Kesimpulan didapatkan bahwa implementasi penemuan kasus penting dilakukan untuk penemuan kasus di pintu masuk negara. Rekomendasi penelitian ini yaitu keberhasilan implementasi akan dicapai bila dilakukan evaluasi dan monitoring serta perbaikan dari kekurangan

COVID-19 is an infectious disease caused by a newly discovered type of coronavirus and has become a pandemic. COVID-19 spreads between countries through travelers. There are importation cases of new variants, originated from other countries and found at the entrance of the country, one of which is Soekarno Hatta Airport. In responding to problems regarding imported cases, the government can make efforts to prevent disease and carry out case finding management for travelers at Soekarno Hatta Airport. This study aims to find out how to implement the COVID-19 case finding management for travelers from abroad at Soekarno-Hatta Airport. This study used a qualitative method with primary data obtained through in-depth interview and secondary data through document review. The theory used in this research is a modification of Donabedian and the theory of systems approach, namely structure, process, and output. The results of the study found that human resources were lacking and limited so that additional personnel is needed. Sufficient infrastructure facilities with the support of various parties, but the RT-PCR examination detection device is not available at the entrance. Sufficient funding from the BNPB Ready to Use Fund and the revised budget of the Ministry of Health. The information system is already available, but cannot be used optimally. Coordination, networking, and partnerships have been running and implemented across programs/cross sectors. The policy are dynamic and sourced from the Ministry of Health and the Task Force. Planning is going well, there are operational plans at the national level and at the airport. Organizing, there is a COVID-19 Task Force both at the central level and at the airport. Implementation is carried out in accordance with applicable regulations. Supervision went well because of the Intra Action Review monitoring tool. 95.5% of travelers who carry out quarantine/isolation followed quarantine and complete the quarantine/isolation period. 1.1% confirmation cases found in travelers of the total arrivals. The conclusion is that the implementation of case finding is important to do case finding at the Point of Entry. The recommendation of this research is that successful implementation will be achieved if evaluation and monitoring are carried out as well as improvement of deficiencies
Read More
T-6139
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Susilo; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Eko Anjang Budi
Abstrak: Pada tahun 2000, Indonesia telah mencapai target global dalam eliminasi kusta. Namun, masih ada 14 provinsi yang belum mencapai target eliminasi. Angka penemuan kasus baru penyakit kusta cenderung statis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kecenderungan angka penemuan kasus baru penyakit kusta dan faktor-faktor yang berhubungan dengan angka penemuan kasus baru penyakit kusta di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2013. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi ekologi dan dianalisis dengan menggunakan uji korelasi. Diperoleh hasil bahwa kondisi sosial ekonomi (proporsi penduduk miskin, indeks pembangunan manusia, dan pengeluaran per kapita penduduk) memiliki hubungan yang sangat kuat dengan angka penemuan kasus baru penyakit kusta kecuali untuk variabel proporsi penduduk miskin. Sedangkan untuk kondisi iklim (suhu rata-rata, kelembaban rata-rata, intensitas cahaya matahari rata-rata) memiliki korelasi yang kuat dan kepadatan penduduk memiliki korelasi sedang dengan angka penemuan kasus baru penyakit kusta. Ketiga hasil ini tidak bermakna secara statistik (nilai p>0,005). Hasil uji yang bermakna didapatkan pada uji korelasi antara proporsi penduduk miskin dengan angka penemuan kasus baru penyakit kusta di Kepulauan Seribu (r=0,926 , nilai p=0,024) dan uji korelasi indeks pembangunan manusia di Jakarta Pusat (r= -0,888 , nilai p=0,044), Jakarta Utara (r= -0,949 , nilai p=0,014), dan Kepulauan Seribu (r= -0,913 , nilai p=0,031). Diperlukan kerjasama lintas sektor dan kemitraan dengan berbagai pihak dalam upaya pengendalian penyakit kusta
Read More
S-8676
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alexander Widya Chriswanto; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Sulistyo, Deni Kurniadi Sunjaya
Abstrak:
Indonesia menempati peringkat 2, negara dengan angka kejadian Tuberkulosis (TB) tertinggi, namun sebagian besar kasusnya belum ditemukan. Upaya penemuan kasus TB di Tempat Praktik Mandiri Dokter (TPMD) menghadapi banyak hambatan. TPMD hanya menemukan 1% kasus dari total kasus TB pada tahun 2022, dengan rasio pencarian pengobatan masyarakat di TPMD sebesar 19%. Tujuan Penelitian : Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan capaian penemuan kasus TB di TPMD. Metode : Mix method sequential explanatory, yaitu metode kuantitatif melalui pengisian kuesioner oleh 175 responden, dilanjutkan metode kualitatif melalui wawancara mendalam 6 informan. Penelitian dilakukan di Jawa Barat, Nusa Tengga Timur, Maluku dan Sumatera Utara. Hasil : Variabel yang berhubungan dengan capaian penemuan kasus TB di TPMD adalah ketersediaan SDM Kesehatan, ketersediaan dan penggunaan sistem informasi terpadu, aksesibilitas pemeriksaan TCM, pemanfaatan alur rujukan layanan TB, keterlibatan organisasi profesi dan kelompok masyarakat. Persentase TPMD yang mencapai target penemuan kasus TB di 4 provinsi adalah sebesar 58,9%. Variabel yang paling berhubungan adalah keterlibatan kelompok masyarakat (OR = 12.008, 95% CI 4.527-31.851, p-value < 0,001). Kesimpulan : Pemerintah memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan TPMD, namun masih menghadapi tantangan terkait pemerataan SDM dan infrastruktur, peningkatan efektivitas dan efisiensi biaya, pengembangan skema PPM, serta optimalisasi pengawasan kualitas layanan terstandar.

Indonesia is ranked as the second most Tuberculosis-affected country, but most cases remain undiagnosed. Numerous challenges still exist to identify TB cases in Private Practitioner (PPs). Only 1% of all TB cases reported by PPs in 2022, with a 19% population-based treatment rate. Objective : Determine the factors that go into a PPs successful diagnosis of TB cases. Method : Sequential explanatory mix method, 175 PPs completed questionnaires in quantitative and 6 key informants participated in in-depth interviews in qualitative. North Sumatra, Maluku, East Nusa Tenggara and West Java were the locations of the research projects. Results : Variables related to the achievement of TB case detection in PPs were the availability of human resources, availability and use of integrated information systems, accessibility of TCM examinations, utilization of TB service referral, involvement of professional organizations and community groups. The overall percentage of PPs that achieved the TB case detection was 58.9%. The variable most related to the achievement of TB case detection was the involvement of community groups (OR = 12.008, 95% CI 4.527-31.851, p-value < 0.001). Conclusion : The government has an excellent chance to maximize the role of PPs, but it has to deal with issues like equitable infrastructure and human resource, improving cost-effectiveness and efficiency and improving oversight of standardized service quality.
Read More
T-7003
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stya Hadi Saputra; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yuliyanty Permanasari, Karnadi
Abstrak: Capaian cakupan CDR Kota Depok dari tahun 2009 sampai 2014 di bawah target nasional. Kota Depok berada di urutan 24 dari 27 Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat dengan nilai CDR sebesar 34,28%. Hanya 5 dari 32 puskesmas yang mencapai target nasional pada tahun 2014. Penelitian kualitatif ini membahas tentang penemuan kasus TB paru BTA positif di Kota Depok. Sampelnya adalah Puskesmas Pancoran Mas yang mencapai target dan Puskesmas Sawangan yang tidak mencapai target. Variabel yang diteliti adalah faktor input puskesmas (SDM, Dana, Sarana Prasarana dan Implementasi), peran Dinas Kesehatan dan faktor Kemitraan Masyarakat. Ditemukan bahwa keberhasilan penemuan kasus TB paru BTA positif terutama karena promosi kesehatan yang melibatkan lintas program dan sektor. Petugas P2TB mempunyai peran penting untuk memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dan keluarga pasien didukung dengan ketersedian dana. Penelitian ini menyarankan diperluas evaluasi melibatkan seluruh petugas yang terkait dalam pelaksanaan P2TB, baik di Dinas Kesehatan maupun Puskesmas Kata kunci : Penemuan Kasus TB Paru BTA Positif, Puskesmas dan Studi Kualitatif Case detection of TB cases with BTA positive has been underperformed in Depok since 2009 to 2014. Depok is listed as member 24 of the 27 district / city in West Java with CDR value of 34,28%. Of the 32 health centers in the city of Depok, only 5 community health center (15.6%), reached the national target of in 2014. This study discusses case finding of BTA positive pulmonary TB cases samples were Puskesmas Pancoran Mas with good performance and Puskesmas Sawangan that has not reached the target. Variables involved were Puskesmas input factors (Human Resources, Cost, Infrastructure and Implementation), role of district health office and community participation. It was found that the success of the case detection BTA positive pulmonary TB cases mainly because of health promotion involving other programs and multisectors. The P2TB officers played an important role to disseminate and provide education to the community and the families of patients, supported by the sufficient funding. The study suggested to conduct a thorough evaluation involving all relevant staffs in the implementation of P2TB, both in the District Health Office and Community Health Center. Key Words: Case Detection Rate of Tuberulosis, Community Health Center and Qualitative Study
Read More
S-8673
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive