Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurul Febrianti; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Sani Adiwati
S-6995
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Afifah Afifah; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda, Sholah Imari, Ali Isha Wardhana
T-3437
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noer Chotimah, Hari Kusnanto
JMPK Vol.03, No.04
Yogyakarta : UGM, 2000
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Kamila; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Kurnia Sari, Wahyu Sulistiadi, Tati Suryati, Herlinawati
T-4604
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risma Puspitasari; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Renti Mahkota, Tri Krianto, Bambang Setiaji, Asep Surahman
Abstrak: Secara global, insiden TB dunia pada tahun 2015 sebesar 10,4 juta kasus. Indonesia berada di urutan kedua dari total kasus diseluruh dunia sebesar 10%, setelah India. Prevalensi TB berdasarkan provinsi yang tertinggi adalah Jawa Barat (0,7%). Padatnya tingkat hunian di pesantren dapat menimbulkan kondisi rentan sehingga dianggap memicu banyaknya kasus TB. Pengendalian TB berbasis masyarakat merupakan salah satu upaya promosi kesehatan dalam penanggulangan TB. Penelitian ini bertujuan mengetahui dampak pemberdayaan santri kader TB terhadap perilaku pencegahan TB di pondok pesantren Garut Jawa Barat. Metode penelitian kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen pada 230 santri sebagai sampel pada masing-masing kelompok intervensi dan kontrol. Pengumpulan data dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pengumpulan data awal, setelah itu dilakukan intervensi berupa pelatihan pada 30 santri yang terpilih sebagai kader TB dengan melakukan penyuluhan dan kunjungan kamar 2 bulan kemudian dilakukan pengumpulan data akhir. Analisis yang digunakan adalah uji wilcoxon, mann-whitney dan uji regresi logistic ganda model faktor resiko. Hasil penelitian membuktikan santri yang mendapat intervensi berpeluang memiliki perilaku pencegahan baik hampir 3 kali (OR=2,90; 95%CI= 1,9-4,4) dibandingkan dengan santri yang tidak mendapatkan intervensi setelah dikontrol jenis kelamin santri. .Kata Kunci : Pemberdayaan santri, pondok pesantren, perilaku pencegahan ABSTRACK Name : Risma Puspitasari Study Program : Public Health Sciences Title : The Impact Of Empowering Student as Tuberculosis (TB) Cadre Toward Student Behaviour In Tb Prevention In Islamic Boarding School Garut Jawa Barat Globally, the incidence of tb in 2015 amounted to 10.4 million cases. tb ranks in the 2nd place of the total cases all over Indonesia by 10% after India. The highest prevalence of TB by province is western Java (0.7%,). Tb incidence did not occur only in the general population, but also arise in certain community such as islamic boarding schools. The density of occupancy in Islamic boarding school can cause vulnerable condition causing many cases of tb. Community-based TB control is one of health promotion efforts in TB prevention. This study aims to determine the impact of Empowerment of Tuberculosis (TB) Against Student Cadres Behavior in TB Prevention at Islamic boarding school, Garut, West Java. Quantitative research method with quasi experimental design on 230 students as sample in each intervention and control group. Data collection was done 2 times, that is initial data collection, after that do intervention in the form of training at 30 students selected as TB cadre by doing counseling and visit room 2 month later to do final data collecting. The analysis used was wilcoxon test, mann-whitney and multiple logistic regression test of risk factor model. The result of the research shows that students who have intervention have a good prevention behavior almost 3 times (OR = 2,90; 95% CI = 1,9-4,4) compared with students who do not get intervention after separation of gender. Keywords: Empowering students, Islamic boarding school, preventive behavior.
Read More
T-5082
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rivi Maharani Amri; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Victoria Indrawati
S-9606
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gea Puteri Utami; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Evi Martha, Sudijanto Kamso, Aprilia Krisliana, Galuh Budhi Leksono Adhi
Abstrak:
Kontak serumah merupakan faktor risiko utama penularan tuberkulosis (TB), dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) diberikan untuk mencegah perkembangan penyakit pada kontak serumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku konsumsi TPT pada kontak serumah di Puskesmas Kota Tangerang Selatan tahun 2024. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus digunakan, melibatkan sepuluh informan utama: delapan keluarga yang menjalani TPT dan dua yang tidak, serta empat kader TB, empat petugas Puskesmas, dan penanggung jawab program TB. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan observasi dari Oktober 2024 hingga Januari 2025, yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar kontak serumah yang menjalani TPT mematuhi tata laksana sesuai standar. Stok obat TPT di Puskesmas terjamin, dan dukungan keluarga serta tenaga kesehatan memadai. Namun, dukungan kader TB masih kurang optimal. Kontak serumah yang tidak menjalani TPT umumnya kurang pengetahuan, dukungan keluarga terbatas, serta kekhawatiran terhadap efek samping dan rendahnya kepercayaan diri. Perilaku konsumsi TPT dipengaruhi oleh persepsi kerentanan, tingkat keparahan penyakit, manfaat terapi, hambatan, dan kepercayaan diri. Dorongan untuk menjalani TPT bersumber dari keluarga, kader, tenaga kesehatan, dan media sosial.

Household contacts are a major risk factor for tuberculosis (TB) transmission, and Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) is given to prevent the progression of TB in household contacts. This study aims to examine the behavior of TPT consumption among household contacts at the public health center in South Tangerang City in 2024. A qualitative approach with a case study design was used, involving ten main informants: eight families undergoing TPT and two families not undergoing TPT, as well as four TB cadres, four Puskesmas staff, and the TB program manager. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, and observations from October 2024 to January 2025, and analyzed thematically. The results showed that most household contacts who underwent TPT adhered to the prescribed standards. The availability of TPT stock at the Puskesmas was guaranteed, and family and healthcare worker support was sufficient. However, support from TB cadres was still suboptimal. Household contacts not undergoing TPT generally lacked knowledge, had insufficient family support, concerns about side effects, and low self-confidence. The behavior of TPT consumption was influenced by perceptions of vulnerability, the severity of the disease, therapy benefits, barriers, and self-confidence. Motivation to undergo TPT came from family, cadres, healthcare workers, and social media.
Read More
T-7256
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulidyah Ananda; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Asfi Raihan
Abstrak:
Kecamatan Bolo adalah salah satu Kecamatan yang ditetapkan sebagai daerah kejadian luar biasa (KLB) DBD pada bulan Maret Tahun 2023. Hal ini dapat dipicu oleh kurangnya penerapan perilaku pencegahan DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD pada masyarakat di Kecamatan Bolo. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional pada 110 responden berusia 17-60 tahun diambil secara consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan cara responden mengisi kuesioner secara mandiri yang sebelumnya telah diujicobakan. Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki perilaku pencegahan DBD dengan rata-rata nilai 64 dari skala 100. Hasil analisis variabel yang berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD adalah: jenis kelamin (p=0,002), usia (p= 0,001,r= 0,307), pengetahuan (p= 0,001, r=0,43, persepsi manfaat (p=0,001, r=0,360) dan isyarat bertindak (p=0,006, r=0,360) sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD persepsi kerentanan (p=0,805, r=0,024), persepsi keparahan (p=0,266, r=0,107 dan persepsi hambatan (p=0,190, r=0,126). Atas dasar tersebut maka pemberian edukasi dan promosi kesehatan yang dilakukan secara rutin dengan metode-metode yang sesuai sangat diperlukan untuk meningkatkan perilaku pencegahan DBD.

Bolo District is one of the districts designated as a DHF outbreak area in March 2023. This could be triggered by the lack of implementation of DHF prevention behaviors. This study aimed to determine the factors associated with dengue prevention behavior in the community in Bolo. This study used a cross sectional study design on 110 respondents aged 17-60 years taken by consecutive sampling. Data was collected by respondents filling out a questionnaire independently which had previously been tested. The results of this study showed that the respondents had a good dengue prevention behavior which was 64 of a scale of 100. The results of the analysis of variables correlated with dengue prevention behavior, gender (p = 0.002), age (p = 0.001, r = 0.307), knowledge (p = 0.001, r = 0.43, perceived benefits (p = 0.001, r = 0.360) and cues to action (p = 0.006, r = 0.360), 006, r=0.360) while variables that were not correlated with DHF prevention behavior were perceived susceptibility (p=0.805, r=0.024), perceived severity (p=0.266, r=0.107 and perceived barriers (p=0.190, r=0.126). Providing education and health promotion that is carried out routinely with appropriate methods is needed to improve dengue prevention behavior.
Read More
S-11542
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amalia Ayu Ramadhani; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Di Indonesia prevalensi kasus Diabetes Melitus (DM) pada anak meningkat 70 kali lipat pada tahun 2023. Jumlah kasus tersebut dibandingkan pada tahun 2010 yaitu 0,028 per 100 ribu jiwa, angkanya naik menjadi 2 per 100 ribu jiwa pada tahun 2023. Kasus penyakit DM pada anak di Kota Depok dilaporkan oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Depok mencapai 109 kasus sepanjang tahun 2022. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku orang tua dalam melakukan pencegahan penyakit DM pada anak di Kota Depok Tahun 2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, desain cross-sectional dilakukan pada 170 responden yang diambil secara quota sampling pada orang tua di Kota Depok. Data dikumpulkan secara online menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis dengan uji Chi Square untuk melihat hubungan 11 variabel independen dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit diabetes pada anak. Hasil penelitian menunjukkan, responden memiliki perilaku pencegahan DM pada anak yang baik yaitu sebanyak 43,5%. Pendapatan (p=0,001), persepsi kerentanan (p=0,020), persepsi keparahan (p=0,030), persepsi manfaat (p=0,018), dan persepsi hambatan (p=0,046) menunjukkan hubungan dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit DM pada anak, sedangkan usia (p=0,085), jenis kelamin (p=0,378), pendidikan (p=0,530), pekerjaan (p=0,419), pengetahuan (p=0,425), dan self-efficacy (p=0,429) tidak berhubungan dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit DM pada anak. Perlu meningkatkan edukasi dan sosialisasi terkait bahaya DM pada anak dan risiko yang terjadi jika anak terkena DM untuk meningkatkan kesadaran akan kerentanan dan keparahan terhadap penyakit DM pada anak.

In Indonesia, the prevalence of Diabetes Melitus (DM) cases in children will increase 70 times by 2023. Compared to 2010, where the number of cases was 0.028 per 100.000 population, this figure will increase to 2 per 100.000 population by 2023. Cases of DM disease in children in Depok City were reported by the Depok City Health Center to reach 109 cases throughout 2022. The aim of study is to determine the behavior of parents in preventing DM disease in children in Depok City in 2023. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design conducted on 170 respondents taken by quota sampling among parents in Depok City. Data were collected online using a questionnaire that had been tested for validity and reliability, and analyzed using the Chi Square test to see the relationship between 11 independent variables and parental behavior in preventing diabetes in children. The results showed that 43.5% of respondents had good diabetes prevention behavior. Income (p = 0.001), perceived vulnerability (p = 0.020), perceived severity (p = 0.030), perceived benefits (p = 0.018), and perceived barriers (p = 0.046) were relation with parental behavior in preventing diabetes in children, while age (p = 0.085), gender (p = 0.378), education (p = 0.530), occupation (p = 0.419), knowledge (p = 0.425), and self-efficacy (p = 0.429) were not relation with parental behavior in preventing DM in children. Increase education and socialization related to the dangers of DM in children and the risks that occur if children develop DM to increase awareness of the vulnerability and severity of DM disease in children.
Read More
S-11491
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Budiarti; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Putri Bungsu, Arum Ambarsari
Abstrak:
Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) mempunyai peran penting dalam upaya Eliminasi TBC 2030. Kelengkapan TPT di Indonesia, termasuk di Jakarta, masih menghadapi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memprediksi kelengkapan TPT di Jakarta berdasarkan data programatik tahun 2020-2024. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif bersumber data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dengan analisis survival faktor usia, jenis kelamin, durasi paduan TPT, tipe fasilitas kesehatan, wilayah domisili pasien, jenis riwayat kontak, status pemeriksaan rontgen dada, dan Tuberkulin Skin Test (TST). Dari 9.780 pasien yang dianalisis, 94% menyelesaikan TPT hingga lengkap. Median survival kelengkapan TPT di Jakarta adalah 79 hari. Pada periode pengobatan 72 sampai 182 hari, didapatkan faktor prediktor kelengkapan TPT yaitu durasi paduan terapi 3 bulan (adjHR 8,65 - 12,36; 95% CI: 8,01 – 13,4), pasien TPT puskesmas (adjHR 1,32 -1,35; 95% CI: 1,21 – 1,47), pasien berdomisili internal Jakarta (adjHR 1,11; 95% CI: 1,01 – 1.23), pasien usia lebih tua 6 - 19 tahun (adjHR 1,09 - 1,11; 95% CI: 1,02 - 1,19), usia >19 tahun (adjHR 1,10 - 1,12; 95% CI: 1,04 - 1,20).Temuan ini dapat dijadikan dasar pertimbangan intervensi seperti adopsi luas paduan terapi 3 bulan, optimalisasi peran puskesmas dalam pelayanan TPT, serta peningkatan sistem monitoring pasien berdasarkan profil usia dan wilayah guna meningkatkan efektivitas program TPT di Jakarta dan sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya. 

Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) plays a vital role in supporting Indonesia’s goal of TB elimination by 2030. However, TPT completion in Indonesia, including in Jakarta, remains a challenge. This study aimed to identify factors predicting TPT completion in Jakarta using programmatic data from 2020 to 2024. A retrospective cohort design was applied using data from the Tuberculosis Information System (SITB), analyzed through survival analysis on variables including age, sex, TPT regimen duration, type of health facility, patient domicile, type of contact history, chest X-ray status, and Tuberculin Skin Test (TST). Among 9,780 patients analyzed, 94% completed TPT. The median survival time to TPT completion was 79 days. Within the treatment period of 72 to 182 days, significant predictors of TPT completion included a 3-month regimen (adjHR 8.65–12.36; 95% CI: 8.01–13.4), receiving TPT in Puskesmas (adjHR 1.32–1.35; 95% CI: 1.21–1.47), residing within Jakarta (adjHR 1.11; 95% CI: 1.01–1.23), age group 6–19 years (adjHR 1.09–1.11; 95% CI: 1.02–1.19), and age >19 years (adjHR 1.10–1.12; 95% CI: 1.04–1.20). These findings may inform targeted interventions such as broader adoption of the 3-month regimen, strengthening the role of primary care in TPT delivery, and enhancing patient monitoring systems based on age and geographical profiles to improve TPT effectiveness. The results also serve as a reference for future research.
Read More
T-7315
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive