Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewi Marlysawati; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda; Helwiah Umniyanti; Rizky Hasby
Abstrak:

Penilaian kualitas hidup merupakan kunci dalam memahami dampak AIDS terhadap kehidupan orang yang hidup dengan HIV&AIDS. Orang dengan HIV menjadi rentan terhadap masalah kesehatan, ekonomi dan psikososial yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup ODHIV. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan teknik Consecutive Sampling terpilih 102 orang responden di 3 Yayasan Kota Kupang yang berusia ≥18 tahun, telah menjalani terapi ARV >1 bulan dan bersedia menjadi responden. Penelitian dilakukan pada bulan November – Desember 2023. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data yang dilakukan adalah analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan uji cox regression. Hasil bivariat menunjukan ada hubungan yang signifikan antara depresi (p=0,007; PR= 1,742; 95%CI 1,136 – 2,669), dukungan sosial (p=0,003; PR=1,707; 95%CI 1,210 – 2,407) dan dukungan sebaya (p=0,000; PR=2,380; 95%CI 1,423 – 3,980) dengan kualitas hidup ODHIV sedangkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status pekerjaan, tingkat pendapatan, stigma, lama terapi ARV tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup ODHIV. Berdasarkan uji mulitivariat faktor yang paling dominan mempengaruhi kualitas hidup ODHIV adalah dukungan sebaya (p=0,018; PR=2,15; 95%CI 1,14 – 4,08). Kata Kunci: HIV&AIDS, kualitas hidup, ODHIV.


 

Quality of life assessment is key in understanding the impact of HIV&AIDS on the lives of people living with HIV&AIDS. People with HIV become vulnerable to health, economic and psychosocial problems that can affect their quality of life. The aim of this research is to analyze the factors that influence the quality of life of PLHIV. This research used a cross sectional study design with Consecutive Sampling technique, selecting 102 respondents from 3 Yayasan Kota Kupang aged ≥18 years who had undergone ARV therapy for >1 month and were willing to be respondents. The research was conducted in November – December 2023. The instrument used in this research was a questionnaire. The data analysis carried out was bivariate analysis using the chi-square test and multivariate analysis using the cox regression test. The research results showed that there was a significant relationship between depression (p=0,007; PR= 1,742; 95%CI 1,136 – 2,669), social support (p=0,003; PR=1,707; 95%CI 1,210 – 2,407), peer support (p=0,000; PR=2,380; 95%CI 1,423 – 3,980) with quality of life for PLHIV, meanwhile, age, gender, education level, marital status, employment status, income level, stigma, duration of ARV therapy do not have a significant relationship with the quality of life of PLHIV. The most dominant factor in the quality of life of PLHIV is peer support PR=2.15 (95%CI 1.14 – 4.08). Key words: HIV&AIDS, quality of life, PLHIV

Read More
T-6879
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nandini Parahita Supraba, N.P. Widarini, Luh Seri Ani
PHPMA-Vol.4/No.2
Denpasar : Universitas Udayana, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Anggraini; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Indang Trihandini, Caroline Endah Wuryaningsih, Wira Hartiti, Esti Pangastuti
Abstrak: Kualitas hidup adalah kondisi fungsional lansia yang meliputi kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial lansia, serta aktivitas seksual, dan kondisi lingkungan (WHOQOL). Laju pertumbuhan penduduk di kota Tangerang Selatan merupakan yang paling cepat (3,36%) dibandingkan kabupaten/kota lain yang ada di provinsi Banten. Angka harapan hidup pada tahun 2015 merupakan yang tertinggi dibandingkan wilayah lain di Banten yaitu mencapai 72,2 tahun. Sekitar 5% penduduk di Tangerang Selatan berusia diatas 60 tahun (BPS, 2016) dan 0,8% dari total lansia di Tangerang Selatan memilih untuk tinggal di panti karena merasa mendapatkan banyak teman untuk beraktifitas, beribadah, dan menghilangkan rasa kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup lansia dan faktorfaktor yang berhubungan dengan kualitas hidup lansia yang tinggal di panti werdha wilayah Tangerang Selatan. Desain studi potong lintang digunakan pada 144 lansia yang terpilih secara acak dari 4 panti di Tangerang Selatan. Data dikumpulkan menggunakan metode wawancara menggunakan kuisioner yang sudah di uji validitas dan reliabilitasnya, serta dianalisis menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 74,3% lansia yang tinggal di panti wilayah Tangerang Selatan memiliki hidup berkualitas, pendidikan lansia merupakan faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup lansia (p=0,003; OR 3,22; 95% CI 1,49-6,97). Lansia dengan pendidikan yang tinggi memiliki peluang 3,2 kali hidupnya lebih berkualitas dibandingkan lansia yang berpendidikan rendah.
Kata Kunci : Lansia, kualitas hidup

Quality of life is the functional condition of the elderly which includes physical health, psychological health, elderly social relationships, as well as sexual activity, and environmental conditions. Population growth rate in South Tangerang is the fastest (3.36%) compared to other regencies / cities in Banten province. Life expectancy in 2015 is the highest compared to other regions in Banten which reached 72.2 years. Approximately 5% of the population in South Tangerang is over 60 years old (BPS, 2016) and 0.8% of the total elderly people in Tangerang Selatan prefer to stay in the orphanage because they feel have many friends for activities, worshiping and eliminate loneliness. This study aims to determine the quality of life of the elderly and the factors related to the quality of life of elderly living in the werdha orphanage of Tangerang Selatan region. Cross-sectional study design was used in 144 selected randomly elderly from 4 orphanages in South Tangerang. Data collected using interview method using questionnaires that have been tested for validity and reliability, and analyzed using multiple logistic regression test. The results showed that 74.3% of elderly people living in the orphanage of Tangerang Selatan have quality of life, elderly education is a factor related to the quality of life of the elderly (p = 0,003; OR 3,22; 95% CI 1,49-6, 97). Elderly with a high education has a 3,2 times more quality of life than the poorly educated elderly.
Keywords : Elderly, Quality Of life
Read More
T-5044
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurmah Yasinta; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Arif Rachman Iryawan
S-8111
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indrayani; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Sudijanto Kamso, Ade Saprudin, Cecep Heriana
Abstrak: Peningkatan populasi lansia berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Pada masa lansia terjadi berbagai perubahan fisik, kognitif maupun psikologis. Harapan hidup dan kualitas hidup merupakan hal yang sangat penting bagi lansia. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup lansia. Subjek penelitian berjumlah 242 orang lansia yang diperoleh dengan cara random dari populasi yang berjumlah 349 lansia di Desa Cipasung Kabupaten Kuningan. Dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF, kuesioner dukungan keluarga dan fungsi keluarga. Penelitian ini dianalisis dengan uji Chy Square dan uji Regresi Logistik.Variabel yang memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup lansia adalah pendidikan (OR=4,9, p value=0,022), pekerjaan (OR=3,5, p value=0,000) dan dukungan keluarga (OR=5,7, p value=0,000). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kualitas hidup lansia adalah dukungan keluarga dengan nilai OR 5,7 yang berarti bahwa lansia dengan dukungan keluarga kurang berpeluang 5,7 kali lebih besar memiliki kualitas hidup buruk dibandingkan dengan lansia yang mendapat dukungan keluarga baik. Berdasarkan penelitian ini, faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup lansia adalah dukungan keluarga, pendidikan dan pekerjaan.
Kata Kunci : Kualitas Hidup, Lansia, Faktor dominan

Increase of elderly population will have an impact on various aspects of life. In the elderly occurs a physical changes, cognitive and pshycological. Life expectancy and quality of life is very important for elderly. There are many factors affect the quality of life of elderly. The purpose of this research to know factors that relating with the quality of life of elderly. The subject of study were 242 the elderly obtained by means of random of the population which consisted of 349 elderly in Cipasung Village Kuningan. The interviewers were conducted using WHOQOL-Bref questionnaire, family support and family function questionnaire. The study analyzed by Chy Square test and Logistic Regresion test. A variable that has a significant relation exists with the quality of life for the elderly is education (OR=4,9, p value=0,022), work (OR=3,5, p value=0,000) and the family support (OR=5,7, p value=0,000). Factors the most dominant relating to the quality of life of elderly is family support with the OR=5,7 which means that for the elderly with poor family support had a chance 5,7 times as great as having the quality of life poorly compared to good family support. Based on this research, factors that relating with quality of life of elderly is family support, education and work. 
Keywords : Quality of life, Elderly, Dominan factor
Read More
T-4986
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lusiani Septika Sar; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: David W. Dunlop, Merry Natalia, Vetty Yulianti Permanasari, Kurnia Sari
T-4241
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ismi Adzani; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Sabarinah, Siti Nurfaizah
Abstrak: Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang menggambarkan kualitas hidup klien Program Terapi Rumatan Metadon di Puskesmas Bogor Timur. Secara umum, temuan dalam penelitian ini tidak jauh berbeda dengan temuan pada penelitian lain yang membahas efektivitas PTRM yang dinilai secara subjektif melalui penilaian kualitas hidup klien PTRM. Persepsi klien PTRM di Puskesmas Bogor Timur terhadap kualitas hidupnya cenderung positif selama berada dalam program. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa PTRM berpengaruh pada kualitas hidup pengguna opiat suntik ke arah yang lebih baik.
Read More
S-7734
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Erita; Pembimbing: Besral; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Witarsa
Abstrak: Program Terapi Rumatan Metadon efektif untuk meningkatkan kualitas hidup pengguna narkoba. Peningkatan kualitas hidup bervariasi antar institusi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran faktor individu, kualitas hidup dan hubungan antara faktor individu dengan kualitas hidup pengguna narkoba di RSKO dan Puskesmas Tanjung Priok. Penelitian ini menggunaan metode kros seksional pada 100 pasien yang dipilih menggunakan metode kuota sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF. Analisa data menggunakan metode statistik deskriptif dan analitis. Rata-rata usia responden 35,80 tahun dan 94% berjenis kelamin laki-laki. Rata-rata skor kualitas hidup yaitu 65,78. Skor kualitas hidup dipengaruhi oleh usia, pendapatan, aktivitas, kualitas tidur, dan efikasi.
Kata kunci: pengguna narkoba, metadon, kualitas hidup

Methadone maintenance therapy has been found to improving in the quality of life. However, there were vary of improvement in several institutions. The present study aims at knowing the correlation between individual factors and quality of life among drug users. This present study was conducted through a cross-sectional method in which 100 patients were selected. Data were collected through WHOQOL-BREF questionnaires. The mean age of the participants was 35.80, and 94% of the patients were man. The mean score of the total QOL was 65.78. Total QOL was influenced by age, monthly income, physical activity, normal sleepers, and self-efficacy.
Keywords: drug users, methadone, quality of life
Read More
S-9560
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Moudy E.U Djami; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Prihyugiarto, Haryani Yuke
Abstrak:

Fokus penelitian ini adalah melihat hubungan antara penggunaan kontrasepsi dengan kualitas hidup pada wanita usia subur di wilayah kerja Puskesmas Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten yang dilakukan sejak akhir April hingga pertengahan Juni 2011. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang. Hasil penelitian adalah tidak terbukti adanya hubungan antara penggunaan kontrasepsi dengan kualitas hidup wanita pernah kawin dengan OR 0,9 Sedangkan karakteristik demografi yang turut berperan dalam menentukan kualitas hidup responden adalah faktor pendidikan dengan OR 1,9. Hasil penelitian ini menyarankan agar studi yang sama dikemudain hari dilakukan dengan cara self assessment sehingga jawaban yang diperoleh merupakan jawaban yang sebenar-benarnya atau sekurang-kurangnya mendekati apa yang mereka/respoden rasakan. Selain itu para pemerhati perempuan baik pemerintah, LSM maupun kalangan lainnya lebih memperhatikan pendidikan dan pemberdayaan perempuan untuk dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Para pemberi layanan kesehatan juga sebaiknya meluangkan waktu untuk memberikan informasi yang optimal tentang kontrasepsi kepada calon akseptor sehingga meeka dibekali tentang apa yang perlu sebelum menentukan pilihannya terhadap suatu metode kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena responden dengan tingkat pendidikan yang rendah lebih banyak dibanding dengan tingkat pendidikan tinggi (68,8% vs 31,2%). Kata Kunci : kualitas hidup, wanita pernah kawin


 Title: The relationship between the use of contraceptives and the quality of life for ever-married women in the working area Tigaraksa Health Center, Tigaraksa Sub district, Tangerang District, Banten 2011 The focus of this research is to look at the relationship between the use of contraceptives and the quality of life in women of childbearing age in the working area Tigaraksa Health Center, Tangerang Distric, Banten, which was conducted from late April to mid June 2011. This research is a quantitative research with crosssectional design. The results do not prove a relationship between the use of contraceptives and the quality of life for ever-married women with OR 0,9. While the demographic characteristics that play a role in determining the quality of life of respondents are educational factor with OR 1.9. These results suggest that in the future, similar study should be performed by self-assessment so that the answer obtained is an honest answer, or at least close to what they/the respondents felt. In addition, female observers including government, NGOs and others pay more attention to the education and empowerment of women to improve their quality of life. The health care practitioners should also take the time to provide optimal information about contraception to potential acceptors so that they will be well-informed about what is necessary before determining the choice of contraceptive methods. This is because respondents with low levels of education are more than those with higher education levels (68.8% vs. 31.2%). Keywords: quality of life, ever-married women

Read More
T-3394
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Winda Sofvina; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Anna Rozaliyani, Elyn Dohar Idarin Aritonang
Abstrak:

Latar belakang: Kasus aspergilosis paru kronik di Indonesia diperkirakan semakin meningkat seiring dengan peningkatan kasus TB paru. Keterlambatan mendapatkan pengobatan akan memengaruhi kualitas hidup pasien Aspergilosis Paru Kronik (APK). Data mengenai APK pada pasien dengan riwayat TB masih terbatas di Indonesia, penelitian mengenai APK yang pernah dilakukan hanya terbatas pada populasi yang berasal dari rumah sakit di Jakarta. Diperlukan studi mengenai kualitas hidup dan APK dengan mempertimbangkan faktor penyakit lain, terutama penyakit kronis yang dapat memperburuk kualitas hidup pasien, khususnya penyakit dengan prevalens tinggi di Indonesia, yaitu diabetes melitus dan hipertensi. Penyakit pernapasan lain yang juga harus dipertimbangkan adalah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Matode: Penelitian ini berdisain potong lintang, yang merupakan bagian dari penelitian sebelumnya mengenai Aspergilosis Paru Kronik pada pasien dengan Riwayat TB paru di beberapa area di Indonesia. Data penelitian berasal dari rekrutmen penelitian sebelumnya periode Juni 2023-Maret 2024. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara APK dan kualitas hidup pasien riwayat TB paru.
Hasil: Subjek terbanyak berada pada kelompok usia 50-59 tahun, dan subjek paling sedikit berada pada kelompok usia <=29 tahun. Proporsi kejadian APK pada subjek dengan riwayat TB paru pada studi ini sebesar 67,83%. Proporsi subjek dengan riwayat TB paru yang memiliki kualitas hidup buruk sebesar 53,04%
Kesimpulan: Pasien riwayat TB paru yang mengalami APK memiliki risiko 1,45 kali kualitas hidup buruk dibandingkan pasien yang bukan APK. Tidak ada faktor kovariat yang memengaruhi hubungan antara APK dan kualitas hidup pada studi ini.
Kata kunci: Aspergilosis, kualitas hidup, APK


Background: Cases of chronic pulmonary aspergillosis in Indonesia are expected to increase along with the increase in cases of pulmonary TB. Delays in getting treatment will affect the quality of life of chronic pulmonary aspergillosis (CPA) patients. Data on CPA in patients with a history of TB is still limited in Indonesia; research on CPA that has been conducted is limited to the population from hospitals in Jakarta. A study is needed on the quality of life and CPA by considering other disease factors, especially chronic diseases that can worsen the quality of life of patients, especially diseases with a high prevalence in Indonesia, namely diabetes mellitus and hypertension. Another respiratory disease that must also be considered is chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Method: This study is a cross-sectional design, which is part of a previous study on chronic pulmonary aspergillosis in patients with a history of pulmonary TB in several areas in Indonesia. The research data comes from the recruitment of previous studies from June 2023 to March 2024. This study aims to determine the relationship between APK and the quality of life of patients with a history of pulmonary TB. Results: The largest number of subjects were in the 50-59 year age group, and the fewest subjects were in the <=29 year age group. The proportion of APK incidence in subjects with a history of pulmonary TB in this study was 67.83%. The proportion of subjects with a history of pulmonary TB who had poor quality of life was 53.04%. Conclusion: Patients with a history of pulmonary TB who experienced APK had a 1.45 times risk of poor quality of life compared to patients who were not APK. There were no covariate factors that influenced the relationship between APK and quality of life in this study. 

Read More
T-7200
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive