Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Atet Kurniadi; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Prastuti Soewondo, Puput Oktamianti, Wahyu Pudji Nugraheni, Solihin
Abstrak:
Read More
Nyeri punggung bawah adalah kasus yang banyak didapatkan pada praktek sehari-hari dan sering menjadi hambatan pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Nyeri punggung bawah merupakan kasus terbanyak di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Hanau yang berjumlah 34% dari seluruh kasus. Dari total seluruh pasien nyeri punggung bawah yang menjalani terapi di instalasi rehabilitasi medik RSUD Hanau, 76% pasien adalah pekerja perkebunan kelapa sawit. Kepatuhan pasien dalam menjalani terapi di instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Hanau masih rendah, yaitu sebesar 37%. Rendahnya kepatuhan ini mempengaruhi keberhasilan terapi pasien dan dapat memberi efek negatif pada biaya pengobatan dan produktifitas pasien. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien berdasar teori Green yang terdiri dari faktor predisposisi, faktor pemungkin dan penguat. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode Cross sectional yang menggunakan data prospektif dan retrospektif dengan jumlah responden sebanyak 90 orang. Responden adalah pasien pekerja kelapa sawit dengan nyeri punggung bawah yang menjalani terapi di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Hanau. Data diambil dari bulan Maret sampai April 2021 di RSUD Hanau dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 43,3% patuh dalam menjalani terapi. Faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan dan kualitas pelayanan menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kepatuhan dalam menjalani terapi, sedangkan faktor pengetahuan, akses akomodasi, asuransi dan dukungan keluarga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan dalam menjalani terapi. Pengetahuan adalah faktor yang paling dominan dalam memberikan pengaruh kepatuhan pasien pekerja sawit dengan nyeri punggung bawah dalam menjalani terapi di instalasi rehabilitasi medik RSUD Hanau. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi manajemen RSUD Hanau dan rumah sakit dengan karakteristik yang sama untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi di instalasi rehabilitasi medik
Low back pain is a case that often found in daily practice and often becomes an obstacle for patients in carrying out daily activities. Low back pain is the most common case in the Medical Rehabilitation Installation at the Hanau General Hospital, amounting to 34% of all cases. 76% of patients with back pain undergoing therapy are oil palm plantation workers. Patient compliance in undergoing therapy at the Medical Rehabilitation Installation at the Hanau Hospital is still low, at 37%. This condition affects the success of patient therapy and can have a negative effect on treatment costs and patient productivity. This study discusses the factors that influence patient compliance based on Green's theory which consists of predisposing factors, enabling and reinforcing factors. This research is quantitative research with cross sectional method using prospective and retrospective data with 90 respondents. Respondents were oil palm worker patients with low back pain who underwent therapy at the Medical Rehabilitation Installation at the Hanau Hospital. Data were taken from March to April 2021 at the Hanau Hospital using a questionnaire as a research instrument. The results showed that 43.3% were obedient in undergoing therapy. Factors of age, gender, education level, employment status and service quality showed no significant relationship with adherence to therapy, while factors of knowledge, access to accommodation, insurance and family support showed a significant relationship with adherence to therapy. Knowledge is the most dominant factor in influencing the compliance of oil palm worker patients with low back pain in undergoing therapy at the medical rehabilitation installation of the Hanau Hospital. It is hoped that the results of this study can be input for the management of the Hanau Hospital and hospitals with the same characteristics to improve patient compliance in undergoing therapy in medical rehabilitation installations
B-2217
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Resa Lisardi Dwiranti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Read More
Low Back Pain merupakan salah satu penyebab utama disabilitas yang membutuhkan penanganan rehabilitasi medik jangka panjang. Namun, frekuensi kunjungan rehabilitasi medik pada pasien LBP peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran frekuensi kunjungan dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan frekuensi kunjungan rehabilitasi medik pada pasien Low Back Pain peserta JKN di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan desain cross sectional yang dilakukan pada Februari–Juni 2025 menggunakan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien Low Back Pain (65,1%) melakukan kunjungan rehabilitasi medik dengan frekuensi rendah, yang mencerminkan ketidakpatuhan terhadap terapi. Variabel usia, jenis kelamin, status perkawinan, wilayah dan jenis wilayah tempat tinggal peserta, kelas hak rawat, segmentasi peserta, tipe FKRTL, dan status kepemilikan FKRTL memiliki hubungan yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan rehabilitasi medik (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pemantauan terhadap utilisasi layanan rehabilitasi medik, baik untuk menangani ketidakpatuhan maupun mengidentifikasi potensi overutilization pada fasilitas atau segmen pasien tertentu.
Low Back Pain is one of the leading causes of disability that often requires long-term medical rehabilitation. However, the frequency of rehabilitation visits among Low Back Pain patients enrolled in the National Health Insurance (JKN) program remains suboptimal. This study aims to describe the visit frequency and analyze the factors associated with the frequency of medical rehabilitation visits among JKN participants with Low Back Pain at referral health facilities (FKRTL). This is a non-experimental quantitative study with a cross-sectional design conducted from February to June 2025, using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan Sample Data. The results showed that the majority of LBP patients (65,1%) had a low frequency of rehabilitation visits, indicating poor adherence to therapy. Variables such as age, gender, marital status, residential region and area type, class of care entitlement, participant segmentation, type of FKRTL, and ownership status of FKRTL were significantly associated with the frequency of rehabilitation visits (p < 0.05). These findings highlight the need to strengthen monitoring systems for the utilization of medical rehabilitation services, both to address non-adherence and to identify potential overutilization in specific facilities or patient segments.
Low Back Pain is one of the leading causes of disability that often requires long-term medical rehabilitation. However, the frequency of rehabilitation visits among Low Back Pain patients enrolled in the National Health Insurance (JKN) program remains suboptimal. This study aims to describe the visit frequency and analyze the factors associated with the frequency of medical rehabilitation visits among JKN participants with Low Back Pain at referral health facilities (FKRTL). This is a non-experimental quantitative study with a cross-sectional design conducted from February to June 2025, using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan Sample Data. The results showed that the majority of LBP patients (65,1%) had a low frequency of rehabilitation visits, indicating poor adherence to therapy. Variables such as age, gender, marital status, residential region and area type, class of care entitlement, participant segmentation, type of FKRTL, and ownership status of FKRTL were significantly associated with the frequency of rehabilitation visits (p < 0.05). These findings highlight the need to strengthen monitoring systems for the utilization of medical rehabilitation services, both to address non-adherence and to identify potential overutilization in specific facilities or patient segments.
S-12092
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gita Cahya Ramadhani; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji:Martya Rahmaniati Makful, Wachyu Sulistiadi, Bram Burmanajaya, Hanna Elisabet Lumbangaol
Abstrak:
Read More
Drop Out tertuju pada pasien yang menghentikan program terapi pada pelayanan rehabilitasi medik yang telah dijadwalkan dan tidak melanjutkan program terapi yang telah ditentukan. Data menunjukan faktor-faktor yang memengaruhi drop out, termasuk usia, jenis kelamin, domisili, serta faktor internal seperti penyampaian layanan, infrastruktur, dan sumber daya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dengan penyedia layanan, telaah dokumen dan observasi dan didukung dengan melihat data analisis data sekunder dari rekam medis, laporan mutu, dan survei kepuasan pasien. Hasil menunjukkan terdapatnya penurunan drop out dari 0,54% di Januari menjadi 0,08% di Maret. Kepuasan pasien berdampak positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan rehabilitasi medik. Diharapkan rumah sakit terus meningkatkan atau mempertahankan kulitas pelayanan rehabilitasi medik dan bisa menjadi rekomendasi untuk meningkatkan layanan rehabilitasi dan mengurangi drop out pada pelayanan rehabilitasi medik di tempat lain.
Drop-out refers to patients who discontinue their scheduled rehabilitation therapy programs and do not continue the prescribed treatment. The data indicate factors that influence drop-out, including age, gender, domicile, as well as internal factors such as service delivery, infrastructure, and resources. This study employs a qualitative method by conducting in-depth interviews with service providers, document reviews, and observations, supported by secondary data analysis from medical records, quality reports, and patient satisfaction surveys. The results show a decrease in the drop-out rate from 0.54% in January to 0.08% in March. Patient satisfaction positively impacts the improvement of rehabilitation service quality. Despite challenges such as a shortage of human resources, it is expected that the hospital will continue to improve or maintain the quality of rehabilitation services. This study provides recommendations for enhancing rehabilitation services and reducing drop-out rates in similar healthcare settings.
T-7352
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Divyra Rizqina Adiva; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Haryanto, Budi Hidayat, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Stroke menyumbang angka kecacatan jangka panjang yang berdampak pada aktivitas sehari-hari pasien dan pemulihannya memerlukan penaganan rehabilitasi medik yang berkelanjutan. Layanan rehabilitasi medik di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) menjadi salah satu layanan esensial dalam penanganan pasien stroke dengan defisit fungsional. Tujuan: Menganalisis pemanfaatan layanan rehabilitasi medik serta faktor-faktor yang berhubungan pada pasien stroke peserta JKN di FKRTL. Metode: Desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan data sekunder berupa Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2024-2025. Hasil: Selama masa perawatan 1 tahun setelah pulang dari rawat inap, pemanfaatan kelompok kunjungan rendah (≤8 kunjungan) sebesar 50,3% dan kunjungan tinggi (>8 kunjungan) sebesar 49,7%, dengan penumpukan terbesar pada pasien yang hanya berkunjung satu kali dalam setahun setelah pulang rawat inap (17,4%), sehingga pemanfaatan berpotensi belum optimal. Seluruh variabel independen (karakteristik peserta, klinis, dan pelayanan) berhubungan signifikan dengan pemanfaatan layanan rehabilitasi medik, dengan peserta yang tinggal di Kalimantan (OR = 10,364; 95% CI = 8,879–12,097), memanfaatkan di RS Tipe A (OR = 6,315; 95% CI = 5,707–6,987), dan memiliki hak kelas rawat Kelas I (OR = 6,311; 95% CI = 5,815–6,848) menjadi kelompok dengan probabilitas tertinggi untuk memanfaatkan layanan rehabilitasi medik. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan kontinuitas layanan melalui rehabilitasi yang lebih fleksibel, pemerataan tenaga dan fasilitas rujukan, penjaminan akses bagi kelompok kebutuhan tinggi dengan pemanfaatan rendah, serta penguatan upaya promotif berupa edukasi dan sosialisasi pemanfaatan layanan kepada pasien dan caregiver untuk mendukung kesinambungan utilisasi rehabilitasi medik dalam mencegah perburukan fungsional dan stroke berulang pada pasien stroke, guna mendorong pemanfaatan yang optimal dan berkeadilan dalam pengelolaan defisit fungsional pada pasien stroke selama masa pemulihan.
Background: Stroke contributes to long-term disability that affects patients's daily activities, and its recovery requires sustained medical rehabilitation management. Medical rehabilitation services at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL) constitute one of the essential services in the management of stroke patients with functional deficits. Objective: This study aims to analyze the utilization of outpatient medical rehabilitation services and the factors associated with it among stroke patients insured by the National Health Insurance (JKN) at FKRTL. Methods: This study employed a cross sectional design with a quantitative approach, using secondary data from the 2024–2025 BPJS sample data. Results: Over a one-year period after discharging from inpatient care, 50.3% of patients are in the low-frequency utilization group (≤8 visits) and 49.7% are in the high-frequency group (>8 visits), with the largest concentration among patients who attended only a single visit per year (17.4%), indicating that utilization remains potentially suboptimal. All independent variables, comprising participant, clinical, and service characteristics, were significantly associated with the frequency of medical rehabilitation visits with participants residing in Kalimantan (OR = 10.364; 95% CI = 8.879–12.097), treated at Type A hospitals (OR = 6.315; 95% CI = 5.707–6.987), and entitled to Class I inpatient care (OR = 6.311; 95% CI = 5.815–6.848) constituting the group with the highest probability of utilizing medical rehabilitation services. Conclusion: This study finds that strengthening the continuity of care is needed through more flexible rehabilitation models, a more equitable distribution of personnel and referral facilities, guaranteed access for groups with high need but low utilization, and strengthened promotive efforts through education and outreach on service utilization for patients and caregivers to support continuity of the utilization of medical rehabilitation in preventing functional decline and recurrent stroke, in order to promote optimal and equitable service utilization in the management of functional deficits in stroke patients during recovery period.
S-12425
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
