Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Novriana Purnamasari; Pemb. Izhar M. Fihir; Penguji: Fatma Lestari, Yuni Kusminanti
S-5227
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lutfah Humairo; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Adrianus Pangaribuan
S-7743
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arief Rachman; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Purnawan Jumadi, Budi Wibowo
Abstrak:
Laboratorium merupakan salah satu bagian penting dalam dunia kesehatan. Dalam kegiatan di laboratorium tentunya tidak lepas dari banyaknya risiko mulai dari pra-anaitik hingga pasca-analitik. Selama beberapa dekade terakhir,fase praanalitik telah menjadi perhatian utama dalam mengidentifikasi penyebab utama tingginya tingkat kesalahan dalam diagnosis. Sebagian besar kesalahan disebabkan oleh faktor-faktor praanalitik yaitu sebesar 46–68,2%. Salah satu tujuan utama dari program patient safety adalah mencegah kejadian yang tidak diinginkan terulang kembali. Dengan menjalankan program patient safety yang efektif, rumah sakit dan fasilitas kesehatan dapat memastikan bahwa pasien mereka menerima perawatan yang aman, berkualitas, dan sesuai dengan standar. Untuk itu diperlukan manajemen risiko agar dapat menurunkan kesalahan yang terjadi di laboratorium. Salah satu tools yang dapat digunakan untuk manajemen risiko tersebut adalah HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect and Analysis). Penelitian ini membahas proses pembuatan desain Healthcare Failure Mode Effect and Analysis (HFMEA) pada proses pelayanan UKP di Labkesda DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah diperoleh desain HFMEA sebagai upaya perbaikan atau pencegahan dalam manajemen risiko proses pelayanan laboratorium di Labkesda DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan operational research. Adapun Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawnacara mendalam, observasi, telaah dokumen, dan telaah data sekunder. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya beberapa risiko yang mungkin terjadi di laboratorium berdasarkan faktor lab, faktor pasien, dan faktor alat. Desain HFMEA dibuat berdasarkan hasil penelitian yang kemudian dilakukan skoring untuk masing-masing risiko dengan pihak terkait untuk mengetahui probabiltas dan keparahannya. Kemudian didapatkan rekomendasi perbaikan atau perbaikan yang daat dilakukan oleh Labkesda DKI Jakarta.

Laboratory is one of the important parts in the world of health. In laboratory activities, of course, it cannot be separated from the many risks starting from pre-analytics to post-analytics. Over the past few decades, the preanalytic phase has become a major concern in identifying the main cause of the high rate of errors in diagnosis. Most errors are caused by preanalytic factors, which amount to 46-68.2%. One of the main goals of a patient safety program is to prevent unwanted events from recurring. By implementing an effective patient safety program, hospitals and healthcare facilities can ensure that their patients receive safe, quality, and standardized care. For this reason, risk management is needed in order to reduce errors that occur in the laboratory. One of the tools that can be used for risk management is HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect and Analysis). This study discusses the process of making a Healthcare Failure Mode Effect and Analysis (HFMEA) design in the UKP service process at the DKI Jakarta Labkesda. The purpose of this study is to obtain an HFMEA design as an effort to improve or prevent the risk management of the laboratory service process at the DKI Jakarta Labkesda. This research is a qualitative study using an operational research approach. The methods used in this research are in-depth interviews, observation, document review, and secondary data review. The results of this study were the discovery of several risks that might occur in the laboratory based on lab factors, patient factors, and equipment factors. HFMEA design is made based on the results of the study which is then scored for each risk with related parties to determine the probability and severity. Then obtained recommendations for improvements or improvements that can be made by the Labkesda DKI Jakarta.
Read More
S-11690
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Darryl Yurmansyah; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Mila Tejamaya, Wina Indah Ratnaningsih
Abstrak:
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan untuk melihat gambaran bahaya dan risiko apa saja yang terdapat pada tiap tahapan proses kerja dan aktivitas pekerjaan kurir, serta mengetahui bagaimana tingkat risiko K3 pada setiap bahaya dan risiko yang ada. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif dengan metode kualitatif yang dilakukan dengan cara observasi dan wawancara untuk mengetahui gambaran sebenarnya di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 32 bahaya dan risiko pada pekerjaan kurir yang mencakup 10 bahaya dengan risiko ekstrem, 11 bahaya dengan risiko tinggi, 10 bahaya dengan risiko sedang, dan 1 bahaya dengan risiko rendah. Prioritas bahaya yang perlu menjadi perhatian diantaranya adalah pekerjaan statis, postur janggal, bahaya tertabrak kendaraan lain, perselisihan dengan konsumen, dan tuntutan pekerjaan yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan kurir termasuk ke dalam salah satu pekerjaan yang berisiko tinggi. Namun, perlu adanya penelitian lebih lanjut yang dilakukan dengan pengukuran yang lebih detail agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas lagi.

This research is a descriptive research conducted to see an overview of what hazards and risks exist at each stage of the work process and courier work activities, as well as find out how the level of OHS risk is at each hazard and risk. This study uses a descriptive study design with qualitative methods which are carried out by means of observation and interviews to find out the real situation in the field. The results showed that there were 32 hazards and risks in courier work which included 10 hazards of extreme risk, 11 hazards of high risk, 10 hazards of medium risk, and 1 hazard of low risk. The priority hazards that need attention include static work, awkward postures, the danger of being hit by another vehicle, dependence on consumers, and high job demands. This shows that courier work is one of the high-risk jobs. However, further research is needed with more detailed measurements in order to provide wider benefits.
Read More
S-11310
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dimas Kusuma Wardhana; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Gatot Kusbinuko, Michael Bindu Hutahaean
Abstrak:
Pertambangan sangat rentan terhadap peningkatan prevalensi kelelahan dibanding pekerjaan pada industri lain, disebabkan banyaknya faktor di lingkungan pertambangan yang dapat mempengaruhi kelelahan. Penelitian ini mengkaji kelelahan pekerja tambang bawah tanah di PT XYZ, Indonesia, menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran kelelahan dan hubungan antara kelelahan (variabel dependen) dengan faktor individu, pekerjaan, dan lingkungan fisik (variabel independen). Sampel terdiri dari 119 responden dari total 300 pekerja bagian development, dengan data primer diperoleh melalui kuesioner IFRC dan data sekunder dari literatur serta data pendukung perusahaan. Hasil menunjukkan kelelahan berhubungan signifikan dengan waktu perjalanan (p value=0.042 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.043 (pelemahan motivasi)); (p value=0.012 (pelemahan fisik)), kuantitas tidur (p value=0.000 (kelelahan umum)); (p value=0.001 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.000 (pelemahan motivasi)); (p value=0.016 (pelemahan fisik)), shift kerja (p value=0.033 (kelelahan umum)), lama jam kerja (p value=0.023 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.049 (pelemahan motivasi)), dan suhu (p value=0.016 (pelemahan fisik)), namun tidak berhubungan dengan usia, IMT, status perkawinan, masa kerja, kebisingan, pencahayaan, dan kelembaban. Peneliti merekomendasikan peninjauan terhadap kebijakan perusahaan dalam mengelola faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan untuk meminimalkan risiko kelelahan kerja.

Mining is highly susceptible to increased prevalence of fatigue compared to other industries due to numerous factors in the mining environment that can affect fatigue. This study examines the fatigue of underground mine workers at PT XYZ, Indonesia, using a quantitative cross-sectional approach. The objective is to obtain an overview of fatigue and analyze the relationship between fatigue (dependent variable) and individual factors, job-related factors, and physical environmental factors (independent variables). The sample consists of 119 respondents out of a total of 300 development workers, with primary data obtained through IFRC subjective questionnaires and secondary data from literature and company supporting data. The results show that fatigue significantly correlates with travel time (p value=0.042 (reduce activity)); (p value=0.043 (reduce motivation)); (p value=0.012 (physical fatigue)), sleep quantity (p value=0.000 (general fatigue)); (p value=0.001 (reduce activity)); (p value=0.000 (reduce motivation)); (p value=0.016 (physical fatigue)), shift work (p value=0.033 (general fatigue)), long working hours (p value=0.023 (reduce activity)); (p value=0.049 (reduce motivation)), and temperature (p value=0.016 (physical fatigue)), but not with age, BMI, marital status, length of service, noise, lighting, and humidity. The researchers recommend reviewing company policies to manage fatigue-related factors to minimize the risk of work fatigue.
Read More
T-7034
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Heryana; Promotor: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Kopromotor: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ascobat Gani, Fatma Lestari, Meiwita Paulina Budiharsana, Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, Turro Selrits Wongkaren, Raditya Jati
Abstrak:
Kejadian pandemi virus corona SARS-CoV-2 di dunia meningkatkan kesadaran bahwa pengendalian wabah penyakit di suatu daerah sangat berkaitan dengan karakteristik wilayah epidemik. Determinan sosial kesehatan dapat dijadikan sebagai kerangka kerja untuk memprediksi penyebaran penyakit dan mengusulkan upaya pengendalian wabah pada tingkat populasi berdasarkan penilaian risiko. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pengendalian wabah penyakit berbasis risiko wilayah. Metodologi: Studi kasus dilakukan terhadap pandemi COVID-19 saat gelombang Delta tahun 2021 di Indonesia. Untuk menjawab tujuan penelitian, dilakukan studi faktor risiko terhadap 128 kabupaten/kota di Jawa-Bali dengan analisis regresi linier. Penilaian risiko diukur dengan pemodelan kompartemen penyakit menular SEIRD (Susceptible, Exposed, Infected, Recovered, Dead). Usulan upaya mitigasi risiko, respon, kesiapsiagaan dan rehabilitasi dibangun berdasarkan hasil penilaian risiko. Seluruh analisis dikontrol berdasarkan tahapan pandemi yang terdiri dari pra, naik, turun, dan pasca. Hasil: terdapat 31 faktor determinan sosial kesehatan yang secara signifikan berpengaruh terhadap indikator wabah yakni kerentanan, penularan, kesembuhan, dan kematian. Hasil simulasi model diperoleh 17 faktor determinan sosial yang memiliki risiko signifikan berdasarkan vulnerability, capacity, exposure, dan hazard. Upaya pengendalian pandemi yang diusulkan ternyata memiliki perbedaan berdasarkan tahapan pandemi dan karakteristik wilayah kabupaten/kota. Kesimpulan: penelitian ini telah menghasilkan model pengendalian wabah berbasis risiko wilayah yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah krisis kesehatan lainnya pada tingkat lokal, regional, hingga global

The COVID-19 pandemic has raised awareness that the control of disease outbreaks in a region is closely linked to the characteristics of the epidemic region. Social determinants of health can be used as a framework to predict the spread of disease and propose outbreak control efforts at the population level based on risk assessment. This study aims to develop a risk region-based disease outbreak control model. Methodology: A case study was conducted on the COVID-19 pandemic during the Delta wave in 2021 in Indonesia. To answer the research objectives, a risk factor study was conducted on 128 regencies/cities in Java-Bali using linear regression analysis. Risk assessment was measured using the SEIRD (Susceptible, Exposed, Infected, Recovered, Dead) infectious disease compartment modeling. Proposed risk mitigation, response, preparedness, and rehabilitation efforts were built based on the results of risk assessment. All analyzes were controlled based on the stages of the pandemic, consisting of pre, increase, declining, and post. Results: There were 31 social determinants of health factors that significantly affected outbreak indicators, namely vulnerability, transmission, recovery, and death. The results of the model simulation showed 17 social determinants of risk based on vulnerability, capacity, exposure, and hazard. The proposed pandemic control efforts actually differ based on the stages of the pandemic and the characteristics of the regencies/cities. Conclusion: This study has resulted in a risk region-based disease outbreak control model that can be applied to address other health crisis problems at the local, regional, and global levels
Read More
D-503
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiffani Dwiarine Afifa; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Septiaria, Adang Bachtiar, Aliyus Kusumaningrum, Sumijatun
Abstrak:
Pandemi COVID-19 membuat dokter dan perawat menjadi kelompok yang berisiko tertular COVID-19 di tempat kerja. Rumah sakit perlu melakukan upaya perlindungan yang maksimal terhadap dokter dan perawat, yaitu dengan penerapan manajemen risiko yang baik. Dalam penelitian ini dilakukan analisis penerapan manajemen risiko terhadap pencegahan penularan infeksi COVID-19 pada dokter dan perawat di RS X dengan cara menganalisis elemen-elemen penting dalam penerapannya serta melihat hubungan elemen-elemen tersebut terhadap penilaian penerapan manajemen risiko. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif paralel konvergen yang kemudian diolah secara univariat dan bivariat. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara mendalam dan penyebaran kuesioner daring. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa rumah sakit telah melakukan berbagai penyesuaian demi tercapainya lingkungan kerja yang aman, seperti pembuatan area khusus COVID, penyediaan APD yang cukup, serta pengaturan durasi shift. Didapatkan pula adanya korelasi signifikan (p-value <0.05) elemen yang diteliti dengan penilaian penerapan manajemen risiko, dengan nilai uji Spearman tertinggi 0.607 yaitu pada elemen informasi dan komunikasi. Kesimpulan: elemen-elemen yang diteliti memiliiki hubungan terhadap penilaian penerapan manajemen risiko di RS X. RS X telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi dokter dan perawat dengan penerapan manajemen risiko terkait penularan COVID-19 pada dokter dan perawat yang juga sudah berjalan cukup baik. Ini terlihat dari semakin turunnya angka infeksi pada dokter dan perawat pada pemeriksaan rutin walaupun masih ditemukan hambatan karena adanya keterbatasan sumber daya, karakter yang kurang disiplin, serta belum terciptanya komunikasi dan lingkungan jujur dengan sepenuhnya. Kata kunci: manajemen risiko, COVID-19, dokter, perawat

COVID-19 pandemic has made doctors and nurses become a group of people who have a high chance of being infected by the virus at their work places. Hospitals need to make efforts in order to protect doctors and nurses by implementing a good risk management process. This study analyses the implementation of risk management in RS X related to the prevention of virus transmission to doctors and nurses by analyzing important elements of risk management and the correlation between those elements to the valuation of the implementation itself. The method of this study is convergent parallel quantitative and qualitative which then analysed using univariate and bivariate analysis. The data was collected through in-depth interview and online questionnaires. From this study, it is found that X Hospital has made adjustments in order to provide a safe working environment, such as building a separate area for COVID related service, providing sufficient PPE, and adjusting working shift. It is also found that there are significant correlations (p-value <0.05) between studied elements to the valuation of the implementation of risk management, with the highest score of 0.607 in information and communication. Conclusion: there is a correlation between the studied elements to the valuation of the implementation of risk management in X Hospital. X Hospital has made efforts in order to protect their doctors and nurses by implementing a good risk management in preventing the transmission of COVID-19. It is shown in the decreasing numbers of infected doctors and nurses found in monthly screening, though some obstacles are still present such as lack of resources, undiscipline characters, and an honest communication and work environment is not fully established. Keywords: risk management, COVID-19, doctors, nurses
Read More
T-7513
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Wulan Kusuma Ningsih; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Yuni Kusminanti
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang penilaian risiko keselamatan dan kesehatan kerja di departemen produksi line bubut PT. XY tahun 2021. Identifikasi bahaya dan risiko menggunakan metode Job Hazard Analysis (JHA). Analisis risiko dilakukan secara semi kuantitatif yang mengacu kepada AS/NZS 4360:2004 tentang Risk Management dan perhitungan tingkat risiko dihitung sesuai dengan formula menurut William T. Fine (1971). Pengambilan data dilakukan dengan komunikasi secara online untuk mendapat data awal dan sepanjangan identifikasi serta penilaian risiko di line bubut, wawancara online kepada operator produksi line bubut, dan studi literatur. Hasil penelitian didapatkan 3 tahapan kegiatan, 14 tugas, serta 54 bahaya dan risiko yang terdapat di departemen line bubut PT. XY. Hasil penilaian risiko, didapatkan risiko yang paling banyak ditemukan di line bubut berkaitan dengan bahaya fisik. Hasil tingkat existing risk di line bubut terdapat empat bahaya dan risiko tertinggi diantaranya, korsleting listrik, jari tangan terjepit chuck mesin bubut, terhirup asap bubut, dan kebisingan dengan kategori Very High.
Read More
S-10815
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rahim Albadrul; Pembimbing : L. Meily Kurniawidjaja; Penguji:Mila Tejamaya, Ike Pujiriani
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang nilai risiko yang ada di Unit Dapur Peleburan DepartemenCor Divisi Tempa & Cor PT. Pindad Persero Bandung tahun 2016. Desain penelitian inimenggunakan teknik survey dengan metode sekuensial eksplanatori (bertahap). Penilaianrisiko dilakukan dengan analisis berdasarkan nilai konsekuensi, pajanan dan kemungkinandengan menggunakan metode penilaian semi-kuantitatif W.T Fine untuk mengetahui levelrisiko yang ada dalam proses/tahap produksi yang mengacu pada standar AS/NZS4360:2004. Hasil penelitian menyatakan bahwa level risiko yang ada di Unit DapurPeleburan Departemen Cor Divisi Tempa & Cor PT. Pindad Persero Bandung meliputipriority 1, substantial dan priority 3.
Kata Kunci :Panas, Peleburan, Dehidrasi, AS/NZS 4360:2004 Risk Management, Konsekuensi, Pajanan,Kemungkinan, Level Risiko.
This study discusses the value of the existing risks in the Kitchen Melting Unit DepartmentOf Casting Division Casting & Forging PT. Pindad Persero Bandung in 2016. The designof this study using survey techniques with explanatory sequential method (two-phased).The risk assessment carried out by the analysis based on the value of the consequences,exposure and likelihood of using a semi-quantitative assessment methods W.T Fine todetermine the level of risk in the process / production stage refers to AS / NZS 4360: 2004standard. The study states that the level of risk that exist in the Kitchen Melting UnitDepartment Of Casting Division Casting & Forging PT. Pindad Persero Bandung includePriority 1, Substantial, and Priority 3.
Keywords :Heat, Melting, Dehydration, AS / NZS 4360: 2004 Risk Management, Consequences,Exposure, Likelihood, Risk Level.
Read More
S-9217
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roberta Caroll
362.11068 RIS
Chicago, Ill. : Health Forum Inc., 2001
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive