Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rizki Nurmaliani; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Ratna Djuwita, Julina
Abstrak:
Stunting merupakan permasalahan malnutrisi yang paling banyak terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Salah satu faktor yang berhubungan dengan stunting adalah berat badan lahir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dengan stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 dengan jumlah sampel sebanyak 87.754 anak. Analisis data dilakukan menggunakan uji Cox Regression Constant Time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2022 adalah sebesar 20,92% dan prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2022 adalah sebesar 5,71%.  Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa anak yang memiliki riwayat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) memiliki risiko lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan anak yang tidak memiliki riwayat BBLR setelah dikontrol variabel panjang badan lahir dengan besar risiko bergantung pada kelompok usia anak. Pada anak usia 6-11 bulan, riwayat BBLR meningkatkan risiko stunting sebesar 2,10 (APR=2,10, 95% CI 1,89-2,33) setelah dikontrol variabel panjang badan lahir, sedangkan pada anak usia 12-23 bulan, riwayat BBLR meningkatkan risiko stunting sebesar 1,38 (APR=1,38, 95% CI 1,29-1,48) setelah dikontrol variabel panjang badan lahir. Diperlukan upaya pencegahan terjadinya BBLR serta tata laksana dan pemantauan pertumbuhan yang optimal sedini mungkin bagi bayi dengan berat lahir rendah agar risiko stunting dapat diminimalkan.

Stunting is the most common form of malnutrition among children under five years of age. One of the factors associated with stunting is birth weight. The aim of this study was to examine the relationship between birth weight and stunting among children aged 6–23 months in Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) with a sample size of 87,754 children. Data were analyzed using Cox regression with constant time, using prevalence ratio (PR) as the measure of association, along with a 95% confidence interval. The results showed that the prevalence of stunting among children aged 6–23 months in Indonesia in 2022 was 20.92%, while the prevalence of low birth weight (LBW) in the same age group was 5.71%. Multivariate analysis indicated that children with a history of LBW had a higher risk of stunting compared to those without such a history, after adjusting for birth length. Moreover, the magnitude of risk varied by age group. Among children aged 6–11 months, LBW increased the risk of stunting by 2.10 times (APR = 2.10; 95% CI: 1.89–2.33), whereas in those aged 12–23 months, the risk increased by 1.38 times (APR = 1.38; 95% CI: 1.29–1.48). Preventive measures to reduce the incidence of LBW, along with optimal management and early monitoring of growth in LBW infants, are essential to minimize the risk of stunting.

Read More
T-7329
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak: Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aprillia Cahya Azura; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Salimar
Abstrak:
Stunting diartikan sebagai gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Stunting memiliki dampak jangka pendek maupun panjang, termasuk peningkatan kejadian penyakit, gangguan perkembangan dan kapasitas belajar yang buruk, serta dampak antargenerasi lainnya. Banyak faktor yang menyebabkannya, seperti kesehatan dan gizi ibu hamil yang buruk, pola asuh yang tidak tepat, asupan tidak adekuat, serta penyakit infeksi. Data SSGI tahun 2022 melaporkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi keempat dengan prevalensi stunting yang tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan serta faktor dominan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI tahun 2022, yang melibatkan 1827 responden. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat pada analisis bivariat dan uji regresi logistik ganda pada analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting, yaitu usia, jenis kelamin, BBL, TB ibu, dan konsumsi TTD. Riwayat BBL diketahui sebagai faktor dominan kejadian stunting dengan p-value 0,001 dan OR 5,238 (CI 95%: 3,172 – 8,649). Saran bagi masyarakat, yaitu ibu hamil dapat lebih memerhatikan kondisi kehamilannya, seperti terkait kecukupan gizi dan tumbuh kembang janinnya. Selain itu, instansi kesehatan diharapkan dapat mengoptimalkan dukungan kepada masyarakat melalui media KIE Gizi yang berkaitan dengan 1000 HPK, stunting, serta gizi ibu hamil untuk mengoptimalkan program pencegahan stunting.

Stunting defined as the impaired growth and development experienced by children due to poor nutrition, repeated infections, and inadequate psychosocial stimulation. Stunting has both short- and long-term impacts, including increased incidence of disease, impaired development and poor learning capacity, and other intergenerational impacts. Many factors contribute to it, such as poor maternal health and nutrition, inappropriate parenting, inadequate intake, and infectious diseases. SSGI data in 2022 reported that West Nusa Tenggara Province is the fourth province with a high prevalence of stunting in Indonesia. This study aims to analyze the associated and dominant factors of stunting among under-fives aged 6-23 months in West Nusa Tenggara Province. This study was conducted with a cross-sectional design using secondary data from SSGI, involving 1827 respondents. Data analyzed using the chi-square test in bivariate analysis and multiple logistic regression test in multivariate analysis. The results showed that there were five variables associated with the incidence of stunting, such as age, sex, LBW, maternal TB, and TTD consumption. LBW history was found to be the dominant factor in the incidence of stunting with a p-value of 0.001 and OR 5,238 (CI 95%: 3.172 – 8.649). Writer suggest that pregnant women can pay more attention to the condition of their pregnancy, mainly on their nutritional adequacy and fetal growth and development. Moreover, health agencies are expected to optimize support to the community through Nutrition IEC media related to 1000 HPK, stunting, and nutrition of pregnant women to optimize stunting prevention programs.
Read More
S-11632
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Eksi Wijayanti
Abstrak:
Penyakit infeksi merupakan ancaman yang signifikan dan menyebabkan kematian pada anak-anak dalam jumlah besar. Penyakit infeksi berkontribusi terhadap 47,6% penyebab kematian pada balita tahun 2019 di dunia dan lebih dari 22% penyebab kematian pada balita di Indonesia tahun 2021. Riwayat imunisasi dasar dan stunting memiliki peranan penting terhadap risiko terjadinya penyakit infeksi pada anak usia di bawah dua tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan riwayat imunisasi dasar dan stunting dengan risiko penyakit infeksi pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI-2022. Terdapat 53.585 responden yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression constant time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi anak usia 12 – 23 bulan yang menderita penyakit infeksi sebesar 12,67%, proporsi riwayat imunisasi dasar lengkap sebesar 71,63% dan proporsi stunting sebesar 21,28%. Pada analisis multivariat didapatkan riwayat imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel interaksi riwayat imunisasi dasar dan ASI eksklusif. Anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap dan tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 1,34 kali lebih besar untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,34; 95% CI 1,24 – 1,43). Anak usia 12 – 23 bulan yang memiliki riwayat imunisasi dasar tidak lengkap tetapi mendapatkan ASI eksklusif berisiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak yang memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,47; 95% CI 1,37 – 1,58). Sedangkan untuk variabel stunting didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel wasting (adjusted PR 1,05; 95% CI 0,99 – 1,11). Diperlukan upaya untuk melengkapi riwayat imunisasi anak serta pemenuhan asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak secara optimal.

Infectious diseases are a significant threat and the leading cause of death in many children. Infectious diseases contributed for 47.6% of the causes of under-five deaths in 2019 globally and more than 22% of the causes of under-five deaths in Indonesia in 2021. History of basic immunization and stunting play an important role in the risk of infectious diseases in children. The aim of this study was to examine the relationship between history of basic immunization and stunting with the risk of infectious diseases among toddlers aged 12 – 23 months in Indonesia. This study was conducted with a cross-sectional study design using SSGI-2022 data. There were 53,585 respondents who met the research inclusion-exclusion criteria used as samples. Data analysis was performed using cox regression constant time to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% confidence interval. The results of this study show that the proportion of infectious diseases among toddlers aged 12 - 23 months is 12.67%, the proportion of complete basic immunization history is 71.63% and the proportion of stunting is 21.28%. Multivariate analysis was found that history of basic immunization had significantly association with infectious diseases after being controlled by the interaction variable history of basic immunization and exclusive breastfeeding. Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization and were not receive exclusive breastfeding have 1.34 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.34; 95% CI 1.24 – 1.43). Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization but were exclusively breastfed have 1.47 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.47; 95% CI 1.37 – 1.58). Meanwhile, for stunting variable, it was found that there was no significant asscociation between stunting and infectious diseases after being controlled for the wasting variable (adjusted PR 1.05; 95% CI 0.99 – 1.11). Efforts are needed to complete the child's immunization history as well as fulfill the child's nutritional intake and monitor the child's growth and development optimally.
Read More
T-6930
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Weny Wulandary; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Wahyu Kurnia, Agus Triwinarto, Siti Romlah
Abstrak:
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, kesehatan dan gizi ibu yang buruk, pemberian makan dan pola asuh tidak tepat, serta stimulasi psikososial tidak memadai. Tesis ini membahas determinan kejadian stunting pada anak usia 6 – 23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dengan jumlah sampel analisis multivariat sebanyak 490 anak yang didapatkan berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Variabel independen yang diteliti meliputi usia anak, jenis kelamin, berat badan lahir rendah (BBLR), panjang badan lahir rendah (PBLR), inisiasi menyusu dini (IMD), status ASI eksklusif, minimum dietary diversity (MDD), riwayat penyakit infeksi, usia ibu saat melahirkan, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ayah, status pekerjaan ibu, jumlah anggota keluarga, kerawanan pangan keluarga, status imunisasi dasar, suplementasi vitamin A, tempat tinggal, sumber air minum, dan sanitasi. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting pada anak usia 6 – 23 bulan di provinsi NTT sebesar 32,8%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting di antaranya adalah usia anak (OR: 1,723 CI 95% 1,215-2,445), jenis kelamin (OR: 1,777 CI 95% 1,305-2,419), BBLR (OR: 2,106 CI 95% 1,206-3,423), PBLR (OR: 1,768 CI 95% 1,133-2,759), riwayat penyakit infeksi (OR: 1,548 CI 95% 1,141-2,099), tingkat pendidikan ibu (OR: 1,555 CI 95% 1,136-2,127), dan sanitasi (OR: 1,881 CI 95% 1,384-2,555). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor paling dominan terhadap kejadian stunting yaitu riwayat penyakit infeksi dengan nilai OR terbesar (OR: 2,244). Anak yang memiliki riwayat penyakit infeksi berisiko mengalami stunting sebesar 2,2 kali lebih tinggi dibandingan dengan anak yang tidak memiliki riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol variabel usia anak, jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, dan sanitasi.


Stunting is the impaired growth and development that children experience from chronic malnutrition, repeated infection, poor maternal health and nutrition, and inadequate psychosocial stimulation. The focus of this study is determinants of stunting on 6 – 23 month children in East Nusa Tenggara Province using data from the Study of Indonesian Nutritional Status (SSGI) in 2021. This research is a quantitative study used cross sectional design with 490 toddlers based on inclusion and exclusion criteria. The independent variables studies included low birth weight (LBW), low birth height (LBH) early breastfeeding initiation, exclusive breastfeeding status, minimum dietary diversity (MDD), history of infectious disease, maternal age, father’s education level, mother’s educational level, father’s employment status, mother’s employment status, total family members, family food insecurity, basic immunization status, vitamin A supplementation, residence, water source, and sanitation. The results showed that the proportion of stunting in 6-23 months in NTT province was 32.8%. The results of bivariate analysis showed that variables significantly associated with stunting included child age (OR: 1.723 CI 95% 1.215-2.445), gender (OR: 1.777 CI 95% 1.305-2.419), LBW (OR: 2.106 CI 95% 1.206-3.423), LBH (OR: 1.768 CI 95% 1.133-2.759), history of infectious disease (OR: 1.548 CI 95% 1.141-2.099), maternal education level (OR: 1.555 CI 95% 1.136-2.127), and sanitation (OR: 1.881 CI 95% 1.384-2.555). The results of multivariate analysis showed that the most dominant factor of stunting was history of infectious disease (OR: 2.244). Children who have history of infectious disease are at risk of stunting by 2.2 times higher than children who do not have history of infectious disease after being controlled by child age, gender, birth weight, birth length, and sanitation.
Read More
T-6734
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiandhari Esa Gautami; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, Helwiah Umniyati
Abstrak:
Malnutrisi merupakan penyebab paling umum morbiditas dan mortalitas pada anak-anak dan remaja di seluruh dunia, malnutrisi pada balita menimbulkan masalah kesehatan yang berkepanjangan antara lain gangguan pertumbuhan fisik dan motorik, gangguan perkembangan kognitif, kecerdasan intelektual yang rendah, keterampilan sosial yang buruk, dan rentan terhadap penyakit menular. Menurut WHO sebanyak 6% kematian balita di dunia disebabkan karena penyakit infeksi, infeksi spesifik yang mempunyai dampak tinggi terhadap status gizi adalah tuberkulosis. Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) adalah indikator pengukuran status gizi balita yang menggabungkan antara indikator antropometri yang dapat menunjukan besaran kasus kekurangan gizi secara lebih komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan TB paru dengan malnutrisi pada balita di Indonesia tahun 2021 menggunakan indikator CIAF. Desain studi ini adalah cross-sectional dan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 95.911 balita. Uji statistik yang digunakan adalah cox-regression. Hasil penelitian menunjukan proporsi balita malnutrisi sebanyak 29,29% (28.093), dan balita yang terinfeksi TB paru sebanyak 0,44% (422). Hasil analisis multivariat menunjukan prevalensi balita malnutrisi dengan TB pari 1,68 kali lebih tinggi dibanding dengan balita yang tidak terinfeksi TB paru setelah dikontrol variabel kovariat jenis kelamin dan hygine sanitasi dengan nilai PR (Prevalance Ratio) 1,68 (95%CI: 1,36 - 2,07) dengan p-value 0,000.

adolescents throughout the world. Malnutrition in toddlers causes long-term health problems including impaired physical and motoric growth, impaired cognitive development, low intellectual intelligence, poor social skills, and vulnerable against infectious diseases. According to WHO, 6% of under-five deaths in the world are caused by infectious diseases, a specific infection that has a high impact on nutritional status is tuberculosis. The Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) is an indicator for measuring the nutritional status of children under five which combines anthropometric indicators which can show the magnitude of cases of malnutrition more comprehensively. The aim of this research is to determine the relationship between pulmonary TB and malnutrition among children under five in Indonesia in 2021 using the CIAF indicator. The design of this study is cross-sectional and uses data from the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) with a sample size of 95,911 children under five. The statistical test used is cox-regression. The research results showed that the proportion of malnourished toddlers was 29.29% (28,093), and toddlers infected with pulmonary TB were 0.44% (422). Multivariate analysis results show that the prevalence of malnourished toddlers with pulmonary TB is 1.68 times higher than toddlers who are not infected with pulmonary TB after controlling for the covariate variables of gender and sanitation hygiene with a PR (Prevalance Ratio) value of 1.68 (95% CI: 1, 36 - 2.07) with p-value of 0.000.
Read More
T-6855
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive