Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diego Sergio Giasia Lumbantobing; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Putri Bungsu, Rakhmat Ari Wibowo
Abstrak:
Pendahuluan: Penggunaan smartphone yang tinggi di kalangan mahasiswa berpotensi memengaruhi ritme sirkadian melalui paparan cahaya biru dan perubahan perilaku tidur. Gangguan ritme sirkadian dapat tercermin pada perubahan chronotype, yaitu preferensi biologis terhadap waktu tidur dan aktivitas. Penelitian mengenai hubungan durasi screen time dan chronotype di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi screen time smartphone dengan chronotype pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2025. Metode: Studi ini menggunakan desain cross-sectional pada mahasiswa aktif jenjang S1 FKM UI tahun 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner elektronik menggunakan Self-Reported Smartphone Usage Questionnaire (SSUQ) untuk mengukur durasi screen time dan Reduced Morningness–Eveningness Questionnaire (rMEQ) untuk menentukan chronotype. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik multinomial dengan pengendalian variabel perancu. Hasil: Sebagian besar mahasiswa memiliki durasi screen time smartphone yang tinggi (>4 jam per hari). Chronotype tipe menengah merupakan jenis yang paling banyak ditemukan, diikuti tipe malam dan tipe pagi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa mahasiswa dengan durasi screen time smartphone tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuk memiliki chronotype tipe pagi setelah dikontrol oleh variabel perancu. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara durasi screen time smartphone dengan chronotype pada mahasiswa FKM UI. Durasi screen time yang tinggi berhubungan dengan kecenderungan chronotype tipe pagi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan program promosi kesehatan terkait manajemen screen time dan kesehatan tidur di lingkungan perguruan tinggi.

Introduction: High smartphone use among university students may affect circadian rhythms through blue light exposure and changes in sleep-related behaviors. Disruption of circadian rhythms can be reflected in alterations of chronotype, defined as an individual’s biological preference for sleep and activity timing. Research examining the relationship between screen time duration and chronotype in Indonesia remains limited. This study aimed to analyze the association between smartphone screen time duration and chronotype among students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, in 2025.  Methods: This study employed a cross-sectional design involving active undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, in 2025. Data were collected through an electronic questionnaire using the Self-Reported Smartphone Usage Questionnaire (SSUQ) to measure screen time duration and the Reduced Morningness–Eveningness Questionnaire (rMEQ) to determine chronotype. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analyses. Multinomial logistic regression was applied to assess the association between smartphone screen time duration and chronotype while controlling for potential confounding variables. Result: Most students reported high smartphone screen time (>4 hours per day). The intermediate chronotype was the most prevalent, followed by evening and morning types. Multivariate analysis showed that students with high smartphone screen time had a greater tendency to exhibit a morning-type chronotype after adjusting for confounding variables.  Conclusion: There was an association between smartphone screen time duration and chronotype among students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia. High smartphone screen time was associated with a greater likelihood of morning-type chronotype. These findings may inform the development of health promotion programs focusing on screen time management and sleep health in university settings.
Read More
T-7487
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Aulia; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Sada Rasmada
Abstrak:
Sugar Sweetened Beverages (SSBs) merupakan cairan yang dimaniskan dengan berbagai bentuk gula tambahan seperti corn syrup, dekstrosa, fruktosa, glukosa, sukrosa, madu dan gula yang secara alami terdapat di dalam bahan pangan namun telah dipekatkan, jika dikonsumsi secara berlebihan maka akan menyebabkan kejadian obesitas dan mengakibatkan faktor risiko lain seperti penyakit tidak menular yaitu diabetes dan penyakit kardiovaskular. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan proporsi konsumsi Sugar Sweetened Beverages (SSBs) berdasarkan konsumsi fast food, screen time, karakteristik individu, karakteristik lingkungan pada mahasiswa Universitas Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel 185 orang. Data diambil melalui pengisian kuesioner online secara mandiri oleh responden. Data akan dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 61,6% mahasiswa Universitas Indonesia mengonsumsi SSB dalam tingkat tingi (≥ 200 kkal). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi yang signifikan antara ketersediaan SSBs p-value 0,045 dan odds ratio OR 2,057 (1,068-3,963), pengaruh media sosial p-value 0,025 dan odds ratio OR 2,273 (1,159-4,457), konsumsi fast food p-value 0,049 dan odds ratio OR 0,514 (0,277-0,954), dan screen time p-value 0,044 dan odds ratio OR 1,986 (1,066-3,699) terhadap konsumsi SSBs. Peneliti menyarankan konsumen untuk memperhatikan konsumsi SSBs dan memilih alternatif lain agar tidak mengonsumsi SSBs berlebihan saat melakukan kegiatan luar bersama dengan teman maupun keluarga. Produsen SSBs disarankan untuk mencantumkan label gizi pangan terkait jumlah gula yang ada di produk SSBs terutama SSBs yang berbentuk warlaba. Peneliti juga menyarankan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dapat mencantumkan infromasi nilai gizi dalam bentuk traffic light atau penggunaan warna yang berbeda untuk membedakan kandungan zat gizi yang rendah, sedang dan juga tinggi seperti warna hijau untuk kandungan zat gizi yang rendah, warna kuning untuk kandungan zat gizi yang sedang dan warna hijau untuk kandungan zat gizi yang tinggi

Sugar Sweetened Beverages (SSBs) are liquids that are sweetened with various forms of added sugar such as corn syrup, dextrose, fructose, glucose, sucrose, honey, and sugar which are naturally found in foodstuffs but have been concentrated, if it consumes in excess, it will cause an obesity and lead to other risk factors such as infectious diseases diabetes and cardiovascular disease. The purpose of this study is to determine the differences in the proportion of consumption of Sugar Sweetened Beverages (SSBs) based on consumption of fast food, screen time, individual characteristics, environmental characteristics among the students at University of Indonesia in 2023. This study used a cross-sectional study design with a sample size of 185 respondents. Data was collected by filling online questionnaires independently by respondents. Data will be analyzed univariately and bivariate. The results showed that 61.6% of University of Indonesia students consumed high levels of SSB (≥ 200 kcal). The results of the bivariate analysis showed that there was a significant proportion difference between the availability of SSBs p-value 0.045 and odds ratio OR 2.057 (1.068-3.963), social media influence p-value 0.025 and odds ratio OR 2.273 (1.159-4.457), consumption of fast-food p -value 0.049 and odds ratio OR 0.514 (0.277-0.954), and screen time p-value 0.044 and odds ratio OR 1.986 (1.066-3.699) for consumption of SSBs. Researchers suggest consumers to pay attention to consumption of SSBs and choose other alternatives to avoid heavy consumption of SSBs when doing outdoor activities with friends or family. SSBs producers are advised to put food nutrition labels related to the amount of sugar in SSBs products, especially SSBs in the form of franchises. Researchers also suggest that the Food and Drug Monitoring Agency (BPOM) can put nutritional value information in the form of traffic lights or the use of different colors to distinguish low, medium, and high nutrient content such as green for low nutrient content, yellow for medium nutrient content and green for high nutrient content.
Read More
S-11237
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Awalia Maharani; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Tiara Luthfie
Abstrak: Overweight dan obesitas pada anak usia sekolah erat kaitannya dengan risikoobesitas saat dewasa dan berlanjut menjadi penyakit tidak menular, sepertidiabetes mellitus tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominanterhadap overweight dan obesitas pada siswa kelas 1 SD di Jakarta Selatan.Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional yangmelibatkan 153 sampel kelas 1 usia 6-9 tahun di 6 SD di Jakarta Selatan.Pengukuran overweight dan obesitas menggunakan nilai Z-score indeks IMT/U.Hasil penelitian menunjukkan terdapat 32% siswa mengalami overweight danobesitas. Dari beberapa variabel yang diteliti, terdapat perbedaan bermaknakejadian overweight dan obesitas berdasarkan frekuensi konsumsi lemak,frekuensi konsumsi serat, aktivitas fisik, screen time, dan pekerjaan ibu. Analisismultivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda menunjukkan screentime sebagai faktor dominan terhadap kejadian overweight dan obesitas setelahdikontrol dengan variabel frekuensi konsumsi lemak, frekuensi konsumsi serat,aktivitas fisik, pendidikan ibu, dan pekerjaan ibu. Berdasarkan hasil penelitian,disarankan bagi sekolah untuk memantau status gizi siswa. Orang tua siswadiharapkan untuk membatasi waktu anak untuk menonton TV, bermaingames/laptop/komputer di rumah dan mengajak anak untuk melakukan aktivitasdi luar rumah.Kata Kunci :Overweight dan obesitas, anak usia sekolah, IMT/U, screen time, aktivitas fisik
Overweight and obesity on school-age children associated with risk of obesity onadulthood and would be continued become non-communicable disease, such asDiabetes Mellitus type 2. The purpose of this study is to determine the dominantfactor of overweight and obesity on 1st grade elementary school students at SouthJakarta. This study used cross sectional design with 153 sampels amongelementary school students aged 6-9 years old at South Jakarta. In this study,overweight and obesity measured using Z-score index IMT/U. The result of thisstudy shows that 32% students are overweight and obesity and there weresignificant differences of overweight and obesity based on fat consumptionfrequency, fiber consumption frequency, physical activity, screen time, andmaternal employment. Multivariate analysis using multiple regression logicticshows that screen time as dominant factor of overweight and obesity aftercontrolled by fat consumption frequency, fiber consumption frequency, physicalactivity, and maternal education, maternal employment. According to these result,it was expected for school to monitor nutritional status of their studentsperiodically. Parents are suggested to control children‟s time for watching TV andplaying games/laptop/computer at home and they must consider to take theirchildren for outdoor activities.Key words :Overweight and obesity, school-age children, IMT/U, screen time, physicalactivity.
Read More
S-9220
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferriandra Henry Wicaksono; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Linawati
Abstrak:
Fase remaja merupakan periode penting dalam membentuk pola hidup sehat jangka panjang. Permasalahan akibat pola hidup tidak sehat, seperti pola makan berlebihan hingga kurangnya aktivitas fisik, berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian berat badan berlebih (overweight dan obesitas), yang dapat memicu penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik, dll. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan angka prevalensi overweight dan obesitas pada kelompok usia remaja 13-15 tahun tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 11,8% untuk kategori overweight dan 5,2% untuk obesitas. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, Kota Depok adalah salah satu kabupaten/kota dengan prevalensi overweight dan obesitas tertinggi, yaitu 11,27% untuk overweight dan 4,86% untuk obesitas. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian berat badan berlebih pada SMP Negeri 3 Kota Depok tahun 2025. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 3 Kota Depok dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara aktivitas fisik, screen on time, dan night eating syndrome dengan kejadian berat badan berlebih. Tetapi, terdapat hubungan yang signifikan antara asupan kalori dengan kejadian berat badan berlebih. Dengan demikian, kegiatan edukasi serta implementasi pola hidup sehat perlu dilakukan di lingkungan sekolah sebagai tindakan preventif terhadap kejadian berat badan berlebih pada siswa usia remaja. 

The adolescent phase is an it mportanperiod in shaping a long-term healthy lifestyle. Problems due to unhealthy lifestyles, such as overeating and physical inactivity, contribute to the increasing incidence of overweight and obesity, which can lead to non-communicable diseases such as hypertension, type 2 diabetes mellitus, cardiovascular diseases, metabolic syndrome, etc. According to the 2023 Indonesian Health Survey (IHS), West Java Province is one of the provinces with the highest prevalence rates of overweight and obesity in the adolescent age group of 13-15 years in Indonesia, which amounted to 11.8% for the overweight category and 5.2% for obesity. Based on the 2018 Riskesdas, Depok City is one of the districts/cities with the highest prevalence of overweight and obesity, which is 11.27% for overweight and 4.86% for obesity. This research design is quantitative using a cross-sectional approach that aims to determine the faktors associated with the incidence of overweight at SMP Negeri 3 Depok City in 2025. The population of this study were all students of SMP Negeri 3 Depok City with purposive sampling. The results showed that there was no significant relationship between physical activity, screen on time, and night eating syndrome with the incidence of excess weight. However, there is a significant relationship between calorie intake and the incidence of overweight. Thus, educational activities and implementation of a healthy lifestyle need to be carried out in the school environment as a preventive measure against the incidence of overweight in adolescent students.
Read More
S-11945
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shaina Nabila; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Deksa Presiana
Abstrak: Dengan meningkatnya konsumsi SSBs pada remaja di Indonesia termasuk Jakarta, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan konsumsi SSBs pada remaja di Jakarta. Variabel independen yang diteliti meliputi jenis kelamin, aktivitas fisik, pengetahuan tentang SSBs, screen time, uang saku, frekuensi online food ordering, dan status sosioekonomi serta menentukan faktor dominan dari variabel independen. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan April 2021 dengan jumlah siswa kelas 10 dan 11 SMAN 99 Jakarta sebanyak 206 siswa. Data dikumpulkan dengan responden mengisi kuesioner online secara mandiri. Data dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan analisis chi-square, dan multivariat menggunakan analisis regresi logistik ganda.
Read More
S-10657
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maham Gul; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Retno Mardhiati, Hilmansyah Panji Utama
Abstrak:
Gangguan kesehatan mental seperti stres, depresi, dan penurunan kesejahteraan psikologis memengaruhi lebih dari 970 juta orang di seluruh dunia dan semakin dikaitkan dengan penggunaan perangkat digital yang berlebihan, di mana studi ini menemukan bahwa 49% partisipan mengalami tingkat stres sedang hingga tinggi dan 42% melaporkan gejala depresi, menunjukkan beban signifikan yang terkait dengan perilaku berbasis layar modern. Indonesia dan Pakistan dipilih sebagai lokasi penelitian karena digitalisasi yang cepat, tingginya prevalensi waktu layar di kalangan pemuda, dan meningkatnya kekhawatiran terkait kesehatan mental di negara-negara berkembang ini. Tujuan utama penelitian ini adalah menyelidiki bagaimana strategi koping—baik adaptif maupun maladaptif—memoderasi hubungan antara paparan radiasi perangkat elektronik, yang diukur melalui rata-rata waktu layar harian, dengan hasil kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan mengumpulkan data dari 200 partisipan berusia 15 tahun ke atas melalui survei daring yang dilakukan antara Desember 2024 hingga Februari 2025, menggunakan instrumen terstandar seperti Perceived Stress Scale (PSS), Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), Mental Health Inventory (MHI), dan Brief COPE Inventory, serta dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis korelasi, ANOVA, dan model regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,5% partisipan melaporkan penggunaan layar harian selama 6–9 jam, dengan analisis bivariat menunjukkan korelasi positif antara durasi waktu layar yang lebih panjang dengan tingkat stres dan depresi yang lebih tinggi, serta hubungan negatif dengan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan. Analisis multivariat mengonfirmasi bahwa strategi koping secara signifikan memoderasi hubungan tersebut, di mana koping adaptif mampu mengurangi, sementara koping maladaptif justru meningkatkan risiko masalah kesehatan mental yang terkait dengan penggunaan layar yang berlebihan. Temuan ini menekankan perlunya strategi kesehatan masyarakat yang mendorong kebersihan digital, literasi kesehatan mental, dan keterampilan koping adaptif, khususnya di kalangan pengguna perangkat digital yang muda dan berfrekuensi tinggi.

Mental health disorders such as stress, depression, and reduced psychological well-being affect over 970 million people worldwide and are increasingly linked to excessive use of digital devices, with this study finding that 49% of participants experienced moderate to high perceived stress and 42% reported depressive symptoms, indicating a significant burden tied to modern screen-based behaviors. Indonesia and Pakistan were chosen as study sites due to their rapid digitalization, high screen-time prevalence among youth, and rising concerns about mental health in these emerging economies. The primary objective of this research was to investigate how coping strategies—both adaptive and maladaptive—moderate the relationship between electronic device radiation exposure, measured via average daily screen time, and mental health outcomes. A cross-sectional design was employed, collecting data from 200 participants aged 15 years and older through an online survey conducted between December 2024 and February 2025, utilizing standardized instruments such as the Perceived Stress Scale (PSS), Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), Mental Health Inventory (MHI), and Brief COPE Inventory, with analyses performed using descriptive statistics, correlation analysis, ANOVA, and multiple regression modeling. Results revealed that 54.5% of participants reported daily screen use of 6–9 hours, with bivariate analysis indicating positive correlations between longer screen time and higher levels of stress and depression, alongside lower overall psychological well-being. Multivariate analysis confirmed that coping strategies significantly moderated these relationships, where adaptive coping mitigated, and maladaptive coping exacerbated, mental health risks associated with extensive screen exposure. These findings emphasize the urgent need for public health strategies promoting digital hygiene, mental health literacy, and adaptive coping skills, particularly among young, high-frequency digital users.
Read More
T-7386
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive