Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hening Tirta Kusumawardani; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Asri C . Adisasmita, Irawan Mangunatmadja
Abstrak: Latar Belakang : Ensefalitis adalah suatu infeksi cairan otak atau proses peradangan yang melibatkan parenkim otak yang berasosiasi dengan bukti klinis disfungsi otak (Gilroy, 2000). Ensefalitis masih merupakan masalah kesehatan yang serius, sehingga memerlukan diagnosis awal, terapi yang efektif, dan kontrol terhadap penanganannya. Di Indonesia infeksi susunan saraf pusat menduduki urutan ke- 10 dari urutan prevalensi penyakit, dengan angka kematian anak ensefalitis berkisar antara 18-40% dengan angka kecacatan berkisar antara 30-50% (Saharso dan Hidayati, 2000). Keterlambatan dan penanganan yang tidak optimal dapat memperparah keadaan sehingga dapat menyebabkan kematian dan kecacatan pada pasien. Penelitian tentang skoring prognosis ensefalitis akut pada pasien anak belum pernah dilakukan. Sehingga penelitian ini akan membuat suatu model prognostik yang akan memprediksi luaran pasien anak dengan ensefalitis. Metode : Penelitian kohort retrospektif dengan data sekunder rekam medis. Data yang terdiri dari beberapa variabel yang dikumpulkan secara retrospektif dari catatan medis pasien. RS di Jawa Tengah, Indonesia. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober- November 2014. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 299 pasien. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat, dan analisis multivariate cox proportional hazard dengan model matematis yang selanjutnya akan dibuat model skoring. Analisis roctab digunakan untuk menentukan nilai cut-off setiap variabel numerik Hasil : Variabel kejang, tingkat kesadaran, dan status gizi merupakan faktor protektif outcome, sedangkan variabel peningkatan tekanan intrakranial, kadar elektrolit natrium dan klorida, serta terapi diuretik merupakan faktor resiko untuk terjadinya outcome kematian pada pasien ensefalitis anak.Berdasarkan hasil analisis multivariat skoring didapatkan urutan faktor prognostik yang dominan menyebabkan kematian, yaitu peningkatan tekanan intrakranial (HR = 9.6, skoring 16), hiperklorida (HR = 1.5, skoring 6), terapi diuretik (HR=0.2, skoring 4), status gizi (HR=0.7, skoring 1), frekuensi kejang (HR=0.3, skoring -3), hipernatremia (HR=0.7, skoring -4), dan tingkat kesadaran yang dinilai dengan pediatric coma scale (HR=0.8, skoring -6). Dari hasil multivariat yang telah dilakukan sebelumnya, apabila skor -25 adalah resiko tinggi untuk mengalami kematian. Kesimpulan : Model skoring prognosis yang telah terbentuk ini mampu memprediksi 81% faktor yang berhubungan dengan prognosis ensefalitis. Apabila dari 100 anak ensefalitis dengan adanya semua variabel pembentuk model skoring maka 73 anak akan di prediksi meninggal dan apabila dari 100 anak ensefalitis tanpa adanya semua variabel tersebut maka 27 anak akan meninggal. Kata Kunci : Skoring, Model Prognosis, Ensefalitis, Anak
Read More
T-4283
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dora Herdiana; Pembimbing: Nurhayati Prihartono; Penguji: Ratna Djuwita, Heidy Agustin, Sulistyo
Abstrak: Tingginya angka putus berobat merupakan masalah serius dalampengobatan TB karena memunculkan resistensi obat, meningkatkan kekambuhan,gagal pengobatan,dan berpotensi penularan yang menyebabkan peningkatanbeban dan transmisi TB. Sistem skoring faktor risiko untuk memprediksikesintasan putus berobat pada penderita TB belum banyak diteliti. Studi inibertujuan untuk mengetahui sistem skoring faktor prediktor kesintasan putusberobat penderita TB paru.Studi dilakukan pada April-Mei 2015 di poli DOTS RSUP Persahabatan,menggunakan desain cohort retrospective yang bersumber dari form TB 01 danrekam medis. Sampel sebanyak 370 dengan penderita putus berobat sebagai event,70 orang, penderita sembuh dan pengobatan lengkap sebagai sensor, 300 orang.Probabilitas kumulatif kesintasan putus berobat penderita TB adalah 81%. Hasilanalisis multivariat menemukan prediktor jenis kelamin, diagnosis TB, dan ambilobat sesuai jadwal yang berinteraksi dengan waktu mempunyai nilai p 0,043,0,008, 0,0001 berturut-turut, berisiko terhadap kesintasan putus berobat denganHR 1,7 (95%CI:1,02-2,99), 1,9 (95%CI:1,18-3,05) dan 32,7 (95%CI:14,78-72,18).Variabel mengambil obat sesuai jadwal semakin meningkat HR nya seiringmeningkatnya waktu pengamatan. Hasil skoring model akhir mampu memprediksikesintasan kejadian putus berobat penderita TB paru sebesar 92%, dan nilai cut-off untuk skor model skoring ≥21.Perlu meningkatkan KIE pada penderita secara efektif khususnyapenderita yang laki-laki, diagnosis TB BTA negatif dan mengambil obat tidaksesuai jadwal, meningkatkan jejaring internal maupun eksternal rumah sakit,untuk mengendalikan angka putus berobat TB.Kata Kunci: tuberculosis, putus berobat, kesintasan, skoring
Treatment default is a serious problem in tuberculosis control because itimplies resistance, increased relaps, failure, persistence of infectious source andfurther increased burden and transmission tuberculosis. Scoring system of defaultrisk factors to predict survival patients have been not studied yet, particularly inIndonesia. The aim of this study to determine the predictors scouring system ofsurvival defaulting treatment for tuberculosis patients.This retrospective cohort study was conducted from April to Mei 2013 atpoli DOTS RSUP Persahabatan. were identified from TB 01 forms and medicalrecords. Patients defaulting from treatment were considered as event and thosecure and completing treatment as censors. 370 tuberculosis patients wereincluded, 70 events and 300 censors. Overall patients survival rate was 81%.Survival defaulting associated significanly to sex, smear diagnosis and taking drugaccording to guideline with p value are 0,043, 0,008, 0,0001 respectively, found tobe risk factors for survival defaulting HR 1,7 (95%CI:1,02-2,99), HR 1,9;(95%CI:1,18-3.05), dan HR 32,7 (95%CI:14,78-72,18) respectively. IncreasingHR of taking drug according to guideline followed with increased alteration oftime observation. Scoring results are obtained predicting survival patientsdefaulting by 92%, and a cut-off point for the scoring model is ≥21.Communication, information and education must be increased das well asincreased internal and external hospital linkage to decrease default outcome.Keywords: tuberculosis, default, survival, scouring
Read More
T4472
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farid Yudoyono; Pembimbing : Ratna Djuwita; Penguji : Bambang Sutrisna, Asri C. Adisasmita, M.Zafirullah Arifin
Abstrak: Latar Belakang: Cedera otak traumatika akibat kecelakaan lalu lintas masih merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif. Cedera otak sekunder dideskripsikan sebagai konsekuensi gangguan fisiologis, seperti iskemia, reperfusi, dan hipoksia pada area otak yang beresiko, beberapa saat setelah terjadinya cedera awal (cedera otak primer). Cedera otak sekunder sensitif terhadap terapi dan proses terjadinya dapat dicegah dan dimodifikasi. Metode: Penelitian kohort retrospektif dengan data primer rekam medis. Data yang terdiri dari beberapa variabel yang dikumpulkan secara retrospektif dari catatan medis pasien. RS. Hasan Sadikin, Bandung Jawa Barat, Indonesia. Pengambilan data dilakukan pada 2011-2014. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 647 pasien. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat, dan analisis multivariate cox proportional hazard dengan model matematis yang selanjutnya akan dibuat model skoring. Analisis roctab digunakan untuk menentukan nilai cut-off setiap variabel numerik. Hasil: Variabel perdarahan otak, tingkat kesadaran, dan edema serebri merupakan faktor resiko outcome, sedangkan variabel peningkatan tekanan intrakranial, kadar elektrolit natrium dan klorida, serta terapi diuretik merupakan faktor resiko untuk terjadinya outcome kematian pada pasien ensefalitis anak. Berdasarkan hasil analisis multivariat skoring didapatkan urutan faktor prognostik yang dominan menyebabkan kematian, yaitu Variabel usia memilik HR sebesar 1,00, natrium mempunyai HR 0,8, Perdarahan otak pada CT Scan kepala mempunyai HR sebesar 1,73, edema serebri mempunyai HR 2,53, hipoksia mempunyai HR sebesar 2,13, farktur maksillofascial mempunyai HR sebesar 0,6, hipotensi memiliki HR 0,7 dan pembedahan/trepanasi mempunyai HR 0,388 Berdasarkan analisis tersebut maka natrium, GCS, hipotensi, pembedahan dan MFS fraktur merupakan faktor proteksi outcome sedangkan usia, perdarahan otak pada CT Scan, edema serebri, hipoksia merupakan faktor resiko terjadinya outcome kematian pada pasien cedera kepala berat. Dari hasil mulitvariat yang telah dilakukan sebelumnya apabila skor -69 s/d -47 mengalami resiko rendah untuk mengalami kematian, skor -46 s/d -20 mengalami resiko sedang untuk terjadinya kematian dan skor >-19 akan mengalami resiko tinggi terjadinya kematian. Kesimpulan: Model skoring prognosis yang telah terbentuk ini mampu memprediksi sebesar 84,75 % faktor faktor yang berhubungan dengan prognosis cedera otak traumatika berat. Apabila ada 100 pasien cedera kepala berat dengan adanya semua variabel maka 76 pasien akan meninggal dan bila 100 pasien cedera kepala berat tanpa adanya semua variabel maka 25 pasien akan meninggal. Kata Kunci : Skoring, Model Prognosis, Cedera Otak Traumatika Berat
Read More
T-4523
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Yulihane; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Syahrizal, Prima Kartika Esti, Tiara Pakasi
Abstrak: ABSTRAK Erythema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi kusta tipe 2 yang bukan hanya menyebabkan kesakitan parah pada pasien, tetapi juga dapat menyebabkan kecacatan dan bahkan kematian. ENL lebih banyak terjadi pada pasien kusta tipe Multi Basiler (MB). Indonesia memiliki proporsi kasus baru kusta tipe MB yang tinggi dibandingkan proporsi kasus baru MB di India dan Brasil yaitu 84%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ENL di RS. Dr. Sitanala belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ENL di RS. Dr. Sitanala tahun 2017. Studi cross sectional yang menggunakan data rekam medis di RS. Dr. Sitanala tahun 2017 ini dianalisis dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kasus ENL di RS. Dr. Sitanala tahun 2017 sebesar 21,5%. Faktor yang dominan berhubungan dengan kejadian ENL adalah faktor koinfeksi (POR 15,034; 95%CI: 7,061-32,007). Faktor lain yang berhubungan dengan kejadian ENL di RS. Dr. Sitanala tahun 2017 adalah umur <45 tahun (POR 2,564; 95%CI: 1,179-5,574) dan indeks bakteri ≥4 (POR 4,405; 95%CI: 1,689-11,486). Sistem skoring yang dihasilkan dapat memprediksi kejadian ENL sebesar 81%. Kata kunci: ENL, reaksi kusta tipe 2, kusta, faktor resiko, skoring Erythema Nodosum Leprosum (ENL) is a type 2 leprosy reaction that not only causes severe pain in patients, but also can cause disability and death. ENL is more common in Multi Basiler (MB) leprosy patients. Indonesia has a higher proportion of new cases of MB leprosy than the proportion of new MB cases in India and Brazil at 84%. Factors related to ENL incidence in hospital. Dr. Sitanala is unknown. The purpose of this study is to identify the factors related to ENL incidence in RS. Dr. Sitanala year 2017. Crosssectional study using medical record data at RS. Dr. Sitanala year 2017 is analyzed by logistic regression. The results showed that the proportion of ENL cases in RS. Dr. Sitanala year 2017 of 21.5%. The dominant factor associated with ENL was coinfected (POR 15,034; 95% CI: 7.061-32,007). Other factors related to ENL incidence in RS. Dr. Sitanala year 2017 are age <45 years (POR 2,564; 95% CI: 1,179-5,574) and bacteria index ≥4 (POR 4,405; 95% CI: 1,689-11,486). Scoring system can predict ENL events of 81%. Key words: ENL, type 2 leprosy reaction, leprosy, risk factors, scoring
Read More
T-5152
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Utami Purbasari; Promotor: Nurhayati Adnan Prihartono; Kopromotor: Helda, Budhi Antariksa; Penguji: Ratna Djuwita, Sudarto Ronoatmodjo, Yohanes WH George, Rahmad Mulyadi, Rusli Muljadi
Abstrak:
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) meningkatkan kebutuhan perawatan intensif pada pasien COVID-19. Diperlukan upaya deteksi cepat untuk memilah prioritas pasien COVID-19 yang berisiko ARDS. Penelitian bertujuan memprediksi derajat ARDS menggunakan kuantifikasi luas opasitas/konsolidasi foto dan mengidentifikasi faktor prediktor ARDS. Metode: Desain studi crossectional dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta pada Juni-Desember 2022. Uji diagnostik terhadap hasil skoring foto toraks dengan komparasi 3 metode yaitu Brixia, Reeves dan modifikasi skoring foto dengan metode skoring Universal Thorax ARDS Measurement Index (UTAMI) dibandingkan dengan diagnosis ARDS menggunakan kriteria Berlin sebagai gold standard. Hasil: Sebanyak 318 pasien rawat inap COVID-19 dengan pneumonia dianalisis. Faktor laboratorium seperti kadar neutrofil, CRP, D-dimer, saturasi dan respiratory rate merupakan faktor prediktor ARDS dengan metode Berlin. Pada metode skoring UTAMI, diketahui komorbid CAD, CRP dan saturasi oksigen dapat memprediksi kejadian ARDS. CRP merupakan faktor prediktor terhadap ARDS pada kedua metode Berlin (PR 1,28; 95% CI 0,97 -1,70) dan UTAMI (PR 1,71; 95% CI 1,19– 2,46). Pada uji AUROC diketahui bahwa nilai PaO2/FiO2 dengan metode berlin bisa memisahkan pasien ARDS ICU dan non-ARDS ICU dengan akurasi 81,2% sedang Metode skoring UTAMI sebesar 79,8 %. sehingga sensitifitas dan spesifisitas pada metode skoring UTAMI terhitung kategori baik. Kesimpulan: Metode UTAMI dapat digunakan untuk memprediksi level ARDS pasien yang membutuhkan ICU . Saran: Klinisi dapat mengaplikasikan model prediktif ARDS ini untuk meningkatkan pelayanan ICU di rumahsakit

Background: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) has an impact to increase the need for intensive care among COVID-19 patients. Early detection is needed to prioritize COVID-19 patients at risk of ARDS. The research aims to predict the level of ARDS using quantification of the extent of photo opacity/consolidation and identifying factors of ARDS. Method: A cross-sectional study design was carried out at the Fatmawati Central General Hospital, Jakarta in June-December 2022. Diagnostic tests on the results of thorax x-ray scoring using a comparison of 3 methods, consist of Brixia, Reeves and modified photo scoring using the UTAMI method were compared with ARDS diagnosis using the Berlin criteria as gold standards. Results: A total of 318 hospitalized COVID-19 patients with pneumonia were analyzed. Laboratory factors such as neutrophil levels, CRP, D-dimer, saturation and respiratory rate are predictor factors for ARDS using the Berlin method. Meanwhile, using UTAMI scoring, it is known that comorbid CAD, CRP and Oxygen Saturation are predictor the incidence of ARDS. CRP was a predictor factor for ARDS in both the Berlin (PR 1.28; 95% CI 0.97 –1.70) and UTAMI (PR 1.71; 95% CI 1.19–2.46) methods. In the AUROC test, it was found that the PaO2/FiO2 using the Berlin method could separate ARDS ICU patients from non-ARDS ICU patients with an accuracy of 81.2%. Meanwhile, the UTAMI scoring method was 79.8%. so that the sensitivity and specificity of the UTAMI scoring method are in fair discrimination. Conclusion: The UTAMI method can be used to predict a patient's ARDS level. Recommendation: Clinicians could use UTAMI method as predictive model score to estimate the need of Intensive Care Unit in ARDS.
Read More
D-505
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekplin Sekeon; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Mondastri Korib Sudaryo, Aida C. Tantri; Penguji: Dessy R. Emril, Soewarta Kosen, Syahrizal Syarif, Tiara Aninditha
Abstrak: Latar belakang: Upaya mengenal nyeri sentral pada pasien pascastroke dapat dilakukan dengan menyediakan alat bantu diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem skoring diagnostik nyeri sentral pascastroke (NSPS) di rumah sakit, dan menganalisis akurasi dan reliabilitas penggunaan sistem skoring tersebut di puskesmas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan potong-lintang dan merupakan studi diagnostik pada 166 pasien di rumah sakit dan 303 pasien di puskesmas se-wilayah Kota Manado dan sekitarnya. Hasil: Terdapat tiga variabel utama yang dominan sebagai determinan NSPS berdasarkan uji regresi cox yakni keparahan stroke, defisit nyeri tajam dan defisit raba halus. Prevalensi NPSP di rumah sakit berdasarkan baku emas didapatkan sebesar 30,1%. Dengan titik potong skor ≥2 maka didapatkan nilai sensitifitas 82,0% dan sensitifitas 78,45%. Berdasarkan perhitungan menurut teorema Bayes maka didapatkan probabilitas NSPS di RS dengan skor ≥2 sebesar 62,12%, dan <2 sebesar 8,98%. Berdasarkan hasil pemeriksaan spesialis neurologik di puskesmas maka didapatkan prevalensi NSPS di puskesmas berdasarkan skor Sasmita adalah sebesar 40,9%. Hasil uji akurasi menunjukkan sensitivitas skor Sasmita oleh spesialis neurologi dan dokter umum di puskesmas adalah 71,61% dan sensitivitas 76,35%. Perhitungan dengan teorema Bayes didapatkan probabilitas NSPS di puskesmas dengan skor skor ≥2 sebesar 67,69%, dan <2 sebesar 20,42%. Uji reliabilitas antar dokter umum di puskesmas adalah sebesar 0,576. Kesimpulan: Terdapat tiga variabel utama yang dominan sebagai determinan NSPS yakni keparahan stroke, defisit nyeri tajam dan defisit raba halus. Secara deskriptif didapatkan bahwa kualitas hidup pasien stroke dengan NSPS adalah lebih rendah dibandingkan tanpa NSPS. Pada keseluruhan pasien dengan NSPS, domain yang paling sering mengalami gangguan adalah energi. Saran: Skor Sasmita dapat digunakan sebagai dalam penelitan selanjutnya terkait epidemiologi klinik nyeri pascastroke.
Introduction: The identification of central poststroke pain (CPSP) can be facilitated by the provision of diagnostic tools. This study aimed to develop a diagnostic scoring system for CPSP in hospital settings and to analyze the accuracy and reliability of its use in Puskesmas. Method: This cross-sectional diagnostic study was conducted on 166 hospital and 303 stroke survivors from Puskesmas in Manado City and its outskirts area. Result: Based on cox regression, three key variables were identified as dominant determinants of CPSP: stroke severity, pin-prick deficit, and light-touch deficit. The prevalence of CPSP in hospitals, determined using the gold standard, was 30.1%. With a cut-off score of ≥2, the sensitivity and specificity were 82.0% and 78.45%, respectively. Using Bayes' theorem, the probability of CPSP in hospitals with a score ≥2 was 62.12%, and <2 was 8.98%.  At the primary health centers, neurological specialist examinations revealed a CPSP prevalence of 40.9% based on the Sasmita scoring system. The accuracy test showed that the sensitivity of the Sasmita score assessed by neurologists and general practitioners was 71.61% and 76.35%, respectively. Bayes' theorem calculations indicated a CPSP probability at the Puskesmas of 67.69% with a score ≥2 and 20.42% with a score <2. Inter-rater reliability testing among general practitioners yielded a value of 0.576. Descriptively, stroke patients with CPSP had lower quality of life compared to those without CPSP, with the most commonly affected domain being energy. Conclusion: Three key variables were identified as dominant determinants of CPSP: stroke severity, pin-prick deficit, and light-touch deficit. The prevalence of CPSP in this study is relatively high both at hospital and Puskesmas settting. Sasmita score has good accuracy and moderately reliable in detecting CPSP at primary and tertiary care level. Suggestion: The Sasmita scoring system can be utilized in future studies related to the clinical epidemiology of poststroke pain. Serial assessment is encouraged to be conducted for high risk poststroke patients.
Read More
D-549
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Johanes Edy Siswanto; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Ko Promotor: Soemantri, Rita S. Sitorus; Penguji: Sudijanto Kamso, Ratna Djuwita, Asri C. Adisasmita, Iswari Setianingsih, Ratna Sitompul
Abstrak: Latar Belakang: Retinopati Prematuritas atau ROP merupakan gangguan vaskular retina bayi prematur yang dapat menyebabkan pelepasan retina dan terjadinya kebutaan. Variasi gen Norrie disease Pseudoglioma (NDP) serta paparan oksigen diduga terlibat dengan kejadian dan perkembangan ROP.
  
Tujuan: Mengetahui peran variasi NDP serta faktor layanan neonatal khususnya paparan oksigen dalam memprediksi kejadian ROP pada bayi prematur Indonesia. Metodologi: Studi dilaksanakan tahun 2009-2014 di beberapa pusat pelayanan perinatologi dan mata sekitar Jakarta. Sebanyak 6 situs mutasi pada ekson 3 dideteksi yaitu C597A, L108P, R121W, A105T, Val60Glu, dan C110G. Perubahan susunan basa gen NDP dianalisis dengan mengampilifikasi gen NDP bagian ekson 3 menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR-RFLP dan PCR-SSP). Hasil diverifikasi dengan sekuensing DNA. Model multivariat hasil analisis regresi logistik dan regresi Cox digunakan sebagai model skoring untuk memprediksi kejadian dan keparahan ROP.
 
 
Hasil: Tidak ditemukan polimorfisme dan mutasi pada situs NDP exon 3. Hasil analisis multivariat didapatkan BBL, PJT(NCB-KMK), transfusi tukar, lama suplementasi O2, SpO2 terendah, dan sosial ekonomi sebagai variabel yang berhubungan dengan kejadian ROP. Sedangkan dalam hubungannya dengan keparahan ROP, didapatkan usia gestasi, lama suplementasi O2 > 7 hari, SpO2 terendah, rujukan RS, dan sosial ekonomi.
 
 
Kesimpulan: Tidak didapatkan polimorfisme dan mutasi gen NDP exon 3 pada kasus ROP bayi prematur Indonesia. Lama suplementasi O2 dan nilai SpO2 terendah mempunyai peran dalam meningkatkan risiko kejadian dan berkembangnya ROP menjadi lebih berat.
 

 
Background: Retinopathy Prematurity or ROP is retinal vascularization disorder on premature infants that causing retina detachment and eventually blindness. NDP gene mutation and oxygen exposure might have role in incidence of ROP.
 
 
Objective: This study was conducted to determine the role of NDP gene polymorphism and mutation, and oxygen exposure for predicting the incidence of ROP in Indonesia.
 
 
Methodology: Data were collected from few Perinatology and Opthalmology centres around Jakarta during 2009-2014. DNA samples isolated from blood and buccal cell. This study tried to detect 6 mutations site on exon 3 of NDP gen which are C597A, L108P, R121W, A105T, Val60Glu, and C110G. Alterations of NDP gene were analized with amplification of NDP gene in exon 3 region using Polymerase Chain Reaction (PCR-RFLP dan PCR-SSP) methods. The result verified with DNA sequencing. Scoring model were made by using logistic regression to predict the incidence and development of ROP.
 
Result: No NDP gene polymorphism and mutations at exon 3 region was detected. The result have been analized with PCR-RFLP and verified with DNA sequencing. Multivariate analysis using logistic regression for incidence of ROP retain birth weight, IUGR, gender, respiratory distress, exchange transfussion, length of O2 supplementation, SpO2 minimum, and socioeconomic variables. As for ROP severity, multivariate analysis retain gestational age, gender, access to hospital (inborn/outborn), apnea, length of O2 supplementation, SpO2 minimum, and socioeconomic variables.
 
Conclusion: The relationship between polymorphisms and mutations of NDP gene and ROP cases that happened in Indonesian premature infants population did not showed in this study. Length of O2 supplementation and minimum value of SpO2 85 - 90% significantly increase the risk for ROP incidence and development of severe ROP.
Read More
D-319
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rizky Ardiansyah; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Kusharisupeni, Rinni Yudhi Pratiwi
S-6563
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyuningsih Djaali; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Helda, Hasan Mihardja; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Ratna Djuwita, Aida Rosita Tantri, Rudy Hidayat, Gea Pandhita
D-575
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafira Rahmania; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Wisesa Soetisna, Rudyanto Sedono
Abstrak:
Penyakit kardiovaskular, khususnya penyakit arteri koroner (Coronary Artery Disease/CAD), merupakan salah satu penyebab utama kematian global. Bedah pintas arteri koroner (Coronary Artery Bypass Graft/CABG) merupakan salah satu intervensi utama untuk CAD yang bertujuan mengurangi morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun, perawatan intensif yang berkepanjangan pasca CABG dapat berdampak negatif terhadap luaran kondisi pasien dan beban sumber daya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesintasan pasien pasca bedah pintas arteri koroner (CABG) untuk keluar dari ICU dalam waktu ≤48 jam dan mengembangkan model skoring prediksi lama rawat intensif. Studi menggunakan desain kohort retrospektif dengan data sekunder dari registri bedah jantung dewasa di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita periode Januari 2019 – Agustus 2024. Analisis mencakup univariat, bivariat (log-rank dan uji Cox proportional hazard), serta multivariat untuk memperoleh model prediksi terbaik. Hasil menunjukkan bahwa faktor faktor usia (adjHR 1.22; 95% CI 1.12-1.32), stroke (adjHR 1.29), gangguan fungsi ginjal berat (adjHR 1.51); gangguan fungsi ginjal sedang (adjHR 1.89), fungsi jantung normal (adjHR 1.80), kondisi kritis pre-operasi (adjHR 3.37), disfungsi jantung sedang (adjHR 1.85), disfungsi jantung ringan (adjHR 2.51), fungsi jantung normal (adjHR 3.03); mengalami infark miokard >21 hari pre-operasi (adjHR 1.35); tidak pernah mengalami infark miokard (adjHR 1.36); dan status prosedur elektif (adjHR 1.36) sebagai prediktor signifikan perawatan ICU ≤48 jam. Model skoring yang dikembangkan memiliki nilai AUC 68,87%, dengan titik potong skor ≥14 menunjukkan prediksi keberhasilan pasien menyelesaikan perawatan ICU dalam waktu ≤48 jam pasca operasi CABG. 

Cardiovascular diseases, particularly coronary artery disease (CAD), are among the leading causes of global mortality. Coronary Artery Bypass Graft (CABG) surgery is one of the primary interventions for CAD, aimed at reducing morbidity and improving patients' quality of life. However, prolonged intensive care post-CABG can negatively impact patient outcomes and place a burden on healthcare resources. This study aims to analyze factors influencing the survival of post-CABG patients to leave the ICU within ≤48 hours and to develop a scoring model for predicting intensive care length of stay. The study employed a retrospective cohort design using secondary data from the adult cardiac surgery registry at RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita from January 2019 to August 2024. The analysis included univariate, bivariate (log-rank and Cox proportional hazards tests), and multivariate approaches to obtain the best predictive model. Results identified are age (adjHR 1.22; 95% CI 1.12–1.32), stroke (adjHR 1.29), severe renal dysfunction (adjHR 1.51), moderate renal dysfunction (adjHR 1.89), normal cardiac function (adjHR 1.80), critical preoperative condition (adjHR 3.37), moderate cardiac dysfunction (adjHR 1.85), mild cardiac dysfunction (adjHR 2.51), normal cardiac function (adjHR 3.03), myocardial infarction >21 days preoperatively (adjHR 1.35), no history of myocardial infarction (adjHR 1.36), and elective procedure status (adjHR 1.36) as significant predictors for ICU stays ≤48 hours. The developed scoring model achieved an AUC of 68.87%, with a cutoff score of ≥14 indicating successful prediction of ICU discharge within ≤48 hours post-CABG surgery
Read More
T-7179
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive