Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Intan Permata Hati Gea; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Trisari Anggondowati, Misti, Nining Mularsih
Abstrak: Pendahuluan. Kadar HbA1c tinggi berpotensi menimbulkan berbagai implikasi kesehatan, terutama berkaitan dengan penyakit metabolik dan kardiovaskular. Kualitas tidur buruk dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya HbA1c tinggi melalui berbagai mekanisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur terhadap kadar HbA1c tinggi di Indonesia. Metodologi. Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional dengan menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5 tahun 2014. Besar sampel berjumlah 4223 dengan metode total sampling. Data dianalisis secara deskriptif, serta estimasi menggunakan analisis multiple logistic regression. Analisis data menggunakan sofware STATA 13. Hasil Penelitian. Prevalensi kadar HbA1c tinggi sebesar 6,06%, sementara prevalensi kualitas tidur buruk adalah 15,16%. Sebesar 15,47% yang mengalami kadar HbA1c tinggi memiliki kualitas tidur buruk. Pada analisis model akhir menunjukkan bahwa mereka dengan kualitas tidur buruk terbukti secara statistik berhubungan signifikan (p<0,001) serta meningkatkan risiko terjadinya HbA1c tinggi sebesar empat kali lipat dibandingkan pada kelompok dengan kualitas tidur baik (PR= 3,99; 3,0563-5,2173). Tidak ditemukan adanya confounder yang dapat mengganggu hubungan kadar HbA1c tinggi dengan kualitas tidur buruk pada penelitian ini. Meski demikian, mereka yang berumur ≥45 tahun, perempuan, terdiagnosa hipertensi, dan memiliki IMT ≥23 kg/m2 memiliki risiko lebih besar terjadinya HbA1c tinggi pada kelompok kualitas tidur buruk. Kesimpulan. Kualitas tidur buruk terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian kadar HbA1c tinggi. Hal ini mengharuskan adanya intervensi edukasi dan konseling kesehatan pada populasi usia produktif terkait menjaga kualitas tidur berdasarkan komponen-komponen kualitas tidur baik untuk mempertahankan kadar HbA1c normal.
Introduction. High HbA1c can potentially cause various health implications, primarily related to metabolic and cardiovascular diseases. Poor sleep quality increases the risk of elevated HbA1c levels through multiple mechanisms. This study aims to determine the association between sleep quality and high HbA1c levels in Indonesia's productive age population of 20-59 years. Methodology. This study was conducted cross-sectionally using Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5 data in 2014. The sample size was 4223 using the total sampling method. Data were analyzed descriptively and estimated using multiple logistic regression analysis. The data were analyzed using STATA 13 software. Results. The prevalence of high HbA1c levels was 6.06%, while the prevalence of poor sleep quality was 15.16%. A total of 15.47% who experienced high HbA1c levels had poor sleep quality. The final model analysis showed that those with poor sleep quality were statistically significantly associated (p<0.001) and increased the risk of high HbA1c by four times compared to those with good sleep quality (PR= 3.99; 3.0563-5.2173). There were no confounders that could interfere with the association of high HbA1c levels with poor sleep quality in this study. However, those who were ≥45 years old, female, hypertension, and BMI ≥23 kg/m2 had a greater risk of high HbA1c in poor sleep quality. Conclusion. Poor sleep quality was shown to be significantly associated with the incidence of high HbA1c levels. Requires educational interventions and health counselling in the productive age population related to maintaining sleep quality based on the components of good sleep quality for maintaining normal HbA1c levels.
Read More
T-7017
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christoper Bagus Rijadi; Pembimbing: Siti Arifaj Pujonarti; Penguji: Kusdinar Acmad, Ratu Ayu Dewi Sartika, Amirullah
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan pekerja yang dapatmenimbulkan kecelakaan kerja dan produktivitas menurun. Penelitian ini bertujuanuntuk menhetahui faktor internal yang paling dominan diantara jenis kelamin,aktivitas fisik, lama tidur, kualitas tidur, IMT, persen lemak tubuh, asupan energi, dankebiasaan merokok yang dihubungkan dengan kelelahan kerja pegawai pengemasan.Penelitian ini menggunakan data sekunder dari pengumpulan data mengenai kelelahanyang dilakukan oleh bagian quality control PT. X Tangerang. Penelitian ini dilakukanpada bulan Juni -Juli 2016. Penelitian bersifat kuantitatif dengan menggunakanmetode pendekatan potong lintang. Hasilnya menunjukkan bahwa 13% respondondenmengalami kelelahan kerja ringan, 47% responden mengalami kelelahan kerja sedang,dan 40% responden mengalami kelelahan kerja berat. Hasil perhitungan statistik chi -square diketahui terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik, kualitastidur, dan persen lemak tubuh dengan kelelaham kerja. Hasil analisis regresi logistikganda menyatakan bahwa kualitas tidur merupakan faktor paling dominan terhadapkelelahan kerja. Maka dari itu pegawai dan manajemen PT. X Tangerang perlumemperhatikan aktivitas fisik , persen lemak tubuh, dan khususnya kualitas tidurpekerja untuk mengurangi terjadinya kasus kelelahan kerja.Kata kunci:Kelelahan, Pekerja, Kualitas Tidur.
Read More
T-4644
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Idris; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Hany Harjulianti, Istiati Suraningsih
Abstrak: Pekerjaan perawat di Rumah Sakit sangat bervariasi baik jenis danjumlahnya, sehingga perawat memiliki beban kerja yang tinggi dan hal inidapat menyebabkan kelelahan. Tujuan penelitian ini menjelaskan hubungan kualitas tidur dan shift kerja dengan kelelahan kerja. Metode penelitian semi kuantitatif y a n g b e r s i f a t analitik dengan rancangan cross sectional. Tempatpenelitian di RSUD kota Bekasi, dengan sampel 100 perawat. Pengukuran kelelahan menggunakan Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja danPiitsburg Sleep Quality Index untuk kualitas tidur. Analisis data univariatmenunjukkan responden mengalami kelelahan sedang (83%), dan kualitas tidurburuk (71%), sedangkan hasil bivariat menggunakan nilai pearson correlation yang memiliki hubungan dengan kelelahan yaitu kualitas tidur dengan nilaip=0.009 (p value < 0.05), dan status kesehatan dengan nilai p=0.033. Kesimpulan kualitas tidur dan status kesehatan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kelelahan perawat di RSUD Kota Bekasi.Kata kunci : Rumah Sakit, perawat, kualitas tidur, kelelahan
Read More
T-4141
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azhary Azwar; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri, Hendra, Anton Ojong, Amirullah
T-4854
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adibah Rachmawaty; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Sugiatmi
Abstrak:
Sindrom Makan Malam (SMM) adalah kondisi gangguan makan yang dikelompokkan ke dalam Other Specified Feeding or Eating Disorder (OSFED). Perilaku SMM dapat diidentifikasi menggunakan instrumen Night Eating Questionnaire (NEQ) yang terdiri dari lima kriteria, antara lain tidak merasa lapar di pagi hari (morning anorexia) yang menyebabkan bergesernya waktu sarapan, makan yang berlebihan di malam hari (evening hyperphagia) baik setelah makan malam, sebelum tidur, maupun di antara waktu tidur, tidur larut malam (insomnia), makan di antara waktu tidur (nocturnal ingestion), yaitu makan saat terbangun di antara waktu tidur tetapi dalam keadaan sadar, dan pengulangan keempat kriteria tersebut selama lebih dari 3 bulan. Salah satu dampak yang diakibatkan oleh SMM adalah obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proporsi sindrom makan malam berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal pada siswa SMA. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah sindrom makan malam. Sementara variabel independen yang termasuk faktor internal adalah jenis kelamin, aktivitas fisik, status gizi, kualitas tidur, depresi, kepercayaan diri, kebiasaan sarapan, frekuensi makan utama, dan frekuensi jajan. Sedangkan variabel independen yang termasuk ke dalam faktor eksternal adalah pengetahuan gizi dan uang saku. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Pengambilan data dilakukan di bulan Mei tahun 2024 kepada 130 siswa-siswi kelas X dan XI SMA Negeri 2 Cibinong yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Dari penelitian ini ditemukan bahwa sebanyak 29,2% responden memiliki sindrom makan malam. Hasil dari penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan proporsi sindrom makan malam berdasarkan kualitas tidur, depresi, kepercayaan diri, frekuensi makan utama, dan frekuensi jajan pada siswa SMA Negeri 2 Cibinong (p-value < 0,05). Berdasarkan pemodelan akhir analisis multivariat juga ditemukan bahwa depresi menjadi faktor dominan terhadap SMM. Oleh karena itu, disarankan agar para siswa lebih memerhatikan kebiasaan tidur, keadaan mental, serta lebih menerapkan mindful eating. Disarankan pula kepada pihak sekolah agar dilakukan skrining kesehatan mental untuk para siswa secara berkala.

Night Eating Syndrome (NES) is an eating disorder classified under Other Specified Feeding or Eating Disorder (OSFED). NES behavior can be identified using the Night Eating Questionnaire (NEQ), which consists of five criteria: lack of hunger in the morning (morning anorexia) leading to delayed breakfast time, excessive eating at night (evening hyperphagia) either after dinner, before bedtime, or during the night, late-night insomnia, nocturnal ingestion (eating upon waking up during the night while being conscious), and the recurrence of these four criteria for more than 3 months. One impact of NES is obesity. This study aims to determine the differences in the proportion of night eating syndrome based on internal and external factors among high school students. The dependent variable in this study is night eating syndrome. Meanwhile, the independent variables classified as internal factors include gender, physical activity, nutritional status, sleep quality, depression, self-esteem, breakfast habits, main meal frequency, and snack frequency. The independent variables classified as external factors are nutritional knowledge and pocket money. This study uses a quantitative method with a cross-sectional study design. Data collection was conducted in May 2024 with 130 students from grade X and XI at SMA Negeri 2 Cibinong who met the inclusion and exclusion criteria. The data was then analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods. The study found that 29.2% of respondents had night eating syndrome. The results also showed differences in the proportion of night eating syndrome based on sleep quality, depression, self-esteem, main meal frequency, and snack frequency among students at SMA Negeri 2 Cibinong (p-value < 0.05). The final multivariate analysis modeling also found that depression is a dominant factor for NES. Therefore, it is recommended that students pay more attention to sleep habits, mental state, and practice mindful eating. It is also recommended that the school conduct regular mental health screenings for students.
Read More
S-11720
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khaerul Nisa; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Rita Damayanti, Rachmat Priyono
Abstrak:
Tidur merupakan kebutuhan dasar agar tubuh dapat berfungsi dengan baik. Remaja merupakan salah satu kelompok umur yang sering mengalami masalah kualitas tidur buruk. Remaja rentan mengalami masalah kualitas tidur yang buruk karena penyesuaian berbagai faktor dan gaya hidup. Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan munculnya risiko kesehatan baik fisik dan psikis serta terganggunya perkembangan kognitif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur dan hubungannya dengan durasi tatap layar, kecemasan, aktivitas fisik, dan kebiasaan tidur pada remaja di SMA Negeri 1 Kebumen tahun 2024. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dengan responden sebanyak 304 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53,6% responden memiliki kualitas tidur yang baik. Analisis bivariat yang dilakukan memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan (p-value < 0,001) dengan nilai OR 8,971 dan kebiasaan tidur (p-value < 0,001) dengan nilai OR 3,24 dengan kualitas tidur remaja. Kemudian dari analisis bivariat juga memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi tatap layar dan aktivitas fisik dengan kualitas tidur remaja (p-value>0,05). Intervensi mengenai tips mengontrol kecemasan dan edukasi terkait kebiasaan tidur yang baik diharapkan dapat diterapkan di sekolah untuk meningkat kualitas tidur remaja.

Sleep is a basic need for the body to function properly. Adolescents are one of the age groups that often experience poor sleep quality problems. Adolescents are susceptible to poor sleep quality problems due to adjustments to various factors and lifestyles. Poor sleep quality can lead to physical and psychological health risks and disrupt cognitive development. This study was conducted to determine the picture of sleep quality and its relationship with screen time, anxiety, physical activity, and sleep hygiene in adolescents at SMA Negeri 1 Kebumen in 2024. This study used a cross-sectional design with 304 students as respondents. The results showed that 53,6% of respondents had good sleep quality. The bivariate analysis showed that there was a significant relationship between anxiety (p-value <0.001) with an OR value of 8.971 and sleep hygiene (p-value <0.001) with an OR value of 3.24 with adolescent sleep quality. Then the bivariate analysis also showed that there was no significant relationship between screen time and physical activity with adolescent sleep quality (p-value>0.05). Interventions regarding tips for controlling anxiety and education regarding good sleep hygiene are expected to be implemented in schools to improve the quality of adolescent sleep.
Read More
S-11614
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenia Utami; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Ahmad Syafiq, Uswatun Hasanah
Abstrak:
Dewasa muda merupakan fase peralihan yang mana pada fase ini rentan untuk mengembangkan gangguan makan termasuk sindrom makan malam. Sindrom makan malam dapat menyebabkan obesitas yang menjadi pemicu penyakit kronis lainnya. Prevalensi sindrom makan malam di Indonesia belum diketahui dan masih sedikitnya penelitian terkait faktor risiko sindrom makan malam sehingga perlu dilakukan penelitian ini. Tujuan penelitian ini, yaitu mengetahui prevalensi sindrom makan malam pada kelompok dewasa muda di Indonesia dan menganalisis hubungan sindrom makan malam terhadap kualitas tidur dan aktivitas fisik. Desain studi penelitian menggunakan cross-sectional dengan menggunakan teknik sampling purposive sampling dengan responden dewasa muda di Pulau Jawa. Prevalensi sindrom makan malam sebesar 46,2%. Kualitas tidur merupakan faktor risiko terjadinya sindrom makan malam (Nilai PR= 2,25). Efek gabungan kualitas tidur dan aktivitas fisik terbesar terjadi pada kelompok kualitas tidur buruk dan aktivitas fisik kurang (Nilai PR = 2,19). Pekerja dengan kualitas tidur buruk dan aktivitas fisik kurang memiliki risiko mengalami sindrom makan malam terbesar (nilai PR= 2,87). Sosial media, tingkat pendapatan > 5 juta, jenis pekerjaan sebagai pekerja merupakan variabel konfounding. Prevalensi sindrom makan malam pada dewasa muda di Indonesia sebesar 46,2% dan kualitas tidur menjadi faktor yang paling mempengaruhi terjadinya sindrom makan malam.

Young adulthood is a transitional phase prone to developing night-eating syndrome. Night eating syndrome can lead to obesity which triggers other chronic diseases. The prevalence of night-eating syndrome in Indonesia is unknown, and limited studies regarding night-eating syndrome in Indonesia. This study aimed to determine the prevalence of night eating syndrome in young adults in Indonesia and analyze the relationship of night eating syndrome to sleep quality and physical activity. The research design used a cross-sectional and purposive sampling technique with young adult respondents in Java Island as the sample. The prevalence of night eating syndrome was 46.2%. Sleep quality is a risk factor for night-eating syndrome (PR value = 2.25). The combined effect of sleep quality and physical activity was most significant in the poor sleep quality and physical activity group (PR value = 2.19). Workers with poor sleep quality and less physical activity had the most important risk of developing night-eating syndrome (PR value = 2.87). Social media, income level > 5 million, and type of work as a worker are confounding variables. The prevalence of night-eating syndrome in young adults in Indonesia is 46.2%, and sleep quality is the most influential factor in night-eating syndrome.
Read More
S-11264
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ria Novasari Mei Astuti; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman, Ali Syahrul Chairuman
Abstrak:

Data Kementerian ESDM mencatat 93 kecelakaan di area pertambangan pada tahun 2021, dengan 36 kecelakaan ringan dan 57 kecelakaan berat, merenggut 11 korban jiwa. Tahun 2019 menjadi tahun terburuk dengan 133 kecelakaan (27 ringan, 106 berat) dan 24 korban jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kelelahan kerja setelah dikontrol oleh variabel confounding pada operator alat berat industri pertambangan PT.X Site A 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penerapan rancangan cross-sectional. Studi ini melibatkan 213 pekerja yang diminta untuk mengisi kuisioner. Analisis data dilakukan menggunakan uji multivariat analisis faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 49,3% pekerja mengalami kelelahan kerja pada tingkat berat, sedangkan 50,7% responden mengalami kelelahan kerja pada tingkat ringan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja (p value=0,011). Pekerja yang memiliki kualitas tidur buruk berisiko 2,38 kali untuk mengalami kelelahan kerja berat dibandingkan pekerja yang memiliki kualitas tidur baik setelah dikontrol oleh variabel masa kerja, waktu perjalanan, lingkungan tidur, dan faktor psikososial (overcommitment) (aOR=2,38 95% CI 1,22 – 4,65). Kata kunci: kelelahan kerja, kualitas tidur, operator alat berat, pertambangan


Data from the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM) recorded 93 accidents in mining areas in 2021, with 36 minor accidents and 57 serious accidents, claiming 11 lives. The year 2019 was the worst year with 133 accidents (27 minor, 106 serious) and 24 fatalities. This research aims to determine the relationship between sleep quality and work fatigue after controlling for confounding variables in heavy equipment operators in the mining industry of PT.X Site A 2024. The method used in this research is the application of a cross-sectional design. This study involved 213 workers who were asked to fill out questionnaires. Data analysis was performed using multivariate risk analysis. The results of the study showed that 49.3% of workers experienced severe work fatigue, while 50.7% of respondents experienced mild work fatigue. The results of the study showed that there is a relationship between sleep quality and work fatigue (p value = 0.011). Workers with poor sleep quality were 2.38 times more likely to experience severe work fatigue compared to workers with good sleep quality after controlling for work experience, travel time, sleep environment, and psychosocial factors (overcommitment) (aOR = 2.38 95% CI 1.22 – 4.65).   Keywords : work fatigue, sleep quality, heavy equipment operators

Read More
T-7066
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luthfi Adytra; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Riana Ependi, Auliah Rahmi
Abstrak:
Pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini sedang banyak berkembang, khususnya pembangunan gedung yang dapat memfasilitasi kebutuhan berbagai sektor industri maupun pemerintahan. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan tersebut, aspek keselamatan dan kesehatan kerja juga naik sebagai isu utama yang menjadi perhatian dan memicu penelitian ini dilakukan. Hal ini juga didasari bahwa dalam dekade terakhir terjadi sederetan insiden dan kecelakaan kerja dengan berkaitan dengan kelelahan yang terjadi di sektor konstruksi gedung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja subyektif di proyek gedung PT X di DKI Jakarta dan wilayah satelitnya. Penelitian ini didesain secara potong lintang dan dilakukan terhadap 124 orang responden melalui pengisian kuesioner yang dikelola sendiri untuk menilai karakteristik individu dan status gizi. Kelelahan subyektif diukur dengan kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang yang berisi 30 butir pertanyaan. Kondisi tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk kualitas tidur dan kuesioner Sleep Hygiene Index (SHI) untuk sleep hygiene. Faktor psikososial diukur menggunakan kuesioner Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok, jenis pekerjaan, Indeks Massa Tubuh, kualitas tidur, sleep hygiene, dan faktor psikososial terhadap kelelahan kerja subyektif. Akan tetapi, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja subyektif dengan usia, status pernikahan, riwayat penyakit, perilaku olahraga, masa kerja, perilaku konsumsi air putih, perilaku konsumsi kopi, perilaku konsumsi gorengan, dan perilaku konsumsi minuman energi. 

The construction of infrastructure in Indonesia has been developing lately, especially building construction which support the needs of various industrial and governmental sectors. Furthermore, alingside that development, occupational safety and health rise up to be one of the main issues of concern which prompts this research to be done. This is also based on the fact that in the last decade there has been a lot of work incidents and accidents related to worker fatigue that happened in building construction. This research aims on finding the factors associated with subjective work fatigue of PT X in DKI Jakarta and its satellite areas. The design of this research was cross sectional on 124 individuals through self-administered baseline questionnaire to measure individual characteristics and nutritional status. Subjective work fatigue was measured by Japanese Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) 30-item questionnaire. Sleep condition was measured using Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire to measure sleep quality and Sleep Hygiene Index (SHI) questionnaire to measure sleep hygiene. Psychosocial factors were measured using the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III. Results showed that there was a significant relationship between subjective work fatigue and each of smoking behavior, type of work, Body Mass Index, sleep quality, sleep hygiene, and psychosocial factors. However, there was no significant relationship between subjective work fatigue and age, marital status, disease history, exercise habit, length of work, water consumption habit, coffee drinking habit, fried food consumption habit, and energy drink consumption habit.
Read More
T-6718
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nada Adinda Irhamna; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Baiduri Widanarko, Sari Tua Roy Nababan, Lutfi Muzaqi
Abstrak:
Kelelahan kerja adalah masalah umum dalam industri konstruksi, terutama dalam proyek- proyek terowongan seperti pembangunan MRT, dimana para pekerja dihadapkan pada kondisi yang menuntut fisik dan mental. Kelelahan di lingkungan seperti itu tidak hanya memengaruhi kesehatan dan keselamatan individu tetapi juga efisiensi operasional dan kinerja proyek secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan determinan kelelahan dari faktor karakteristik individu, pekerjaan dan psikososial pada pekerja proyek MRT Stasiun Glodok. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan responden kuesioner sebanyak 118 pekerja. Pengumpulan data dilakukan secara luring dengan menggunakan kuesioner. Kelelahan diukur dengan menggunakan instrumen Industrial Fatigue Research Committee. Beberapa instrumen standar juga digunakan dalam penelitian ini seperti pittsburgh sleep quality index untuk mengukur kualitas tidur, NIOSH generic job stress questionnaire untuk mengukur beban kerja, dan the workplace stress scale untuk mengukur stres. Analisis data menggunakan chi- square dan regresi logistic ganda. Penelitian ini melibatkan pekerja terowongan yang berusia 19 - 57 tahun, dengan mayoritas (53,4%) berusia ≤ 34 tahun. Sebagian besar memiliki status gizi yang normal (60,2%) tetapi mengalami kualitas tidur buruk (55,1%), dan merupakan perokok ringan (48,3%). Mayoritas memiliki masa kerja ≤ 2 tahun. Perihal beban kerja, 59,3% pekerja melakukan pekerjaan yang tergolong ringan, dengan sebagian besar bekerja >8 jam per hari, dan shift pagi menjadi yang paling umum. Dalam hal kondisi psikososial, stres ringan dialami oleh 39% pekerja. Prevalensi kelelahan secara keseluruhan di antara para pekerja terowongan ditemukan dalam kategori sedang. Analisis yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelelahan kerja dengan faktor-faktor seperti, usia, kualitas tidur, kebiasaan merokok, durasi kerja, beban kerja, dan stres kerja. Sebaliknya, status gizi, masa kerja, dan sistem shift kerja tidak memiliki hubungan bermakna dengan kelelahan. Diantara seluruh faktor yang diteliti, kualitas tidur memiliki keterkaitan paling kuat dengan kelelahan kerja. Setiap faktor yang teridentifikasi dapat dijadikan dasar dalam pengembangan strategi kebijakan dan program mitigasi kelelahan di lingkungan proyek terowongan.


Occupational fatigue is a common problem in the construction industry, especially in tunnel projects such as MRT construction, where workers are exposed to physically and mentally demanding conditions. Fatigue in such an environment affects not only individual health and safety but also operational efficiency and overall project performance. This study aims to obtain fatigue determinants from individual, occupational and psychosocial characteristics factors among workers at the Glodok Station MRT Project. This study used a cross-sectional design with a questionnaire respondent of 118 workers. Data collection was conducted offline using a questionnaire. Fatigue was measured using the Industrial Fatigue Research Committee instrument. Some standard instruments were also used in this study such as Pittsburgh sleep quality index to measure sleep quality, niosh generic job stress questionnaire to measure workload, and the workplace stress scale to measure stress. Data were analyzed using chi- square and multiple logistic regression. The study included tunnel workers aged 19 - 57 years, with the majority (53.4%) aged ≤ 34 years. Most had normal nutritional status (60.2%) but experienced poor sleep quality (55.1%), and were light smokers (48.3%). The majority had ≤ 2 years of service. In terms of workload, 59.3% of workers performed light work, with most working >8 hours per day, and morning shifts being the most common. In terms of psychosocial conditions, mild stress was experienced by 39% of workers. The overall prevalence of fatigue among tunnel workers was found to be moderate. The analysis conducted showed a significant association between fatigue and factors such as age, sleep quality, smoking habit, work duration, workload, and work stress. In contrast, nutritional status, length of service, and shift system had no significant association with fatigue. Among all the factors studied, sleep quality had the strongest association with fatigue. Each identified factor can be used as a basis for developing policy strategies and fatigue mitigation programs in the tunnel project environment.
Read More
T-7403
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive