Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Siprianus Singga
MKMI Vol.10, No.1
Tamalanrea : FKM Universias Hasanuddin, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ukik Agustina; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Didi Purnama, Sukanda
Abstrak:
Mangan (Mn) merupakan unsur esensial bagi tubuh, namun dapat bersifat toksik jika berlebih. Salah satu target organ Mn adalah ginjal. Keberadaan TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dapat menjadi sumber pencemar Mn ke lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi Mn dalam air tanah dengan gangguan fungsi ginjal pada masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Cipayung Depok. Penelitian merupakan studi cross sectional dengan 104 responden yang meliputi Kelurahan Cipayung dan Kelurahan Pasir Putih. Pengambilan sampel dilakukan dengan Probability Proporsional to Size (PPS) yang disesuaikan dengan kriteria inklusi. Gangguan fungsi ginjal ditentukan dari kadar proteinuria atau hematuria yang diukur dengan metode semikuantitatif dipstick. Sedangkan pengukuran konsentrasi Mn menggunakan metode SNI 6989.5:2009. Wawancara dilakukan untuk mengetahui karakteristik responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Mn air tanah pada 9 (13,6%) titik sampling melebihi baku mutu air minum dan 17 orang (16,3%) menunjukkan indikasi gangguan fungsi ginjal. Konsentrasi Mn air tanah berkisar antara 0,06 mg/L-0,84 mg/L. Tidak terdapat hubungan antara konsentrasi Mn dalam air tanah dengan gangguan fungsi ginjal. Sedangkan faktor risiko hipertensi dan obesitas memiliki hubungan signifikan dengan gangguan fungsi ginjal (OR 4,20; 95%; CI: 1,27-13,84; OR 3,64; 95%; CI: 1,10- 12,07). Faktor risiko diabetes, penyakit jantung, riwayat penyakit keluarga, merokok, konsumsi alkohol, umur dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan fungsi ginjal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara konsentrasi Mn dalam air tanah dengan gangguan fungsi ginjal. Namun, faktor risiko hipertensi dan obesitas memiliki hubungan signifikan dengan gangguan fungsi ginjal.
The existence of landfill can be a source of manganese (Mn) pollutants in the environment. Mn can cause toxic for kidney if excessive intake. The purpose of this study was to determine the relationship between Mn concentrations in ground water with kidney function disorders in the people living around the Cipayung Landfill. The research was a cross sectional study with 104 respondents which included Cipayung and Pasir Putih village. Kidney function disorders was determined by the level of proteinuria or hematuria determined by the semi-quantitative dipstick method. While the Mn measurements used SNI 6989.5: 2009. The results showed that Mn levels of ground water at 9 (13,6%) sampling points exceeded drinking water quality standards and 17 people (16.3%) showed changes in kidney function. Mn concentration were between 0.06 mg / L-0.84 mg /L. There was no relationship between Mn concentration in ground water with kidney function disorders. While risk factors for hypertension and obesity had a significant relationship with kidney function disorders (OR 4.20; 95%; CI: 1.27-13.84;
OR 3.64; 95%; CI: 1.10-12.07). The conclusions of this study is risk factors for hypertension and obesity have a significant relationship with kidney function disorders.
Read More
The existence of landfill can be a source of manganese (Mn) pollutants in the environment. Mn can cause toxic for kidney if excessive intake. The purpose of this study was to determine the relationship between Mn concentrations in ground water with kidney function disorders in the people living around the Cipayung Landfill. The research was a cross sectional study with 104 respondents which included Cipayung and Pasir Putih village. Kidney function disorders was determined by the level of proteinuria or hematuria determined by the semi-quantitative dipstick method. While the Mn measurements used SNI 6989.5: 2009. The results showed that Mn levels of ground water at 9 (13,6%) sampling points exceeded drinking water quality standards and 17 people (16.3%) showed changes in kidney function. Mn concentration were between 0.06 mg / L-0.84 mg /L. There was no relationship between Mn concentration in ground water with kidney function disorders. While risk factors for hypertension and obesity had a significant relationship with kidney function disorders (OR 4.20; 95%; CI: 1.27-13.84;
OR 3.64; 95%; CI: 1.10-12.07). The conclusions of this study is risk factors for hypertension and obesity have a significant relationship with kidney function disorders.
T-5866
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rosyana Lieyanty; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Satria Pratama
S-9722
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rima Maulida Hidayati; Pembimbing: Suyud; Penguji: Ema Hermawati, Ririn Arminsih, Sri Wahyono, Bagyo Yanuwiadi
Abstrak:
H2S merupakan senyawa berbahaya yang tidak berwarna dan mempunyai bau seperti telur busuk. Senyawa ini salah satunya dihasilkan dari proses dekomposisi sampah di TPA. Sistem tubuh yang paling sensitif apabila terpajan senyawa ini adalah sistem pernapasan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intake pajanan H2S terhadap munculnya gejala gangguan pernapasan pada masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Cipayung. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 90 orang yang tinggal dengan jarak ≤ 500 meter dari TPA. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan pengambilan sampel H2S ambien di 9 titik yang terletak di sekitar pemukiman masyarakat.
Hasil penelitian ditemukan adanya pengaruh antara intake pajanan H2S terhadap gejala gangguan pernapasan (p value=0,012; OR=10,5; CI 95%=1,25-88,02). Hasil analisis multivariat ditemukan adanya pengaruh intake pajanan H2S terhadap gejala gangguan pernapasan setelah dikontrol variabel lama bermukim (p value=0,026; OR=6,78; CI 95%= 1,612-64,572). Diperlukan langkah cepat dan upaya pengelolaan yang tepat dari Pemerintah Kota Depok dan TPA Cipayung beserta stakeholder terkait agar dapat mencegah atau mengurangi risiko gangguan kesehatan pada masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Cipayung.
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intake pajanan H2S terhadap munculnya gejala gangguan pernapasan pada masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Cipayung. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 90 orang yang tinggal dengan jarak ≤ 500 meter dari TPA. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan pengambilan sampel H2S ambien di 9 titik yang terletak di sekitar pemukiman masyarakat.
Hasil penelitian ditemukan adanya pengaruh antara intake pajanan H2S terhadap gejala gangguan pernapasan (p value=0,012; OR=10,5; CI 95%=1,25-88,02). Hasil analisis multivariat ditemukan adanya pengaruh intake pajanan H2S terhadap gejala gangguan pernapasan setelah dikontrol variabel lama bermukim (p value=0,026; OR=6,78; CI 95%= 1,612-64,572). Diperlukan langkah cepat dan upaya pengelolaan yang tepat dari Pemerintah Kota Depok dan TPA Cipayung beserta stakeholder terkait agar dapat mencegah atau mengurangi risiko gangguan kesehatan pada masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Cipayung.
H2S is dangerous compound that colorless and has smell like rotten egg. One of this
compound source is produced from decomposition process in landfill. The most
sensitive body system when exposed to H2S is respiratory system. This study aims to
analyze the effect of H2S intake to respiratory symptoms at people living around the
Cipayung Landfill. This study design uses cross sectional. Data collection was carried
out by interview by questionnaire and measure H2S ambient at 9 poimts locate aroundd
community settlements. The result were found intake of H2S associated with respiratory
symptoms (p value=0,012; OR=10,5; CI 95%=1,25-88,02). The result of multivariat
analysis were found H2S intake influence respiratory symptoms after controlled by
duration living variable (p value=0,026; OR=6,78; CI 95%= 1,612-64,572). It needs to
measure routine H2S ambient and ensure that concentration was safe as well as proper
management efforts from City Government of Depok, Cipayung Landfill and related
stakeholders in order to reduce the health risk problems to the people living around
Cipayung landfill.
T-5855
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Analisis Risiko Kesehatan Pemulung Akibat Pajanan Gas NO2, dan SO2 di TPA Cipayung, Depok Tahun 2018
Rezha Pratiwi Eka Gharini
Abstrak:
Gas NO2 dan SO2 merupakan zat pencemar udara yang menimbulkan bau busuk dan mencemari udara di sekitar TPA. Gas-gas tersebut akan bermunculan di setiap tahap operasi penimbunan dan pemadatan sampah di TPA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko pajanan gas NO2 dan SO2, dalam udara ambien terhadap gangguan kesehatan pada pemulung yang beraktivitas dan bermukim di sekitar TPA Cipayung, Depok. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juni tahun 2018 dengan menggunakan metode penulisan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Hasil pengukuran NO2 dan SO2 menggunakan waktu pengukuran 1 jam dan didapatkan nilai rata-rata sebagai berikut. Untuk NO2 memiliki rata-rata hasil pengukuran adalah 31,794 µg/m3 , dan SO2 memiliki rata-rata hasil pengukuran adalah 6,365 µg/m3 . Dari hasil tersebut, masih sangat jauh dibawah Baku Mutu Udara Ambien dalam PP No. 41/1999. Nilai asupan merupakan perhitungan dari antropometri, pola aktivitas, dan laju inhalasi, sehingga didapatkan nilai asupan real time dengan pajanan konsentrasi NO2 adalah 1,079×10-3 mg/kg/hari dan pajanan konsentrasi SO2 adalah 2,5962×10-5 mg/kg/hari. Hasil rata-rata nilai asupan life span dengan pajanan konsentrasi NO2 adalah 2,15801×10-3 mg/kg/hari dan pajanan konsentrasi SO2 adalah 5,1024×10-5 mg/kg/hari. Karakteristik risiko didapatkan dari perbandingan antara asupan dengan nilai default referensi konsentrasi yang diperbolehkan. Perhitungan tingkat risiko dinyatakan dengan risk quotient (RQ) didapatkan hasil dengan masing-masing pajanan dan beberapa durasi pajanan (1, 10, 15, 20, 30 dan 300 tahun) yang mencakup real time dan life span. Nilai RQ untuk konsentrasi NO2 adalah 0,0036; 0,036; 0,0539; 0,0719; 0,108; 1,079 dan nilai RQ untuk konsentrasi SO2 adalah 0,000067; 0,00067; 0,001; 0,00134; 0,002; 0,02. Secara keseluruhan, nilai RQ adalah <1 maka udara ambien TPA Cipayung dengan pajanan NO2 dan SO2 masih aman sehingga tidak diperlukan adanya pengelolaan risiko. Kata kunci: NO2, SO2, Pencemaran Udara, TPA, Pemulung, ARKL
The result of measurement of NO2 and SO2 using 1 hour measurement time and got the average value as follows. For NO2 the average measurement result is 31.794 μg/m3 , and SO2 has an average measurement result of 6.365 μg/m3 . From these results, it is still very far below the Ambient Air Quality Standard in PP No. 41/1999. The intake value is calculated from anthropometry, activity pattern, and inhalation rate, so the real time intake value with NO2 exposure is 1.079×10-3 mg/kg/day and the concentration of SO2 is 2,5962×10-5 mg/kg/day. The mean value of life span intake with NO2 exposure concentration was 2.15801×10-3 mg/kg/day and the exposure of SO2 concentration was - 5.1024×10-5 mg/kg/day. Risk characteristics were obtained from the comparison between intake with the allowed reference reference concentration values. The calculation of the risk level expressed by the risk quotient (RQ) obtained results with each exposure and some duration of exposure (1, 10, 15, 20, 30 and 300 years) covering real time and life span. The RQ value for NO2 concentration is 0.0036; 0.036; 0.0539; 0.0719; 0.108; 1.079 and the RQ value for SO2 concentration is 0.000067; 0,00067; 0,001; 0.00134; 0.002; 0.02. Overall, the RQ value is <1 then the ambient air of Cipayung TPA with NO2 and SO2 exposure is still safe so there is no need for risk management. Key words: NO2, SO2, Air Pollution, Landfill, Scavengers, Environmental Health Risk Analysis
Read More
S-9723
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ch.P. Blondine, T.B. Damar
MPPK Vol.XVII, No.4
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Endang Krisnawaty; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Suyud Warno Utomo, Budi Hartono, Ardan Kurniawan, Yanny Septia
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis risiko pajanan timbal dalam air minum terhadap kejadian hipertensi pada penduduk yang bermukim di sekitar TPA Cipayung Kota Depok, Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode PHA (Public Health Assessment) yaitu terdapat dua metode penelitian: ARKL (Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan) dan EKL (Epidemiologi Kesehatan Lingkungan) dengan desain studi cross sectional. Hasil penelitian didapatkan tingkat risiko terhadap efek non karsinogenik pada pajanan timbal dalam air sumur yang dikonsumsi oleh penduduk di sekitar TPA Cipayung masih berada dibawah batas aman yaitu RQ real-time ≤1 (RQ real-time maksimal pada 0.669). Sedangkan pada perhitungan RQ lifespan 40 tahun didapatkan nilai RQ>1 yaitu RQ=1.071. Artinya responden yang mengkonsumsi air sumur terpajan timbal akan berisiko tidak aman terhadap gangguan kesehatan non karsinogenik pada 40 tahun yang akan datang. Perhitungan tingkat risiko terhadap efek karsinogenik pada pajanan timbal dalam air sumur yang dikonsumsi oleh penduduk di sekitar TPA Cipayung, pada jangka waktu 100 tahun yang akan datang berada pada batas aman (ECR 100 tahun = 1.37x10-6). Analisis bivariat yang dilakukan antara tingkat risiko pajanan timbal dalam air sumur dengan kejadian hipertensi tidak didapatkan hubungan yang signifikan dengan nilai p=0.322. Hasil analisis multivariat didapatkan peluang pada responden yang mengkonsumsi air sumur terpajan timbal sebesar 0.193 kali menderita hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak mengkonsumsi air sumur terpajan timbal setelah dikontrol oleh variabel konsumsi lemak jenuh, umur, kebiasaan merokok, aktivitas fisik kurang dan konsumsi garam tinggi
Read More
T-5636
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febri Hardiyanti; Pembimbing: Ema Hermawati, Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum, Nurlaela
Abstrak:
ABSTRAK Nama : Febri Hardiyanti Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Asosiasi Antara Kadar Merkuri dalam Rambut dan Gejala Gangguan Fungsi Ginjal Pada Masyarakat yang Tinggal di Sekitar TPA Cipayung Depok Jawa Barat 2019 Pembimbing : Dr. Ema Hemawati, S.Si., MKM Merkuri adalah zat kontaminan beracun, namun keberadaannya sampai saat ini masih terus dibuang ke perairan, tanah, dan atmosfer. Salah satu organ tubuh yang sensitif dengan jenis logam berat adalah ginjal. Salah satu tanda gejala gangguan fungsi ginjal adalah adanya proteinuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu asosiasi antara kadar merkuri dalam rambut dan kejadian gejala gangguan fungsi ginjal pada masyarakat di sekitar TPA Cipayung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah 98 masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Cipayung. Data pengkajian dan merkuri dalam rambut diperoleh dari BBTKLPP Jakarta. Kadar merkuri dalam rambut diukur dengan metode EPA 2007 Methode 7473 (SW-846). Kadar proteinuria diukur dengan uji diagnostik sederhana rapid test dipstick urine. Hasil penelitian ini ditemukan asosiasi lama tinggal dengan kadar merkuri dalam rambut (OR=5,5; CI 95%: 1,1-27,4). Terdapat asosiasi antara kadar merkuri dengan gejala gangguan fungsi ginjal (OR=10,7; CI 95%: 2,1-23,8). Terdapat asosiasi antara tekanan darah dengan gejala gangguan fungsi ginjal (OR=2,9; CI 95%: 1,2-7,0). Analisis multivariat, ditemukan asosiasi antara kadar merkuri dalam rambut dengan gejala fungsi ginjal setelah dikontrol variabel tekanan darah (OR=9,403; CI 95%: 1,8- 48,9). Terkait dengan adanya pencemaran merkuri di area TPA, diharapkan pemerintah dapat membangun barrier antara area TPA dan permukiman masyarakat, serta dapat memberikan edukasi tentang pola hidup sehat. Kata kunci : Merkuri, Ginjal, Logam Berat, TPA, Depok ABSTRACT Name : Febri Hardiyanti Study Program : Public Health Title : Association Between Hair Mercury Level and Impaired Renal Function Symptoms in Communities Who Living Around Cipayung Landfill, Depok, West Java 2019 Counsellor : Dr. Ema Hemawati, S.Si., MKM Mercury is a toxic contaminant, but its existence continues to be discarded into the waters, soil, and atmosphere. One of the organs sensitive to the type of heavy metals is kidneys. One sign of symptoms of impaired renal function is the presence of proteinuria. This research aims to do the association between mercury levels in hair and the incidence of impaired renal function symptoms in communities around Cipayung landfill. This research uses cross sectional design. The research samples were 98 people living around Cipayung landfill. Data assessment and mercury in hair is obtained from BBTKLPP Jakarta. Mercury levels in the hair were measured by method EPA 2007 Methode 7473 (SW-846). Proteinuria levels were measured with a simple diagnostic test of rapid test dipstick urine. The results of this study were found long-lived associations with mercury levels in the hair (OR = 5,5; CI 95%: 1,1-27,4). There are associations between mercury levels and symptoms of impaired renal function (OR = 10,7; CI 95%: 2,1-23,8). There is an association between blood pressure and symptoms of impaired renal function (OR = 2,9; CI 95%: 1,2-7,0). Multivariate analysis, found an association between mercury levels in the hair with symptoms of impaired renal function after a variable-controlled blood pressure (OR = 9,403; CI 95%: 1,8-48,9). Due to mercury pollution in the landfill area, the government is expected to build a barrier between landfill area and community settlements, and can provide education on healthy lifestyles. Keywords: Mercury, Kidney, Heavy Metal, Landfill, Depok
Read More
T-5795
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maghfira Nadya Salsabila; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Dewi Susanna, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
TPA Cipayung Depok kini sudah mencapai masa overload karena sudah melebihi kapasitas untuk menampung sampah. Timbunan sampah yang terus meningkat di TPA dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan berisiko terhadap kesehatan manusia. Dampak dari pencemaran yang ditimbulkan dari TPA salah satunya adalah penyakit bawaan udara atau airborne disease. Penyakit tersebut disebabkan oleh adanya sampah organik yang membusuk oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan gas hidrogen sulfida (H2S) dan gas metana (CH4) yang memiliki sifat toksik bagi tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh pajanan gas hidrogen sulfida terhadap anak-anak yang tinggal di sekitar TPA Cipayung, Kota Depok. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi H2S dilakukan pada pagi hingga sore hari pada 3 titik lokasi dalam radius kurang dari 1 km dan pengambilan data antropometri serta riwayat kesehatan anak dilakukan dengan wawancara dan kuesioner. Konsentrasi gas H2S tertinggi diperoleh sebesar 0,005 ppm dan terendah sebesar 0,004 ppm. Tingkat risiko untuk pajanan berdasarkan pola aktivitas (aktivitas istirahat, aktivitas ringan, aktivitas sedang, dan aktivitas berat) dan pajanan realtime diperoleh nilai RQ < 1 yang berarti belum memiliki risiko kesehatan terhadap anak-anak. Namun, pada pajanan lifespan diperoleh nilai RQ > 1, yaitu sebesar 1,028 yang berarti anak-anak memiliki risiko terkena efek kesehatan nonkarsinogenik sehingga diperlukan adanya manajemen risiko untuk mengurangi pajanan gas H2S. Riwayat gejala gangguan kesehatan yang berhubungan dengan efek kesehatan akibat pajanan H2S, yaitu ISPA dan iritasi mata diperoleh sebanyak 74 anak (82,2%) mengalami gejala ISPA dan 48 anak (53,3%) mengalami gejala iritasi mata. Hasil analisis Uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata asupan realtime anak-anak yang mengalami gejala ISPA dan gejala iritasi mata dengan anak yang tidak mengalami gejala tersebut. Meskipun paparan H2S belum berisiko dalam jangka pendek, diperlukan manajemen risiko untuk mengurangi paparan H2S di masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pengelolaan TPA, seperti pengolahan sampah secara modern, serta menanam pohon atau tanaman yang dapat menyerap H2S.
Cipayung Landfill in Depok has now reached an overload period because it has exceeded its capacity to accommodate waste. The ever-increasing accumulation of waste in landfills can cause environmental pollution and pose a risk to human health. One of the impacts of pollution resulting from landfills is airborne disease. This disease is caused by organic waste rotting by microorganisms, producing hydrogen sulfide gas (H2S) and methane gas (CH4) which are toxic to the human body. This study aims to determine the level of health risks posed by exposure to hydrogen sulfide gas in children living around the Cipayung TPA, Depok City. This research uses a quantitative method, Environmental Health Risk Analysis (EHRA) approach. H2S concentration measurements were carried out from morning to evening at 3 location points within a radius of less than 1 km and anthropometric data and the child's health history were collected using interviews and questionnaires. The highest concentration of H2S gas was 0.005 ppm and the lowest was 0.004 ppm. The risk level for exposure based on activity patterns (rest activity, light activity, moderate activity and heavy activity) and real-time exposure obtained an RQ value < 1, which means there is no health risk to children. However, for lifespan exposure, an RQ value > 1 of 1.028 was obtained, which means that children are at risk of developing non-carcinogenic health effects, so risk management is needed to reduce exposure to H2S gas. A history of symptoms of health problems related to health effects due to H2S exposure, acute respiratory infections (ARI) and eye irritation, was obtained from 74 children (82.2%) experiencing symptoms of ARI and 48 children (53.3%) experiencing symptoms of eye irritation. The results of the Mann-Whitney Test analysis showed that there was no significant difference between the average real-time intake value of children who experienced ARI symptoms and eye irritation symptoms and children who did not experience these symptoms. Although exposure to H2S is not yet a risk in the short term, risk management is needed to reduce exposure to H2S in the future. This can be done by improving landfill management, such as modern waste processing, as well as planting trees or plants that can absorb H2S.
S-11706
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Miefta Khoirina; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Wahyu Heryawan
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah menghitung dan menganalisis tingkat efektivitas sampah organik lunak yang diolah menjadi pakan larva Black Soldier Fly (BSF) di TPA Jatibarang Semarang pada tahun 2019-2021 serta mengetahui sistem pengelolaan sampah di TPA Jatibarang Semarang. Penelitian dilakukan langsung di TPA Jatibrang Semarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan ekologi. Variabel yang digunakan adalah jumlah timbulan sampah per bulan, jumlah intake dan residu sampah sebagai bahan pakan larva BSF per bulan.
Read More
S-10592
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
