Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fathul Jannah; Promotor: L Endang Achadi; Kopromotor: Faisal Yunus, Elvina Karyadi; Penguji: Kusharisupeni, Anhari Achadi, Besral, Hartono Gunardi, Adi Hidayat, Sri Wuryanti
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) di Indonesia masih menempati urutan ke-3 di dunia.
 
Anak dengan tuberkulosis umumnya mengalami defisiensi zinc dan vitamin A. Defisiensi
 
zinc dapat menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh dan mengganggu sintesis
 
retinol binding protein sehingga dapat menghambat proses penyembuhan TB.
 
Penambahan zinc dan vitamin A dapat membantu meningkatkan respon kekebalan tubuh
 
pada penderita TB.
 
Tujuan: Membuktikan pengaruh suplementasi zinc dan vitamin A dalam meningkatkan
 
status gizi dan perbaikan gejala klinis pada anak usia 5-10 tahun dengan tuberkulosis
 
paru.
 
Disain: Penelitian adalah kuasi eksperimen dengan pre post design dengan kontrol.
 
Sebanyak 84 anak yang telah diseleksi dan terdiagnosis TB Paru yang berada di empat
 
wilayah Puskesmas Kecamatan di Jakarta Pusat diambil menjadi subyek penelitian.
 
Kelompok perlakuan dibagi secara acak menjadi dua kelompok yakni kelompok I yang
 
mendapatkan Obat anti Tuberkulosis Standar DOTS dan suplemen (berisi 20 mg zinc
 
elemental dan vitamin A asetat 1500 IU) dan kelompok II yang hanya mendapatkan OAT
 
saja. Obat dan suplemen diminum setiap hari selama pengobatan TB. Respon
 
kesembuhan dapat diukur dari membaiknya gejala klinis dan status gizi dibandingkan
 
pada saat awal sebelum pengobatan. Analisis untuk melihat perbedaan dua kelompok
 
menggunakan uji T-Test. Gejala klinis diukur dengan chi-square.
 
Hasil: 84 Subyek terdiri atas kelompok intervensi (n=38) dan kelompok kontrol (n=46).
 
Pada fase inisial (bulan ke dua) perubahan nilai zinc, retinol dan IMT-U pada kelompok
 
intervensi lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol, grup I dengan nilai p=0,087;
 
p=0,002; p=0,449 berturut-turut. Perubahan kadar albumin dan hemoglobin kelompok
 
kontrol lebih tinggi dibanding kelompok intervensi denan nilai p=0,000; p=0,142. Pada
 
bulan ke enam terjadi kenaikan pada retinol, hemoglobin, IMT-U, kelompok intervensi
 
lebih tinggi dari kelompok kontrol dengan p=0,879; p=0,142; p= 0,216. Perubahan kadar
 
albumin lebih tinggi pada kelompok kontrol p=0,005. Kadar zinc mengalami penurunan
 
pada kedua kelompok p=0,153. Perbaikan gejala klinis lebih cepat terjadi pada kelompok
 
intervensi dan bermakna secara klinis namun tidak bermakna secara statisik.
 
Simpulan: Pemberian suplemen disarankan pada anak TB yang mendapat OAT hingga
 
bulan ke dua, karena dapat meningkatkan status gizi dan perbaikan gejala klinis.
 

ABSTRACT
 
 
Background: Indonesia is the 3rd in the world on Tuberculosis (TB). Most children with
 
tuberculosis commonly have zinc and vitamin A deficiency. Zinc deficiency caused
 
immune system disorders and disturb the synthesis of retinol binding protein, it inhibited
 
the healing process of TB. Supplementation of zinc and vitamin A helped to improve the
 
immune response in TB patients.
 
Objective: To prove the effect of zinc and vitamin A supplementation in improving the
 
clinical symptoms and nutritional status in children 5-10 years of tuberculosis.
 
Design: This study was quasi experimental, was conducted in a pre post design. A total
 
of 84 children who were selected and diagnosed with pulmonary TB in the four districts
 
of the Public Health Center in Central Jakarta were invited as research subjects. Subjects
 
were divided into two groups. Group I received the standard DOTS ATT and supplement
 
(containing 20 mg zinc element, as a zinc sulfate and acetate vitamin A 1500 IU), while
 
group II only received ATT. These drugs and supplements are taken daily during TB
 
treatment. The recovery response can be measured by observing the improvement in
 
clinical symptoms and nutritional status compared to the time before treatment. The
 
analysis used to see the differences between the two groups is the T-Test. Clinical
 
symptoms are measured by chi-square.
 
Results: There are 84 subjects taken in the intervention group (n = 38) and the control
 
group (n = 46). In intensive phase, delta of zinc, retinol, BMI/A on intervention group
 
was higher than control ( p=0,087; =0,002; =0,449, respectively). Delta albumin and Hb
 
were higher ol control than intervention (p=0,000; =0,142). On the 6th mo, delta of
 
retinol, Hb increased higher than control (p=0,879; =0,142; =0,216, respectively). But
 
zinc level decreased on both groups (p=0,153). Clinical symptoms provide good results
 
and are clinically meaningful but not significant.
 
Conclusion: Supplementation was valueable with ATT treatment up to two months due
 
to it could improve nutritional status and clinical symptoms.
Read More
D-397
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Zen Rahfiludin, Siti Fatimah Pradigdo
MGMI Vol.5, No.1
Magelang : Balitbang GAKI Kemenkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muh Purwanto; Pembimbing: Zarfiel Tafal; Penguji: Yovsyah, Yulita Evarini, Emita Ajis
T-4100
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Handito; Promotor: Nasrin Kodim; Kopromotor: Tri Yunis Miko, Badriul Hegar Syarif; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Besral, Julitasari Sundoro, Kodrat Pramudho
D-340
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tika Noor Prastia; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Trini Sudiarti, Endnag Laksminingsih, Itje Aisah, Eti Rohati
Abstrak: Stunting menjadi masalah kesehatan yang terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Dampak stunting menyebabkan buruknya kualitas sumber daya manusia dan menurunkan kemampuan produktifitas. Penelitian ini bertujuan menilai faktor- faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kras Kecamatan Kras Kabupaten Kediri Tahun 2017. Desain penelitian mengggunakan cross sectional dengan metode proportional random sampling dengan jumlah sampel 187 anak. Data diperoleh dari data primer melalui wawancara kuesioner dan form FFQ semikuantitatif, serta pengukuran antropometri panjang badan anak dan tinggi badan ibu. Analsisis bivariat menggunakan uji chi-square, regresi logistik ganda untuk analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 20,9%. Analisis bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu riwayat IMD dan asupan zink (p<0,05), sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan kejadian stunting yaitu berat badan lahir, panjang lahir, riwayat penyakit infeksi, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu ketika melahirkan, LiLA ibu ketika hamil, riwayat pemberian ASI, asupan energi, asupan protein, asupan vitamin A, asupan kalsium, riwayat pemberian MP-ASI, dan riwayat ANC (p>0,05). Analisis multivariat menunjukkan asupan zink (OR= 12,54: 95%CI: 3,68-42,76) merupakan faktor risiko dominan yang menyebabkan kejadian stunting setelah dikontrol dengan berat badan lahir dan pendidikan ibu. Perlu diperhatikan komsumsi makan anak seperti daging, ikan, hati, dan telur yang kaya akan zink sebagai upaya pencegahan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan. Kata kunci : Stunting ̧ asupan zink, anak usia 6-24 bulan.
Read More
T-4961
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nimas Mita Etika M; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Trini Sudiarti, Rahmawati
Abstrak: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh malnutrisi kronis pada anak yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif serta fisik anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada siswa kelas 1 SD di Jakarta Barat tahun 2016. Penelitian ini berdesain studi cross sectional, menggunakan data primer dengan sampel 182 orang siswa dari 6 sekolah dasar negeri di Jakarta Barat yang dilakukan pada April-Mei 2016. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengisian kuesioner dan food frequency questionnaire secara mandiri oleh responden. Dari hasil penelitian diketahui terdapat 21,4% siswa mengalami stunting. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata frekuensi konsumsi seng, zat besi, vitamin A, dan protein serta ada perbedaan proporsi antara berat badan lahir (OR=6,31), pemberian ASI eksklusif (OR=2,62), riwayat penyakit infeksi (OR=2,86), status imunisasi dasar (OR=3,45), suplementasi vitamin A (OR=2,46), pengetahuan gizi dan kesehatan ibu (OR=2,77), pola asuh makan (OR=6,41), jumlah anggota keluarga (OR=2,97), dan pendapatan keluarga (OR=2,88) dengan kejadian stunting. Analisis regresi menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi seng merupakan faktor dominan kejadian stunting pada siswa kelas 1 SD di Jakarta Barat tahun 2016. Kata kunci: stunting, frekuensi konsumsi seng, siswa sekolah dasar
Stunting is linear growth retardation because of chronic malnutrition that associated with decline of cognitive function and physic skill in children. The objective of this research is to determine the dominant factor related with stunting occurence among 1st grade primary school student in Jakarta Barat, 2016. This research was descriptive study with cross sectional design that using primary data and included 182 students from 1st grade of 6 public elementary school that located in Jakarta Barat. Data were collected through the questionnaire and food frequency questionnaire. The result showed prevalence of stunting was 21,4%. The independent t-test analysis showed that food consumption frequency of zinc, iron, vitamin A, and protein had a significant difference with stunting. Chi square analysis also showed that birth weight (OR=6,31), exclusive breast-feeding (OR=2,62), history of infection (OR=2,86), basic immunization status (OR=3,45), suplementation of Vitamin A, maternal health and nutrition knowledge (OR=2,77), care feeding (OR=2,88), family size, dan family income (OR=2,88) had a significant association with stunting. Regresi binary logistic showed that consumption frequency of zinc as dominant factor of stunting occurence among 1st grade primary school stundent, Jakarta Barat in 2016. Keywords: stunting, consumption frequency of zinc, primary school student
Read More
S-9084
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriatul Isnaini; Pembimbing: Yvonne M Indrawani; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rahmawati
Abstrak: ABSTRACT
  
Stunting atau kependekan (PB/U <-2 SD) merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan
 
linier yang banyak muncul di wilayah negara berkembang termasuk Indonesia.
 
Stunting mengancam kesehatan, mengurangi kesempatan pencapaian pendidikan dan
 
pendapatan tinggi. Potensi genetik stunting yang menurun memperpanjang risiko
 
stunting antargenerasi. Stunting dapat jelas teramati ketika anak-anak. Intervensi dini
 
diperlukan untuk menurunkan prevalensi stunting dan dampak. Penelitian ini
 
melibatkan 133 pasang ibu dan bayi di enam posyandu. Penelitian menggunakan
 
desain potong lintang untuk mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting
 
pada anak usia 12-23 bulan. Penelitian dimulai pada 10 April sampai 5 Mei 2014. Uji
 
chi-square mendapati tinggi badan ibu, panjang lahir anak, berat lahir anak, asupan
 
zink, dan riwayat infeksi adalah faktor-faktor yang berhubungan bermakna terhadap
 
stunting. Hasil analisa multivariat menunjuk asupan zink sebagai faktor dominan
 
terhadap stunting pada anak usia 12-23 bulan. Peneliti menyarankan pemerintah
 
untuk mempertimbangkan suatu program suplementasi bagi ibu yang melanjutkan
 
menyusui hingga anak berusia dua tahun.
 

 
ABSTRACT
 
 
Stunting or short stature (HAZ<-2 SD) is a linear growth failure that largely occur in
 
developing countries included Indonesia. Stunting is a main malnutrition problem
 
that threatening health, reducing high-education level attainament and income level.
 
Stunting has a phenotype potential that genetically given from parents that causing a
 
long-bad short stature cycle, called intergenerational cycle. Stunting can clearly
 
observe in children. Early intervation is needed for cutting down stunting prevalence
 
and reducing effects. This study aim for finding factor that most contribute to stunting
 
aged 12-23 months by using a cross sectional design. It started on April 10th until
 
May 5th 2014. There was 133 pairs mother-child who completely involved in this
 
study. This study reported that 21,8% toddler are stunting. Chi-square anlysis found
 
maternal height, child birth-length, child birth-weight, zinc intake, and infection
 
frequent are factors related to stunting. Furthermore, multivariate anlysis result
 
showed that zinc intake as dominant factor related to stunting aged 12-23 months. It
 
suggest for stakeholder to consider a supplementation program for mother who
 
countinous suckling until her toddler aged two years old.
Read More
S-8493
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Dewi Subandiyah; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Ratna Djuwita, Nastiti Kaswandani; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Titis Prawitasari, Siti Nur Anisah, Nininig Mularsih
Abstrak:

Insidens kasus tuberkulosis (TBC) anak di Indonesia diperkirakan mencapai 11,7% dari total kasus TB. Tidak semua individu terpapar TBC akan menjadi sakit, namun kemungkinan reaktivasi lebih tinggi pada anak , terutama pada anak di bawah lima tahun. Kontak serumah lebih berisiko. Nutrisi baik makro maupun mikro mempengaruhi kejadian TBC pada anak. Studi menyatakan Vitamin D dan Seng berperan dalam peningkatan imunitas. Namun penelitian tentang pemberian suplementasi vitamin D dan Seng serta upaya perbaikan nutrisi dalam pencegahan infeksi TBC pada balita belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian suplementasi dan konseling diet dalam pencegahan infeksi TBC pada balita kontakserumah TBC paru terkonfirmasi bakteriologis di DKI Jakarta. Kami melakukan penelitian quasi eksperimen pada balita kontak serumah TBC paru bakteriologis di 25 kecamatan di DKI Jakarta. Kelompok intervensi diberikan vitamin D 400-600 IU/hari dan Seng 10-20mg/hari tergantung usia selama 3 bulan serta konseling diet pada orang tua. Balita yang masuk dalam sampel adalah balita yang tidak terinfeksi dan atau sakit TBC, tidak gizi buruk, HIV negative dan tidak menderita penyakit kronis lain. Setiap bulan  dilakukan recall diet 24 jam untuk mengukur nutrisi dan status gizi. Setelah 3 bulan akan dihitung balita yang terinfeksi dan tidak dengan menggunakan tes tuberculin. Analisa multivariat dilakukan dengan GEE. Berdasarkan hasil penelitian, insidenss kumulatif infeksi TBC pada kelompok intervensi 5% sedangkan pada kelompok kontrol 23%. Pemberian intervensi meningkatkan konsumsi vitamin D pada balita yakni dari 3 mcg menjadi 14,9 mcg dan Seng 3.8 mg menjadi 18.2 mg. Pada balita terinfeksi, konsumsi  vitamin D dan Seng lebih rendah. Besarnya risiko kejadian infeksi TBC dengan pemberian intervensi adalah 0.22 kali ( 95% CI 0.08-0.57 p. value 0.002). Pemberian suplementasi vitamin D dan Seng serta konseling diet  menurunkan kejadian infeksi TBC pada balita kontak serumah hingga 78%. Kata Kunci : Infeksi TBC pada balita kontak serumah, suplementasi vitamin D dan Seng, quasi eksperimen, tes tuberculin


 

The incidence of childhood tuberculosis (TB) in Indonesia is estimated to be 11.7% of total TB cases. Not all individuals exposed to TB will become ill, but the likelihood of reactivation is higher in children, especially children under five years old. Household contacts are more at risk. Both macro and mikro nutriens influence the incidence of TB in children. Studies suggest that vitamin D and zinc play a role in boosting immunity. However, research on vitamin D and zinc supplementation and nutritional improvement efforts in preventing tuberculosis infection in children under five years of age has not been conducted. This study aims to determine the effect of supplementation and dietary counseling in preventing TB infection in young children with bacteriologically confirmed pulmonary TB in DKI Jakarta. We conducted a quasi-experimental study among infants with bacteriologically confirmed pulmonary TB home contacts in 25 subdistricts in DKI Jakarta. The intervention group received vitamin D 400-600 IU/day and Zinc 10-20mg/day depending on age for 3 months, as well as nutritional counseling for parents. Included in the sample were infants who were not infected and/or sick with TB, not malnourished, HIV negative, and not suffering from any other chronic diseases. A 24-hour dietary recall to measure diet and nutritional status was conducted every month. After 3 months, infected and uninfected children were counted using the tuberculin test. Multivariate analysis was performed using GEE. Based on the results of the study, the cumulative incidence of TB infection was 5% in the intervention group and 23% in the control group. The intervention increased vitamin D consumption in toddlers from 3 mcg to 14.9 mcg and zinc from 3.8 mg to 18.2 mg. Vitamin D and zinc intake was lower among infected infants. The risk of TB infection with the intervention was 0.22 times (95% CI 0.08-0.57 p. value 0.002). Provision of vitamin D and zinc supplementation and dietary advice reduced the risk of TB infection. Keywords: Infection of TB in Household contact children under five years age, Tuberculin Test, Suplementation of vitamin D and zinc, Quasi experimental studies

Read More
D-550
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive