Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Theresia; Pembimbing : Sandi Iljanto; Penguji: Purnawan Junadi, Endah Saras Wati
Abstrak:
Tahun 2013, Program Jamkesda menambah jumlah peserta dari 183.791 menjadi 280.974 dan memberlakuan kerjasama dengan 16 rumah sakit di luar Kota Depok.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor penentu pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh peserta Jamkesda di Kota Depok. Desan penelitian adalah cross sectional dengan sampel 107 orang yang dipilih viiipurposive dari populasi 183.791 orang. Variabel dianalisis dengan analisis bivariat. Berdasarkan analisis diketahui bahwa utilisasi secara langsung dipengaruhi aksesibilitas (biaya,jarak, waktu ke fasilitas kesehatan) dan nilai pengetahuan. Agar utilisasi lebihbaik, promosi kesehatan, mempermudah aksesibilitas penting untuk dilakukan. Kata Kunci : Utilisasi, Jamkesda, aksesibilitas.
Read More
S-8252
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ade Permata Surya; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Engkus Kusdinar, Nurafiah
Abstrak:
Sering mengonsumsi fast food dapat berdampak pada rendahnya kualitas diet dan tingginya kejadian obesitas. Sekolah di Kecamatan Tangerang Kota, diketahui memiliki aksesibilitas yang tinggi untuk mendapatkan fast food, sehingga dikhawatirkan membuat para siswanya mengonsumsi fast food dalam frekuensi sering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dalam menentukan frekuensi konsumsi fast food modern pada siswa-siswi SMA Negeri di Kecamatan Tangerang Kota, Kota Tangerang pada tahun 2013. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Data dilkumpulkan dengan menggunakan kuesioner dari 178 siswa, sedangkan jarak dan kemudahan diketahui melalui observasi lapangan dan diukur menggunakan pencitraan satelit dengan bantuan perangkat lunak Google Maps Geo-coding JavaScript API versi 2.0. Hasil menunjukkan sebanyak 62% responden mengonsumsi fast food dalam frekuensi sering, terdapat perbedaan proporsi yang signifikan pada pendidikan terakhir ibu (p=0,045), status pekerjaan ibu (0,037) dan uang saku (0,003) dalam menentukan frekuensi konsumsi fast food. Setelah diuji secara multivariat, hanya uang saku yang menunjukkan p value secara signifikan (p=0,013) dengan interpretasi siswa yang memiliki uang saku besar beresiko 2,566 kali sering mengonsumsi fast food dibandingkan siswa yang memiliki uang saku kecil setelah dikontrol variabel pendidikan terakhir ibu, status pekerjaan ibu, jarak sekolah terhadap restoran fast food, dan kemudahan akses. Kesimpulan yang didapatkan adalah uang saku merupakan faktor yang paling dominan dalam menentukan frekuensi konsumsi fast food siswa-siswi SMA Negeri di Kecamatan Tangerang Kota, Kota Tangerang, tahun 2013.
Often to eat fast food can have an impact on poor quality of diet and high incidence of obesity. Schools in district of Tangerang Kota known to have high accesibility to fast food. It will give implication of higher frequency for eating fast food. Objective in this study is to determine the dominant factor in determining the frequency of fast food consumption in the state high school students in the district of Tangerang Kota at 2013. The research method is quantitative cross-sectional design. The data was collected by questionaire of 178 students. While, the distance known from direct observation and measured using satellite imaging with aid of Google Maps, Geo-coding Java Script API version 2.0. Result showed that 62% of respondents had higher frequency of eating fast food. There is a significant difference in the proportion of mother's education level (p=0.045), mohter’s employment status(0.037) and daily allowance (0,003) in determining the frequency of fast food consumption. After multivariate test, only daily allowance that shows significant p value (p=0,013) with the interpretation of the students who had little pocket money after the controlled variable of mother’s education level, mother’s employment status, distance of school to fast food restaurant, and accesibility. In conclude, the amount of daily allowance is the most dominant factor in determining the frequency of fast food consumption in state high school student, district of Tangerang Kota, Tangerang.
Read More
S-7884
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Richard Skolnik
614 SKO e
Burlingtong Massachusetts : Jones & Bartlett Learning, 2020
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Richard Skolnik
614 SKO e
Burlingtong Massachusetts : Jones & Bartlett Learning, 2020
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Astridya Paramita, Setia Pranata
Bulitkes Vol.41, No.3
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iva Nur Faridah; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Enny Ekasari, Fikrotul Ulya
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Dalam era persaingan layanan kesehatan yang semakin ketat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dituntut tidak hanya menjalankan fungsi sosial, tetapi juga mampu bersaing dengan rumah sakit swasta dalam hal kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. RSUD Anugerah Sehat Afiat (ASA) Kota Depok sebagai rumah sakit milik Pemerintah Kota Depok memiliki tantangan dalam meningkatkan pemanfaatan layanan dan memperkuat posisinya sebagai pilihan utama masyarakat di wilayah timur Kota Depok. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat dalam memilih rumah sakit, menganalisis permasalahan yang dihadapi RSUD ASA dalam menarik minat masyarakat, serta merumuskan strategi yang tepat agar RSUD ASA dapat menjadi rumah sakit pilihan utama masyarakat. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain studi kasus. Data kuantitatif dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada pasien dan masyarakat, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan dari manajemen rumah sakit. Analisis dilakukan berdasarkan lima dimensi utama yang menjadi variabel independen, yaitu availability, affordability, accessibility, accommodation, dan acceptability. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi acceptability, yang meliputi kepercayaan pasien, reputasi rumah sakit, dan kualitas pelayanan, merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi preferensi masyarakat. Dimensi accessibility dan availability juga berpengaruh signifikan, sedangkan affordability dan accommodation memberikan pengaruh sedang terhadap keputusan masyarakat dalam memilih rumah sakit. Kesimpulan: Upaya untuk menjadikan RSUD ASA sebagai pilihan utama masyarakat perlu diarahkan melalui pendekatan Strategic Healthcare Marketing, yang menekankan bahwa preferensi pasien terhadap rumah sakit dibentuk oleh persepsi nilai yang terdiri atas bauran kualitas layanan, aksesibilitas, citra rumah sakit, dan interaksi pasien selama proses pelayanan. Pendekatan berbasis nilai ini diharapkan mampu meningkatkan mutu layanan secara berkelanjutan, memperkuat kepercayaan publik, serta meningkatkan daya saing RSUD ASA di dalam sistem pelayanan kesehatan regional. Kata kunci: Preferensi masyarakat, utama, availability, accessibility, acceptability, rumah sakit, strategi.
Background: In an increasingly competitive healthcare environment, public hospitals are required not only to fulfill their social functions but also to compete with private hospitals in terms of service quality and patient satisfaction. RSUD Anugerah Sehat Afiat (ASA) Depok, as a local government-owned hospital, faces challenges in improving service utilization and strengthening its position as the preferred choice for the community in the eastern region of Depok City. Objectives: This study aims to identify the factors influencing community preferences in choosing hospitals, analyze the challenges faced by RSUD ASA in attracting public interest, and formulate effective strategies to make RSUD ASA the primary hospital of choice for the community. Methods: The study employs a mixed-methods approach with a case study design. Quantitative data were collected through questionnaires distributed to patients and community members, while qualitative data were obtained through in-depth interviews with key informants, including hospital management and local health officials. The analysis was conducted based on five key dimensions: availability, affordability, accessibility, accommodation, and acceptability. Results: The findings reveal that acceptability, which includes patient trust, hospital reputation, and service quality, is the most dominant factor influencing community preference. The dimensions of accessibility and availability also have significant effects, while affordability and accommodation show a moderate influence on hospital choice. Conclusion: Efforts to establish RSUD ASA as the main choice of the community should adopt the Strategic Healthcare Marketing approach, which emphasizes that patient preference for a hospital is shaped by perceived value derived from the combination of service quality, accessibility, hospital image, and patient interaction throughout the care process. This value-based approach is expected to foster continuous quality improvement, strengthen public trust, and enhance the hospital’s competitiveness within the regional healthcare system.
B-2574
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lawrence C. An ... [et al.]
Abstrak:
Purpose: To describe change in Minnesota's QUITPLAN helpline operations following provision of nicotine replacement therapy (NRT) to multisession counseling enrollees.
Methods: NRT access began September 2002. Call volume is reported from September 2001 to May 2003 (pre-NRT = 2734, post-NRT = 12,536). A survey administered at 2 weeks assesses self-reported connection to services (response rate 80%, n = 538/670, pre-NRT vs. 67%, n = 400/595, post-NRT, p < .001).
Results: Provision of NRT was followed by an increase in call volume (439 +/- 229 calls/month January through May pre-NRT vs. 1292 +/- 308 calls/month January through May post-NRT, p = .001). Enrollment in multisession counseling increased (17.4% pre-NRT vs. 75.3% post-NRT, p < .001). Among survey respondents, connection to services was not changed (83.8% pre-NRT vs. 88.0% post-NRT, p = .072). At 2 weeks, more respondents who enrolled in multisession counseling reported having a follow-up call scheduled (43.9% pre-NRT vs. 64.1% post-NRT, p = .001).
Conclusions: This is an observational study. Providing NRT as part of a statewide helpline may increase recruitment and encourage callers to enroll in multisession counseling.
Read More
Methods: NRT access began September 2002. Call volume is reported from September 2001 to May 2003 (pre-NRT = 2734, post-NRT = 12,536). A survey administered at 2 weeks assesses self-reported connection to services (response rate 80%, n = 538/670, pre-NRT vs. 67%, n = 400/595, post-NRT, p < .001).
Results: Provision of NRT was followed by an increase in call volume (439 +/- 229 calls/month January through May pre-NRT vs. 1292 +/- 308 calls/month January through May post-NRT, p = .001). Enrollment in multisession counseling increased (17.4% pre-NRT vs. 75.3% post-NRT, p < .001). Among survey respondents, connection to services was not changed (83.8% pre-NRT vs. 88.0% post-NRT, p = .072). At 2 weeks, more respondents who enrolled in multisession counseling reported having a follow-up call scheduled (43.9% pre-NRT vs. 64.1% post-NRT, p = .001).
Conclusions: This is an observational study. Providing NRT as part of a statewide helpline may increase recruitment and encourage callers to enroll in multisession counseling.
AJHP Vol.20, No.4
[s.l.] : Sage, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adeline Vashtianada; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Fajrinayanti
Abstrak:
Read More
Ultra-processed food/UPF merupakan produk yang melalui serangkaian teknik dan proses industri serta memiliki nilai zat gizi yang rendah. Apabila dikonsumsi secara berlebihan, UPF dapat meningkatkan risiko berat badan lebih dan obesitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan proporsi konsumsi UPF berdasarkan karakteristik individu, faktor lingkungan, dan faktor gaya hidup pada mahasiswa S1 non-kesehatan Universitas Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 149 sampel. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online yang diisi secara mandiri. Data yang diperoleh akan dianalisis secara univariat dan bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 50,3% mahasiswa mengonsumsi UPF tingkat tinggi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi yang signifikan antara pengaruh teman sebaya dan akses terhadap UPF dengan tingkat konsumsi UPF. Peneliti menyarankan mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran terkait pemilihan makanan dan minuman serta menjadi penggerak dalam lingkungan teman sebaya terkait hal tersebut. Pihak Universitas Indonesia dapat memberikan edukasi dan membuat ketentuan terkait UPF dan konsumsi makanan sehat kepada mahasiswa. Pemangku kebijakan dapat meningkatkan dalam penyampaian pesan kesehatan, mendukung lembaga pendidikan, dan mendukung penelitian terkait pola makan mahasiswa dan faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi UPF. Peneliti selanjutnya dapat meneliti pada populasi lain dengan variabel dan teknik yang berbeda.
Ultra-processed food/UPF is a product that undergoes a series of industrial techniques and processes and has low nutritional value. Overconsumption of UPF can increase the risk of overweight and obesity. The purpose of this study is to determine the differences in the proportion of UPF consumption based on individual characteristics, environmental factors, and lifestyle factors among non-health undergraduate students in Universitas Indonesia in 2023. A cross sectional study design conducted on 149 samples. The data was collected using a self-administered online questionnaire. The data was analyzed using univariate and bivariate (chi-square) analyses. The results showed that 50,3% of the students consumed a high level of UPF. The bivariate analysis showed a significant difference in the proportion of UPF consumption based on peer influence and access to UPF. The researchers suggest students to increase awareness of food and beverage choices, also become advocates within their peer groups regarding this matter. Universitas Indonesia should implement health education and make provisions regarding UPF and healthy food consumption for students. Policymakers suggested to improve the delivery of health messages to students, support educational institutions, and support research on students’ dietary patterns and factors influencing UPF consumption. Future researchers can examine other populations with different variables and methods.
S-11414
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Daffaldo Suryoputra; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Desty Wijayanti
Abstrak:
Read More
Penyandang disabilitas atau difabel merupakan seseorang yang memiliki kondisi baik secara fisik maupun pikiran yang membuat seseorang untuk mengalami kesulitan dalam kondisi tertentu serta berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Prevalensi global penyandang disabilitas terdapat sekitar 15% penduduk dunia, sedangkan di Indonesia berdasarkan data SUPAS 2015, terdapat 8,36% adalah mengalami kesulitan penglihatan, sedangkan 3,35% memiliki kesulitan pendengaran. Perda DKI Jakarta No 4 Tahun 2022 membahas hak kesehatan penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran terkait aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang menunjang bagi penyandang disabilitas sensorik di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan metode observasi, telaah dokumen, dan wawancara mendalam kepada pasien dengan disabilitas sensorik pada poli mata dan poli THT, serta petugas kesehatan RSUD Pasar Minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas fisik di RSUD Pasar Minggu sudah mencakup papan informasi, guiding block, hand rail, loket informasi khusus, sedangkan huruf braille dan TV text sedang dalam proses perencanaan untuk disediakan di rumah sakit. Sedangkan aksesibilitas nonfisik mencakup pelatihan bagi tenaga kesehatan, sosialisasi pelayanan kesehatan, serta komunikasi khusus kepada penyandang disabilitas sudah dilaksanakan dengan cukup baik dan memberikan kepuasan pasien dengan gangguan penglihatan dan pendengaran di terhadap kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Pasar Minggu.
Person with a disability is someone who has conditions, whether physically and mentally that make a person experience difficulties in certain conditions and interact with their environment. The global prevalence of people with disabilities is around 15% of the world's population, while in Indonesia based on SUPAS 2015 data, 8.36% have visual impairment, while 3.35% have hearing impairment. In addition, Perda DKI Jakarta No 4 Tahun 2022 discusses the health rights of persons with disabilities. Therefore, this study aims to get an overview regarding the accessibility of supporting health service facilities for persons with sensory disabilities at Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu. The type of research used in this study was descriptive qualitative with the method of observation, document review, and in-depth interviews with patients with sensory disabilities in the eye polyclinic and ENT polyclinic, as well as health workers at RSUD Pasar Minggu. The results showed that physical accessibility at Pasar Minggu Hospital already includes information boards, guiding blocks, hand rails, special information counters, while braille and TV text are in the process of planning to be provided at the hospital. While non-physical accessibility includes training for health workers, socialization of health services, as well as special communication for persons with disabilities which have been carried out quite well and have provided satisfaction for patients with visual and hearing impairments in terms of the quality of health services at RSUD Pasar Minggu.
S-11373
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Joyce Mangoma; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Helen Andriani, Apt Riswandy Wasir, S Farm,MPH, PhD
Abstrak:
Read More
Latar belakang Penggunaan obat tradisional (TM) tersebar luas secara global, sehingga menimbulkan tantangan regulasi Afrika memiliki sejarah yang kaya akan TM, yang penting untuk perawatan kesehatan. Di Binga, Zimbabwe, TM merupakan bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya. Konteks geografis dan ekonomi Binga mempengaruhi praktik TM. Undang-Undang Pengendalian Obat dan Zat Terkait (MASCA) berdampak pada kesehatan ibu, selaras dengan SDGs 3 dan 5. Studi ini menilai dampak MASCA terhadap penggunaan obat-obatan terlarang dan hasil kesehatan ibu di Binga, menawarkan wawasan tentang kerangka peraturan dan praktik kesehatan berkelanjutan. Objektif Studi ini menilai dampak Undang-Undang Pengendalian Obat dan Zat Terkait (MASCA) terhadap penggunaan obat tradisional dan hasil kesehatan ibu di Binga, Zimbabwe. Secara khusus, makalah ini mengkaji aksesibilitas, persepsi, proses pengambilan keputusan, dan pengaruh sosial budaya terkait pengobatan tradisional berdasarkan peraturan MASCA, mengevaluasi hasil kesehatan ibu termasuk komplikasi kehamilan, kematian ibu, dan hasil kelahiran. Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, termasuk wawancara, tinjauan dokumen, dan observasi etnografi, untuk menilai dampak MASCA terhadap penggunaan obat tradisional dan hasil kesehatan ibu di Binga, Zimbabwe. Pengambilan sampel yang bertujuan dan bersifat bola salju akan memastikan keterwakilan peserta yang beragam. Data akan dianalisis menggunakan analisis tematik untuk memberikan rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Hasil Studi ini mengeksplorasi dampak MASCA terhadap layanan kesehatan ibu tradisional di Binga. Temuan utama mencakup peningkatan keamanan dan kualitas namun berkurangnya ketersediaan dan keterjangkauan penyembuh karena peraturan. Persepsi yang beragam dari para praktisi mempengaruhi aksesibilitas layanan. Wanita hamil menunjukkan pandangan yang beragam, menyeimbangkan keamanan dan pembatasan. Faktor budaya, ekonomi, dan peraturan mempengaruhi keputusan antara layanan kesehatan tradisional dan modern. MASCA bertujuan untuk meningkatkan hasil namun menimbulkan tantangan dalam aksesibilitas dan penerimaan budaya. Pengamatan etnografis menyoroti interaksi yang kompleks antara praktik tradisional, kesehatan ibu, dan persepsi masyarakat. Kesimpulan Studi ini menyoroti tingginya angka kematian ibu di Distrik Binga, yang diperburuk oleh dampak buruk Penggunaan obat tradisional dan kesenjangan kesehatan lokal, meskipun terjadi penurunan secara nasional. Laporan ini merekomendasikan pendekatan yang seimbang yang mencakup dukungan keuangan dan untuk dukun, peraturan yang peka terhadap budaya, dan model layanan kesehatan yang terintegrasi. Strategi-strategi ini bertujuan untuk meningkatkan hasil kesehatan ibu dan menyelaraskan dengan target SDG 3.1. Mengintegrasikan praktik tradisional dengan layanan kesehatan modern, pemantauan berkelanjutan, dan membina kolaborasi dapat memastikan perawatan ibu yang aman, efektif, dan menghormati budaya. Kata Kunci: Obat tradisional, Medicines and Allied Substances Control Act (MASCA), Hasil kesehatan ibu, Aksesibilitas, Kerangka peraturan
Background Traditional medicine (TM) use is widespread globally, posing regulatory challenges. Africa has a rich history of TM, essential for healthcare. In Binga, Zimbabwe, TM is integral to social and cultural life. Binga's geographical and economic context influences TM practices. The Medicines and Allied Substances Control Act (MASCA) impacts maternal health, aligning with SDGs 3 and 5. This study assesses MASCA's effects on TM use and maternal health outcomes in Binga, offering insights into regulatory frameworks and sustainable health practices. Objective This study assesses the impact of the Medicines and Allied Substances Control Act (MASCA) on traditional medicine usage and maternal health outcomes in Binga, Zimbabwe. Specifically, it examines accessibility, perceptions, decision-making processes, and socio-cultural influences related to traditional medicine under MASCA regulations, evaluating maternal health outcomes including pregnancy complications, maternal mortality, and birth outcomes. Method This study uses qualitative- descriptive method, including interviews, document reviews, and ethnographic observations, to assess the impact of MASCA on traditional medicine usage and maternal health outcomes in Binga, Zimbabwe. Purposeful and snowball sampling will ensure diverse participant representation. Data will be analysed using thematic analysis to inform evidence-based policy recommendations. Results The study explores MASCA's impact on traditional maternal healthcare in Binga. Key findings include improved safety and quality but reduced healer availability and affordability due to regulations. Practitioners' mixed perceptions affect service accessibility. Pregnant women show diverse views, balancing safety and restrictions. Cultural, economic, and regulatory factors influence decisions between traditional and modern healthcare. MASCA aims to enhance outcomes but poses challenges in accessibility and cultural acceptance. Ethnographic observations highlight the complex interplay of traditional practices, maternal health, and community perceptions. Conclusion The study highlights the high maternal mortality ratio in Binga District, exacerbated by the adverse impact of traditional medicine use and localized health disparities, despite national declines. It recommends a balanced approach that includes financial and educational support for traditional healers, culturally sensitive regulations, and integrated healthcare models. These strategies aim to improve maternal health outcomes and align with SDG 3.1 targets. Integrating traditional practices with modern healthcare, continuous monitoring, and fostering collaboration can ensure safe, effective, and culturally respectful maternal care. Keywords: Traditional medicine, Medicines and Allied Substances Control Act (MASCA),Maternal health outcomes, Accessibility ,Regulatory frameworks
T-7026
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
