Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tati Suryati, Ingan Ukur Tarigan
Bulitsiskes Vol.16, No.3
Surabaya : Balitbangkes Depkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratri Ciptaningtyas, Nia Pratiwi
JKR Vol.3, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nancy Potischman, Martha S. Linet
Abstrak: In this issue of the Journal, Nimptsch et al. (Am J Epidemiol. 2013;178(2):172-183) report significant associations between female adolescents' poultry consumption in high school and subsequent reduced risk of colorectal adenomas in adulthood. Consumption of red meat or fish was not related to risk, but replacement with poultry reduced the risk of later adenomas. Most epidemiologic studies of adult diseases lack exposure data from the distant past. By focusing on a cancer precursor lesion and using a variety of methods to assess data quality, the investigators address concerns about the quality of distant recall. These findings add to the growing evidence that links childhood and adolescent lifestyle and environmental exposures with subsequent risk of cancers arising in adulthood. Highlights of the literature on this topic and methodological challenges are summarized. Future studies would benefit from incorporating measures of lifestyle, diet, environmental exposures, and other risk factors from early in life and from validation and other data quality checks of such measurements. Sources of historical data on children's and adolescents' exposures should be sought and evaluated in conjunction with subsequent exposures in relationship to adult-onset cancers.
Read More
AJE Vol.178, No.2
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nety Elmi Susri; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda, Zaterti
S-6759
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Santi; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Ratna Kirana
S-6806
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahrifah Aima; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Evi Martha, Yovsyah, Delima Nainggolan, Hasriani Timung
Abstrak:

Masih banyaknya orangtua yang menganggap membicarakan tentang seks atau pendidikan seks sangatlah tabu hal inilah yang mengakibatkan kesalahpahaman tentang pendidikan seks dan pencarian informasi seks yang salah dan tidak terarah pada remaja mengakibatkan kurang siap untuk menghadapi kehidupan remaja yang sehat, bertanggung jawab, dan mempunyai moral yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan orangtua dalam pemberian pendidikan seks pada remaja awal usia 10-14 tahun di Kelurahan Pamoyanan Bogor Selatan tahun 2024 dengan metode cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, pengetahuan, tingkat pendidikan, paparan informasi, sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan niat memiliki hubungan yang signifikan dengan peran orangtua dalam pemberian pendidikan seks pada remaja awal. Pengetahuan (OR = 1,9; 95% CI 1,028-3,699) dan norma subjektif OR = 2,75; 95% CI 1,356-5,293) merupakan faktor yang paling berhubungan dengan peran orangtua dalam pemberian pendidikan seks pada remaja awal usia 10-14 tahun.


There are still many parents who consider talking about sex or sex education to be very taboo, this is what results in misunderstandings about sex education and the search for wrong and undirected sex information in adolescents, resulting in less preparation to face a healthy, responsible, and morally sound adolescent life. This study was conducted to determine factors related to the role of parents in providing sex education to adolescents aged 10-14 years in Pamoyanan Village, South Bogor in 2024 using the cross-sectional method. The results showed that age, knowledge, education level, information exposure, attitudes, subjective norms, perception of behavior control, and intention had a significant relationship with the role of parents in providing sex education to early adolescents. Knowledge (OR = 1.9; 95% CI 1.028-3.699) and subjective norms OR = 2.75; 95% CI 1,356-5,293) is the factor most related to the role of parents in providing sex education to adolescents in early 10-14 years of age.

Read More
T-6945
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Famelasari Fitria Ramdani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Sandra Fikawati, Dessy Rosmelita, Bayu Rahadian
Abstrak:
Penyakit karies gigi pada remaja berefek negatif pada aktivitas yang sedang dilaksanakan yaitu dapat mengakibatkan ketidaknyamanan dan produktivitas kerja tidak optimal, misalnya seorang atlet. Faktor resiko utama masalah kesehatan gigi pada atlet adalah kebiasaan konsumsi makanan atau minuman kariogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko perilaku pencegahan karies terkait kejadian karies pada atlet remaja nasional di Sekolah Khusus Olahraga Kemenpora (SKO) Tahun 2023. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode nonprobability sampling yaitu total sampling sebanyak 50 orang atlet remaja nasional di SKO Kemenpora Tahun 2023. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan karies dan wawancara menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat (regresi logistik). Hasil penelitian menunjukkan 64% atlet remaja mengalami karies gigi. Faktor resiko perilaku pencegahan karies yang berhubungan dengan kejadian karies pada atlet remaja nasional adalah sikap terhadap kesehatan gigi (p-value 0,011) dan frekuensi makanan kariogenik (p-value 0,005). Faktor resiko tertinggi terkait keajdian karies pada atlet remaja di SKO Kemenpora adalah makanan kariogenik dengan nilai PR 19,432 (95% CI 2,473-152,687), jadi atlet remaja yang mempunyai perilaku frekuensi konsumsi makanan kariogenik tinggi 19,432 kali lebih beresiko mengalami karies gigi dibanding atlet remaja yang mempunyai perilaku frekuensi konsumsi makanan kariogenik rendah. Perlu adanya edukasi pencegahan karies dengan membatasi konsumsi makanan dan minuman kariogenik.

Dental caries in adolescents and adults can have a negative effect on the activities being carried out, which can result in uncomfortable conditions and work productivity is not optimal, for example an athlete. The main risk factor for dental and oral health problems in athletes is the habitual consumption of carioogenic foods and cariogenic beverages. This study aims to determine the risk factors for caries prevention behavior related to the incidence of caries in national adolescent athletes at the Kemenpora Sports Special School (SKO) in 2023. The research method uses a quantitative approach with a cross sectional design. Sampling using the nonprobability sampling method is a total sampling of 50 national youth athletes at the SKO Kemenpora in 2023. Data collection was conducted by interviews using questionnaires, then analyzed univariately, bivariately (chi square) and multivariate (multiple logistic regression). The results showed 64% of adolescent athletes experienced dental caries. Risk factors for caries prevention behavior associated with caries incidence in national adolescent athletes are attitudes towards dental health (p-value 0.011) and frequency of cariogenic foods (p-value 0.005). The highest risk factor related to caries in adolescent athletes at SKO Kemenpora is carioogenic food with a PR value of 19,432 (95% CI 2,473-152,687), so adolescent athletes who have high frequency of consumption of cariogenic foods are 19,432 times more likely to experience dental caries than adolescent athletes who have low frequency behavior of consuming cariogenic foods. There is a need for prevention programs by providing education on the prevention of caries by limiting the consumption of cariogenic foods and drinks.
Read More
T-6668
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nicola Putri Sasmita; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Endang L. Achadi, Hera Ganefi
S-8219
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Rahmawati; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Hera Ganefi
Abstrak: Due to particular conditions, sometimes actual height can not be measured. Thus, this study was conducted to develop height prediction model of adolescent from knee height and ulna length. This cross sectional study involved 205 students of SMPN 7 Depok and SMAN 6 Depok. Subjects’s identity was recorded using questionairre, while stature height, knee height, and ulna length was measured directly. Prediction models was developed using multiple regression. Height prediction model from knee height has the highest R2 and the lowest MAE with equation Height (cm) = 38,422 - 1,878 Sex + 1,453 Age (year) + 2,071 knee height (cm).
 

 
Tinggi badan aktual terkadang tidak dapat diukur karena beberapa kondisi tertentu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi tinggi badan pada remaja berdasarkan tinggi lutut dan panjang ulna. Penelitian pontong lintang ini melibatkan 205 murid SMPN 7 Depok dan SMAN 6 Depok. Data identitas subjek diperoleh melalui pengisian kuesioner, sedangkan tinggi badan, tingi lutut, dan panjang ulna diukur langsung. Model prediksi dikembangkan menggunakan regresi ganda. Model prediksi tinggi badan dari tinggi lutut memiliki R2 terbesar dan MAE terkecil dengan persamaan Tinggi Badan (cm) = 38,422 - 1,878 Jenis Kelamin + 1,453 Umur (thn) + 2,071 Tinggi Lutut (cm).
Read More
S-8643
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahdania Ayuni; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Julie Rostina
Abstrak:
Masa remaja putri pada anak sekolah telah dikenal sebagai masa khusus dalam kehidupannya yang memerlukan perhatian, terutama pada saat menstruasi. Kurangnya pengetahuan, akses terbatas pada fasilitas sanitasi yang layak, stigma seputar menstruasi, dan kondisi sanitasi yang buruk secara umum dapat menghambat manajemen kebersihan menstruasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi praktik manajemen kebersihan menstruasi pada siswi SMP dan MTS di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 205 siswi kelas 7 dan 8, yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswi memiliki praktik manajemen kebersihan menstruasi yang kurang baik. Analisis bivariat mengungkapkan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan praktik kebersihan menstruasi (p=0,047; OR=2,512). Namun, faktor lain seperti sikap, kepercayaan, ketersediaan pembalut, dan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menyoroti pentingnya peningkatan edukasi kesehatan reproduksi dan penyediaan fasilitas kebersihan yang memadai di sekolah untuk mendukung praktik kebersihan menstruasi yang lebih baik.

The adolescent phase for school-aged girls is recognized as a critical period in their lives that requires special attention, particularly during menstruation. A lack of knowledge, limited access to proper sanitation facilities, stigma surrounding menstruation, and generally poor sanitation conditions can hinder effective menstrual hygiene management.This study aims to analyze the factors influencing menstrual hygiene management practices among junior high school and Islamic school (MTS) students in Tanjung Priok District, North Jakarta. The research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 205 female students from grades 7 and 8, randomly selected from several schools in the area. Data were collected using a structured questionnaire covering predisposing factors (knowledge, attitudes, and beliefs), enabling factors (availability of sanitary pads, school sanitation facilities, and information exposure), and reinforcing factors (peer and teacher support). The findings revealed that the majority of students had poor menstrual hygiene management practices. Bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge levels and menstrual hygiene practices (p=0.047; OR=2.512). However, other factors such as attitudes, beliefs, availability of sanitary pads, and teacher support did not show significant associations. These findings underscore the importance of enhancing reproductive health education and providing adequate sanitation facilities in schools to promote better menstrual hygiene management practices.
Read More
S-11869
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive