Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rahmi Dia Akhir Darta; Pembimbing: Hendra; Penguji: Milla Tejamaya, Hari Monanda Putra
Abstrak:
Bandara Internasional Minangkabau secara geografis terletak pada wilayah barat pesisir pantai Pulau Sumatera. Secara geologis, Pulau Sumatera berada pada wilayah pergerakan dua lempeng, yaitu Indo-Australia dan Eurasia. Kondisi tersebut menyebabkan Bandara Internasional Minangkabau memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana alam gempa bumi dan tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapan Bandara Internasional Minangkabau dalam menghadapi bencana alam gempa bumi dan tsunami yang dinilai dari segi aspek sarana evakuasi, tempat evakuasi sementara (vertikal) tsunami dan airport emergency plan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan analisis komparasi. Proses pengumpulan data dilakukan di gedung terminal Bandara Internasional Minangkabau pada bulan April ? Mei 2022 melalui kegiatan observasi, wawancara, dan tinjauan dokumen. Pengolahan data dilakukan dengan analisis komparasi menggunakan checklist yang mengacu pada Peraturan Menteri PUPR Nomor 14 Tahun 2017, Pedoman Teknis 2 Perencanaan TES Tsunami, ICAO Doc-9137, SNI 03-1746-2000, SNI 03-6574-2001, dan SNI 7743:2011. Berdasarkan hasil pengumpulan data terhadap variabel penelitian didapatkan bahwa pemenuhan aspek sarana evakuasi adalah 82%, aspek tempat evakuasi sementara (vertikal) tsunami adalah 52,2%, dan aspek airport emergency plan adalah 93,33%. Hasil perhitungan rata-rata pemenuhan aspek kesiapan Bandara Internasional Minangkabau dalam menghadapi bencana alam gempa bumi dan tsunami adalah sebesar 75,84%. Secara umum, kriteria setiap aspek telah terpenuhi cukup baik. Namun masih terdapat beberapa variabel dengan tingkat pemenuhan 0%, seperti pengecekan struktur bangunan TES dan rambu penunjuk evakuasi tsunami. Sehingga perlu dilakukan beberapa perbaikan, terutama pada aspek tempat evakuasi sementara (vertikal) tsunami sebagai aspek dengan persentase pemenuhan terendah. Pemeliharaan dan perbaikan dari aspek lainnya tetap perlu dilakukan untuk meningkatkan kesiapan Bandara Internasional Minangkabau dalam menghadapi bencana alam gempa bumi dan tsunami. Upaya untuk meningkatkan kesiapan Bandara Internasional Minangkabau dalam menghadapi bencana alam gempa bumi dan tsunami dapat dilakukan dengan memperbaiki dan melengkapi sarana evakuasi sesuai dengan standar dan peraturan, melakukan pengkajian ulang penetapan TES sesuai dengan alur pedoman perencanaan TES, dan memenuhi kriteria airport emergency plan sesuai dengan pedoman ICAO Doc-9137.
Minangkabau International Airport is geographically located on the west coast of West Sumatera. Geologically, West Sumatera is in the region of the movement of two plates, Indo-Australia and Eurasia. This condition causes Minangkabau International Airport to have a high level of vulnerability to earthquakes and tsunamis. This study aims to determine the level of preparedness of Minangkabau International Airport in dealing with earthquake and tsunami natural disasters which are assessed from three aspect, evacuation facilities, vertical evacuation from tsunamis and airport emergency plans. This study uses a descriptive observational method with a comparative analysis approach. The data collection process was carried out at the Minangkabau International Bandra terminal building in April ? May 2022 through observation, interviews, and document review. Data processing is carried out by comparative analysis using a checklist that refers to the Minister of Public Works and Public Housing Regulation Number 14 of 2017, Technical Guidelines 2 for Tsunami TES Planning, ICAO Doc-9137, SNI 03-1746-2000, SNI 03-6574-2001, and SNI 7743:2011. Based on the results of data collection on research variables, it was found that the fulfillment of the evacuation facility aspect was 82%, vertical evacuation from tsunamis aspect was 52.2%, and the airport emergency plan aspect was 93.33%. The results of the calculation of the average fulfillment of aspects of Minangkabau International Airport readiness in dealing with earthquake and tsunami natural disasters is 75.84%. In general, the criteria for each aspect have been met quite well. However, there are still several variables with a compliance rate is 0%, such as checking the structure of the TES building and tsunami evacuation signs. So, some improvements need to be made, especially in the aspect of vertical evacuation of tsunamis as the aspect with the lowest percentage of fulfillment. Maintenance and repairs from other aspects still need to be done to improve the preparedness of Minangkabau International Airport in dealing with earthquake and tsunami natural disasters. Efforts to improve the preparedness of Minangkabau International Airport in dealing with earthquake and tsunami natural disasters can be done by repairing and equipping evacuation facilities in accordance with standards and regulations, reviewing the determination of TES in accordance with the flow of TES planning guidelines, and fulfilling the criteria for an airport emergency plan in accordance with the ICAO Doc-9137.
Read More
Minangkabau International Airport is geographically located on the west coast of West Sumatera. Geologically, West Sumatera is in the region of the movement of two plates, Indo-Australia and Eurasia. This condition causes Minangkabau International Airport to have a high level of vulnerability to earthquakes and tsunamis. This study aims to determine the level of preparedness of Minangkabau International Airport in dealing with earthquake and tsunami natural disasters which are assessed from three aspect, evacuation facilities, vertical evacuation from tsunamis and airport emergency plans. This study uses a descriptive observational method with a comparative analysis approach. The data collection process was carried out at the Minangkabau International Bandra terminal building in April ? May 2022 through observation, interviews, and document review. Data processing is carried out by comparative analysis using a checklist that refers to the Minister of Public Works and Public Housing Regulation Number 14 of 2017, Technical Guidelines 2 for Tsunami TES Planning, ICAO Doc-9137, SNI 03-1746-2000, SNI 03-6574-2001, and SNI 7743:2011. Based on the results of data collection on research variables, it was found that the fulfillment of the evacuation facility aspect was 82%, vertical evacuation from tsunamis aspect was 52.2%, and the airport emergency plan aspect was 93.33%. The results of the calculation of the average fulfillment of aspects of Minangkabau International Airport readiness in dealing with earthquake and tsunami natural disasters is 75.84%. In general, the criteria for each aspect have been met quite well. However, there are still several variables with a compliance rate is 0%, such as checking the structure of the TES building and tsunami evacuation signs. So, some improvements need to be made, especially in the aspect of vertical evacuation of tsunamis as the aspect with the lowest percentage of fulfillment. Maintenance and repairs from other aspects still need to be done to improve the preparedness of Minangkabau International Airport in dealing with earthquake and tsunami natural disasters. Efforts to improve the preparedness of Minangkabau International Airport in dealing with earthquake and tsunami natural disasters can be done by repairing and equipping evacuation facilities in accordance with standards and regulations, reviewing the determination of TES in accordance with the flow of TES planning guidelines, and fulfilling the criteria for an airport emergency plan in accordance with the ICAO Doc-9137.
S-11038
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wahyu Pratama Putra; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Atang Saputra
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis kontaminasi E.colipada makanan restoran di wilayah bandar udara Soekarno Hatta. Variabelyang diteliti dalam penelitian ini meliputi hygiene penjamah makanan, lokasidan bangunan, serta keberadaan vektor. Penelitian ini menggunakan desainpotong lintang (Cross Sectional), dengan sampel sebanyak 44 restoran diwilayah bandar udara Soekarno Hatta pada tahun 2015. Dengan analisismultivariat menunjukkan bahwa hygiene penjamah makanan (p=0,007,OR=10,340) dan lokasi dan bangunan (p=0,040, OR=16,237) menunjukkanpengaruh terhadap kontaminasi E.coli pada makanan. Untuk itu diperlukanpenambahan poster himbauan operasional bagi penjamah makanan untukselalu mencuci tangan dan agar penjamah makanan dapat menjaga tempatkerja, dan pemakaian sarung tangan, penjepit makanan, maupun celemek agarmemutus kontak langsung penjamah makanan dengan makanan yang akandisajikan
Kata Kunci: E. Coli, Penjamah makanan, Restoran, Bandara Soekarno Hatta
The purpose of this study was to analyze the contamination of E.coli inrestaurant in the area of Soekarno Hatta International Airport. Variables thatexamined in this study are including the hygiene of food handlers, locationand building, and the presence of vector. This study used a cross-sectionaldesign, using 44 restaurants in the area of Soekarno Hatta InternationalAirport in 2015, as samples. The result based on multivariate analysis showedthat the hygiene of food handlers (p=0.007, OR=10.340) and the location andbuilding (p=0.040, OR=16.237) shows the influence of E.coli contaminationon food. The results of the study also showed that all restaurants requiredadditional operational posters for food handlers showing the caution to alwayswash hands and to keep the workplace clean. The poster should also containreminder for food handlers to always use gloves, food tonges, and aprons toavoid direct contact between food handlers with the food to be served.
Keywords: E. Coli, Food Handler, Restaurant, Soekarno Hatta Airport.
Read More
Kata Kunci: E. Coli, Penjamah makanan, Restoran, Bandara Soekarno Hatta
The purpose of this study was to analyze the contamination of E.coli inrestaurant in the area of Soekarno Hatta International Airport. Variables thatexamined in this study are including the hygiene of food handlers, locationand building, and the presence of vector. This study used a cross-sectionaldesign, using 44 restaurants in the area of Soekarno Hatta InternationalAirport in 2015, as samples. The result based on multivariate analysis showedthat the hygiene of food handlers (p=0.007, OR=10.340) and the location andbuilding (p=0.040, OR=16.237) shows the influence of E.coli contaminationon food. The results of the study also showed that all restaurants requiredadditional operational posters for food handlers showing the caution to alwayswash hands and to keep the workplace clean. The poster should also containreminder for food handlers to always use gloves, food tonges, and aprons toavoid direct contact between food handlers with the food to be served.
Keywords: E. Coli, Food Handler, Restaurant, Soekarno Hatta Airport.
S-9237
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Guntur Agus Triwibowo; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Atang Saputra, Robiur Rosyid
Abstrak:
Read More
Bandara Internasional Soekarno Hatta secara rutin melakukan pengendalian vektor dengan fogging setiap bulan untuk mematuhi International Health Regulation (IHR) 2005. Sejak tahun 2019, insektisida Sipermethrin untuk mengendalikan nyamuk. Namun, penggunaan berulang insektisida ini dapat menyebabkan nyamuk menjadi resisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap Sipermethrin di bandara tersebut. Studi menggunakan desain eksperimental post-test only with control group dan metode uji kerentanan sesuai dengan WHO. Sampel nyamuk berasal dari ovitrap di 8 titik pengamatan, dengan total 960 nyamuk digunakan untuk pengujian. Nyamuk betina berumur 3-5 hari yang kenyang gula dipaparkan selama 5, 10, 15, 20, 30, 40, 50, 60 menit dan pengamatan 24 jam dengan Sipermethrin 0,05%. Hasilnya menunjukkan bahwa pada 5 menit tidak ada kematian, namun kematian meningkat seiring dengan durasi paparan: 10 menit (16%), 15 menit (30%), 20 menit (56%), 30 menit (63%), 40 menit (70%), 50 menit (81%), 60 menit (92%), dan setelah 24 jam (93%). Hasil akhir menunjukkan bahwa nyamuk Aedes aegypti di Bandara Soekarno Hatta memiliki status "Terduga Resisten" terhadap Sipermethrin 0,05%.
Soekarno Hatta International Airport routinely conducts vector control through monthly fogging to comply with the International Health Regulation (IHR) 2005. Since 2019, they have used Sipermetrin insecticide to control mosquitoes. However, repeated use of this insecticide can lead to mosquito resistance. This study aims to identify the resistance of Aedes aegypti mosquitoes to Sipermetrin at the airport. The study employed a post-test only with control group experimental design and vulnerability testing methods in accordance with WHO guidelines. Mosquito samples were collected from ovitraps at 8 observation points, with a total of 960 mosquitoes used for testing. Female mosquitoes aged 3-5 days, fed with sugar, were exposed to Sipermetrin 0.05% for durations of 5, 10, 15, 20, 30, 40, 50, 60 minutes, and observed after 24 hours. Results showed no mortality at 5 minutes, but mortality increased with exposure duration: 10 minutes (16%), 15 minutes (30%), 20 minutes (56%), 30 minutes (63%), 40 minutes (70%), 50 minutes (81%), 60 minutes (92%), and after 24 hours (93%). The final results indicate that Aedes aegypti mosquitoes at Soekarno Hatta Airport are "suspected resistant" to Cypermethrin 0.05%.
T-6974
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Metha Hartanti; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Atang Saputra
S-8600
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanif Safar; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Bimo Prasetyo, Rudy Dewanto
Abstrak:
Read More
Hotel di kawasan bandara menghadapi risiko kebakaran yang tinggi akibat tingkat okupansi yang tinggi, aktivitas selama 24 jam, serta keberagaman karakteristik penghuninya. Proses evakuasi dalam situasi darurat kebakaran menjadi tantangan penting dalam memastikan keselamatan jiwa. Penelitian ini bertujuan merancang strategi evakuasi kebakaran berbasis perangkat lunak pada tiga hotel bandara di Indonesia: Hotel X (Yogyakarta International Airport), Hotel Y (Juanda International Airport), dan Hotel Z (I Gusti Ngurah Rai International Airport). Penelitian menggunakan pendekatan semi kuantitatif dengan pengumpulan data primer dan sekunder melalui observasi, wawancara, dan checklist sarana evakuasi. Simulasi evakuasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Pathfinder dengan mempertimbangkan tata letak gedung dan karakteristik penghuni sebagaiman aslinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga hotel memiliki potensi bahaya kebakaran yang dominan berasal dari instalasi listrik dan aktivitas dapur. Meskipun secara teknis hasil vvaluasi sarana evakuasi telah sesuai terhadap standar dan peraturan, secara operasional masih diperlukan perbaikan, seperti memberikan short induction kepada tamu hotel saat melakukan check in. Selain itu, simulasi menggunakan Pathfinder memperlihatkan bahwa waktu evakuasi aktual mendekati batas aman Available Safe Egress Time (ASET). Diskusi menekankan pentingnya penggunaan material tahan api, sosialisasi berkala kepada penghuni, serta integrasi sistem teknologi evakuasi. Simulasi Pathfinder terbukti efektif dalam memvisualisasikan skenario evakuasi dan memberikan dasar perumusan strategi evakuasi kebakaran di hotel bandara.
Hotels in airport areas face a high risk of fire due to high occupancy rates, 24-hour activity, and the diverse characteristics of their guests. The evacuation process in fire emergencies is a major challenge in ensuring safety. This study aims to design a software-based fire evacuation strategy for three airport hotels in Indonesia: Hotel X (Yogyakarta International Airport), Hotel Y (Juanda International Airport), and Hotel Z (I Gusti Ngurah Rai International Airport). The study uses a semi-quantitative approach with primary and secondary data collection through observation, interviews, and evacuation facility checklists. Evacuation simulations were conducted using Pathfinder software, considering the building layout and occupant characteristics as they are in reality. The study results indicate that all three hotels have dominant fire hazards originating from electrical installations and kitchen activities. Although the technical evaluation of evacuation facilities meets standards and regulations, operational improvements are still needed, such as providing a brief orientation to hotel guests during check-in. Additionally, the Pathfinder simulation revealed that the actual evacuation time was close to the safe limit of Available Safe Egress Time (ASET). The discussion emphasized the importance of using fire-resistant materials, conducting regular awareness campaigns for occupants, and integrating evacuation technology systems. The Pathfinder simulation proved effective in visualizing evacuation scenarios and providing a basis for formulating fire evacuation strategies in airport hotels.
T-7411
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Azizah Meutia Putri Ianam; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Read More
Kecoa merupakan vektor mekanik yang dapat mengontaminasi pangan dan menjadi indikator kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik. Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di bandara perlu mendapat perhatian karena berperan dalam penyediaan pangan bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi dan berada pada area yang membutuhkan pengawasan sanitasi ketat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi karyawan dengan tingkat kepadatan kecoa di TPP Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 59 TPP di Terminal Y Bandara X dengan 118 responden karyawan. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi, observasi langsung praktik sanitasi menggunakan checklist, serta pengukuran kepadatan kecoa menggunakan sticky trap selama 24 jam. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi square serta perhitungan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi berdasarkan kuesioner tidak berhubungan signifikan dengan tingkat kepadatan kecoa. Sebaliknya, praktik sanitasi berdasarkan observasi berhubungan signifikan dengan tingkat kepadatan kecoa. TPP dengan praktik sanitasi observasional kurang baik memiliki peluang 12,571 kali lebih besar untuk mengalami kepadatan kecoa tinggi dibandingkan TPP dengan praktik sanitasi observasional baik (OR = 12,571; 95% CI = 3,658–43,199; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa praktik sanitasi aktual di lapangan lebih berkaitan dengan kepadatan kecoa dibandingkan praktik yang dilaporkan melalui kuesioner. Pengendalian kecoa perlu difokuskan pada perbaikan sanitasi aktual, penguatan pengawasan, evaluasi program pengendalian vektor secara berkala, dan peningkatan keterlibatan karyawan dalam menjaga sanitasi lingkungan kerja secara konsisten.
Cockroaches are mechanical vectors that could contaminate food and indicate poor environmental sanitation. Food premises in airport areas require particular attention because they provide food services for populations with hight mobility and operate in setting requiring strict sanitation control. This study aimed to analyse the association between employees’ knowledge, attitudes, and sanitation practices and cockroach density in food premises of Airport X. A cross-sectional study was conducted in 59 food premises at Terminal Y of Airport X, involving 118 employee respondents. Data were collected using questionnaires to assess knowledge, attitudes, and sanitation practices, direct observation of sanitation practices using a checklist, and cockroach density measurement using sticky traps installed 24 hours. Data were analysed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test and odds ratio calculation. The result showed that knowledge, attitudes, and questionnaire-based sanitation practices were not significantly associated with cockroach density. In contrast, observed sanitation practices were significantly associated with cockroach density. Food premises with poor observed sanitation practices had 12,571 times higher odds of having cockroach density than those with good observed sanitation practices (OR = 12,571; 95% CI = 3,658–43,199; p < 0,001). These findings suggest that actual sanitation practices are more closely related to cockroach density than practices reported through questionnaires. Cockroach control should focus on improving actual sanitation practices, strengthening supervision, evaluating vector control programs regularly, and increasing employees’ involvement in maintaining workplace sanitation consistently.
S-12237
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Laudita Syafa Kamila; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Ema Hermawati, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Read More
Indeks kepadatan kecoa yang tinggi pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di Terminal Y Bandara X, khususnya pada September 2025, menunjukkan kondisi yang melebihi standar baku mutu kesehatan lingkungan (SBMKL) yaitu <2, sehingga dapat mengindikasikan adanya permasalahan sanitasi dan peningkatan risiko kesehatan masyarakat. Kecoa merupakan vektor mekanik berbagai patogen yang berpotensi mencemari pangan dan menularkan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan, meliputi faktor fisik lingkungan berupa suhu, kelembapan, dan pencahayaan, serta faktor sanitasi berupa saluran air limbah, dinding, lantai, tempat sampah, penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan, serta langit-langit dengan indeks kepadatan kecoa di TPP Terminal Y Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung kondisi sanitasi lingkungan, pengukuran faktor fisik lingkungan, serta pengukuran indeks kepadatan kecoa menggunakan sticky trap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu (p=0,002; OR=8,1), pencahayaan (p=0,000; OR=12,4), saluran air limbah (p=0,000; OR=12,0), tempat sampah (p=0,003; OR=5,712), serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan (p=0,000; OR=25,2). Sementara itu, kelembapan, dinding, lantai, dan langit-langit tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan indeks kepadatan kecoa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu, pencahayaan, saluran air limbah, tempat sampah, serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kecoa di TPP Terminal Y Bandara X melalui perbaikan sanitasi dan pengendalian kondisi lingkungan secara berkelanjutan.
High cockroach density in food handling facilities (TPPs) at Terminal Y, Airport X, particularly in September 2025, significantly exceeded the environmental health quality standard (SBMKL) of <2, indicating potential sanitation problems and increased public health risks. Cockroaches are mechanical vectors of various pathogens that may threaten food safety and contribute to disease transmission. This study aimed to analyze the relationship between environmental conditions, including physical environmental factors such as temperature, humidity, and lighting, as well as sanitation factors such as wastewater drainage, walls, floors, trash cans, food/non-food storage and equipment, and ceilings, with cockroach density in food handling facilities at Terminal Y, Airport X. This study used a quantitative observational design with a cross-sectional approach. Data were collected through direct observation of environmental sanitation, measurement of physical environmental factors, and assessment of cockroach density using sticky traps. The results showed a significant relationship between temperature (p=0.002; OR=8.1), lighting (p=0.000; OR=12.4), inadequate wastewater drainage (p=0.000; OR=12.0), improper food/non-food storage and equipment arrangement (p=0.000; OR=25.2), and poor trash management (p=0.003; OR=5.712). However, humidity, walls, floors, and ceilings did not show a statistically significant relationship with cockroach density. These findings indicate that temperature, lighting, wastewater drainage, trash management, and food/non-food storage and equipment arrangement are important factors in cockroach control in food handling facilities, and improvements in sanitation and environmental control are necessary to reduce environmental health risks at Airport X.
S-12235
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
