Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Citta Zahra Primalia; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah, Okky Assetya Pratiwi
Abstrak:
Filariasis merupakan Neglected Tropical Diseases (NTDs) yang menyebabkan limfedema dan hidrokel. Meski jarang menyebabkan kematian, filariasis bersifat kronis dan dapat menyebabkan kecacatan seumur hidup. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Provinsi Papua Tengah menjadi wilayah dengan prevalensi filariasis tertinggi, sebesar 4,8%. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian filariasis di Provinsi Papua Tengah. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan jumlah sampel sebanyak 5.408 responden. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tempat tinggal dan penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian filariasis. Penggunaan obat anti nyamuk merupakan variabel yang paling dominan terhadap kejadian filariasis di Provinsi Papua Tengah.


Filariasis is a Neglected Tropical Diseases (NTDs) that causes lymphedema and hydrocele. Although rarely fatal, filariasis is chronic illness and can cause a lifelong disability. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), Central Papua is the region with the highest prevalence of filariasis, at 4,8%. The purpose of this study was to analyze factors related to the incidence of filariasis in Central Papua. This study used a cross-sectional design with data from the 2023 Indonesian Health Survey and a sample size of 5,408 respondents. Data analysis used in this research are the chi-square test and logistic regression. The results showed a relationship between residence and the use of mosquito repellent with the incidence of filariasis. The use of mosquito repellent is the most dominant variable in the incidence of filariasis in Central Papua.

Read More
T-7378
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christina Natalia/ Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Zainal Khoirudin
Abstrak:
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) kejadian leptospirosis sebagian besar terjadi pada negara beriklim tropis dan subtropis yang mengalami curah hujan tinggi, hal ini menjadikan leptospirosis endemis di Kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu dari 11 Provinsi endemis leptospirosis di Indonesia yang menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia selama 10 tahun terakhir telah melaporkan angka leptospirosis dan angka CFR yang fluktuatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor perilaku pejamu dan lingkungan yang dapat menyebabkan kejadian leptospirosis pada kasus suspek leptospirosis di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan menggunakkan Data Surveilans Sentinel Leptospirosis 2017-2019 sebanyak 984 responden, meskipun sampel yang digunakkan hanya sebesar 434. Analisis yang digunakkan pada penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat yang menggunakkan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi leptospirosis pada kasus suspek leptospirosis di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2017-2019 besesar 10,4%. Uji statistik yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian leptospirosis antara lain adalah adanya luka terbuka (PR = 5,287; 95% CI 1,854 – 15,076), tempat penampungan sampah (PR = 0,371 ; 95% CI 0,195 – 0,706), dan keberadaan tikus (PR = 0,372 ; 95% CI 0,165 – 0,838). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara adanya luka terbuka, tempat penampungan sampah, dan keberadaan tikus dengan kejadian leptospirosis pada kasus suspek leptospirosis di Provinsi DKI Jakarta menggunakkan Data Surveilans Sentinel Leptospirosis 2017-2019.

The World Health Organization (WHO) declared that most cases of leptospirosis occur in tropical and subtropical countries that experience high rainfall. Thus makes leptospirosis endemic in the Southeast Asian Region, including Indonesia. DKI Jakarta is one of the 11 leptospirosis endemic provinces in Indonesia which according to the Ministry of Health of the Republic of Indonesia for the last 10 years has reported fluctuating leptospirosis rates and CFR rates. This study aims to determine the behavioral factors of the host and the environment that can cause leptospirosis in suspected and confirmated cases of leptospirosis in DKI Jakarta. This study used a cross-sectional study design using the Leptospirosis's Sentinel Surveillance 2017-2019 with their 984 respondents, although the sample used was only 434. The analysis used in this study was univariate and bivariate analysis using the chi square statistical test. The results showed that the prevalence of leptospirosis in suspected and confirmated cases of leptospirosis in DKI Jakarta Province in 2017-2019 was 10.4%. Statistical tests showed significant relationship between the incidence of leptospirosis and some variables, namely the presence of open wounds (PR = 5.287; 95% CI 1.854 – 15.076), trash containers (PR = 0.371 ; 95% CI 0.195 – 0.706), and the presence of rats (PR = 0.372 ; 95% CI 0.165 – 0.838). The conclusion of this study is that there is a relationship between the presence of open wounds, trash containers, and the presence of rats with the incidence of leptospirosis in suspected cases of leptospirosis in DKI Jakarta Province using Leptospirosis's Sentinel Surveillance 2017-2019.
Read More
S-11260
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Linda Widiastuti; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Destiana Rachmawati
Abstrak: Skripsi ini membahas mengenai faktor risiko perilaku (merokok, aktivitas fisik dan diet) dengan penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit jantung koroner dan stroke) pada usia ≥40 tahun di Indonesia tahun 2013. Berdasarkan data estimasi WHO, 17,5 juta orang meninggal di dunia karena penyakit kardiovaskuler (7,4 juta karena penyakit jantung koroner dan 6,7 juta akibat stroke pada tahun 2012). Perilaku memegang peranan penting dalam mempengaruhi kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh faktor risiko perilaku (merokok, aktivitas fisik dan diet) dengan kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah pada usia ≥40 tahun. Penelitian bersifat kuantitatif, dengan desain studi cross sectional, menggunakan data sekunder Riskesdas Tahun 2013. Sampel penelitian ini adalah semua individu yang berusia ≥40 tahun yang menjadi responden dalam Riskesdas 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku merokok dan aktivitas fisik memiliki hubungan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, sedangkan diet tidak sehat memiliki risiko yang lebih rendah. Faktor yang berperan besar terhadap penyakit jantung koroner adalah merokok (yang merokok dibandingkan dengan yang tidak merokok, pada laki-laki OR: 1,32 dan perempuan OR: 1,63). Sedangkan untuk stroke, faktor aktivitas fisik yang memiliki risiko yang lebih besar terhadap kejadian stroke (yang berperilaku kurang gerak dibandingkan dengan yang beraktivitas fisik cukup, pada laki-laki OR: 2,01 dan perempuan OR: 2,60). Oleh sebab itu, memulai gaya hidup sehat akan sangat membantu dalam mencegah ketiga penyakit ini begitupun penyakit lainnya. Kata kunci: Penyakit jantung koroner, stroke, faktor perilaku, gaya hidup sehat.
This thesis discusses the behavioral risk factors (smoking, physical activity and diet) with heart and blood vessel disease (coronary heart disease and stroke) at age ≥40 years in Indonesia in 2013. According to the WHO estimates, 17.5 million people died in world as cardiovascular disease (7.4 million due to coronary heart disease and 6.7 million from stroke in 2012). Behavior plays an important role in influencing the incidence of heart disease and blood vessels. The purpose of this study was to assess the effects of behavioral risk factors (smoking, physical activity and diet) and the incidence of heart disease and blood vessels at age ≥40 years. The research is quantitative, with cross sectional study design, using secondary data Riskesdas 2013. The sample was all individuals aged ≥40 years who were respondents in Riskesdas 2013. The results showed that smoking behavior and physical activity linked to heart disease and blood vessels, whereas an unhealthy diet have a lower risk. Factors that played a major role against coronary heart disease is smoking (smoking compared with non-smokers, in men OR: 1,32 and women OR: 1.63). As for stroke, physical activity factors that have a greater risk for stroke (which behaves less movement compared with sufficient physical activity, in men OR: 2,01 and women OR: 2.60). Therefore, start a healthy lifestyle will be very helpful in preventing this disease as well as the three other diseases. Keywords: Coronary heart disease, stroke, behavioral factors, healthy lifestyle.
Read More
S-8956
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desi Nur Abdi; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Robiana Modjo, Hanny Harjulianti, Adinta Anandani
Abstrak:
Indonesia berada pada posisi kedua dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak di dunia setelah India lalu diikuti Cina di posisi ketiga, dengan kasus TBC di Indonesia 969.000 kasus dan 144.000 kasus kematian akibat TBC. Salah satu faktor yang juga berpengaruh pada TBC Paru adalah pekerjaan. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang tidak hanya terjadi di komunitas atau populasi umum. Tetapi juga terjadi pada lingkungan pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan gambaran tentang faktor perilaku, faktor lingkungan dan faktor pekerjaan terhadap kejadian tuberkulosis pada tenaga laboratorium X. Studi ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Fokus penelitian berisi pokok bahasan tentang faktor risiko kejadian tuberkulosis pada tenaga laboratorium X. Faktor perilaku yang menjadi gambaran kejadian tuberkulosis pada tenaga laboratorium di Laboratorium X terjadi kemungkinan disebabkan kurang menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat dan kurangnya kepatuhan dalam menggunakan APD, faktor lingkungan disebabkan karena tempat tinggal yang kurang sehat akibat kurangnya ventilasi dan cahaya matahari yang masuk ke dalam tempat tinggal dan faktor pekerjaan karena belum ada Standard Operational Procedure untuk penanganan bakteri MTB, manajemen risiko yang kurang baik serta belum adanya kebijakan dari manajemen terhadap penyakit akibat kerja dan penyakit menular di tempat kerja.

Indonesia has a total of 969,000 tuberculosis (TBC) infections and 144,000 TBC-related deaths, making it the second country with the largest number of TBC cases globally, after India. Work is an important factor that affects pulmonary tuberculosis. Tuberculosis is a contagious illness which can affect not just the general public, but also other communities. However, it also occurs within the professional setting. The objective of this study is to gain a comprehensive understanding of the behavioural, environmental, and occupational factors that influence the occurrence of tuberculosis among the employees at Laboratory X. This study uses a qualitative research approach. The research focus contains the topic of discussion of risk factors for the incidence of tuberculosis in laboratory staff X. The incidence of tuberculosis among laboratory staff at Laboratory X can be attributed to several behavioural, environmental, and occupational factors. Behavioural factors include the inadequate implementation of clean and healthy living practices, known as Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), as well as a lack of compliance in using personal protective equipment (PPE). Environmental factors are caused by unhealthy living conditions, characterised by poor ventilation and limited exposure to sunlight. Occupational factors stem from the absence of a standard operational procedure for handling MTB bacteria, inadequate risk management practices, and a lack of management policies addressing occupational and infectious diseases in the workplace.
Read More
T-6897
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive