Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Latar Belakang: Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Prevalensi hipertensi yang tinggi pada penduduk usia 15–24 tahun menimbulkan tantangan baru dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di Indonesia. Faktor-faktor biologis, sosial, dan psikologis (biopsikososial) diduga berperan dalam peningkatan kejadian hipertensi pada kelompok usia ini.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor-faktor biopsikososial dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 15–24 tahun di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis dilakukan terhadap 20.333 responden berusia 15–24 tahun dengan menggunakan analisis univariat, bivariat (uji chi-square), dan multivariat (regresi logistik berganda).
Hasil: Prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penduduk usia 15–24 tahun sebesar 9,25%. Faktor biologis seperti usia (OR=1,44; CI 95%: 1,3–1,5), jenis kelamin laki-laki (OR=1,36; CI 95%: 1,3–1,4) dan status gizi lebih(OR=2,5; CI 95%: 2,3–2,6) secara signifikan berhubungan dengan kejadian hipertensi. Faktor sosial seperti status menikah (OR=1,2; CI 95%: 1,1–1,3) memiliki hubungan bermakna dengan hipertensi . Faktor psikologis yang signifikan konsumsi makanan asin. (OR=1,1; CI 95%: 1,0–1,2). Faktor yang paling dominan adalah status gizi lebih.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor biopsikososial dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 15–24 tahun khususnya status gizi lebih. Intervensi kesehatan masyarakat yang menyasar aspek gaya hidup sehat, deteksi dini, serta pendekatan lintas sektor diperlukan untuk menurunkan angka kejadian hipertensi pada kelompok usia muda di Indonesia.
Kata Kunci: hipertensi, biopsikososial, remaja, dewasa muda, SKI 2023, Indonesia
Background: Hypertension is a major risk factor for cardiovascular disease and is increasingly prevalent among young age groups. The high prevalence of hypertension among individuals aged 15–24 years presents new challenges in the prevention and control of non-communicable diseases in Indonesia. Biological, social, and psychological (biopsychosocial) factors are suspected to contribute to the rise in hypertension cases in this age group. Objective: To examine the relationship between biopsychosocial factors and the incidence of hypertension among individuals aged 15–24 years in Indonesia. Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia, SKI). Analysis was conducted on 20,333 respondents aged 15–24 years using univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate (multiple logistic regression) methods. Results: The prevalence of hypertension based on blood pressure measurements among individuals aged 15–24 years was 9.25%. Biological factors such as age (OR=1.44; 95% CI: 1.3–1.5), male gender (OR=1.36; 95% CI: 1.3–1.4), and overweight nutritional status (OR=2.5; 95% CI: 2.3–2.6) were significantly associated with hypertension. Social factors such as marital status (OR=1.2; 95% CI: 1.1–1.3) also showed a significant association. Among psychological factors, high salt intake was significantly associated (OR=1.1; 95% CI: 1.0–1.2). The most dominant factor was overweight nutritional status. Conclusion: There is a significant relationship between biopsychosocial factors and the incidence of hypertension among individuals aged 15–24 years, particularly overweight status. Public health interventions focusing on healthy lifestyle promotion, early detection, and multisectoral approaches are essential to reduce the prevalence of hypertension in Indonesia's young population. Keywords: hypertension, biopsychosocial, adolescents, young adults, SKI 2023, Indonesia
Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang semakin meningkat di Indonesia. Studi ini bertujuan mengidentifikasi determinan biopsikososial yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada penduduk usia ≥15 tahun, menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sebanyak 17.766 responden dianalisis menggunakan regresi logistik multivariat. Prevalensi sindrom metabolik tercatat sebesar 37,7%, lebih tinggi pada perempuan (44,2%) dibandingkan laki-laki (28,2%), dan meningkat pada usia ≥45 tahun. Komponen paling umum adalah hipertensi dan obesitas sentral. Lingkar perut (AOR: 4,00; 95%CI: 3,80–4,20) dan rasio lingkar perut terhadap tinggi badan (AOR: 3,95; 95%CI: 3,75–4,15) merupakan determinan biomedis terkuat. Paparan rokok aktif dan pasif, serta konsumsi alkohol, meningkatkan risiko, sementara aktivitas fisik menunjukkan efek protektif. Konsumsi makanan ultra proses tingkat sedang dan tinggi (AOR: 1,12–1,22) serta konsumsi sedang makanan berlemak dan berbumbu juga meningkatkan risiko secara signifikan. Hasil ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih terarah pada kelompok perempuan dewasa dan lansia, melalui strategi promosi gaya hidup sehat dan pengendalian obesitas sentral untuk menurunkan beban sindrom metabolik di Indonesia.
Metabolic syndrome is a growing public health concern in Indonesia, involving a cluster of cardiometabolic risk factors. This study aimed to identify biopsychosocial determinants associated with metabolic syndrome among individuals aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A total of 17,766 respondents were analyzed using multivariable logistic regression. The prevalence of metabolic syndrome was 37.7%, higher among women (44.2%) than men (28.2%), and increased significantly in those aged ≥45 years. The most common components were hypertension and central obesity. Key biomedical predictors included waist circumference (AOR: 4.00; 95% CI: 3.80–4.20) and waist-to-height ratio (AOR: 3.95; 95% CI: 3.75–4.15). Psychosocial factors such as active/passive smoking and alcohol consumption increased the risk, while higher levels of physical activity were protective. Additionally, moderate and high consumption of ultra-processed foods (AOR: 1.12–1.22) and moderate intake of fatty and seasoned foods were significantly associated with increased risk. These findings highlight the urgent need for targeted interventions, especially for adult and older women, focusing on healthy lifestyle promotion and central obesity control to reduce the burden of metabolic syndrome in Indonesia.
