Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Vini Fardhdiani; Pembimbing: Nurhayati; Penguji: Asri C. Adisasmita, Yovsyah; Euis Sa`adah Hermawati
T-3446
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adelina Fitri; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Renti Mahkota, Melania Hidayat, Yulia Nur Izati
Abstrak: Kematian bayi didefinisikan sebagai kematian yang terjadi pada tahun pertama kehidupan. Angka kematian bayi di Indonesia dan Kamboja sendiri masih berada diatas AKB Asia Tenggara, sedangkan Filipina sudah sama dengan AKB Asia Tenggara. Jarak kelahiran merupakan salah satu faktor yang memegang peran penting pada kematian bayi terutama jarak kelahiran < 24 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi di Indonesia, Filipina dan Kamboja. Penelitian menggunakan data dari Demographic Health Survey (DHS) di Indonesia (2012), Filipina (2013) dan Kamboja (2014). Desain penelitian adalah cross sectional dan sampel pada masing-masing negara berjumlah 10.162, 4.741 dan 4.330 bayi. Setelah dikontrol oleh variabel perancu, jarak kelahiran < 18 bulan memiliki risiko paling besar terhadap kematian bayi di Indonesia (OR = 2,43: 95% CI 1,26 - 4,70), Kamboja (OR = 4,39: 95% CI 1,76 - 10,94) dibandingkan jarak kelahiran 18 - 23 bulan, 24 - 35 bulan dan ≥ 36 bulan. Sedangkan di Filipina jarak kelahiran 18 - 23 bulan merupakan risiko paling besar pada kematian bayi dibandingkan jarak kelahiran < 18 bulan dan ≥ 24 bulan (OR = 2,59: 95% CI 1,13 - 5,95). Jarak kelahiran yang ideal untuk mengurangi risiko kematian bayi adalah ≥ 24 bulan. Kata Kunci : kematian bayi, jarak kelahiran
Infant mortality is defined as death that occurring in the first year of life. Infant mortality rate in Indonesia and Cambodia itself is still above the Southeast Asian IMR, while in Philippines is similar to the Southeast Asian IMR. Birth interval is one factor that plays an important role in infant mortality especially <24 months. The purpose of this study was to determine the influence of birth interval on infant mortality in Indonesia, Philippines and Cambodia. This study used data from Demographic Health Survey (DHS) in Indonesia (2012), Philippine (2013) and Cambodia (2014). The study design is cross sectional and sample in each country is 10.162, 4.741 and 4.330 infants. After controlled by confounding variables, birth interval <18 months had the greatest risk of infant mortality in Indonesia (OR = 2.43: 95% CI 1.26 - 4.70), Cambodia (OR = 4.39: 95% CI 1,76 - 10,94) compared to 18 - 23 months, 24 - 35 months and ≥ 36 months. While in Philippines 18 - 23 month birth interval is the greatest risk of infant mortality compared to birth interval <18 months and ≥ 24 months (OR = 2.59: 95% CI 1.13 - 5.95). The ideal birth interval to reduce the risk of infant mortality is ≥ 24 months. Keywords: infant mortality, birth interval.
Read More
T-4862
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Kurniawati; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Besral, Evi Martha, Rahmadewi
Abstrak: Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya risiko kematian pada ibu dan bayi adalah kelahiran terlalu dekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yangberhubungan dengan jarak antar kelahiran pada wanita multipara di Indonesia.Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)tahun 2012 pada 9945 wanita multipara. Analisis data menggunakan uji MannWhitney, Kruskal Wallis, Chi Square, dan Chi Square Mantel Haenzel. Hasil penelitian menunjukkan median jarak antar kelahiran sebesar 62 bulan dan 22,8%wanita memiliki jarak antar kelahiran kurang dari 3 tahun. Ada hubungan signifikan antara jarak antar kelahiran dengan pendidikan, status ekonomi, umursaat melahirkan terakhir, jumlah anak hidup, ukuran ideal keluarga, pemakaiankontrasepsi, mortalitas anak, dan kelangsungan hidup sebelumnya menggunakan uji Mann Whitney/Kruskal Wallis dan Chi Square, sedangkan pemberian ASIeksklusif berhubungan signifikan dengan jarak antar kelahiran menggunakan ujiMann Whitney (p<0,05). Perlu peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai jarak antar kelahiran optimum dan peningkatan pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kematian ibu dan bayi.
Kata kunci: jarak antar kelahiran, multipara, SDKI
Maternal mortality rate and infant mortality rate in Indonesia is currently high.One factor linked to high risk maternal and infant mortality is short birth intervals.This study aims to show factors associated with birth intervals in multiparouswomen in Indonesia. This study uses data from Indonesia Demographic andHealth Survey (IDHS) 2012 with 9945 multiparous women. The Data wasanalysed using Mann Whitney, Kruskal Wallis, Chi Square, and Chi SquareMantel Haenzel model. Results shows that median birth interval was 62 monthsand 22,8% women had birth interval of less than 3 years. There was a correlationbetween birth intervals with education, economic level, age when last pregnant,the number of living children, ideal family size, contraception use, infantmortality record, and survival of preceding birth analysed using Whitney/KruskalWallis and Chi Square model, whereas exclusive breastfeeding was significantlyassociated with birth intervals analyzed using the Mann Whitney model (p<0,05).There needs to be more frequent communication, education, and informationabout optimum birth intervals and greater contraceptive use to prevent maternaland infant mortality.
Keywords: birth intervals, multiparous, IDHS
Read More
S-8338
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Coraima Okfriani; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Upaya untuk menurunkan angka kehamilan remaja dapat dimonitor dengan menunda kelahiran pertama remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor yang berhubungan dengan interval kelahiran pertama pada remaja kawin usia 15-19 tahun di Indonesia dengan menggunakan data SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dengan sampel yang digunakan sebanyak 1,497 remaja kawin usia 15-19 tahun yang belum hamil/melahirkan anak pertama nya di 2017. Analisis survival digunakan dalam penelitian ini, dengan melakukan uji Kaplan Meier untuk mengukur median interval kelahiran pertama dan Cox Proportional Hazard model digunakan untuk membuat model prediksi variable independen. Didapatkan hasil median interval kelahiran pertama pada Remaja Kawin 15-19 tahun adalah 14 bulan. Terdapat hubungan yang signifikan antara factor yang terkait dengan program KB dengan interval kelahiran pertama: Tidak mengakses informasi KB melalui PLKB (AHR = 0.975 95% CI 0.960 – 0.990), tidak mengakses informasi KB melalui petugas kesehatan (AHR = 0.849 95% CI 0.733 – 0.983), tidak menggunakan kontrasepsi modern (AHR = 1.039 95% CI 1.028 – 1.051). Penggunaan kontrasepsi modern merupakan variable yang paling dominan berhubungan dengan interval kelahiran pertama pada remaja kawin. Peningkatan kualitas dari PLKB dan petugas kesehatan dalam memberikan informasi terkait KB perlu diperhatikan. Keluarga dan Masyarakat juga perlu terlibat dalam kegiatan penyuluhan terkait kesehatan reproduksi pada remaja kawin. Disarankan pula bagi peneliti lainnya untuk melakukan eksplorasi hambatan dan pendukung interval kelahiran pertama dengan pendekatan kualitatif.



Efforts to reduce adolescencepregnancy can be monitored with delaying the first bith. This study aims to identify associated factors with first birth interval (FBI) among married adolescents 15-19 years old in Indonesia using IDHS 2017. In this cross-sectional study, the first birth history of 1,497 married adolescencewho have not pregnant yet were collected. The survival analysis model was used, with Kaplan Meier test was conducted to measure the median of FBI and Cox Proportional Hazard Model was used to produce a prediction model of predictors. The median interval of first birth among married adolescents 15-19 years old was 14 months. There were statistically significant differences between factors related to family planning program with FBI: not accessing family planning information through PLKB AHR = 0.975 95% CI 0.960 – 0.990), not accessing family planning information through health workers (AHR = 0.849 95% CI 0.733 – 0.983), and not using modern contraception (AHR = 1.039 95% CI 1.028 – 1.051). Modern contraceptive use was the most dominant variable associated with FBI among married adolescents. Improvement of quality of PLKB and health workers in giving information on family planning should be noted. Family and community need to be involved in socialization related to adolescent sexual and reproductive health. Other researchers were suggested to explore the challenges and facilitators of FBI with qualitative approach
Read More
T-6772
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive