Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indriya Laras Pramesthi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Pudjo Hartono
S-6739
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Farida Novanti; Pambimbing: Triyanti; Penguji: Diah M. Utari, Ahmad Sanusi
S-7816
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratu Tatya Rachman; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Diah M. Utari, Yunita
S-7953
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Nabila; Pembimbing; Ahmad Syafiq; Penguji: Triyanti, Adhi Darmawan Tato
Abstrak: Penelitian terkait mental well-being sudah mulai banyak dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup serta mencegah terjadinya masalah kesehatan mental yang saat ini sudah terlihat sejak usia anak. Akan tetapi, di Indonesia bukti terkait mental well-being masih terbatas, terutama hubungannya dengan faktor terkait gizi, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan bukti tersebut. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui gambaran mental well-being serta faktor terkait gizi yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain studi cross-sectional melibatkan 315 siswa kelas 4 dan 5 dari 5 sekolah dasar negeri terpilih di Banten. Analisis statistik menunjukkan bahwa mental well-being memiliki korealsi positif dengan aktivitas fisik (r=0,47; p=<0,001) baik pada responden laki-laki maupun perempuan. Selain itu, terlihat juga hubungan yang signifikan dengan kebiasaan sarapan (p=0,04). Adanya hubungan signifikan tersebut menjadikan peningkatan aktivitas fisik dan kebiasaan sarapan pada anak perlu ditingkatkan untuk meningkatkan mental wellbeing melalui peran orang tua serta sekolah. Kata kunci : Mental well-being, aktivitas fisik, kebiasaan sarapan
Read More
S-9400
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shabrina Nur Kamilah; Pembimibing: Ahmad Syafiq; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Asupan kalsium merupakan hal yang krusial pada remaja seiring terjadinya percepatan pertumbuhan dan pembetukkan tulang yang intensif. Namun asupan kalsium pada remaja masih kurang memenuhi kebutuhan yang dianjurkan. Padahal asupan kalsium yang tidak adekuat dapat berdampak pada peak bone mass yang tidak optimal sehingga dapat berakibat pada penurunan massa tulang (osteopenia) yang berujung pada osteoporosis maupun patah tulang di usia lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan kalsium pada remaja SMA Negeri Kota Depok tahun 2024 serta hubungannya dengan kebiasaan konsumsi susu, kebiasaan sarapan, kebiasaan konsumsi soft drink, aktivitas fisik, jenis kelamin, pengetahuan tentang kalsium, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pendapatan orang tua. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan total sampel 209 remaja dan pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret-Mei 2024. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner dan asupan kalsium diukur melalui wawancara food recall 2x2 jam. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 72,2% remaja memiliki asupan kalsium yang kurang dari kebutuhan (<80% AKG) dengan rata-rata 654,1±354,4 mg. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan konsumsi susu (p <0,001 OR 19,36), kebiasaan sarapan (p <0,001 OR 4,59), kebiasaan konsumsi soft drink (p = 0,023 OR 2,37), jenis kelamin (p = 0,040 OR 1,89), pengetahuan tentang kalsium (p = 0,003 OR 5,53), dan aktivitas fisik (p = 0,013 OR 2,27) dengan asupan kalsium. Remaja perlu meningkatkan konsumsi susu, membiasakan sarapan pagi, serta mengurangi konsumsi soft drink. Peningkatan aktivitas fisik diiringi dengan asupan kalsium yang adekuat sangat dibutuhkan untuk mencapai peak bone mass yang optimal.

Calcium is one of the most essential nutrient especially in adolescents due to growth spurt period and intensive bone development. However most adolescents fail to achieve the recommended calcium intake. Inadequate calcium intake can contribute to low peak bone mass and increasing the risk of osteopenia, which can lead to osteoporosis and fragility fracture later in life. This study aims to describe calcium intake among public high school adolescents in Depok City in 2024 and its relationship with milk consumption, breakfast habits, soft drink consumption, physical activity, gender, knowledge about calcium, father's education, mother's education, and parental income. Study design is cross-sectional with a total of 209 sample during March-May 2024. Data was collected through questionnaire and calcium intake was measured by 2x24-hour food recall. Data were analyzed by chi-square test. The results showed that 72.2% of adolescents had calcium intake less than their requirements (<80% RDA) with an average of 654.1±354.4 mg. Bivariate analysis results showed significant relationships between milk consumption (p <0.001, OR 19.36), breakfast habits (p <0.001, OR 4.59), soft drink consumption (p = 0.023, OR 2.37), gender (p = 0.040, OR 1.89), calcium knowledge (p = 0.003, OR 5.53), and physical activity (p = 0.013, OR 2.27) with calcium intake. Adolescents need to increase milk consumption, adopt breakfast habit, and reduce soft drink consumption. Physical activity and adequate calcium intake are important to reach the optimum peak bone mass (PBM).
Read More
S-11763
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Revaline Arianditha; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Sandra Fikawati, Trini Sudiarti
Abstrak:
Ultra-Processed Foods (UPF) merupakan produk olahan industri dengan kepadatan energi tinggi serta kandungan lemak, gula, dan garam berlebih yang konsumsinya terus meningkat di kalangan remaja dan berisiko menimbulkan berbagai penyakit tidak menular. Berbagai faktor individu, lingkungan, dan komersial diduga berperan terhadap tingginya konsumsi UPF pada kelompok remaja, termasuk jenis kelamin, uang saku, screen time, penggunaan online food delivery (OFD), kebiasaan sarapan, pengetahuan terkait UPF, tingkat stres, pengaruh peer group, dan akses terhadap UPF. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor individu, lingkungan, dan komersial dengan konsumsi UPF pada siswa SMA Negeri 81 Jakarta tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 117 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data konsumsi UPF dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk periode satu bulan terakhir, dan hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50,4% responden memiliki konsumsi UPF kategori tinggi. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan (p=0,001), pengetahuan terkait UPF (p=0,001), dan pengaruh peer group (p=0,021) dengan konsumsi UPF. Sementara itu, jenis kelamin, uang saku, screen time, tingkat stres, penggunaan OFD, dan akses terhadap UPF tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan konsumsi UPF. Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pihak sekolah dan pembuat kebijakan dalam merancang intervensi edukasi gizi yang berfokus pada peningkatan pengetahuan terkait UPF, pembentukan kebiasaan sarapan yang rutin, serta pemanfaatan pengaruh kelompok sebaya secara positif untuk mendorong pola konsumsi pangan yang lebih sehat pada remaja.

Ultra-Processed Foods (UPF) are industrially manufactured products with high energy density and excessive content of fat, sugar, and salt, whose consumption continues to rise among adolescents and poses risks for various non-communicable diseases. Multiple individual, environmental, and commercial factors are presumed to contribute to high UPF consumption among adolescents, including sex, pocket money, screen time, the use of online food delivery (OFD) services, breakfast habits, nutrition knowledge related to UPF, stress levels, peer influence, and access to UPF. This study aimed to analyze the relationship between individual, environmental, and commercial factors and UPF consumption among students of SMA Negeri 81 Jakarta in 2026. The study employed a cross-sectional design involving 117 respondents selected through purposive sampling. UPF consumption data were collected using a Food Frequency Questionnaire (FFQ) covering the past one month, and the relationships between variables were analyzed using the Chi-square test. The results showed that 50.4% of respondents had a high category of UPF consumption. The Chi-square test results showed significant associations between breakfast habits (p=0.001; OR=3.709), knowledge related to UPF (p=0.001; OR=3.690), and peer group influence (p=0.021; OR=2.389) with UPF consumption. Meanwhile, sex (p=0.110), pocket money (p=0.508), screen time (p=0.406), stress level (p=0.494), OFD use (p=0.198), and access to UPF (p=0.176) showed no significant association with UPF consumption. This study may serve as a basis for schools and policymakers in designing nutrition education interventions that focus on improving knowledge related to UPF, establishing regular breakfast habits, and leveraging peer group influence positively to promote healthier dietary patterns among adolescents.
Read More
S-12420
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive