Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putri Nur Hanifah; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Agustin Kusumayati, Martya Rahmaniati Makful, Inda Torisia Hatang; Wildan
Abstrak:
Setiap pimpinan kantor dan/atau pengelola gedung diwajibkan untuk menyelenggarakan kesehatan dan keselamatan kerja perkantoran untuk mewujudkan kantor yang sehat, aman, dan nyaman serta karyawan yang sehat, selamat, bugar, berkinerja, dan produktif. Pada Instansi Kementerian Kesehatan, Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal ditugaskan untuk menyiapkan bahan koordinasi dan administrasi penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) berkala setiap tahunnya bagi pegawai, khususnya pejabat mengingat peranan strategisnya dalam organisasi. Namun dalam penyelenggaraanya, partisipasi pejabat untuk melaksanakan MCU belum optimal yang disebabkan prosedur penjadwalan yang masih manual pencatatan dan pelaporannya sehingga tidak efektif, data tidak akurat, keterlambatan informasi hasil MCU. Hal ini berdampak pada kualitas data yang kurang sehingga informasi tidak dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghilangkan kesalahan pencatatan dan pelaporan yang selama ini masih manual dalam penyelenggaraan MCU pejabat Kementerian Kesehatan melalui perancangan prototipe Aplikasi MCU. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan desain studi kasus melalui pengembangan sistem prototipe. Hasil luaran penelitian ini adalah rancangan prototipe aplikasi MCU Pejabat Kementerian Kesehatan berbasis mobile app. Disimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi melalui pengembangan aplikasi MCU Pejabat Kementerian Kesehatan dapat menghilangkan kesalahan pencatatan dan pelaporan yang selama ini masih manual dalam penyelenggaraan MCU Pejabat Kementerian Kesehatan. Kata Kunci : Rancangan, Aplikasi, Medical Check-up

Every office leader is required to organize occupational health and safety to create a healthy, safe, and comfortable office and employees who are healthy, safe, fit, performing and productive. At the Ministry of Health, the Personnel Bureau is assigned to prepare coordination and administrative materials for the implementation of periodic medical check-ups (MCU), especially officials considering their strategic role in the organization. However, the participation of officials in implementation hasn’t been optimal due to the scheduling procedure which is still manual for recording and reporting so that it is ix ineffective, inaccurate data, delay in the information on the results. The purpose of this study is to eliminate errors in recording and reporting that have been manual in the implementation of MCU through designing prototype of the MCU application. The method used in this research is a qualitative method with case study design through the development of prototype system. The output of this study is a mobile app-based design of the MCU application prototype. It is concluded that the use of information technology through the development of the MCU application can eliminate recording and reporting errors that have been manual in the implementation of MCU officials for the Ministry of Health. Keywords : Design, Application, Medical Check-up
Read More
T-6096
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fridolina Mau Supargiyono, E. Elsa Herdiana Murhandarwati
Bulitkes Vol.43, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2015
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Figlia Gracia Wijaya; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Arief Wahyu Mulyana
Abstrak:
Kunjungan layanan MCU di Klinik Medika Occupational Health Center mengalami penurunan pada tiga tahun terakhir. Jumlah perusahaan/instansi yang bekerjasama untuk melakukan MCU karyawan cenderung stagnan, juga banyak ditemukan perusahaan/instansi tidak melanjutkan kerjasama di tahun berikutnya. Menurunya jumlah kunjungan menjadi salah satu tanda bahwa strategi pemasaran bermasalah. Bauran pemasaran menjadi alat pemasaran yang terdiri dari kombinasi variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi reaksi para pembeli atau konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahun gambaran bauran pemasaran pada layanan Medical Check Up di Klinik Medika Occupational Health Center tahun 2023. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Maret sampai Juni 2023. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam, telaah dokumen, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bauran penasaran product: paket layanan MCU dikategorikan menjadi MCU umum non massal, MCU persyaratan khusus non massal, dan MCU massal. Place: letak klinik cukup strategis, mudah diakses, dan tidak berdekatan dengan kompetitor, ruangan layanan pemeriksaan MCU cukup strategis dan memiliki akses yang mudah, namun lahan parkir kurang memadai. Price: tarif layanan MCU tergolong standar, tidak murah namun relatif juga tidak mahal. Promotion: Promosi dilakukan melalui melalui website, media sosial, brosur, serta Whatssapp dan e-mail untuk melalukan broadcast messages. Promosi dan pemasaran kurang optimal dan belum efektif, tenaga SDM marketing kurang kompeten di bidangnya. Professional: terdiri dari dokter umum, perawat, analis, radiographer, dan dokter spesialis, ketetersediaannya cukup memadai. People: terdiri dari resepsionis, kasir, bagian marketing, dan petugas kebersihan, ketersediannya memadai. Public: masyarakatnya memiliki kelas sosial menengah, baik menengah ke atas maupun menengah ke bawah, sedangkan pasien MCU umum di klinik umumnya berada di kelas sosial mengengah ke atas. Power: cukup baik, sudah memiliki dokumen-dokumen legalitas dan sertifikasi tambahan, namun belum melakukan akreditasi. Pressure: klinik bertanggungjawab terhadap pelaksanaan MCU sampai hasil MCU diterima. Performance: cukup baik, pasien cukup puas terhadap layanan yang diberikan, umumnya pasien memberikan nilai 4 dan 5 pada survei kepuasan. Disimpulkan bahwa melalui variabel 10P, bauran pemasaran klinik dapat tergambar dengan baik. Saran pada penelitian ini dibagi menjadi saran yang ditujukan untuk manajemen klinik, bagian pemasaran, dan bagian kepegawaian. Saran yang diberikan peneliti diharapkan dapat bermanfaat bagi klinik untuk mengambil kebijakan dan mengembangkan strategi pemasaran yang optimal dan efektif.

MCU service visits at Medika Occupational Health Center Clinic have decreased in the last three years. The number of companies that cooperate tends to be stagnant, it is also found that many companies do not continue cooperation in the following year. Decreased number of visits is a sign that the marketing strategy is problematic. The marketing mix as a marketing tool consists of a combination of variables that can be controlled by the company to influence the reactions of buyers or consumers. This study aims to find out the description of the marketing mix for Medical Check Up services at Medika Occupational Health Center Clinic in 2023. This research was conducted from March to June 2023. The research conducted in this study is qualitative research with in-depth interview methods, document review, and observation. The results, product: service package MCUs are categorized into non-mass general MCUs, non-mass specific requirements MCUs, and mass MCU. Place: the location of the clinic is quite strategic, easy to access, and not close to competitors, the MCU examination service room is quite strategic and has easy access. Price: MCU service rates are standard, not cheap but relatively inexpensive too. Promotion: promotion and marketing are not optimal and not yet effective, marketing staff are less competent in their fields. Professional: consisting of doctors, nurses, analysts, radiographers, and specialist doctors, the availability is sufficient but needs additional analysts staff. People: consisting of receptionists, cashiers and cleaners, the availability is sufficient. Public: the public has a middle social class, both upper middle and lower middle class, while general MCU patients in clinics are generally in the upper middle social class. Power: quite good, already has additional legality and certification documents, but has not yet carried out accreditation. Pressure: the clinic is responsible for implementing the MCU until the MCU results are received. Performance: quite good, patients are quite satisfied with the services provided, generally patients give scores of 4 and 5 on the satisfaction survey. It is concluded that through the 10P variable, the marketing mix of Medika Occupational Health Center Clinic can be described well. Reccomendations in this study are divided into recommendations addressed to the management, marketing division, and human resources division of Medika Occupational Health Center Clinic. The recommendation given is expected to be useful for clinic to make policies and develop optimal and effective marketing strategies.
Read More
S-11389
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mayfree Syari; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Vetty Yulianti Permansari, Cornelia Jaqualina,
Abstrak: Jumlah kunjungan layanan medical check up di RS MMC mengalami perubahan yang fluktuatif dan cenderung rendah. Padahal layanan ini merupakan revenue centre dan produk unggulan di RS MMC. Bauran pemasaran yang tepat diharapkan dapat meningkatkan utilisasi. Hasil penelitian dengan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi pasif ditinjau dari bauran pemasaran jasa 7P (product, price, place, promotion, people, physical evidence, dan process) menggambarkan bahwa produk layanan medical check up RS MMC berada di tahap kematangan dengan mempertimbangkan aspek prestige dalam proses penentuan harga. Layanan ini berada di lokasi yang strategis dan memiliki beberapa saluran pemasaran melalui pihak ketiga maupun secara langsung. Terdapat media promosi berupa leaftlet, company profile, website, dan buku layanan untuk mendukung promosi layanan ini. Latar belakang tenaga pelaksana sudah sesuai dengan proses pekerjaan yang dilakukan serta dilengkapi dengan SOP dan job description. Informan penelitian menilai terdapat kekurangan terkait desain fisik yang ada. Manajerial sebaiknya meningkatkan keterlibatan pasien sebagai target pasar yang memanfaatkan jasa layanan diperlukan dalam proses evaluasi guna mewujudkan pelayanan yang berorientasi pada pasien. Kata Kunci: Pemasaran, Bauran Pemasaran Jasa, Medical Check Up, Rumah Sakit
Read More
S-8547
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yhuda Ibrohim Yusuf; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji; Yovsyah, Budiarti Setiyaningsih
S-8994
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherly Purnama Dewi; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Rakhmi Savitri
Abstrak:
Latar belakang: Medical Check Up rutin sangat penting untuk deteksi dini masalah kesehatan akibat kerja, sejalan dengan regulasi K3 yang mewajibkan medical check up. Waktu tunggu yang lama dalam layanan medical check up dapat mengurangi efisiensi dan kepuasan pasien. Deteksi dini membantu mencegah risiko kesehatan serius, namun efisiensi waktu tunggu perlu diperbaiki untuk menjaga kualitas layanan. Pengelolaan waktu tunggu menjadi kunci menciptakan lingkungan kerja yang aman dan pelayanan yang optimal. Tujuan penelitian: penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil analisis waktu tunggu pada Medical Check Up menggunakan metode Lean Six Sigma di Klinik X Sudirman tahun 2024. Metodologi penelitian: penelitian ini menggunakan observasi dengan teknik time motion study, wawancara mendalam, dan telaah dokumen dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian diambil menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah 30 responden. Hasil penelitian: hasil penelitian ini menunjukkan non value added terbanyak pada tahapan treadmill selama 41 menit 44 detik (71%) pada jenis waste waiting dan transportation. Kedua pada tahapan EKG dengan non value added selama 34 menit 13 detik (70%) dengan jenis waste waiting.  Ketiga pada tahapan urine selama 7 menit 53 detik (68%) dengan jenis waste waiting dan transportation dari keseluruhan kegiatan value-added sebesar 2 jam 10 menit 20 detik atau 56% dan kegiatan non value-added sebesar 2 jam 1 menit 20 detik atau 44%.

**Background:** Routine medical check-ups are essential for the early detection of health issues caused by work-related factors, in alignment with occupational health and safety (OHS) regulations that mandate medical check-ups. Long waiting times during medical check-up services can reduce efficiency and patient satisfaction. Early detection helps prevent serious health risks; however, waiting time efficiency needs improvement to maintain service quality. Managing waiting times is crucial to creating a safe working environment and delivering optimal services.  **Research Objective:** This study aims to analyze waiting times during medical check-ups using the Lean Six Sigma method at Clinic X Sudirman in 2024.  **Research Methodology:** The study uses observation with time-motion study techniques, in-depth interviews, and document review, adopting both quantitative and qualitative approaches. The research sample was selected using purposive sampling, consisting of 30 respondents.  **Research Results:** The study found the highest non-value-added activity occurred in the treadmill phase, lasting 41 minutes and 44 seconds (71%) due to waiting and transportation waste. The second-highest was in the EKG phase, with 34 minutes and 13 seconds (70%) of non-value-added activities due to waiting waste. The third was in the urine phase, with 7 minutes and 53 seconds (68%) of non-value-added activities due to waiting and transportation waste. Overall, value-added activities accounted for 2 hours, 10 minutes, and 20 seconds (56%), while non-value-added activities totaled 2 hours, 1 minute, and 20 seconds (44%).
Read More
S-11862
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prisca Gisella; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Mieke Savitri, Dumilah Ayuningtyas, Andrean Henry, Kuntari Retno
Abstrak: Medical Check Up (MCU) merupakan unit pelayanan preventif yang ingin dikembangkan oleh Rumah Sakit Grha Kedoya karena sesuai dengan kebijakan pemerintah dan target Sustainable Development Goals (SDGs) tentang perlunya pengembangan pelayanan kesehatan preventif, serta berkembangnya era BPJS. Menurut data yang ada, jumlah pasien dan pendapatan MCU 3 tahun terakhir masih fluktuatif. Salah satu penyebab permasalahan ini adalah belum adanya strategi pemasaran khusus untuk Medical Check Up ini. Di era digital ini, strategi pemasaran pun mengalami perkembangan dimana teori 4P Marketing Mix beralih menjadi 4C di Marketing 4.0. Hal inilah yang menjadi latar belakang dan tujuan dari penelitian ini, yaitu menyusun strategi pemasaran yang tepat untuk unit Medical Check Up berdasarkan teori 4C dari Marketing 4.0. Penelitian ini adalah riset operasional dengan metode pengambilan data kuantitatif dan kualitatif pada bulan Oktober-November 2019. Metode kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada pasien MCU serta perusahaan yang bekerja sama dengan MCU dengan tujuan melihat perspektif konsumen mengenai 4C. Responden dari penelitian ini adalah 48 orang pasien MCU dan 8 perusahaan yang menjawab kuesioner tentang pendapat mereka mengenai 4C dari MCU RS Grha Kedoya. Sedangkan metode kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan Consensus Decision Making Group (CDMG) dengan tujuan mengetahu factor internal dan eksternal rumah sakit dan mendiskusikan strategi yang tepat untuk MCU. Informan pada penelitian ini adalah Direktur, Wakil Direktur, serta tim Marketing Rumah Sakit Grha Kedoya. Hasil dari penelitian kuantitatif menunjukkan sebagian besar responden menyetujui adanya factor 4C dalam MCU Rumah Sakit Grha Kedoya: 85% setuju adanya Co-creation dalam pemilihan paket, 37,5% menyatakan Willingness to Pay mereka terhadap MCU adalah 1-2 juta rupiah, 72% setuju adanya Communal activation dari pelayanan promotive ini, dan 92% menyatakan membutuhkan pertolongan saat memilih paket yang akan terbantu dengan adanya Conversation. Hasil pengolahan kuesioner tidak jauh berbeda antara pasien pribadi maupun perusahaan. Dari hasil penelitian kualitatif, setelah mengidentifikasi dan melakukan pembobotan terhadap faktor internal dan eksternal dari Rumah Sakit Grha Kedoya, rumah sakit ini terletak pada kuadran V dari Internal External Matrix (IE Matrix) dengan strategi yang tepat adalah product development dan market penetration. Kemudian melalui TOWS Matrix didapatkan beberapa alternative strategi, dan setelah dilakukan skoring dengan QSPM Matrix, strategi yang paling tepat adalah pengembangan sistem informasi termasuk e-medical record, appointment online dan promosi via website
Read More
B-2118
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tuti Alawiyah; Pembimbing: Besral; Penguji: Dian Ayubi, Ratu Ayu Dewi Sartika, Asnimar Azwar, Lila Amaliah
Abstrak:

ABSTRAK

Tuberkulosis (TB) menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling serius,masalah kesehatan di dunia dan penyebab utama kematian di negara berkembang.Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah Indiadan Cina. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwapenyakit TB penyebab kematian nomor 5 setelah penyakit kardiovaskular danpenyakit saluran napas pada semua kelompok usia dan nomor 1 dari golonganpenyakit infeksi. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis danmenyerang organ pernapasan walaupun dapat mengenai organ lain. Sejak meluaspenyakit human immunodeficiency virus (HIV) dan pertambahan kasus TB kebal obat(MDR-TB), masalah TB yang sebelumnya telah teratasi kembali mencuat, sehinggapengawasan dan pemberantasan penyakit ini menjadi bertambah rumit.Angka kesalahan (error rate) pemeriksaan laboratorium pada Mycobacteriumtuberculosis sangat mempengaruhi penemuan penderita dan pengobatan penyakittuberkulosis. Error rate pemeriksaan laboratorium yang tinggi berarti kemampuanmendeteksi kurang, pemeriksaan belum dapat dipercaya hasil pelaporannya, akanberdampak masalah penyakit tuberkulosis di masyarakat tidak terdeteksi dengan baikdan benar, obat anti tuberkulosis tidak berhasil guna penyembuhan. Sehinggapenularan penyakit TBC tidak dapat ditanggulangi dengan baik di masyarakat.Berdasarkan hasil laporan cross check pemeriksaan BTA triwulan I sampai IVdi Kota Tangerang tahun 2012 terjadi error rate 5,26% sampai 36,36%. Nilai errorrate yang ditoleransi dari Kementerian Kesehatan maksimal 5%.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kinerja petugas pemeriksa BTA dandeterminannya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desaincross sectional. Sampel pada penelitian ini 26 petugas laboratorium puskesmas yangmelakukan pemeriksaan BTA. Dari 26 petugas pemeriksa BTA terdapat 15 petugasdengan error rate rendah dan 11 petugas dengan error rate tinggi. Pengumpulan datadilakukan menggunakan kuisioner dan wawancara. Dari hasil penelitian diketahuifaktor yang berhubungan dengan error rate BTA adalah sistem dan beban kerja.Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel sistem (nilai p=0,030, OR=16,0)berhubungan bermakna dan faktor dominan berhubungan dengan kinerja petugaspemeriksa BTA. Disarankan kepada petugas pemeriksa BTA sistem yang ada (pmi,menerapkan SOP) dan Dinas Kesehatan memberi pelatihan dan bimbingan intensif,serta melengkapi kebutuhan laboratorium terutama untuk pemeriksaan BTA.


 

ABSTRACT

Tuberculosis (TB) has become one of the most seriuos health problem, healthproblem in the world, and the leading cause of death in developing countries.Indonesia is the country with the highest number of TB patients to the 3rd in theworld after India and China. Household Health Survei showed the TB diseases 5causes of death after cardiovascular disease and respiratory disease in all age groupand the number 1 of infectious disease group. Tuberculosis is caused byMycobacterium tuberculosis and can attack the respiratory organs, although otherorgans. Since the widespread disease of human immunodeficiency virus (HIV) andan increase of drug resistance case of TB (MDR-TB), TB issues that previously havrbeen resolved back sticking out, of control and eradication of this disease becomemore complicated.Error rate of laboratory test on Mycobacterium tuberculosis greatly affect thedetection and treatment of tuberculosis. Laboratory error rate is high means the abilityto detect less, yet reliable inspection result reporting, will impact the problem oftuberculosis in the community are not detected properly, anti tuberculosis failed tocure. So that transmission of TB disease cannot be addressed properly in society.Based on the results of smear examination report cross check until the fourthquarter in the city of Tangerang in 2012 there is an error rate of 5.26% to 36.36%.Value of the tolerable error rate of 5% maximum Health Ministry.The purpose of this study was to determine the error rate of smear examination and itsdeterminant. This study is an observational study with cross-sectional design. Thesamples of the study 26 laboratory workers who perform both smear clinic. Of 26inspectors smear contained 15 inspectors smear with a low error rate and 11 with ahigh error rate. The data was collected using interviews and questionnaires. Thesurvey results revealed that factors related to the error rate and the BTA is a systemtool and workload. Multivariate analysis showed system variabel (p value = 0.003,OR = 16) correlated significantly and significantly associated dominant factor relatedto the performance of the examiners BTA. Suggested to the examiners BTA existingsystem (pmi, implement the SOP) and the Department of Health provide intensivetraining ang guidance, as well as complete laboratory requitments, especially forsmearexamination.

Read More
T-3912
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kania Viatina; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Baiduri Widanarko, Syahrul Efendi Panjaitan
Abstrak: Pembuatan tahu di Indonesia masih menggunakan cara tradisioal yang melibatkan banyak aktivitas manual handling yang meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat risiko dari faktor fisik menggunakan metode quick exposure check dan juga untuk mengetahui prevalensi keluhan muskuloskeletal pada sembilan bagian tubuh menggunakan Nordic Musculoskeletal Questionnaire. Penilaian dilakukan terhadap 52 pekerja dari tiga UMKM yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi keluhan muskuloskeletal pada pekerja UMKM Tahu tradisional lebih tinggi dibanding UMKM Tahu Sutra. Dalam 12 bulan terakhir, keluhan muskuloskeletal pada pekerja UMKM Tahu tradisional paling banyak dirasakan pada bagian punggung bawah (94%), bahu kanan (78%) dan leher (61%) pada pekerja UMKM Tahu tradisional dan punggung bawah (81%), bahu kanan (63%) dan punggung atas (56%) pada pekerja UMKM Tahu sutra. Tingkat risiko gangguan muskuloskeletal pada aktivitas penggilingan, perebusan dan penyaringan lebih rendah ditemui pada UMKM tahu sutra (tinggi; sedang dan rendah) dibanding UMKM Tahu tradisional (sangat tinggi; tinggi dan sangat tinggi) dikarenakan beberapa penanganan beban secara manual sudah digantikan oleh mesin
Read More
S-10206
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kun Yuliastuti; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Jaslis Ilyas, Purnawan Junadi, Mira Roziati Dachlan, Syougie
Abstrak:

Latar belakang: Penelitian ini mengembangkan sistem digital untuk layanan Medical Check Up (MCU) di Rumah Sakit Permata Cibubur menggunakan pendekatan Design Thinking. Sistem meliputi pendaftaran online, rekam medis elektronik, dan laporan digital. Integrasi Artificial Intelligence digunakan untuk otomatisasi laporan hasil pemeriksaan. Hasilnya, digitalisasi meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kepuasan pasien, serta mendukung kebijakan nasional transformasi layanan kesehatan. Tujuan penelitian: Mengembangkan sistem digital MCU berbasis Design Thinking untuk meningkatkan efisiensi layanan dan mendukung transformasi digital di Rumah Sakit Permata Cibubur. Metodologi penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengadopsi Design Thinking dan elemen kuantitatif (mix methods) untuk mendukung validasi data. Data diperoleh melalui wawancara, observasi lapangan, kuisioner, dan dokumentasi lalu dianalisis secara tematik dan deskripsi kuantitatif. Informan terdiri dari dokter, perawat, manajemen, staf kesehatan dan petugas administrasi. Kuisioner kepada pasien dengan menggunakan Liker't Scale (sangat puas, puas, tidak puas, sangat tidak puas) dengan tujuan mengukur kepuasan penggunaan sistem digital MCU berdasarkan pendekatan Design Thinking. Hasil penelitian: Pengguna dan dokter mendukung sistem digital MCU berbasis AI untuk mempercepat proses dan meningkatkan akurasi, meskipun pemeriksaan fisik langsung tetap diperlukan, dengan survei pasien menunjukkan kepuasan tinggi namun masih perlu perbaikan pada kecepatan dan kemudahan penggunaan.


Background: This research develops a digital system for Medical Check Up (MCU) at Permata Cibubur Hospital uses the Design Thinking approach.The system include online registration, electronic medical records, and digital reports. Artificial Intellgence intragtion is used to automateexamination result report. Articial Intelligencein used to automate examination result reports.As a result, digitalization improves efficiency accuracy and patient satisfaction and supports the national policy of health service transformation. Research objectives: Develop a digital MCUsystem based on Design Thinking to improve service efficiency and support digital transformation at Permata Cibubur Hospital. Research methodology: This study uses a qualitative method by adopting Design Thinking anf quantitative elements (mix methods) to support data validation. Data were obtained through interviews, field observations, consisted of doctors, nurses, management, health staff and administrative officers. Questionnaires for patients using the Likert Scale (very satisfied, satisfied, dissatisfied, very dissatisfied)with the aim of measuring satisfaction with the use of the digital. MCU system based on the Design Thinking approach.Research result: Users and doctors support the AI-based digital MCU system to speed up the process and improve accuracy, although direct physical examinations are still needed, with patient surveys showing high satisfaction but still needing improvement in speed and ease of use.

 

Read More
T-7361
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive