Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sulung Purwoko; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Besral, Wan Aisyiah Baros
S-8982
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Janitra Hapsari; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dadan Erwandi, Dien Anshari, Mohammad Rezasyah Hasan, Astriani Dwi Aryaningtyas
Abstrak:
Norma maskulinitas tradisional sering kali ditemukan sebagai penghambat perilaku mencari bantuan, mendorong munculnya stigma, dan merupakan bentuk maskulinitas yang tidak sehat atau “toxic masculinity”. Namun, beberapa studi kualitatif menunjukkan bahwa sebagian laki-laki mau mencari bantuan kesehatan mental untuk menjadi lebih sehat, mampu melawan stigma, dan tindakan tersebut dilihat sebagai cara yang rasional untuk lebih maskulin sehingga disebut sebagai maskulinitas positif atau “positive masculinity”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran maskulinitas terhadap perilaku mencari bantuan laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis di Platform Layanan Inspirasien. Desain penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada delapan informan yang terdiri dari pasien laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis, pendamping pasien, dan professional kesehatan mental. Hasil penelitian menemukan adanya perubahan makna maskulinitas dari tradisional menjadi positif pada laki-laki yang telah mendapatkan bantuan dari layanan professional kesehatan mental. Perilaku mencari bantuan kesehatan mental dilihat sebagai upaya untuk pulih dan menjadi lebih sehat. Ketika laki-laki lebih sehat, maka Ia mendapatkan kembali kendali atas hidupnya, merupakan wujud tanggung jawab dan kepemimpinan laki-laki untuk menyelesaikan masalahnya, keberanian untuk meminta bantuan, dan kebijaksanaan dalam cara penyelesaian masalah dengan ahlinya (professional kesehatan mental). Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan makna maskulinitas positif pada perilaku mencari bantuan laki-laki sebagai strategi dalam membentuk upaya promosi kesehatan mental dan peningkatan layanan kesehatan mental secara khusus untuk laki-laki.

Traditional masculinity norms are often found to inhibit help-seeking behavior, encourage the emergence of stigma, and are a form of unhealthy masculinity or "toxic masculinity". However, several qualitative studies show that some men are willing to seek mental health help to become healthier, able to fight stigma, and this action is seen as a rational way to become more masculine so it is called “positive masculinity”. This study aims to determine the role of masculinity on the help-seeking behavior of men who experience depression due to chronic physical illness in the Inspirasien Service Platform. Descriptive qualitative research design with a case study approach is being used. Data was collected through in-depth interviews with eight informants consisting of male patients who experienced depression due to chronic physical illness, their caregiver, and mental health professionals. The results of the study found a change in the meaning of masculinity from traditional to positive in men who had received help from professional mental health services. Mental health help-seeking behavior is seen as an effort to recover and become healthier. When a man is healthier, he regains control of his life, which is a manifestation of a man's responsibility and leadership to solve his problems, the courage to ask for help, and wisdom in solving problems with the experts (mental health professionals). This research recommends utilizing the meaning of positive masculinity in men's help-seeking behavior as a strategy in shaping mental health promotion efforts and improving mental health services specifically for men.
Read More
T-6887
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Juki Irma Lumbantoruan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Sabarinah, Tri Budi W, Rien Pramindari
Abstrak:
Rendahnya Penuaan populasi global berdampak signifikan terhadap meningkatnya jumlah lansia dengan penyakit kronis dan kebutuhan akan pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dan adaptif. Resiliensi psikologis merupakan kapasitas kunci yang memungkinkan individu lansia bertahan, menyesuaikan diri, dan mempertahankan kualitas hidup di tengah keterbatasan fisik, tekanan emosional, serta perubahan sosial yang menyertai proses penuaan. Studi ini bertujuan mengeksplorasi dinamika resiliensi psikologis pada lansia dengan penyakit kronis di Kota Depok, Indonesia, dengan membandingkan dua: pendidikan berbasis komunitas melalui Sekolah Lansia dan layanan kesehatan primer melalui Puskesmas. Menggunakan desain kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan dari kedua kelompok. Analisis dilakukan secara tematik berdasarkan enam dimensi utama resiliensi psikologis: efikasi diri, kepuasan hidup, penuaan biologis, penilaian emosional terhadap stresor, penurunan respons terhadap stres kronis, serta keterlibatan dalam perilaku promotif. Hasil menunjukkan bahwa lansia perempuan cenderung membangun ketahanan melalui spiritualitas dan dukungan relasional, sementara lansia laki-laki menekankan pada aktivitas sosial dan strategi pemecahan masalah. Lansia peserta Sekolah Lansia memperlihatkan pola resiliensi yang lebih reflektif dan terstruktur, sedangkan lansia pengguna layanan Puskesmas menampilkan strategi adaptif yang bersifat praktis dan kontekstual. Temuan ini menggaris bawahi pentingnya pendekatan intersektoral dan sensitif gender dalam memperkuat ketahanan psikologis lansia. Integrasi antara intervensi berbasis komunitas dan layanan kesehatan primer terbukti saling melengkapi dalam meningkatkan kesejahteraan lansia secara holistik. Kajian ini memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan kebijakan lansia berbasis bukti, serta mendorong desain program promotif-preventif yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan kontekstual dalam menghadapi tantangan populasi menua di Indonesia dan negara berkembang lainnya.


The global aging population poses significant challenges to healthcare systems, particularly due to the rising number of older adults living with chronic diseases. Psychological resilience is a crucial capacity that enables older individuals to adapt, maintain emotional well-being, and preserve quality of life amid physical limitations and social transitions associated with aging. This study aims to explore the dynamics of psychological resilience among older adults with chronic illnesses in Depok City, Indonesia, by comparing two intervention contexts: community-based education through the Sekolah Lansia (Elderly School) and primary healthcare services provided by Puskesmas (community health centers). Using an phenomenology qualitative design, data were collected through in-depth interviews with older adults from both groups. Thematic analysis was conducted based on six key dimensions of psychological resilience: self-efficacy, life satisfaction, biological aging, emotional and cognitive appraisal of stressors, reduction of physiological and emotional responses to chronic stress, and engagement in health-promoting behaviors. Findings indicate that older women tend to build resilience through spirituality and familial relationships, while older men emphasize social engagement and problem-focused coping. Participants of the Elderly School demonstrated more reflective and structured resilience patterns supported by community-based education, whereas Puskesmas users adopted practical, experience-based adaptive strategies rooted in daily routines and primary care services. The study underscores the importance of integrated, gender-sensitive approaches to strengthening psychological resilience in later life. The complementary roles of community education and primary healthcare suggest the need for multisectoral collaboration in promoting healthy and dignified aging. These findings provide empirical evidence to inform policy development and the design of inclusive, sustainable, and contextually relevant resilience-building programs for older adults in Indonesia and other low- and middle-income countries.
Read More
T-7393
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive