Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Widayatun, Zainal Fatoni
JKI Vol.8, No.1
Jakarta : LIPI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Reviono, Endang Sutisna Sulaeman, Bhisma Murti
KJKMN Vol.7, No.11
Depok : FKM UI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irvan Ramadhie; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ede Surya Darmawan, Fatimah, Mardalena
Abstrak:
Read More
Latar Belakang : Rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai institusi pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai institusi sosial yang citranya berhubungan dengan persepsi masyarakat, termasuk penerimaan dan keterlibatan masyarakat. RSU Pengayoman Cipinang memiliki karakteristik institusi khusus karena historisnya berkaitan dengan pelayanan kesehatan bagi warga binaan pemasyarakatan. Karakteristik tersebut menjadi konteks penting dalam memahami pembentukan citra rumah sakit di masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan layanan rawat jalan dokter spesialis di RSU Pengayoman Cipinang belum menunjukkan pola yang stabil dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara persepsi masyarakat dan citra RSU Pengayoman Cipinang serta peran akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat sebagai variabel mediasi dalam konteks karakteristik historis rumah sakit. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kepada masyarakat di sekitar yang mengetahui keberadaan rumah sakit. Variabel penelitian meliputi persepsi masyarakat dan citra rumah sakit. serta akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat sebagai variabel mediasi. Analisis data dilakukan menggunakan SEM-PLS. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dan citra rumah sakit berada pada kategori tinggi. Akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat juga menunjukkan kategori tinggi sebagai variabel mediasi dalam model penelitian. Persepsi masyarakat berhubungan positif dan signifikan terhadap akseptabilitas pelayanan kesehatan (β=0,859; p<0,001) serta citra rumah sakit (β=0,669; p<0,001). Akseptabilitas pelayanan kesehatan berhubungan positif dan signifikan terhadap partisipasi masyarakat (β=0,761; p<0,001), sedangkan partisipasi masyarakat berhubungan positif dan signifikan terhadap citra rumah sakit (β=0,280; p=0,001). Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa akseptabilitas pelayanan kesehatan memediasi hubungan antara persepsi masyarakat dan partisipasi masyarakat (β=0,654; p<0,001), sedangkan partisipasi masyarakat memediasi hubungan antara akseptabilitas pelayanan kesehatan dan citra rumah sakit (β=0,213; p=0,006). Selain itu, terdapat hubungan tidak langsung antara persepsi masyarakat dan citra rumah sakit melalui mediasi berantai akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat (β=0,183; p=0,008). Kesimpulan : Penelitian ini mengindikasikan bahwa persepsi masyarakat merupakan faktor yang paling dominan dalam pembentukan citra RSU Pengayoman Cipinang. Akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat berperan sebagai variabel mediasi yang memperkuat hubungan antara persepsi masyarakat dan citra rumah sakit. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan citra rumah sakit tidak hanya berkaitan dengan persepsi masyarakat, tetapi juga dengan penerimaan terhadap pelayanan kesehatan dan keterlibatan masyarakat terhadap rumah sakit pada institusi yang memiliki karakteristik historis khusus. Secara praktis, hasil penelitian ini mendukung pentingnya penguatan institutional branding, komunikasi publik, dan community engagement dalam memperkuat citra rumah sakit. Kata Kunci : persepsi masyarakat, citra rumah sakit, akseptabilitas pelayanan kesehatan, partisipasi masyarakat
Background : Hospitals function not only as healthcare institutions but also as social institutions whose image is associated with community perceptions, including public acceptance and engagement. Pengayoman Cipinang General Hospital has a unique historical background due to its previous role in providing healthcare services for correctional inmates. This historical characteristic provides an important context for understanding how the hospital's image is formed within the community. In addition, the utilization of outpatient specialist services at Pengayoman Cipinang General Hospital has not yet demonstrated a stable and sustainable pattern. This study aimed to analyze the relationship between community perceptions and the image of Pengayoman Cipinang General Hospital, as well as to examine the mediating roles of healthcare service acceptability and community participation within the context of the hospital's unique historical background. Methods : This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected using questionnaires distributed to community members living around Pengayoman Cipinang General Hospital who were aware of the hospital’s existence. The study variables included community perception, healthcare service acceptability, community participation, and hospital image. Data analysis was conducted using SEM-PLS. Results : The findings indicated that both community perceptions and hospital image were categorized as high. Healthcare service acceptability and community participation also demonstrated high levels as mediating variables in the proposed model. Community perception had a positive and significant relationship with healthcare service acceptability (β=0.859; p<0.001) and hospital image (β=0.669; p<0.001). Healthcare service acceptability had a positive and significant relationship with community participation (β=0.761; p<0.001), while community participation had a positive and significant relationship with hospital image (β=0.280; p=0.001). Mediation analysis demonstrated that healthcare service acceptability mediated the relationship between community perception and community participation (β=0.654; p<0.001), whereas community participation mediated the relationship between healthcare service acceptability and hospital image (β=0.213; p=0.006). In addition, there was a significant indirect relationship between community perception and hospital image through the serial mediation of healthcare service acceptability and community participation (β=0.183; p=0.008). Conclusion : This study indicates that community perceptions are the most influential factor in shaping the image of Pengayoman Cipinang General Hospital. Healthcare service acceptability and community participation serve as mediating variables that strengthen the relationship between community perceptions and hospital image. These findings suggest that the formation of hospital image is associated not only with community perceptions but also with public acceptance of healthcare services and community engagement, particularly in healthcare institutions with distinctive historical characteristics. Practically, the findings highlight the importance of strengthening institutional branding, public communication, and community engagement to enhance the hospital's image. Keywords : community perception, hospital image, healthcare service acceptability, community participation
B-2611
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raditha Cahyani Isty Ningdiyah; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Sampah merupakan sisa dari suatu kegiatan sehari-hari manusia dan proses alam yang berwujud padat, keberhasilan pengelolaan sampah berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan segala bentuk keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah mulai dari proses prencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor sosiodemografi, pengetahuan, dan faktor eksternal terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Batu Ampar, Jakarta Timur pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan metode penelitian cross sectional dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Setelah dilakukan perhitungan besar sampel minimum menggunakan rumus uji hipotesis beda proporsi (Lemeshow, 1990) didapatkan besar sampel minimum sebanyak 114 sampel. Hasil penelitian menyatakan bahwa mayoritas rumah tangga di Kelurahan Batu Ampar telah memiliki tingkat partisipasi tinggi dalam pengelolaan sampah rumah tangga yaitu sebanyak 60 responden (52,6%), dimana 54 responden lainnya (47,4%) memiliki tingkat partisipasi rendah dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Pada penelitian juga dinyatakan bahwa terdapat faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi pengelolaan sampah rumah tangga yaitu faktor sosiodemografi dan faktor eksternal. Faktor sosiodemografi yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi masyarakat adalah usia (nilai p 0,009; OR 10,26), sedangkan faktor eksternal yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi masyarakat adalah dukungan tokoh masyarakat (nilai p 0,002; OR 3,39). Untuk faktor sosiodemografi seperti jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan; pengetahuan; dan faktor eksternal berupa sarana prasarana tidak memiliki hubungan dengan partisipasi masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah variabel usia dan dukungan tokoh masyarakat memiliki hubungan yang signifikan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Waste is the residue of daily human activities and natural processes in solid form, the success of waste management is related to the level of community participation. Community participation is all forms of community involvement in waste management starting from the process of planning, implementation, to evaluation. The aim pf this research is to analyze the relationship between sociodemographic factors, knowledge, and external factors on community participation in household waste management in Batu Ampar Subdistrict, East Jakarta, in the year 2023. This study employs an analytic survey method using a cross-sectional research design with stratified random sampling as the sampling technique. After calculating the minimum sample size using the hypothesis test formula for the difference in proportions (Lemeshow, 1990), the minimum sample size was determined to be 114 samples. The research result indicated that majority of households in Batu Ampar Subdistrict have a high level of participation in household waste management, with 60 respondents (52,6%), while the remaining 54 respondents (47,4%) have a low level of participation. The study also states that there are factors significantly associated with household waste management participation, namely sociodemographic and external factors. Sociodemographic factors significantly associated with community participation are age (p-value 0,009; OR 10,26), while the external factors significantly associated with community participation is community leader support (p-value 0,002; OR 3,39). Sociodemographic factors such as gender, education, occupation, and income; knowledge; and external factors such as facilities do not have significant relationship with community participation. In conclusion, age and community leader support variable are significantly associated with community participation in household waste management.
Read More
Sampah merupakan sisa dari suatu kegiatan sehari-hari manusia dan proses alam yang berwujud padat, keberhasilan pengelolaan sampah berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan segala bentuk keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah mulai dari proses prencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor sosiodemografi, pengetahuan, dan faktor eksternal terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Batu Ampar, Jakarta Timur pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan metode penelitian cross sectional dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Setelah dilakukan perhitungan besar sampel minimum menggunakan rumus uji hipotesis beda proporsi (Lemeshow, 1990) didapatkan besar sampel minimum sebanyak 114 sampel. Hasil penelitian menyatakan bahwa mayoritas rumah tangga di Kelurahan Batu Ampar telah memiliki tingkat partisipasi tinggi dalam pengelolaan sampah rumah tangga yaitu sebanyak 60 responden (52,6%), dimana 54 responden lainnya (47,4%) memiliki tingkat partisipasi rendah dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Pada penelitian juga dinyatakan bahwa terdapat faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi pengelolaan sampah rumah tangga yaitu faktor sosiodemografi dan faktor eksternal. Faktor sosiodemografi yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi masyarakat adalah usia (nilai p 0,009; OR 10,26), sedangkan faktor eksternal yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi masyarakat adalah dukungan tokoh masyarakat (nilai p 0,002; OR 3,39). Untuk faktor sosiodemografi seperti jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan; pengetahuan; dan faktor eksternal berupa sarana prasarana tidak memiliki hubungan dengan partisipasi masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah variabel usia dan dukungan tokoh masyarakat memiliki hubungan yang signifikan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Waste is the residue of daily human activities and natural processes in solid form, the success of waste management is related to the level of community participation. Community participation is all forms of community involvement in waste management starting from the process of planning, implementation, to evaluation. The aim pf this research is to analyze the relationship between sociodemographic factors, knowledge, and external factors on community participation in household waste management in Batu Ampar Subdistrict, East Jakarta, in the year 2023. This study employs an analytic survey method using a cross-sectional research design with stratified random sampling as the sampling technique. After calculating the minimum sample size using the hypothesis test formula for the difference in proportions (Lemeshow, 1990), the minimum sample size was determined to be 114 samples. The research result indicated that majority of households in Batu Ampar Subdistrict have a high level of participation in household waste management, with 60 respondents (52,6%), while the remaining 54 respondents (47,4%) have a low level of participation. The study also states that there are factors significantly associated with household waste management participation, namely sociodemographic and external factors. Sociodemographic factors significantly associated with community participation are age (p-value 0,009; OR 10,26), while the external factors significantly associated with community participation is community leader support (p-value 0,002; OR 3,39). Sociodemographic factors such as gender, education, occupation, and income; knowledge; and external factors such as facilities do not have significant relationship with community participation. In conclusion, age and community leader support variable are significantly associated with community participation in household waste management.
S-11537
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
R 628.73 ALE s
Washington, DC : National Demonstration Water Project, 1982
Referensi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erze Vazela; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Permasalahan sampah menjadi isu yang terjadi secara global, nasional, hingga tingkat kota, termasuk di Kota Bogor yang sebagian besar timbulan sampahnya berasal dari sampah rumah tangga. TPS 3R hadir sebagai upaya pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui kegiatan pemilahan, pengolahan, dan daur ulang, yang efektivitasnya bergantung pada keterkaitan komponen input, proses, dan output. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengelolaan sampah di TPS 3R KSM Tamansari Persada Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, Kota Bogor berdasarkan ketiga komponen tersebut beserta keterkaitannya. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif yang didukung data kuantitatif sekunder, dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam kepada empat informan, yaitu pengurus KSM, petugas lapangan, masyarakat pengguna, dan pihak kelurahan, serta data pencatatan harian pengelolaan sampah selama empat belas bulan (2025-2026). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen input tersedia secara jumlah dan kelengkapan awal, tetapi belum dikelola secara optimal, terutama karena petugas lapangan masih berada di bawah kewenangan RT, bukan KSM, sehingga memengaruhi pemanfaatan sarana prasarana, pengelolaan pendanaan, keberlanjutan partisipasi masyarakat, dan pembinaan kelembagaan. Proses operasional menunjukkan penyempitan cakupan kegiatan 3R, di mana pemilahan bergeser dari masyarakat ke petugas dan pengolahan hanya terbatas pada pengomposan sederhana. Dari total 147.690 kg sampah yang tercatat, sampah organik yang diolah sebesar 32.086 kg (21,7%), anorganik 32.258 kg (21,9%), sedangkan residu masih mendominasi sebesar 83.346 kg (56,4%). Ketiga komponen tersebut saling berkaitan membentuk satu kesatuan sistem, di mana kelemahan pada komponen input berdampak pada proses dan output, serta output yang belum optimal kembali menurunkan partisipasi masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan perbaikan tata kelola sumber daya manusia dan penguatan pembinaan kelembagaan secara berkelanjutan agar sistem pengelolaan sampah TPS 3R dapat berjalan lebih optimal.
Waste management has become a global, national, and city-level issue, including in Bogor City, where most of the generated waste originates from households. The 3R Waste Reduction Facility (TPS 3R) was established as a community-based waste management effort through sorting, processing, and recycling activities, the effectiveness of which depends on the interrelation between input, process, and output components. This study aims to analyze the waste management system at TPS 3R KSM Tamansari Persada, Cibadak Village, Tanah Sareal, Bogor City, based on these three components and their interrelation. This research used a descriptive qualitative design supported by secondary quantitative data, with data collected through observation and in-depth interviews with four informants, namely the KSM management, field officers, community members, and the local sub-district (kelurahan) representative, as well as fourteen months (2025-2026) of daily waste record data. The results show that the input component was available in terms of quantity and initial completeness, but had not been managed optimally, mainly because field officers remained under the authority of the neighborhood unit (RT) rather than the KSM, which affected the utilization of facilities and infrastructure, financial management, the sustainability of community participation, and institutional support. The process component showed a narrowing of 3R activities, in which waste sorting shifted from the community to the officers, and processing was limited to simple composting. Of the total 147,690 kg of recorded waste, 32,086 kg (21.7%) of organic waste and 32,258 kg (21.9%) of inorganic waste were processed, while residual waste remained dominant at 83,346 kg (56.4%). The three components were found to be interrelated as a single system, in which weaknesses in the input component affected the process and output, and the suboptimal output, in turn, further reduced community participation. This study recommends improving human resource governance and strengthening continuous institutional support so that the TPS 3R waste management system can function more optimally.
S-12472
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
