Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Cheryl Khairunnisa Miyanda; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Fatma Lestari, Cynthia Kurnia Sari, Robertus Wisnu Wijaya
Abstrak:
Distres kerja merupakan bahaya fisik dan emosional yang disebabkan tidak imbangnya antara kebutuhan pekerjaan dengan kemampuan, sumber daya atau kebutuhan individu (NIOSH, 2014). Distres kerja dapat berdampak pada perubahan fungsi kognitif, emosi, dan perilaku serta penurunan kinerja dan produktivitas. Penelitian ini dilakukan guna menganalisis faktor psikososial yang dapat berdampak pada distres kerja agar penaggulangan lebih lanjut dapat dilakukan dan kerugian pada individu maupun perusahaan dapat diminimalisir. Penelitian ini dilakukan di sektor konstruksi pada pekerja Divisi Civil & Trackwork Proyek Light Rail Transit (LRT) PT X pada bulan November- Desember 2021. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi yang dipilih yaitu cross sectional dengan sampel 110 pekerja. Data diambil menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Hasil dari penelitian pada arena individual dan arena rumah tidak terdapat variabel yang signifikan dengan tingkat distress kerja. Pada Arena pekerjaan content of work, variabel yang signifikan antara lain: durasi kerja (p- value = 0,001), status pekerjaan kerja (p-value = 0,002), dan kondisi lingkungan pekerjaan (p-value = 0,006). Pada arena pekerjaan context of work, variabel yang signifikan antara lain: struktur dan iklim organisasi (p-value = 0,003), hubungan interpersonal (p-value = 0,001), peran dalam organisasi (p-value = 0,002). Gaya manajemen/kepemimpinan organisasi (p-value = 0,007), kesempatan karir (p-value = 0,001), dan kepuasan kerja (p-value = 0,034). Variabel yang paling berhubungan dengan tingkat distres kerja yaitu durasi kerja (p-value=0,001, OR=12,1) diikuti oleh kesempatan karir (p-value=0,001, OR=1,264) serta status pekerjaan (p-value=0,007, OR=1,100). Kata kunci: COVID-19, Distres Kerja, Konstruksi, Psikososial.

Work distress is a physical and emotional hazard caused by an imbalance between job requirements and individual abilities, resources or needs (NIOSH, 2014). Work distress can have an impact on changes in cognitive function, emotion, and behavior as well as decreased performance and productivity. This study was conducted to analyze psychosocial factors that can have an impact on work distress so that further countermeasures can be made and losses to individuals and companies can be minimized. This research was conducted in the construction sector for workers in the Civil & Trackwork Division of the PT X Light Rail Transit (LRT) Project in November- December 2021. This research was quantitative with the chosen study design, namely cross sectional with a sample of 110 workers. The data was taken using a questionnaire that had passed the validity and reliability test. The results of research on the individual arena and home arena there are no significant variables with the level of work distress. In the arena of work content of work, significant variables include: duration of work (p- value = 0.001), work status (p-value = 0.002), and work environment conditions (p-value = 0.006). In the context of work, significant variables include: organizational structure and climate (p-value = 0.003), interpersonal relationships (p-value = 0.001), role in the organization (p-value = 0.002). Organizational management/leadership style (p-value = 0.007), career opportunities (p-value = 0.001), and job satisfaction (p-value = 0.034). The variables most related to the level of work distress were work duration (p-value=0.001, OR=12.1) followed by career opportunities (p-value=0.001, OR=1.264) and job status (p- value=0.007, OR =1,100). Key words: COVID-19, Occupational Distress, Construction, Psychosocial,
Read More
T-6394
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Revyanda; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Nur Anis Laila
Abstrak: Distres kerja adalah respons negatif fisik dan emosional terhadap ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan, sumber daya, dan kemampuan pekerja yang dapat menimbulkan dampak terhadap kondisi fisiologis dan psikologis pekerja. Guru SLB Negeri merupakan salah satu profesi yang rentan mengalami distres kerja karena pekerjaannya yang berbeda dengan guru sekolah formal pada umumnya serta memiliki tuntutan peran dan tekanan pekerjaan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian distres kerja dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada guru SLB Negeri di wilayah Kota Jakarta Selatan. Penelitian ini dilakukan kepada guru dari empat SLB Negeri di Kota Jakarta Selatan. Besar sampel yang digunakan adalah total sampling, yaitu 199 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang diadaptasi dari NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Dari besar sampel sebanyak 199 orang, hanya 186 orang yang bersedia menjadi responden sehingga didapatkan hasil bahwa sebanyak 84 orang (45,2%) mengalami distres kerja dan 102 orang (54,8%) tidak mengalami distres kerja. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan secara statistik melalui uji chi-square adalah usia (nilai P = 0,034), status pernikahan (nilai P = 0,022), dan ambiguitas peran (nilai P = 0,015).
Work distress is a physical and emotional negative response to the discrepancy between job demands, resource and abilities of workers, which can has many impact on physiological and psychological conditions of workers. Public special education teacher is one of the professions that are prone to work distress because their jobs are different from other formal schoolteachers and have high job demands and pressures. This study aims to describe the conditions of work distress and analyze the factors related to work distress for public special education teachers in Jakarta Selatan. This study conducted on teachers from four public special educations in Jakarta Selatan so that the sample size used was total sampling, which was 199 respondents. The study method used is quantitative with cross-sectional design study and uses instrument adapted from NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. From 199 respondents, only 186 respondents were willing to filled the questionnaire so the results showed that 84 respondents (45,2%) experienced work distress and 102 respondents (54,8%) did not experience work distress. The factors related to work distress through Chi-Square test were age (P value = 0,034), marital status (P value = 0,022) and role ambiguity (P value = 0,015).
Read More
S-10980
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resty Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Bimo Prasetyo, Roy Nababan
Abstrak:
Distres kerja menjadi masalah kesehatan yang cukup serius di industri konstruksi. Distres kerja dikaitkan dengan perasaan emosional dan mental, tapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan secara fisik, menurunkan motivasi, produktivitas, dan kepuasan kerja. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya distres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko distres kerja pada pekerja konstruksi proyek XYZ, baik faktor individu, faktor psikososial, dan faktor dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada pekerja konstruksi XYZ pada bulan Maret-Mei 2023. Jumlah sampel penelitian adalah 127 responden yang diambil dengan teknik non random sampling. Kuesioner yang digunakan adalah Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) dan 3 pertanyaan tambahan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan distres kerja adalah faktor psikososial job control, kompatibilitas dengan pekerjaan, interaksi dengan atasan, interaksi dengan organisasi, dan faktor dukungan sosial. Hasil analisis menunjukkan variabel yang dominan berhubungan dengan distres kerja adalah job control dan dukungan sosial. Dari kedua variabel tersebut, dukungan sosial adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan distres kerja (AOR=4,062)



Job distress is a serious health problem in the construction industry. Job distress is associated with emotional and mental feelings, but it can also have a negative impact on physical health, reducing motivation, productivity and job satisfaction. There are various factors that influence the emergence of job distress. This study aims to analyze the risk factors of job distress on XYZ construction workers, including individual factors, psychosocial factors, and social support factors. This research used a cross sectional design. The research was conducted on XYZ construction workers in March-May 2023. The number of samples in this study were 127 respondents who were taken using a non-random sampling technique. The questionnaire used is the Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) and 3 additional questions. Data analysis was performed using the chi-square and logistic regression statistical test. The results showed that the risk factors associated with job distress were psychosocial factors, job control, job compatibility, interactions with superiors, interactions with organizations, and social support factors. The results of the analysis show that the dominant variable related to job distress are job control and social support. Among these two variables, social support is the most dominant variable related to job distress (AOR=4,062)
Read More
T-6720
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akbar Hasani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati/ Penguji: Abdul Kadir, Dadan Erwandi, Danang Ika Widana, Machfud
Abstrak:
Pada masa pemulihan ekonomi saat ini karyawan dituntut untuk dapat memberikan kontribusi lebih baik yang pada akhirnya meningkatnya distress kerja pada karyawan. Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya distress kerja pada seorang pekerja salah satunya adalah faktor psikososial. PT. X melakukan survey pada setiap direktorat untuk mengetahui tingkat motivasi karyawan dan peningkatan distress kerja karyawan. Hasil survey terebut menunjukkan direktorat Corporate & External Affairs memiliki motivasi kerja paling rendah yang didukung dengan adanya aspirasi terkait meningkatnya distress kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor risiko distres kerja terhadap tingkat distres kerja pada karyawan di direktorat Corporate & External Affairs di PT X. Metode penelitian taitu deskriptif kuantitatif, desain studi cross-sectional, dengan jumlah total populasi 40 orang. Terdapat 7.5% karyawan tidak mengalami distress kerja, 47.5% distress kerja rendah, 42.5% distress kerja sedang, dan 2.5% distress kerja tinggi. Faktor risiko distress kerja yang berhubungan yaitu beban kerja dan kecepatan kerja, pengendalian, pengembangan karir, hubungan antara pekerjaan dan rumah, tuntutan psikologis, dan perundungan dan kekerasan. PT. X sebaiknya melakukan risk assessment yang komprehensif dan menindak lanjuti hasil survey pada Direktorat & Corporate & External Affairs di PT. X serta membuat media pengawasan untuk mendeteksi terjadinya perundungan dan kekerasan khususnya dalam bentuk verbal seperti kritik yang tidak adil.

During the current economic recovery, employees are required to give better contribution, which can increase work distress of employees. Many factors can trigger work distress, one of which is psychosocial factors. PT. X conducted a survey to determine the level of employee motivation and work distress. The survey results show that the Directorate of Corporate & External Affairs has the lowest work motivation supported by aspirations related to increased work distress. The purpose of this study was to analyze the relationship between risk factors for work distress and levels of work stress for employees at the Directorate of Corporate & External Affairs at PT X. The research method is quantitative descriptive, the study design is cross-sectional, sample from total population of 40 people. There are 7.5% employees are categorized as no work distress, 47.5% low distress, 42.5% middle distress and 2.5% high distress. The risk factors that have association with work distress are workload and pace of work, control, career development, the relationship between work and home, psychological demands, and bullying and violence. PT. X should conduct a comprehensive risk assessment and follow up on survey results and create a program to identify bullying and violence, especially in verbal forms such as unfair criticism.
Read More
T-6612
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riyan Saputra ; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Ab,dul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ridha Renaldi, Swadexi Istiqphara
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor risiko psikososial pada tiga arena kehidupan (individu, pekerjaan, dan rumah) serta hubungannya dengan tingkat distres kerja pada operator PT XX tahun 2026. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi crosssectional, penelitian ini melibatkan 161 operator tambang batubara di Kalimantan Timur yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari Permenaker No. 5 Tahun 2018, Effort-Reward Imbalance (ERI), dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ). Hasil analisis universitas menunjukkan bahwa mayoritas operator (83,23%) memiliki tingkat distres kerja yang rendah, sementara 16,77% sisanya mengalami tingkat distres tinggi. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode backward elimination menunjukkan bahwa faktor prediktor utama yang paling dominan terhadap tingkat distres kerja tinggi adalah masalah tidur dari arena rumah dengan nilai Odds Ratio sebesar 11,58 (OR = 11,585). Faktor prediktor kuat berikutnya adalah perilaku menyerang (workplace bullying) dari arena pekerjaan dengan nilai Odds Ratio sebesar 4,05 (OR = 4,053). Manajemen perusahaan disarankan mengoptimalkan program intervensi kesehatan mental, penataan jadwal kerja untuk manajemen fatigue, serta penerapan kebijakan nol toleransi terhadap perundungan guna meminimalkan risiko operasional.

This study aims to analyze various psychosocial risk factors across three life domains (individual,  work, and home) and their relationship with job distress levels among operators at PT XX in 2026.  Employing a quantitative approach with a cross-sectional study design, this research involved 161  coal mining operators in East Kalimantan selected through a purposive sampling technique.  Primary data collection was conducted using structured questionnaires adapted from the Minister  of Manpower Regulation (Permenaker) No. 5 of 2018, the Effort-Reward Imbalance (ERI), and  the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ). Univariate analysis results indicated that  the majority of operators (83.23%) experienced low levels of job distress, while the remaining  16.77% suffered from high distress levels. Multivariate analysis using multiple logistic regression  with the backward elimination method revealed that the most dominant primary predictor for high  job distress was sleep problems from the home domain, with an Odds Ratio of 11.58 (OR =  11.585). The next strong predictor was offensive behavior (workplace bullying) from the work  domain, with an Odds Ratio of 4.05 (OR = 4.053). Company management is advised to optimize  mental health intervention programs, restructure work schedules for fatigue management, and  implement a zero-tolerance policy against bullying to minimize operational risks.
Read More
T-7559
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rola Mesrani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Khaerudin, Masrulloh
Abstrak:
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan distres kerja sebagai epidemi global abad ke-21. Pegawai yang bekerja di instansi pemerintahan sangat berisiko mengalami distres kerja, termasuk Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan di Batam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan distres kerja pegawai pada Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan di Batam tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dengan sampel penelitian ini diambil menggunakan metode purposive sampling yang berjumlah 174 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III ditambah dengan 4 pertanyaan terbuka. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas pegawai mengalami distres ringan (62,6%). Berdasarkan analisis inferensial dengan uji chi square terdapat hubungan faktor individu (jenis kelamin) dengan distres kerja, dan terdapat hubungan faktor psikososial (work-life balance) dengan distres kerja pegawai pada Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan di Batam Tahun 2023. Uji regresi logistik ganda menunjukan variabel jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan, yaitu pegawai perempuan memiliki peluang sebesar 6,2 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki untuk mengalami distres kerja setelah dikontrol variabel usia, sifat pekerjaan, hubungan interpersonal, dan work life balance. Perlu dilakukan upaya pengendalian dan pencegahan distres kerja pegawai dengan menerapkan manajemen stres di tempat kerja baik di tingkat individu maupun organisasi.

The World Health Organization (WHO) classifies job distress as a global epidemic of the 21st century. Employees working in government agencies are highly at risk of experiencing job distress, including the Technical Implementation Unit of the Ministry of Health in Batam. This study aims to analyze the determinants of job distress among employees in the Technical Implementation Unit of the Ministry of Health in Batam in 2023. The study adopts a cross-sectional design, with a sample of 174 individuals selected using purposive sampling method. Data collection is done using the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III, supplemented with 4 open-ended questions. The results of the study show that the majority of employees experience mild distress (62.6%). Based on inferential analysis using the chi-square test, there is a relationship between individual factors (gender) and job distress, and a relationship between psychosocial factors (work-life balance) and job distress among employees in the Technical Implementation Unit of the Ministry of Health in Batam, 2023. Multiple logistic regression analysis indicates that gender is the most dominant factor, with female employees having a 6,2 times higher chance of experiencing job distress compared to male employees, after controlling for age, job nature, interpersonal relationships, and work-life balance variables. Efforts to control and prevent job distress among employees are necessary, including the implementation of workplace stress management at both individual and organizational levels.
Read More
T-6736
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wafi Syukri Baraja; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Broer Rizal, Muhammad Rinaldo
Abstrak:

Distres kerja pada masinis Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan isu penting dalam sistem transportasi massal perkotaan karena berpotensi menurunkan keselamatan operasional, performa kerja, dan kesejahteraan psikologis pekerja. Peningkatan jumlah pengguna KRL Jabodetabek disertai tingginya tuntutan operasional, sistem kerja shift, tekanan ketepatan waktu, serta kompleksitas kerja berbasis teknologi diduga meningkatkan paparan bahaya psikososial pada masinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko personal dan faktor risiko pekerjaan dengan distres kerja pada masinis KRL PT Kereta Commuter Indonesia wilayah operasi Jabodetabek tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 440 masinis dengan sampel sebanyak 231 responden yang dipilih menggunakan teknik quota accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur, meliputi NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH GJSQ), ICAWS, NASA-TLX, JCQ, Job Insecurity Questionnaire, dan IFRC. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan regresi Poisson sederhana untuk memperoleh Prevalence Ratio (PR), serta multivariat menggunakan modified Poisson regression dengan robust variance pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 47,2% masinis mengalami distres kerja. Faktor personal seperti usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, masa kerja, dan status kesehatan tidak berhubungan signifikan dengan distres kerja, sedangkan kelelahan kerja hanya signifikan pada analisis bivariat. Pada faktor pekerjaan, perselisihan di tempat kerja, beban kerja berlebih, beban kerja rendah, kontrol terhadap pekerjaan, dan keamanan pekerjaan berhubungan signifikan secara bivariat dengan distres kerja. Namun, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya perselisihan di tempat kerja (p=0,012: Adjusted PR=0,896: 95% CI=0,822–0,976) dan keamanan pekerjaan (p<0,001: Adjusted PR=0,803: 95% CI=0,744–0,866) yang menjadi faktor dominan terhadap distres kerja pada masinis KRL Jabodetabek. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir separuh masinis mengalami distres kerja dan faktor pekerjaan merupakan determinan utama, sehingga diperlukan intervensi berbasis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk mengendalikan bahaya psikososial, memperkuat keamanan pekerjaan, dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif guna meningkatkan keselamatan operasional dan kesejahteraan psikologis masinis. Kata kunci: distres kerja, masinis KRL, bahaya psikososial


 

Work distress among Electric Rail Train (KRL) drivers is an important issue in urban mass transportation systems because it has the potential to reduce operational safety, work performance, and workers’ psychological well-being. The increasing number of KRL passengers in the Greater Jakarta area, accompanied by high operational demands, shift work systems, punctuality pressure, and technology-based work complexity, is suspected to increase psychosocial hazard exposure among train drivers. This study aimed to analyze the relationship between personal risk factors and occupational risk factors with work distress among KRL drivers of PT Kereta Commuter Indonesia in the Greater Jakarta operational area in 2026. This study employed a quantitative design with a descriptive-analytic and cross-sectional approach. The study population consisted of 440 train drivers, with a sample of 231 respondents selected using a quota accidental sampling technique. Data were collected using structured questionnaires, including the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH GJSQ), ICAWS, NASA-TLX, JCQ, Job Insecurity Questionnaire, and IFRC. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with simple Poisson regression to obtain the Prevalence Ratio (PR), and multivariate analysis using modified Poisson regression with robust variance at a 95% confidence level. The results showed that 47.2% of train drivers experienced work distress. Personal factors such as age, marital status, educational level, years of service, and health status were not significantly associated with work distress, while work fatigue was only significant in the bivariate analysis. Occupational factors including workplace conflict, excessive workload, low workload, job control, and job security were significantly associated with work distress in the bivariate analysis. However, multivariate analysis revealed that only workplace conflict (p=0.012: Adjusted PR=0.896: 95% CI=0.822–0.976) and job security (p<0.001: Adjusted PR=0.803: 95% CI=0.744–0.866) were dominant factors associated with work distress among KRL drivers in the Greater Jakarta area. This study concludes that nearly half of KRL drivers experienced work distress and that occupational factors were the primary determinants. Therefore, Occupational Health and Safety based interventions are needed to control psychosocial hazards, strengthen job security, and create a supportive work environment in order to improve operational safety and the psychological well-being of train drivers. Keywords: work distress, KRL drivers, psychosocial hazards

 

Read More
T-7512
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Putri Fatonah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Erik Riya Firmanto
Abstrak:
Distres kerja merupakan kondisi ketegangan psikologis yang timbul akibat ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki pekerja, yang apabila berlangsung kronis dapat berdampak pada kesehatan, kinerja, dan kesejahteraan psikologis. Meskipun isu distres kerja telah lama menjadi perhatian dalam kesehatan kerja, sektor perkantoran relatif kurang mendapat sorotan dibandingkan sektor dengan risiko fisik tinggi, padahal beban administratif, target kinerja, dan koordinasi lintas fungsi yang intensif berpotensi meningkatkan risiko psikososial pada pekerja kantor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada pekerja kantor PT XYZ tahun 2026, meliputi faktor work arena (beban kerja, ketidakjelasan peran, konflik peran, ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan), home arena (home-work interface, status pernikahan), social arena (hubungan interpersonal, dukungan sosial), dan individual arena (usia, jenis kelamin, masa kerja). Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner terhadap 119 pekerja kantor PT XYZ. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square, serta regresi logistik sederhana untuk variabel dengan lebih dari dua kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 responden (57,1%) mengalami distres kerja kategori tinggi. Hasil uji statistik menemukan hubungan yang signifikan antara distres kerja dengan beban kerja tinggi (p=0,003; OR=3,16), ketidakjelasan peran tinggi (p=0,012; OR=2,67), konflik peran tinggi (p<0,001; OR=3,91), hubungan interpersonal buruk (p=0,000; OR=6,076), jenis kelamin perempuan (p=0,048; OR=2,12), dan masa kerja menengah (p=0,020; OR=4,80), sedangkan ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan, home-work interface, status pernikahan, dukungan sosial, dan usia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa lebih dari separuh pekerja kantor PT XYZ mengalami distres kerja tinggi, dengan konflik peran dan hubungan interpersonal sebagai faktor yang berhubungan paling kuat. Perusahaan disarankan melakukan asesmen distres kerja secara berkala, evaluasi dan redistribusi beban kerja, penyusunan deskripsi tugas yang jelas, serta penguatan budaya kerja yang suportif untuk menurunkan risiko distres kerja pada pekerja kantor.

Work distress is a condition of psychological strain arising from an imbalance between job demands and the resources or capacities available to workers, which, if chronic, can negatively affect health, performance, and psychological well-being. Although work distress has long been a concern in occupational health, the office sector has received relatively less attention compared to sectors with high physical risk, even though administrative workload, performance targets, and intensive cross-functional coordination may increase psychosocial risk among office workers. This study aims to analyze the factors associated with work distress among office workers at PT XYZ in 2026, covering the work arena (workload, role ambiguity, role conflict, job insecurity, job control), home arena (home–work interface, marital status), social arena (interpersonal relationships, social support), and individual arena (age, gender, length of employment). This study used a cross-sectional design with a quantitative approach through questionnaires administered to 119 office workers at PT XYZ. Bivariate analysis was conducted using the Chi-Square test, along with simple logistic regression for variables with more than two categories. The statistical analysis found significant associations between work-related distress and high workload (p = 0.003; OR = 3.16), high role ambiguity (p = 0.012; OR = 2.67), high role conflict (p < 0.001; OR = 3.91), poor interpersonal relationships (p < 0.001; OR = 6.076), female gender (p = 0.048; OR = 2.12), and medium job tenure (p = 0.020; OR = 4.80). In contrast, job insecurity, job control, home–work interface, marital status, social support, and age were not significantly associated with work-related distress (p > 0.05). This study concludes that more than half of office workers at PT XYZ experience high levels of work distress, with role conflict and interpersonal relationships being the most strongly associated factors. The company is advised to conduct periodic work distress assessments, evaluate and redistribute workload, establish clear job descriptions, and strengthen a supportive work culture to reduce the risk of work distress among office workers.
Read More
S-12374
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Mujakar; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Amory Setia, Agni Syah Sutoyo Putro
Abstrak:
Sektor konstruksi merupakan industri berisiko tinggi yang tidak hanya berpotensi menimbulkan cedera fisik, tetapi juga gangguan kesehatan mental, termasuk distres psikologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis prevalensi distres kerja, hubungan faktor psikososial, faktor individu, dan faktor lingkungan terhadap distres kerja, serta mengidentifikasi faktor dominan yang berhubungan dengan distres pada pekerja konstruksi PT. X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 287 pekerja konstruksi PT. X yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Faktor psikososial diukur menggunakan Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III) dan tingkat distres diukur menggunakan Kessler Psychological Distress Scale (K10). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 49,8% pekerja mengalami distres berat. Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor psikososial dan lingkungan berhubungan signifikan dengan distres kerja (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa beban kerja (AOR=5,113), dukungan sosial rendah (AOR=4,973), ambiguitas peran (AOR=9,853), dan kelelahan fisik (AOR=10,522) berhubungan signifikan dengan distres kerja. Kelelahan fisik merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan distres kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor psikososial, khususnya kelelahan fisik, berperan penting terhadap terjadinya distres pada pekerja konstruksi.

The construction sector is a high-risk industry that not only has the potential to cause physical injuries but also mental health problems, including psychological distress. This study aimed to analyze the prevalence of work-related distress, examine the relationship between psychosocial, individual, and environmental factors and work distress, and identify the dominant factors associated with distress among construction workers at PT. X. This study employed a quantitative cross-sectional design involving 287 construction workers selected using proportionate stratified random sampling. Psychosocial factors were measured using the Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III), while psychological distress was assessed using the Kessler Psychological Distress Scale (K10). Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression analyses. The results showed that 49.8% of workers experienced severe distress. Bivariate analysis indicated that psychosocial and environmental factors were significantly associated with work distress (p<0.05). Multivariate analysis showed that workload (AOR=5.113), low social support (AOR=4.973), role ambiguity (AOR=9.853), and physical fatigue (AOR=10.522) were significantly associated with work distress. Physical fatigue was identified as the most dominant factor associated with work distress. This study concludes that psychosocial factors, particularly physical fatigue, play an important role in the occurrence of distress among construction workers.
Read More
T-7673
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fachmia Azzahra Aulia Kurnia; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Hendra, Farihatini
Abstrak:
Distres kerja merupakan masalah serius yang memengaruhi kesejahteraan mental dan kinerja guru PAUD. Penelitian ini menjelaskan gambaran dan menganalisis faktor risiko distres kerja pada guru PAUD di Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, tahun 2025, dengan fokus pada tiga arena, yaitu work (beban kerja dan tekanan waktu, fasilitas sekolah, kategori kelas, hubungan interpersonal, kepuasan kerja, masa kerja, dan kebutuhan khusus murid), home (status pernikahan, ekonomi keluarga, dan home-work interface), dan individual (usia, kemampuan koping, kuantitas dan kualitas tidur). Desain cross-sectional digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 81 guru. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup instrumen NIOSH GJSQ, COPSOQ III, WDQ, Brief-COPE, dan PSQI, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan odds ratio (OR). Sebanyak 22,2% guru mengalami distres kerja. Faktor yang berhubungan signifikan meliputi fasilitas sekolah (p=0,032; OR=0,19), kepuasan kerja (p=0,001; OR=6,02), masa kerja (p=0,012), kebutuhan khusus murid (p=0,031; OR=0,31), dan kualitas tidur (p=0,010; OR=6,4). Sementara itu, faktor lainnya tidak menunjukkan hubungan signifikan secara statistik. Distres kerja pada guru PAUD dipengaruhi faktor risiko work dan individual arena. Intervensi holistik mencakup penyesuaian kebijakan sekolah, peningkatan kepuasan kerja, pengembangan profesional, hingga manajemen tidur direkomendasikan untuk mengurangi risiko distres


Occupational distress is a serious issue that significantly impacts mental well-being and performance of early childhood education teachers. This study aims to describe the characteristics and analyze the risk factors of occupational distress among early childhood education teachers in Sukasari District, Bandung City, in 2025, focusing on three arenas: work (workload and time pressure, school facilities, class category, interpersonal relationships, job satisfaction, work tenure, and students' special needs), home (marital status, family economy, and home-work interface), and individual (age, coping skills, sleep quantity, and quality). Using a cross-sectional quantitative design, 81 teachers completed questionnaires (NIOSH GJSQ, COPSOQ III, WDQ, Brief-COPE, PSQI), analyzed via Chi-Square and odds ratio (OR). Results showed that 22.2% of teachers experienced occupational distress. Significant factors included school facilities (p=0.032; OR=0.19), job satisfaction (p=0.001; OR=6.02), work tenure (p=0.012), students’ special-needs (p=0.031; OR=0.31), and sleep quality (p=0.010; OR=6.4). Other factors showed no statistically significant association. Occupational distress in teachers is influenced by work and individual arenas. A holistic intervention approach, encompassing school policy adjustments, job satisfaction enhancement, professional development, and sleep management, is recommended to mitigate risks of distress.
Read More
S-12137
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive