Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Vinny Nurhamiza; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Asih Setiarini, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak:
Food Insecurity Experience adalah keterbatasan yang dialami oleh individu maupun kelompok untuk mendapatkan makanan yang aman dan bergizi secara teratur yang diiringi oleh pengalaman berupa ketidakpastian mengenai makanan yang akan dapat dikonsumsi sehari-harinya. Food insecurity dapat berdampak pada penurunan kesejahteraan, kekurangan gizi spesifik, hingga kelaparan. Kelompok mahasiswa sebagai individu dewasa termasuk kelompok rentan terhadap risiko food insecurity. Penelitian ini menelaah adanya hubungan melalui pengukuran beda proporsi food insecurity pada mahasiswa S1 FMIPA di Universitas Indonesia berdasarkan jenis kelamin, pendapatan pribadi, cooking self-efficacy, tingkat pengetahuan gizi, uang saku, alokasi biaya makan, pemilihan makanan meliputi: kepentingan persepsi sehat, kepentingan persepsi harga, dan kepentingan persepsi aksesibilitas. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan desain studi cross-sectional, pada bulan Maret hingga Juni 2021. Partisipan penelitian terdiri dari 134 mahasiswa dengan metode purposive sampling melalui pengisian kuesioner secara daring. Hasil Penelitian menemukan bahwa sebanyak 64,9% responden mengalami food insecurity. Hasil analisis bivariat juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan pada food insecurity experience dengan cooking self-efficacy (p-value 0,046), uang saku (p-value 0,006), alokasi besaran biaya makan (p-value 0,045), pemilihan makanan: kepentingan persepsi harga (p-value 0,001).
Food Insecurity Experience is a limitation experienced by individuals and groups to get safe and nutritious food on a regular basis accompanied by an experience in the form of uncertainty about the food that will be able to be consumed daily. Food insecurity can have an impact on decreased well-being, specific malnutrition, and hunger. The group of students as adult individuals is a vulnerable group to the risk of food insecurity. This study examines the relationship through measuring the different proportions of food insecurity in undergraduates students at the Faculty of Mathematics and Sciences of Universitas Indonesia based on gender, personal income, cooking self-efficacy, nutritional knowledge level, allowance, allocation of food costs, food preferences including: perceives of health, perceives of price, and perceives of accessibility. The study was conducted using quantitative methods using a cross-sectional study design, from March to June 2021. The research participants consisted of 134 college students with the purposive sampling method through filling out an online questionnaire. The results of the study found that as many as 64,9% of respondents experienced food insecurity. The results of the bivariate analysis also showed that there was a significant relationship in food insecurity experience with cooking self-efficacy (p-value 0.,46), allowance (p-value 0,006), allocation of food costs (p-value 0.045), food preferences: perceives of price (p-value 0,001).
Read More
Food Insecurity Experience is a limitation experienced by individuals and groups to get safe and nutritious food on a regular basis accompanied by an experience in the form of uncertainty about the food that will be able to be consumed daily. Food insecurity can have an impact on decreased well-being, specific malnutrition, and hunger. The group of students as adult individuals is a vulnerable group to the risk of food insecurity. This study examines the relationship through measuring the different proportions of food insecurity in undergraduates students at the Faculty of Mathematics and Sciences of Universitas Indonesia based on gender, personal income, cooking self-efficacy, nutritional knowledge level, allowance, allocation of food costs, food preferences including: perceives of health, perceives of price, and perceives of accessibility. The study was conducted using quantitative methods using a cross-sectional study design, from March to June 2021. The research participants consisted of 134 college students with the purposive sampling method through filling out an online questionnaire. The results of the study found that as many as 64,9% of respondents experienced food insecurity. The results of the bivariate analysis also showed that there was a significant relationship in food insecurity experience with cooking self-efficacy (p-value 0.,46), allowance (p-value 0,006), allocation of food costs (p-value 0.045), food preferences: perceives of price (p-value 0,001).
S-11036
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Masitoh; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Woro Riyadina, Soewarta Kosen
Abstrak:
Read More
Penyakit infeksi pada balita merupakan masalah kesehatan yang perlu ditangani karena menjadi penyebab langsung kematian balita dan stunting. Salah satu penyebab tidak langsung dari penyakit infeksi balita adalah kerawanan pangan. Meskipun beberapa bukti saat ini menunjukkan ada hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi pada balita tetapi masih sedikit bukti yang meneliti hubungan ini di negara berpenghasilan sedang dan rendah seperti di Indonesia. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi pada balita di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang menggunakan data SSGI Tahun 2021. Hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi dikontrol oleh variabel kovariat. Analisis multivariat dilakukan menggunakan uji multiple multinomial logistic untuk memperoleh nilai OR adjusted. Hasil penelitian menunjukkan balita dari rumah tangga dengan rawan pangan ringan berisiko 1,367 kali, rawan pangan sedang berisiko 1,490 dan pada rawan pangan berat 1,500 kali. Begitu juga risiko untuk menderita lebih dari satu penyakit infeksi. Balita dari rumah tangga dengan rawan pangan ringan berisiko 1,685 kali, pada rawan pangan sedang 2,418 kali dan rawan pangan berat 2,596 kali. Dapat disimpulkan risiko balita untuk menderita satu penyakit infeksi maupun lebih dari satu penyakit infeksi semakin meningkat seiring dengan level kerawanan pangan rumah tangga.
Infectious diseases in toddlers are a health problem that needs to be addressed because they are a direct cause of toddlers deaths and stunting. One of the indirect causes of infant infection is food insecurity. Although some current evidence shows that there is a relationship between food insecurity and infectious diseases in toddlers, there is still little evidence examining this relationship in middle and low income countries such as Indonesia. Therefore this study aims to determine the relationship between food insecurity and infectious diseases in toddlers in Indonesia. The research was conducted with a cross-sectional design using SSGI data for 2021. The relationship between food insecurity and infectious diseases was controlled by covariate variables. Multivariate analysis was performed using the multiple multinomial logistic test to obtain an adjusted OR value. The results showed that toddlers from households with mild food insecurity had a risk of 1,367 times, moderate food insecurity had a risk of 1,490 and in severe food insecurity 1.500 times. Likewise, the risk of children suffering from more than one infectious disease. Toddlers from households with mild food insecurity have a risk of 1,685 times, in moderate food insecurity 2,418 times and severe food insecurity 2,596 times. It can be concluded that the risk of toddlers suffering from one infectious disease or more than one infectious disease increases along with the level of household food insecurity.
T-6641
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Noviyana; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Nurul Dina Rahmawati, Try Nur Ekawati Lukman, Dwikani Oklita Anggiruling
Abstrak:
Read More
Obesitas viseral merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit metabolik. Pada kelompok mahasiswa, kejadian obesitas viseral dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk food insecurity. Kondisi kerawanan pangan tidak hanya berhubungan dengan kekurangan asupan pangan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko obesitas melalui perubahan pola konsumsi, perilaku makan, dan mekanisme biologis yang kompleks. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan food insecurity (CSI) dengan kejadian obesitas viseral berdasarkan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB) pada mahasiswa baru di Universitas Indonesia tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder pada 362 mahasiswa baru Universitas Indonesia tahun 2025. Food insecurity diukur menggunakan Coping Strategy Index (CSI), sedangkan obesitas viseral ditentukan berdasarkan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB ≥0,5). Analisis dilakukan melalui univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan sebesar 66,9% mahasiswa mengalami obesitas viseral dan 43,9% mengalami food insecurity (CSI). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa food insecurity (CSI) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan obesitas viseral setelah dikontrol oleh karakteristik, sosial ekonomi, pola makan, dan aktivitas fisik. Walaupun berada pada kecenderungan berhubungan (borderline significant), namun secara statistik belum menunjukkan hubungan yang signifikan (AOR=1,648; 95%CI=0,994 – 2,732; p=0,050). Penelitian ini menyimpulkan bahwa food insecurity yang diukur menggunakan CSI belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian obesitas viseral pada mahasiswa baru setelah dikontrol oleh faktor perancu, sehingga diperlukan penelitian longitudinal untuk mengklarifikasi hubungan temporal antara food insecurity dan obesitas viseral.
Visceral obesity is a major risk factor for various metabolic diseases. Among university students, the development of visceral obesity may be influenced by several factors, including food insecurity. Food insecurity is not only associated with inadequate food intake but may also increase the risk of obesity through changes in dietary patterns, eating behaviors, and complex biological mechanisms. This study aimed to examine the association between food insecurity, measured using the Coping Strategy Index (CSI), and visceral obesity based on the waist-to-height ratio (WHtR) among first-year students at Universitas Indonesia in 2025. A cross-sectional study was conducted using secondary data from 362 first-year students at Universitas Indonesia in 2025. Food insecurity was assessed using the Coping Strategy Index (CSI), while visceral obesity was defined as a waist-to-height ratio (WHtR) of ≥0.5. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariable logistic regression analyses. The results showed that 66.9% of the participants had visceral obesity and 43.9% experienced food insecurity based on the CSI. Multivariable analysis indicated that food insecurity (CSI) was not significantly associated with visceral obesity after adjusting for demographic characteristics, socioeconomic factors, dietary patterns, and physical activity. Although the association was borderline significant (AOR= 1.648; 95%CI= 0.994–2.732; p= 0.050), it did not reach statistical significance after adjustment for potential confounding factors. Therefore, longitudinal studies are warranted to clarify the temporal relationship between food insecurity and visceral obesity among university students.
T-7586
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nienda Biellani; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Ahmad Syafiq, Khoirul Anwar
Abstrak:
Read More
Kerawanan pangan terjadi ketika ketersediaan makanan yang bergizi dan aman atau kemampuan untuk memperoleh makanan menjadi terbatas atau tidak pasti karena keterbatasan ekonomi, sosial, atau fisik. Akibatnya terjadi kelaparan dan kekurangan gizi pada tingkat komunitas, rumah tangga, dan individu. Beberapa studi menunjukkan bahwa mahasiswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas sering menghadapi masalah kerawanan pangan. Masalah finansial merupakan faktor utama terjadinya kerawanan pangan di kalangan mahasiswa. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia memiliki tingkat literasi gizi paling rendah di antara fakultas lainnya sehingga lebih rentan terdampak kerawanan pangan. Penelitian mengukur perbedaan status kerawanan pangan berdasarkan tempat tinggal dan faktor-faktor yang berhubungan seperti alokasi biaya makan, sumber ketersediaan pangan, akses pangan, pendapatan pribadi, tahun kuliah, dan jenis kelamin. Penelitian dilakukan menggunakan kuesioner g-form pada bulan April – Mei 2025. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi potong lintang dan digunakan metode accidental sampling untuk memperoleh 166 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan status kerawanan pangan yang signifikan berdasarkan tempat tinggal pada mahasiswa (p-value=0,001). Mahasiswa indekos (25,9%) mengalami kejadian rawan pangan lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa yang tinggal di rumah orang tua (11,4%). Hal ini didukung oleh perbandingan faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan berdasarkan tempat tinggal. Hasil Mann Whitney menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada alokasi biaya makan (p-value=0,003), pendapatan pribadi (p-value=0,001, dan akses pangan (p-value=0,001).
Food insecurity occurs when the availability of nutritious and safe food or the ability to acquire food becomes limited or uncertain due to economic, social, or physical constraints. As a result, hunger and malnutrition arise at the community, household, and individual levels. Several studies indicate that students pursuing university education often face food insecurity issues, with financial constraints being the primary contributing factor. Among the faculties at the University of Indonesia, Law Faculty students exhibit the lowest nutritional literacy levels, making them more vulnerable to food insecurity. This study examines differences in food insecurity status based on residence and related factors, including meal budget allocation, food sources, food access, personal income, academic year, and gender. The research was using a Google Forms questionnaire from April to May 2025. A cross-sectional study design was employed, with accidental sampling yielding 166 respondents. The findings reveal a significant difference in food insecurity status based on residence (p-value = 0.001). Boarding students (25.9%) experienced higher food insecurity compared to those living with their parents (11.4%). This disparity is further supported by significant differences in related factors based on residence. The Mann-Whitney test indicates notable variations in meal budget allocation (p-value = 0.003), personal income (p-value = 0.001), and food access (p-value = 0.001).
S-11982
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jauza Nawal Hadi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Asih Setiarini, Dian Kusumadewi
Abstrak:
Read More
Kerawanan pangan pada mahasiswa merupakan isu kesehatan masyarakat yang memiliki dampak buruk pada kesehatan dan performa akademik mahasiswa, terutama pada mahasiswa tahun pertama yang sedang mengalami masa transisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fakto-faktor yang berhubungan dengan status kerawanan pangan pada mahasiswa S1 Reguler tahun pertama Rumpun Ilmu Kesehatan dan Non-Kesehatan di Universitas Indonesia tahun 2026. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan pada bulan Mei 2026 menggunakan kuesioner daring dengan teknik convenience sampling. Sebanyak 312 responden dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kerawanan pangan pada tahun pertama sebesar 40,7%. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan signifikan antara status sebagai generasi pertama yang berkuliah (p =0,001), tempat tinggal (p=0,005), jenis kelamin (p=0,015), dan uang saku (p=0,045) dengan status kerawanan pangan. Hasil analisis multivariat menunjukkan mahasiswa yang tinggal secara indekos memiliki risiko 3,074 kali lebih besar untuk mengalami kerawanan pangan dibandingkan mahasiswa yang tinggal dengan orang tua (p= 0,000; 95% CI = 1.738 – 5.437). Oleh karena itu, Universitas Indonesia perlu menginisiasi program berupa hunian mahasiswa adaptif berbasis kemampuan finansial mahasiswa guna memitigasi risiko kerawanan pangan tersebut.
Food insecurity among university students represents a critical public health issue that adversely affects both health outcomes and academic performance, particularly among first-year students navigating transitional life stages. This study aims to determine the factors associated with food insecurity status among first-year regular undergraduate students across the Health and Non-Health Sciences clusters at Universitas Indonesia in 2026. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. Data were collected in May 2026 using an online questionnaire distributed via convenience sampling. A total of 312 valid respondents were analyzed utilizing Chi-square tests and multiple logistic regression. The findings revealed that the prevalence of food insecurity among first-year students was 40.7%. Bivariate analysis indicated significant associations between food insecurity status and being a first-generation college student (p = 0.001), place of residence (p = 0.005), gender (p = 0.015), and monthly allowance (p = 0.045). Furthermore, multivariate analysis demonstrated that students living in off-campus housing faced a 3.074 times higher risk of experiencing food insecurity compared to those residing with their parents (p = 0.000; 95% CI = 1.738 - 5.437). Consequently, Universitas Indonesia needs to initiate adaptive student housing programs tailored to students' financial capacities as a targeted intervention to mitigate the risk of food insecurity.
S-12414
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
