Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diah Vitaloka; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Purnawan Junadi, Wahyu Sulistiadi, Yuliantini, Endang Adriyani
B-1596
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ita Purnama Bulan; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Maryati
Abstrak: Penelitian ini menganalisis waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros Bekasi. Penelitian ini merupakan kualitatif dan kuantitatif, dengan sampel sebanyak 172 lembar resep baik racikan maupun non racikan. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa rata-rata waktu tunggu pelayanan resep sebesar 22 menit untuk resep non racikan sedangkan untuk resep racikan sebesar 41 menit. Faktor penghambat yang mempengaruhi waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros Bekasi adalah SDM yang belum memadai, ketersediaan obat yang masih kurang, sistem komputerisasi yang belum memadai, masa kerja/ pengalaman petugas dan sarana ruang racik yang kurang luas.
Kata kunci: Waktu tunggu, pelayanan resep, farmasi rumah sakit

This study analyzes the waiting time of prescription services in Installation of Pharmacy Awal Bros Hospital, Bekasi. It is a qualitative and quantitative research, with sampel of 172 prescriptions, both concoction and non concontion drugs. This study found that the average waiting time of conconction drugs is 41 minutes, while the non concoction drugs is 22 minutes. The factors affecting those waitng time is insufficient of human resources, lack of drugs provision, inadequate correction of IT system lack of work experience, improper working space for doing concoction drugs.
Keyword : waiting time, prescription service, hospital pharmacy
Read More
S-8663
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayuning Tyas Puspitasari; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Endang Adriyani
B-1312
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Corista Karamina Hanum; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Anwar Hassan, Agus Rahmanto
S-6812
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oki Yancy; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Wachyu Sulistiadi, Wachyu SUlistiadi, Taufik Santoso, Jimmy Agung Pambudi
Abstrak:
Pelayanan farmasi merupakan salah satu pelayanan vital di rumah sakit dan waktu tunggu obat non racikan memengaruhi mutu layanan rumah sakit secara keseluruhan. Di RS Inco Sorowako waktu tunggu telah memenuhi standar minimal 30 menit namun karena RS ini berjarak tempuh 2 jam dari RSUD di Kabupaten Luwu Timur dimana waktu sangat berharga untuk kembali bekerja dan kepuasan pasien terhadap layanan farmasi 79,5%         ( target >90%) sehingga diperlukan perbaikan waktu tunggu dengan target <12 menit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif action research  dengan melihat proses layanan obat non racikan farmasi rawat jalan terhadap 30 pasien, melakukan perbaikan dengan pendekatan Vale Production System (VPS) kemudian mengukur output dan outcome dari perbaikan tersebut. Ditemukan kegiatan bersifat value added sebesar 46,58% dan kegiatan non value added (waste) sebesar 53,42% dengan waktu tunggu rata-rata 17,7 menit. Eliminasi waste  dengan memperbaiki proses cek stok harian, memperbaiki inputan resep dokter tanpa free text, menghilangkan proses menulis kartu stok, mengatur susunan obat berdasarkan kategori slow dan fast moving dan menambah 1 loket kasir di sebelah loket penyerahan obat, sehingga kegiatan bersifat value added sebesar 73,12% dan kegiatan non value added (waste) dieleiminasi menjadi 26,88%, waktu tunggu menjadi 12,1 menit, kepuasan pasien naik menjadi 89%. Penelitian ini menyimpulkan adanya peningkatan mutu layanan setelah dilakukan implementasi perbaikan dengan Vale Production System (VPS).

Pharmacy services are one of the vital services in hospitals and the waiting time for non compounded pharmaceutical drugs affects the overall quality of hospital services. At Inco Sorowako Hospital, the waiting time has met the minimum standard of 30 minutes, but because this hospital is 2 hours away from the Regional Hospital in East Luwu Regency where time is valuable for return to work and patient satisfaction with pharmacy services is 79.5% (target >90%), it is necessary to improve waiting times with a target of < 12 minutes. This study uses a qualitative action research method by looking at the process of outpatient pharmacy non compounded pharmaceutical drug services for 30 patients, making improvements with the Vale Production System (VPS) approach and then measuring the output and outcome of the improvement. It was found that value-added activities amounted to 46.58% and non-value added activities (waste) amounted to 53.42% with an average waiting time of 17.7 minutes. Elimination of waste by improving the daily stock check process, improving the input of prescriptions without free text, eliminating the process of writing stock cards, organizing the arrangement of drugs based on slow and fast moving categories and adding 1 cashier counter next to the drug delivery counter, so that value-added activities increased to 73.12% and non-value-added activities (waste) were eliminated to 26.88%, waiting time became 12.1 minutes, patient satisfaction rose to 89%. This study concludes that there is an increase in service quality after the implementation of improvements with Vale Production System.
Read More
B-2431
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Cahya Paramitha; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Popy Yuniar, Purnawan Junadi, Endang Adriyani, Erni Trisnasari
Abstrak:
Layanan kefarmasian di rumah sakit merupakan suatu sistem kompleks dalam berbagai aspek. Dalam Instalasi Farmasi, efisiensi dan efektivitas layanan akan berpengaruh pada kepuasan dan keselamatan pasien. Penggunaan sistem informasi rumah sakit dapat membantu layanan kefarmasian. Rumah Sakit Permata Serdang menggunakan SIMRS Khanza untuk mendukung layanan kefarmasian rumah sakit dengan mengaplikasikan peresepan dan penginputan bahan medis habis pakai secara digital. Salah satu model yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan SIMRS adalah menggunakan model HOT-Fit yang dikembangkan oleh Yusof et al (2008) yang menempatkan aspek human (manusia), organization (organisasi), technology (teknologi) dan bagaimana ketiga aspek tersebut mempengaruhi manfaat (net benefit) dalam implementasi sebuah sistem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran evaluasi dan implementasi penggunaan SIMRS di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Permata Serdang. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data pada 56 responden. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan SEM-PLS, penggunaan sistem (p=0,000) dan kepuasan pengguna (p=0,031) dari aspek human berhubungan dengan net benefit, kualitas sistem dari aspek technology memiliki hubungan bermakna dengan aspek human, sedangkan aspek organization baik struktur maupun lingkungan organisasi tidak berpengaruh signifikan terhadap net benefit. Saran yang dapat diberikan yaitu dengan mengevaluasi feedback dari user untuk menerapkan format sesuai kebutuhan pengguna, investasi dalam infrastruktur IT, serta pembentukan tim IT

Pharmaceutical services in hospitals constitute a complex system in various aspects. In the Pharmacy Installation, the efficiency and effectiveness of services will affect patient satisfaction and safety. The use of hospital information systems can assist pharmaceutical services. Permata Serdang Hospital uses the Khanza Hospital Management Information System (SIMRS) to support pharmaceutical services by applying digital prescription and inputing disposable medical materials. One model used to evaluate the success of SIMRS is the HOT-Fit model developed by Yusof et al. (2008), which places emphasis on the human, organization, and technology aspects and how these three aspects influence the net benefit in the implementation of a system. The purpose of this study is to understand the evaluation and implementation overview of SIMRS usage in the Pharmacy Installation at Permata Serdang Hospital. This research is a cross-sectional study using a questionnaire as a data collection instrument on 56 respondents. Based on data analysis using SEM-PLS, system usage (p=0.000) and user satisfaction (p=0.031) from the human aspect are related to net benefit; system quality from the technology aspect has a significant relationship with the human aspect, whereas the organization aspect, both structure and organizational environment, does not have a significant effect on net benefit.Recommendations include evaluating user feedback to implement formats according to user needs, investing in system quality in internet networks, software, and hardware supporting SIMRS, and forming the IT team.
Read More
B-2535
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lili Susanti; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Acim Heri Iswanto, Vica Claudia Budiono
Abstrak:
Proses distribusi obat ke rawat inap merupakan salah satu proses kritis dalam pelayanan rumah sakit yang berpengaruh terhadap kesinambungan terapi dan mutu pelayanan pasien. Di RSIA Bina Medika, proses distribusi obat pasien baru rawat inap masih menghadapi permasalahan berupa panjangnya lead time pelayanan yang disebabkan oleh dominasi aktivitas non value-added, khususnya aktivitas menunggu dan koordinasi lintas unit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan meningkatkan efektivitas waktu distribusi obat ke rawat inap menggunakan pendekatan Lean Six Sigma. Penelitian ini menggunakan desain before–after study dengan kerangka kerja DMAIC (Define, Measure, Analyse, Improve, Control). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan pencatatan waktu proses pada sistem informasi rumah sakit (SIMRS) terhadap 25 resep pasien baru rawat inap sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data meliputi Value Stream Mapping, analisis Pareto, analisis akar masalah menggunakan metode 5 Whys, serta uji statistik non-parametrik Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi pre-intervensi, aktivitas non value-added mencapai 82,65% dari total waktu proses, dengan pemborosan utama berasal dari aktivitas menunggu perawat ke farmasi dan menunggu verifikasi resep. Rata-rata lead time distribusi obat sebelum intervensi masih tinggi dengan variasi waktu proses yang besar. Setelah dilakukan intervensi berupa penataan ulang alur kerja, perbaikan pembagian tugas tenaga kesehatan, serta penerapan standar operasional prosedur distribusi obat berbasis SIMRS, terjadi penurunan lead time distribusi obat yang bermakna secara statistik (p < 0,05). Penurunan signifikan terutama terjadi pada aktivitas non value-added utama, termasuk menunggu perawat ke farmasi, konfirmasi resep ke dokter, dan aktivitas komunikasi manual, sementara aktivitas value-added tetap stabil. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Lean Six Sigma efektif dalam meningkatkan efisiensi proses distribusi obat ke rawat inap  sehingga dapat dijadikan pendekatan strategis dalam upaya peningkatan mutu pelayanan farmasi rumah sakit secara berkelanjutan.

The inpatient medication distribution process is a critical component of hospital services that affects the continuity of therapy and overall quality of care. At RSIA Bina Medika, the distribution process for newly admitted inpatients experienced prolonged lead times due to the dominance of non–value-added activities, particularly waiting and cross-unit coordination. This study aimed to analyze and improve the effectiveness of inpatient medication distribution time using the Lean Six Sigma approach. A before–after study design was applied using the DMAIC (Define, Measure, Analyse, Improve, Control) framework. Process time data were collected through direct observation and hospital information system (SIMRS) records from 25 newly admitted inpatient prescriptions before and after the intervention. Data analysis included Value Stream Mapping, Pareto analysis, root cause analysis using the 5 Whys method, and non-parametric statistical testing using the Mann–Whitney U test. The results showed that prior to intervention, non–value-added activities accounted for 82.65% of the total process time, with the main sources of waste being waiting for nurses to collect medications and waiting for prescription verification. The average medication distribution lead time before intervention was relatively high with considerable process variation. Following interventions involving workflow restructuring, improved task allocation among healthcare staff, and the implementation of a SIMRS-based standard operating procedure for medication distribution, a statistically significant reduction in lead time was observed (p < 0.05). Significant reductions were primarily observed in major non–value-added activities, including waiting for nurses, prescription clarification, and manual communication, while value-added activities remained stable. This study concludes that the application of Lean Six Sigma effectively improves the efficiency of inpatient medication distribution and can serve as a sustainable quality improvement strategy for hospital pharmacy services. Keywords: Lean Six Sigma, medication distribution, inpatient, lead time, hospital pharmacy
Read More
B-2594
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Niken Larasati; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Taufik Santoso, Maria Immaculata Windarti
Abstrak:
Kekosongan obat di Instalasi Farmasi Charitas Hospital Palembang mengganggu operasional pelayanan dan mengancam keselamatan pasien, dengan kejadian penundaan resep mencapai 1,16% di Farmasi Rawat Jalan dan sekitar 50% pasien tidak kembali mengambil obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak implementasi Lean Six Sigma terhadap penurunan kejadian kekosongan obat dan mempertahankan nilai Inventory Turn Over Ratio (ITOR). Desain penelitian menggunakan action research dengan membandingkan periode sebelum implementasi (Januari–April 2026) dan sesudah implementasi (Mei 2026), menerapkan metodologi Lean Six Sigma melalui tahapan Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control (DMAIC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Farmasi Rawat Inap berhasil mempertahankan persentase penundaan resep di bawah 0,1% (0,07% pada Mei 2026) dengan nilai ITOR stabil di 1,85, sementara Farmasi Rawat Jalan mengalami peningkatan penundaan menjadi 1,16% dengan nilai ITOR terkoreksi ke 1,62. Tiga solusi perbaikan yang diimplementasikan adalah formulasi perencanaan berbasis Excel dengan perhitungan safety stock dan reorder point, edukasi budaya kerja anti-double click, dan upgrade spesifikasi komputer. Kesimpulannya, intervensi jangka pendek yang diterapkan belum optimal mengatasi masalah kekosongan obat di Farmasi Rawat Jalan yang memiliki permintaan dinamis, namun berhasil menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya modal kerja dan ketersediaan obat untuk pelayanan pasien. Penelitian ini merekomendasikan kustomisasi sistem informasi farmasi (SIRS) secara permanen, integrasi dasbor pengadaan, dan penguatan hubungan vendor melalui Service Level Agreement (SLA) untuk mencapai perbaikan berkelanjutan.

Drug stock-out at Charitas Hospital Palembang's Pharmacy Department disrupts service operations and threatens patient safety, with prescription delay incidents reaching 1.16% in Outpatient Pharmacy and approximately 50% of patients not returning to purchase medications. This research aims to analyze the impact of Lean Six Sigma implementation on reducing drug stock-out incidents and maintaining Inventory Turn Over Ratio (ITOR) values. The study employs an action research design comparing pre-implementation (January–April 2026) and post-implementation (May 2026) periods, applying Lean Six Sigma methodology through Define, Measure, Analyze, Improve, and Control (DMAIC) phases. Results showed that Inpatient Pharmacy successfully maintained prescription delay rates below 0.1% (0.07% in May 2026) with stable ITOR at 1.85, while Outpatient Pharmacy experienced increased delays to 1.16% with ITOR corrected to 1.62. Three improvement solutions implemented were Excel-based planning formulation incorporating safety stock and reorder point calculations, anti-double click work culture education, and computer specification upgrades. In conclusion, short-term interventions proved suboptimal for addressing drug stock-out in Outpatient Pharmacy with highly dynamic demand, but successfully maintained balance between working capital efficiency and drug availability for patient care. This research recommends permanent pharmacy information system (SIRS) customization, integrated procurement dashboard implementation, and strengthened vendor relationships through Service Level Agreements (SLA) to achieve sustainable improvements.
Read More
B-2607
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive