Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hendarko Daris; Pembimbing: Indri HapsariSusilowati; Penguji: Chandra Satrya, Dadan Erwandi, Heru Swidatmiko, Akhmad Nurulhuda
Abstrak: HFACS ( Human Factor Analysis and Classification System ) adalah pendekatan yang telah banyak di gunakan dalam melakukan investigasi kecelakaan untuk mengetahui kelemahan dalam suatu organisasi. HFACS ini terdiri dari empat lapisan yaitu unsafe act, precondition to unsafe act, unsafe supervision dan organizational influence. Kecelakaan dapat di cegah dengan menutup lubang pada lapisan pertahanan. Prinsip HFACS ini implementasikan untuk mengidentifikasi faktor yang menjadi kelemahan pada perilaku mengemudi yang tidak aman tahun 2020 di PT. X, sebuah perusahaan minyak di wilayah Indonesia. Hasil penelitian mendapatkan bahwa pengemudi yang melakukan perilaku tidak aman merupakan pengemudi dengan

HFACS (Human Factor Analysis and Classification System) is an approach that has been widely used in investigating accidents to find out weaknesses in an organization. This HFACS consists of four layers, namely unsafe act, precondition to unsafe act, unsafe supervision and organizational influence. Accidents can be prevented by closing holes at each defense layer. The HFACS principle is  implemented to identify factors that contribute at unsafe driving behavior at PT. X, an oil company in Indonesia. Based on research finding, drivers who commit unsafe behavior are drivers with age 44 - 55 years (77.7%), experience over 16 years (63.1%), carried out on public roads (80.6%), on the afternoon shift (81, 6%), with a position as a team member (64.1%) and in the northern part of the company (56.3%). Weaknesses at the unsafe act level are decision errors (58.3%) ie not consistently applying risk assessment and not implementing safe work procedures. Weakness at level 2 is adverse mental state (52.4%), namely lack of focus in driving. Weakness at level 3 is inadequate supervision (65%) lack of consistent level of supervision to conduct safety supervision. Weakness at level 4 is the lack of consistency in the implementation of operational processes (62.1%), namely the implementation of risk assessment in an organization
Read More
T-5876
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdulah Anshor; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Andhini Indah Noviari
Abstrak: Skripsi ini membahas mengenai Human Reliability Assessment (HRA) pada proses pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) pada Proyek Stasiun LRT PT X menggunakan metode Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) dengan tujuan untuk mengetahui Human Error Probability (HEP) yang terdapat dalam proses pekerjaan pengeboran di pembangunan JPO. Penelitian ini adalah penelitian semikuantitatif dengan desain studi deskriptif yang dilakukan dengan observasi langsung proses pekerjaan pengeboran oleh 90 orang pekerja tukang bangunan di Stasiun LRT Bekasi Barat, Ciracas, dan Harjamukti.
Read More
S-10595
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Apriastuti Puspitasari; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Robiana Modjo, Edo Irnanda
S-6792
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Silmi Alya Mahmud; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Muhammad Rohman Al Hasan
Abstrak:
PT X telah menerapkan teknologi Mobile Digital Video Recorder (MDVR) untuk memantau aktivitas pada kabin pengemudi secara real-time. Namun, penerapan MDVR di PT X masih belum optimal karena masih ditemukan banyak kendala. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi sejauh mana faktor manusia, sistem, teknologi, maupun lingkungan menjadi penghambat penerapan teknologi sistem MDVR menggunakan metode Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) sehingga dapat merekomendasikan langkah evaluasi yang berkaitan sistem MDVR. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif evaluatif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara terstruktur kepada pihak manajemen, pengawas, dan operator kendaraan. Data sekunder didukung oleh rekapitulasi 134 data kecelakaan tahun 2025, analisis log alarm MDVR triwulan 4 tahun 2025, serta peninjauan dokumen draf regulasi internal perusahaan. Analisis dengan metode HFACS menunjukkan bahwa faktor laten pada tingkat Prakondisi Tindakan Tidak Aman (Preconditions for Unsafe Acts) menjadi kontributor penyebab insiden paling dominan (48%). Sistem MDVR sebagai barrier pencegahan kecelakaan belum berfungsi secara optimal akibat kendala teknis akurasi sensor (false alarm) yang tinggi serta lemahnya interaksi faktor manusia terhadap adanya perubahan teknologi yang diterapkan sehingga PT X disarankan untuk melakukan kalibrasi ulang threshold alarm, mengintegrasikan teknologi wearable sebagai validasi objektif kesiapan kerja, meningkatkan pemeliharaan fisik kabin kendaraan, serta menyusun Tata Cara Kerja MDVR yang terstandardisasi dan melibatkan pendekatan partisipatif dari seluruh mitra kerja.

PT X has implemented Mobile Digital Video Recorder (MDVR) technology to monitor activities in the driver’s cabin in real time. However, the implementation of MDVR at PT X remains suboptimal due to several challenges. This study aims to analyze the effectiveness of using MDVR as a system designed to prevent accidents involving heavy equipment at a coal mining company in South Sumatra during the implementation of the MDVR system using the Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) method, so that recommendations can be made for evaluating the MDVR system. This study employs a case study design with a descriptive-evaluative qualitative approach. Primary data collection was conducted through structured interviews with management, supervisors, and vehicle operators. Secondary data was supported by a compilation of 134 accident records from 2025, an analysis of MDVR alarm logs from the fourth quarter of 2025, and a review of draft internal company regulations. Analysis indicates that latent factors at the “Preconditions for Unsafe Acts” level were the most dominant contributors to the incidents (48%). The MDVR system, as an accident prevention barrier, has not functioned optimally due to technical constraints such as high sensor accuracy issues (false alarms) and weak human adaptation to implemented technological changes; therefore, PT X is advised to recalibrate alarm thresholds, integrate wearable technology as an objective validation of work readiness, improve physical maintenance of vehicle cabins, and develop standardized MDVR operating procedures that incorporate a participatory approach involving all stakeholders.
Read More
S-12280
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chyntia Ayu Andarini; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Abdul Kadir, Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko, Septyani Prihatiningsih
Abstrak:
Human error pada proses penyortiran parsel manual merupakan kontributor signifikan terhadap kejadian misroute dalam operasional logistik, yang secara langsung memengaruhi efisiensi operasional dan kualitas layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keandalan manusia (human reliability) pada proses penyortiran manual di PT. XYZ menggunakan metode Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) yang diintegrasikan dengan model SHELL. Penelitian observasional dengan desain studi sebelum dan sesudah (before–after study) serta analisis komparatif pada dua kondisi: sebelum perbaikan proses manual sorting (18 sub-tugas, tanpa pemindaian wajib) dan sesudah perbaikan proses manual sorting (23 sub-tugas, dengan pemindaian wajib). Metodologi mencakup Hierarchical Task Analysis (HTA), identifikasi Error Producing Conditions (EPC) berbasis SHELL, klasifikasi Generic Task Type (GTT), penilaian Assessed Proportion of Effect (APOE) melalui Focus Group Discussion Subject Matter Expert yang melibatkan empat ahli, perhitungan Assessed Effect (AE), dan perhitungan Human Error Probability (HEP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata HEP menurun dari 0,142 menjadi 0,044 (penurunan sebesar 69,1%), sementara HEP tertinggi menurun dari 0,72 menjadi 0,160 (penurunan sebesar 77,8%). Misroute terkait penyortiran yang disebabkan oleh human error menurun dari 761 kasus (53,4%) menjadi 330 kasus (19,6%), atau turun sebesar 56,6%. Namun di sisi lain, proporsi misroute yang disebabkan oleh faktor sistem justru meningkat, yang mengindikasikan bahwa faktor kontributor bergeser dari human error menuju kesalahan sistem; sehingga peningkatan keandalan sistem tetap diperlukan untuk menjaga kinerja operasional secara keseluruhan. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan proses manual sorting, termasuk penerapan pemindaian wajib, secara substansial meningkatkan keandalan manusia, sekaligus menegaskan perlunya penguatan keandalan sistem secara berkelanjutan. Integrasi metode HEART dengan model SHELL terbukti efektif dalam mengidentifikasi faktor kontributor sistemik dan mengukur probabilitas human error, sehingga menjadi dasar dalam merancang intervensi pengurangan error yang tepat sasaran.

Human error in manual parcel sorting is a significant contributor to misrouting in logistics operations, directly affecting operational efficiency and service quality. This study aims to assess human reliability in the manual sorting process at PT. XYZ using the Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) integrated with the SHELL model. The research employed an observational before-after study design across two conditions: before the manual sorting process improvement (18 sub-tasks, without mandatory scanning) and after the manual sorting process improvement (23 sub-tasks, with mandatory scanning). The methodology comprised Hierarchical Task Analysis (HTA), SHELL-based Error Producing Conditions (EPC) identification, Generic Task Type (GTT) classification, fuzzy Assessed Proportion of Effect (APOE) scoring through a Subject Matter Expert Focus Group Discussion involving four experts, Assessed Effect (AE) computation, and Human Error Probability (HEP) calculation. The results showed that the mean HEP decreased from 0.142 to 0.044 (a reduction of 69.1%), while the highest HEP declined from 0.72 to 0.160 (a reduction of 77.8%). Sorting-related misrouting attributable to human error fell from 761 cases (53.4%) to 330 cases (19.6%), a reduction of 56.6%. Nevertheless, the proportion of misrouting attributable to system-related causes increased, indicating that the contributing factors shifted from human error toward system failures; thus, improving system reliability remains necessary to sustain overall operational performance. These findings indicate that the manual sorting process improvement, including the implementation of mandatory scanning, substantially enhanced human reliability, while underscoring the continued need to strengthen system reliability. The integration of the HEART method with the SHELL model proved effective in identifying systemic contributing factors and quantifying human error probability, providing a basis for designing targeted error-reduction interventions.
Read More
T-7675
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Eka Praktiwi; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, I Made Sudarta, Estu prayogi
T-4038
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyah Listiyaningsih; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ellen Happy Forever, Dadan Erwandi
S-6722
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Kusumawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Ridwan Zahdi Syaaf, Fajar Seno Jati, Doni Agus Sumitro
Abstrak:
Pendahuluan: Di dalam industri hulu migas, cedera tangan dan jari merupakan tantangan besar. Setidaknya 50% dari kasus cedera di dalam industri migas merupakan cedera tangan dan jari. Di beberapa perusahaan, proporsi tersebut dapat menjadi lebih besar. Dalam analisis yang pernah dilakukan terhadap kecelakaan di perusahaan anggota IOGP, lebih dari delapan puluh persen diakibatkan karena factor manusia, baik yang disebabkan oleh faktor pribadi ataupun faktor organisasi. Studi ini dilakukan untuk menganalisis factor manusia di dalam kasus cedera tangan dan jari yang teradi di PT. X sepanjang tahun 2014 hingga 2020 dengan menggunakan kerangka HFACS. Metode: Penelitian dengan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan data sekunder berupa data kasus cedera tangan dan jari di PT. X dari tahun 2014 hingga 2020. Hasil: Cedera tangan dan jari paling banyak disebabkan oleh skill-based errors dan routine violations. Kasus cedera yang diakibatkan skilled-based errors juga diperparah oleh pelanggaran aturan yang dilakukan bersama secara terus menerus (routine violations). Kondisi yang menjadi prekondisi dari tindakan tidak aman yang berkontribusi dalam cedera tangan dan jari paling banyak terkait crew/ resource management. berbagai faktor yang termasuk ke dalam kategori ini di antara lain komunikasi, koordinasi, perencanaan dan kerja tim yang mempengaruhi kinerja. Pengawasan yang tidak aman yang paling banyak terjadi adalah failed to correct known problems dan inadequate supervision. Inadequate supervision terkait dengan pengelolaan personil dan sumber daya termasuk pelatihan, panduan professional dan kepemimpinan operasional. Sedangkan failed to correct known problems terkait dengan kekurangan pada individu, peralatan, pelatihan atau area keselamatan lain “diketahui” oleh supervisor, namun dibiarkan tidak dikoreksi. Di level 4, pengaruh organisasi yang terbesar adalah Organisational Process. Organisational process adalah proses formal di mana visi sebuah organisasi dijalankan termasuk operasi, prosedur, dan kesalahan di antaranya. Kesimpulan: Gambaran HFACS pada kasus cedera tangan dan jari di PT. X sejalan dengan gambaran umum HFACS yang ada dalam industri hulu migas, kecuali di level 2 yakni preconditions for unsafe acts. Sistem pembelajaran kejadian di PT. X masih dipengaruhi oleh teori domino dan belum mengintegrasikan konsep faktor manusia secara menyeluruh. Kerangka HFACS dapat membantu PT. X dalam menelaah lebih dalam defisiensi di dalam faktor manusia untuk dapat menetapkan tindakan perbaikan yang lebih tepat.
Introduction: Hand and finger injuries have always been major challenges in upstream oil and gas industry. At least 50% of injuries in upstream oil and gas impacting hand and fingers. In some companies, the proportion could be larger. More than 80% of incidents in IOGP members were caused by human factors, both personal and organizational factors. This study aims to analyze human factors in hand and finger injuries at PT. X by using HFACS framework. Methodology: The study was conducted by applying qualitative descriptive analysis by using secondary data, investigation report of hand and finger injures from 2014 to 2020. Results: Skill-based errors and routine violations contributed in most of hand and finger injuries in PT.X. Routine violations were found as aggravating factors in skill-based errors injuries/ crew resource management were dominating level 2, preconditions for unsafe acts, it consists of coordination, communication, planning and team work that impacting performance. Unsafe supervision that occurred the most are inadequate supervision and failed to correct known problems. Inadequate supervision related to personnel and resources management including trainings, professional guidance and operational leadership. Failed to correct known problems related to deficiencies in individual, equipment, training or the safety area “known” to supervisor but left uncorrected. In level 4, Organizational process was the weak chain of organizational influences. Organizational process is a formal process where organization’s vision is implemented on Site, including operations, procedures. Conclusion: HFACS of hand and finger injuries in PT. X is in line with general HFACS description in upstream oil and gas industry, except for level 2, pre-conditions for unsafe acts. Learning from incident system in PT. X was still highly influenced by domino theory and has not yet integrated human factors. HFACS framework can help PT. X to dig deeper in human factors deficiencies in organization so PT. X can define more effective mitigation & preventive measures.
 
Read More
T-6942
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulik Ambarwati; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Abdul Kadir, Setya Budi
Abstrak:
PT. X merupakan perusahaan penyebrangan dan pelabuhan besar yang melayani lebih dari 300 lintasan di Indonesia. Meskipun PT. X telah mengembangkan prosedur keselamatan evakuasi keadaan darurat di kapal, risiko terjadinya human error masih belum dapat sepenuhnya dicegah dan dikendalikan. Penelitian ini membahas mengenai Human Reliability Assessment dengan tujuan untuk mengetahui, menganalisis, dan mengkuantifikasikan kemungkinan human error pada Prosedur Penanganan Keadaan Darurat: Meninggalkan Kapal di PT. X dengan menggunakan model Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) dan didukung teori Generic Error Modelling System (GEMS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sub tugas 4.5 “terapung dengan posisi telentang” merukapan tugas dengan nilai HEP tertinggi dengan nilai sebesar 2,2E-01. Selain itu, Sub tugas 3.1 “menurunkan life boat” (1,27E-02), 3.3 “menyiapkan life raft yang terapung ke sisi lambung kapal” (1,75E-02) dan 5.2 “mendayung life raft menjauh dari sisi kapal” ditemukan sebagai 3 tugas yang sepenuhnya dikerjakan oleh ABK dengan nilai HEP tertinggi. Beberapa jenis kesalahan manusia yang mungkin terjadi ditemukan pada pelaksanaan Prosedur Penanganan Keadaan Darurat: Meninggalkan Kapal di PT. X yaitu lapse (32%), slip (29%), knowledge-based mistake (20%), ruled-based mistake (10%), situational violation (5%), routine violation (2%), dan optimising violation (2%). Pencegahan dan pengendalian kesalahan manusia disarankan untuk dilakukan dengan memerhatikan nominal HEP tertinggi serta jenis-jenis human error yang ditemukan dalam penelitian ini

PT. X is a large ferry and port company that serves more than 300 routes in Indonesia. Although PT. X has developed emergency evacuation safety procedures on board, the risk of human error still cannot be completely eliminated and controlled. This study discusses Human Reliability Assessment with the aim of knowing, analyzing, and quantifying the possibility of human error in the Emergency Handling Procedure: Abandoning Ship at PT. X using the Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) model and supported by the Generic Error Modeling System (GEMS) theory. The results of the study indicate that sub-task 4.5 "floating in a supine position" is the task with the highest HEP value of 2.2E-01. In addition, Sub-task 3.1 "lowering the life boat" (1.27E-02), 3.3 "preparing the floating life raft to the side of the ship's hull" (1.75E-02), and 5.2 “rowing the life raft away from the side of the ship” are 3 tasks that are completely carried out by the crew with the highest HEP value. Several types of human errors were found that may occur in the implementation of Emergency Handling Procedures: Abandoning Ship at PT. X are lapse (32%), slip (29%), knowledge-based mistake (20%), ruled-based mistake (10%), situational violation (5%), routine violation (2%), and optimizing violation (2%). Prevention and control of human errors are recommended to be carried out with careful attention to the highest HEP nominal and the types of human errors found in this study.
Read More
S-11949
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive