Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
S-9008
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hingis Saputri Arinda; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Endang Lukitosari
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gangguan mental emosional terhadap ketidakpatuhan minum OAT pada penderita tuberkulosis paru usia 15 tahun di Indonesia. Dalam penelitian ini digunakan data Riskesdas 2018 dengan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 1.340 responden sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penderita tuberkulosis paru usia 15 tahun sebesar 24,1%.
Read More
S-10598
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Immi Rizky Budiyani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Syahrizal Syarif, Endang Suharjanti
S-7819
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Novianti; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Permanasari, Vetty Yulianti, Sinom Priyanti
S-8963
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Dhermawan Sitanggang; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli, Nuraliyah
Abstrak: IntroduksiPenemuan obat antiretroviral (ARV) secara dramatis menurunkan angka kesakitandan kematian ODHA. Namun, kepatuhan terhadap terapi ARV merupakantantangan tersendiri mengingat terapi ini harus dijalani seumur hidup. Kepatuhanterhadap terapi ARV merupakan salah faktor yang menentukan keberhasilanpengobatan. Ketidakpatuhan terhadap terapi ARV di Indonesia masih tinggi, yaituberkisar diantara 23-55%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh ketidakpatuhan berobat terhadap kesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS.MetodePenelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif di RSPI Prof. Dr. SuliantiSaroso tahun 2010-2012.HasilProbabilitas survival kumulatif pasien HIV/AIDS di RSPI Prof dr. Sulianti Sarosopada tahun kedua (bulan ke-24) adalah 95,6% dan tahun ketiga (bulan ke-36)adalah 91%. Hasil analisis multivariat dengan regresi cox menunjukkan bahwakesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS dipengaruhi ketidakpatuhan minum obat,setelah dikontrol variabel CD4 awal (aHR = 7,608 ; 95%CI : 1,664-34,790) danketidakpatuhan janji ambil obat, setelah dikontrol variabel infeksi oportunistik,umur dan CD4 awal. (aHR = 2,456 ; 95%CI : 0,802-7,518). Pada pasien yangtidak patuh minum obat, ketidakpatuhan janji ambil obat berpengaruh terhadapkesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS, setelah dikontrol variabel CD4 awal, jeniskelamin, PPK, faktor risiko penularan, stadium klinis awal, infeksi oportunistik,dan umur (aHR = 4,517 ; 95%CI : 0,729-27,987).PembahasanKetidakpatuhan minum obat dapat menyebabkan kegagalan terhadap penekananreplikasi virus HIV, sehingga meningkatkan kemungkinan bermutasinya virusHIV yang dapat menyebabkan resisten terhadap obat dan akhirnya dapatmeningkatkan risiko kematian. Ketidakpatuhan terhadap janji ambil obat pada 1tahun pertama juga diasumsikan juga akan menunjukkan ketidakpatuhan terhadapjanji ambil obat selanjutnya dan menunjukkan ketidakpatuhan minum obat,sehingga meningkatkan risiko kematian.SaranMemonitoring cakupan kepatuhan minum obat pasien HIV/AIDS secara berkalasebagai kewaspadaan dini terhadap risiko kematian pasien HIV/AIDS.Kata Kunci : ketidakpatuhan minum obat, ketidakpatuhan janji ambil obat,kohort retrospektif
IntroductionDramatically, Anti-Retroviral drug Therapy (ART) has reduced morbidity andmortality of People Living with HIV/AIDS (PLWHA). However, adherence toantiretroviral therapy has become a challenge because this therapy must beendured for a lifetime. Adherence to antiretroviral therapy is one of the factorsthat determine the success of treatment. Poor adherence to ARV therapy inIndonesia is arround 23-55%. The objective of this study was to determine theinfluence of medication non-adherence to the 3-years survival of patients withHIV/AIDS.MethodsThis study used a retrospective cohort design at RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso in2010-2012.ResultsThe cumulative survival probability of patients with HIV/AIDS at RSPI Prof. dr.Sulianti Saroso in the second year (24th month) was 95.6% and the third year (inthe 36th) was 91%. Multivariate analysis with Cox regression showed the factorsthat affected the 3-years survival of patients with HIV/AIDS are non-adherence toART, after controlled by initial CD4 count (aHR = 7.608; 95% CI: 1.664 to34.790), and non-compliance appointments, after controlled by opportunisticinfection, age and initial CD4 count (aHR = 2.456; 95% CI: 0.802 to 7.518).Among patient non-adherence to ART, non-compliance appointments affected the3-years survival of patients with HIV/AIDS, after controlled by initial CD4 count,sex, CPT, modes of HIV transmission, WHO clinical stage, opportunisticinfection, and age (aHR = 4.517 ; 95%CI : 0.729-27.987).DiscussionsNonadherence to ART may caused a failure of the suppression on HIV viral, thusincrease the possibility of HIV virus mutations that can lead to drug-resistant andultimately increase the risk of death. Poor adherence to appointments of takingdrugs in the first year also assumed the poor adherence of the next assignment totake drugs in the further, and show disobedience to ART, so it will increase therisk of death.RecomendationMonitoring coverage of medication adherence of patients with HIV/AIDS in aregular basis as the early warning on the risk of death among patients withHIV/AIDS.Keyword : non-adherence to ART, appointment keeping, retrospective cohort
Read More
T-4545
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wina Adelia Putri; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Zakiah
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu beban kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia dan pemicu utama penyakit kardiovaskular. Keberhasilan pengendalian kondisi hipertensi sangat bergantung pada kepatuhan pasien. Berdasarkan data SKI 2023, ketidakpatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi masalah signifikan di Indonesia. Metode: Menggunakan data sekunder dari SKI 2023 dengan desain studi cross sectional. Sampel adalah responden berusia ≥18 tahun dengan diagnosis hipertensi. Responden dengan data tidak lengkap dan wanita hamil diesklusi sehingga menghasilkan sampel akhir sebanyak 49.026 responden. Analisis data menggunakan regresi logistik multinomial. Hasil: Seluruh variabel independen yang diuji (pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, wilayah geografis, komorbiditas, waktu sejak diagnosis, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, perilaku penggunaan obat tradisional, konsumsi alkohol, akses fasilitas kesehatan, kepemilikan asuransi, dan dukungan informasi) berhubungan signifikan dengan ketidakpatuhan. Persentase ketidakpatuhan adalah sebesar 53,5%, yaitu 36,7% (95% CI:  35,9-37,4) responden tidak rutin dan 16,8% (95% CI: 16,2-17,4) tidak minum obat. AOR tertinggi ditemukan pada responden yang tidak mendapatkan dukungan informasi, baik pada kategori tidak rutin (AOR 3,76; 95% CI 3,59-3,95; p<0,001) dan pada kategori tidak minum obat (AOR 8,63; 95% CI: 8,12-9,19; p<0,001). Kesimpulan: Ketidakpatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Diperlukan intervensi berbasis komunitas, peningkatan edukasi, dan perbaikan akses kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. 
Background: Hypertension is one of the largest public health burdens in Indonesia and a major trigger for cardiovascular disease. The success of controlling hypertension is highly dependent on patient compliance. Based on SKI 2023 data, non-compliance with taking antihypertensive drugs is still a significant problem in Indonesia. Methods: Using secondary data from SKI 2023 with a cross-sectional study design. The sample was respondents aged ≥18 years with a diagnosis of hypertension. Respondents with incomplete data and pregnant women were excluded, resulting in a final sample of 49,026 respondents. Data analysis used multinomial logistic regression. Results: All independent variables tested (education, occupation, economic status, geographic region, comorbidities, time since diagnosis, age, gender, place of residence, traditional medicine use behavior, alcohol consumption, access to health facilities, insurance ownership, and information support) were significantly associated with non-compliance. The percentage of non-compliance was 53.5%, specifically 36.7% (95% CI: 35.9-37.4) of respondents did not follow the routine, and 16.8% (95% CI: 16.2-17.4) did not take their medication. The highest AOR was found in respondents who did not receive information support, both in the non-routine category (AOR 3.76; 95% CI 3.59-3.95; p<0.001) and in the category of not taking medication (AOR 8.63; 95% CI: 8.12-9.19; p<0.001). Conclusion: Non-compliance with taking antihypertensive medication is still a major challenge in Indonesia. Community-based interventions, increased education, and improved access to health are needed to improve treatment adherence.
Read More
S-11968
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dessi Marantika Nilam Sari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal, Helwiah Umniyati, Suyono
Abstrak:
Kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan menjadi faktor risiko munculnya jenis HIV yang resisten terhadap obat, yang dapat ditularkan kepada orang lain. Kepatuhan terhadap pengobatan yang buruk tidak hanya membahayakan kesehatan individu tetapi juga meningkatkan penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ketidakpatuhan minum obat ARV pada ODHIV yang mendapatkan terapi ARV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di poli HIV Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dan waktu penelitian dilakukan pada bulan November 2023 menggunakan data sekunder. Populasi penelitian berjumlah 1.337 ODHIV yang aktif menjalani pengobatan antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dengan menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi sehingga sampel penelitian berjumlah 1.286 ODHIV. Hasil analisis univariat menunjukan bahwa usia ≥ 35 tahun (56,45), laki-laki (61,20%), pendidikan rendah (87,10%), belum kawin atau cerai (51,92%), domisili dalam kabupaten Tangerang (55,88%), mendapatkan konseling kepatuhan (63,73%), memiliki jaminan kesehatan (51,92%), ≥5km akses layanan kesehatan (54,07%), IO non TB (40,90%), stadium lanjut (63,69%), viral load ≥40 mL (46,73%), tidak ada efek samping obat (53,34%), lamanya pengobatan >5 tahun (72,01%), masuk kedalam populasi kunci (88,01%) dan tidak mendapat dukungan (61,12%). Hasil analisis kai kuadrat secara statistik ada hubungan antara umur, jenis kelamin, status pendidikan, status perkawinan, domisili, pelayanan konseling kepatuhan, stadium klinis WHO, viral load, lamanya pengobatan ARV, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya (P-Value<0,05) dengan ketidakpatuhan minum obat ARV. Hasil analisis cox regression dengan faktor yang secara statistik berhubungan terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral pada ODHIV adalah umur (P-Value=0,01) nilai PR 1,20 dengan 95% CI (1,05-1,38), status perkawinan (P-Value=0,02) nilai PR 1,18 dengan 95% CI (1,03-1,36), domisili (P-Value=0,01) nilai PR 1,19 dengan 95% CI (1,04-1,36), viral load (P-Value=0,001) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,10-1,43), lamanya pengobatan ARV (P-Value=0,005) nilai PR 1,25 dengan 95% CI (1,07-1,47), kelompok populasi kunci (P-Value=0,02) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,04-1,56), dukungan teman sebaya (P-Value=0,04) nilai PR 1,15 dengan 95% CI (1,00-1,32). Faktor umur, status perkawinan, domisili, viral load, lamanya pengobatan, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya memiliki pengaruh terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral (ARV) pada ODHIV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang.

Lack of treatment adherence becomes a risk factor for the emergence of drug-resistant strains of HIV, which can be transmitted to others. Poor adherence to treatment harms the individual’s health and increases the risk of transmission. This study aims to observe the factors associated with the occurrence of non-adherence to taking ARV drugs in PLHIV who receive ARV therapy at the Regional General Hospital of Tangerang Regency. This type of study uses observational research with a cross-sectional design. The study was conducted at the HIV Specialist of the Regional Govern Hospital of Tangerang Regency and the time of the study was carried out in November 2023 using secondary data. The study population amounted to 1,337 PLHIV who were actively undergoing antiretroviral treatment at the Regional General Hospital of Tangerang Regency using total sampling by inclusion and exclusion criteria so that the study sample amounted to 1,286 PLHIV. The results of the univariate analysis showed that the age of ≥ 35 years (56.45), male (61.20%), low education (87.10%), unmarried or divorced (51.92%), domiciled in Tangerang district (55.88%), received compliance counselling (63.73%), had health insurance (51.92%), ≥5km of health service access area (54.07%), non-TB IO (40.90%), advanced stage (63.69%), viral load ≥40 mL (46.73%), no drug side effects (53.34%), duration of treatment ≥5 years (72.01%), entered into key populations (88.01%) and received no support (61.12%). The results of the kai squared analysis statistically showed there was an association between age, sex, educational status, marital status, domicile, adherence to counselling services, WHO clinical stage, viral load, duration of ARV treatment, key population groups and peer support (P-Value<0.05) with non-adherence to taking ARV drugs. The results of Cox Regression analysis with factors statistically related to non-adherence to taking antiretroviral drugs in ODHIV were age (P-Value = 0.01), PR value 1.20 with 95% CI (1.05-1.38), marital status (P-Value = 0.02), PR value 1.18 with 95% CI (1.03-1.36), domicile (P-Value = 0.01), PR value 1.19 with 95% CI (1.04-1.36), viral load (P-Value = 0.001), PR value 1.27 with 95% CI (1.10-1.43), duration of ARV treatment (P-Value = 0.005), PR value 1.25 with 95% CI (1.07-1.47), key population group (P-Value = 0.02), PR value 1.27 with 95% CI (1.04-1.56), peer support (P-Value = 0.04), PR value 1.15 with 95% CI (1.00-1.32). Factors such as age, marital status, domicile, viral load, duration of treatment, key population groups and peer support have an influence on non-adherence to taking antiretroviral drugs (ARV) in PLHIV at the Regional General Hospital of Tangerang Regency.
Read More
T-6876
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Ayu Reihanisa; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Popy Yuniar, Rahmadewi
S-11970
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bintang Sukma Dhea Fransisca Enjellita; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Dewi Kristanti
Abstrak:
Latar belakang: Hipertensi menjadi penyebab kematian dini tertinggi di seluruh dunia dan merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular termasuk di Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi dengan angka prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 34,4% berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan sebesar 10,7% berdasarkan diagnosis dokter yang menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi terbesar ketiga dengan prevalensi hipertensi terbanyak pada penduduk berusia ≥ 18 tahun. Dalam penanganan penyakit hipertensi, indikator terkait terapi atau pengobatan hipertensi merupakan salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan. Data terbaru yang diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi di Jawa Barat mencapai 53,8% dengan 35,5% pasien tidak teratur minum obat dan 18,3% tidak minum obat sama sekali. Rendahnya kepatuhan pasien hipertensi untuk konsumsi obat antihipertensi masih menjadi masalah dalam penanganan hipertensi di Indonesia terutama di Jawa Barat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi pada pasien hipertensi berusia ≥ 18 tahun di Jawa Barat.  Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Prevalensi ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi pada pasien hipertensi usia ≥ 18 tahun di Jawa Barat adalah 53,1% dengan “merasa sudah sehat” menjadi alasan tertinggi ketidakpatuhan. Faktor yang signifikan berhubungan dengan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi meliputi berusia 18 - 59 tahun (PR = 1,23; 95% CI = 1,06 - 1,47), memiliki tingkat pendidikan rendah (PR = 1,17; 95% CI = 1,09 - 1,27), tidak memiliki jaminan kesehatan (PR = 1,26; 95% CI = 1,18 - 1,36), merokok (PR = 1,12; 95% CI = 1,04 - 1,21), tidak memiliki pengetahuan terkait konsumsi obat antihipertensi (PR = 1,88; 95% CI = 1,72 - 1,97). Kesimpulan: Pemerintah perlu meningkatkan edukasi kesehatan dan menekankan pentingnya rutin mengonsumsi obat antihipertensi meskipun tidak merasakan gejala. Selain itu, diperlukan kerja sama lintas sektor untuk mendukung pencegahan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi.
Background: Hypertension is the leading cause of premature death worldwide and is a major risk factor for cardiovascular diseases, including in Indonesia. West Java is the province with the highest prevalence of hypertension in Indonesia, with a rate of 34.4% based on blood pressure measurements and 10.7% based on doctor diagnoses. This makes West Java the third largest province in terms of hypertension prevalence among individuals aged ≥ 18 years. In managing hypertension, indicators related to hypertension therapy or medication are crucial factors that need attention. Recent data from the Indonesia Health Survey (SKI) shows that non-adherence to antihypertensive medication in West Java reaches 53.8%, with 35.5% of patients taking medication irregularly and 18.3% not taking medication at all. The low level of adherence among hypertensive patients to taking antihypertensive medication remains a significant issue in hypertension management in Indonesia, particularly in West Java. Objective: This study aims to identify the factors associated with non-adherence to antihypertensive medication among hypertensive patients aged ≥ 18 years in West Java. Methods: This research used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analyses. Results: The prevalence of non-adherence to antihypertensive medication among hypertensive patients aged ≥ 18 years in West Java is 53.1%, with “feeling healthy” being the most common reason for non-adherence. Significant factors associated with non-adherence to antihypertensive medication include: being aged 18–59 years (PR = 1.23; 95% CI = 1.06–1.47), having a low education level (PR = 1.17; 95% CI = 1.09–1.27), lacking health insurance (PR = 1.26; 95% CI = 1.18–1.36), smoking (PR = 1.12; 95% CI = 1.04–1.21), and lacking knowledge related to antihypertensive medication (PR = 1.88; 95% CI = 1.72–1.97). Conclusion: The government needs to enhance health education and emphasize the importance of regularly taking antihypertensive medication, even when no symptoms are present. Additionally, cross-sector collaboration is necessary to support the prevention of non-adherence to antihypertensive medication.
Read More
S-12011
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adrianus Ratu Nitit; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Evi Martha, Agus Riyanto
Abstrak:

HIV tetap menjadi tantangan besar bagi kesehatan global. Meskipun telah terjadi penurunan infeksi baru dan peningkatan akses ke pengobatan antiretroviral (ARV), tantangan signifikan masih ada. Keberhasilan terapi ARV sangat ditentukan oleh kepatuhan minum obat ARV. Klinik PDP RSUD Brebes merupakan salah satu rumah sakit umum daerah yang menjalankan pengobatan HIV/AIDS yang ada di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Gambaran Ketidakpatuhan Minum Obat ARV Pada Pasien HIV/AIDS Lelaki Seks Lelaki (LSL) Di Klinik PDP (Perawatan Dukungan & Pengobatan) RSUD Brebes. Untuk melihat gambaran ketidak patuhan minum obat ARV berdasarkan 6 komponen Health Belief Model yaitu Modifying Factors (Faktor Modifikasi), Perceived Susceptibility (Persepsi Kerentanan), Perceived Severity (Persepsi Keseriusan), Perceived Benefits (Persepsi Manfaat), Perceived Barriers (Persepsi Hambatan), Cues to Action (Isyarat untuk Bertindak) dan Self-Efficacy (Efikasi Diri). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam. Penelitian ini menunjukkan bahwa masih ditemukan ketidakpatuhan ODHIV LSL dalam pengambil obat di RSUD dan tidak rutin dalam minum obat ARV. Faktor Modifikasi yang mendukung pasien tidak patuh dalam pengobatan diantaranya pengetahuan dan sosial ekonomi. Persepsi Kerentanan terhadap tidak rutin minum obat ARV pasien akan merasakan badan tidak bersemangat dan mudah rentan dengan muncul penyakit-penyakit lain. Persepsi keseriusan akibat tidak rutin minum obat ARV, CD4 menurun, Viral Load meningkat, terjadi resisten obat ARV dan bisa mengakibatkan kematian. Persepsi manfaat yang dirasakan dari rutin minum obat ARV tubuh tetap sehat dan produktif. Hambatan yang dialami oleh pasien diantaranya efek samping obat, biaya pengobatan, jarak, pekerjaan, konsumsi alkohol/penggunaan popers, merasa diri sudah sehat dan belum buka status HIV dengan keluarga, menggunakan alaram, pengingat dari whatssap grup, sering berdiskusi dengan sesama sebaya dan konseling rutin dari petugas kesehatan merupakan isyarat untuk bertindak demikian juga dengan keyakinan diri untuk bisa minum obat ARV secara teratur.


HIV remains a major challenge for global health. Despite a decrease in new infections and increased access to antiretroviral (ARV) treatment, significant challenges persist. The success of ARV therapy is highly dependent on adherence to ARV medication. The PDP Clinic at RSUD Brebes is one of the regional public hospitals providing HIV/AIDS treatment in Brebes Regency, Central Java. This study aims to examine the Non-Adherence to ARV Medication among HIV/AIDS Patients who are Men who have Sex with Men (MSM) at the PDP (Care, Support & Treatment) Clinic of RSUD Brebes. It aims to explore non-adherence to ARV medication based on the six components of the Health Belief Model: Modifying Factors, Perceived Susceptibility, Perceived Severity, Perceived Benefits, Perceived Barriers, Cues to Action, and Self-Efficacy. This research is a qualitative study using in-depth interviews. The study shows that non-adherence among MSM HIV patients in taking medication at RSUD is still found, and they are not consistent in taking ARV medication. Modifying factors that contribute to non-adherence include knowledge and socioeconomic status. Perceived susceptibility to not regularly taking ARV medication includes feeling unenergetic and being more susceptible to other diseases. The perceived severity of not regularly taking ARV medication includes decreased CD4 count, increased viral load, ARV drug resistance, and potential death. The perceived benefits of regularly taking ARV medication include maintaining health and productivity. Barriers experienced by patients include medication side effects, treatment costs, distance, work, alcohol consumption/poppers use, feeling healthy, and not disclosing HIV status to family. Using alarms, reminders from WhatsApp groups, frequent discussions with peers, and regular counseling from healthcare workers are cues to action, along with self-confidence to regularly take ARV medication.  Key words: HIV/AIDS, ARV Therapy, Non-compliance, MSM

Read More
S-11844
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive