Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewi Ayu Anggraeni; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Wena Vriana
Abstrak: Masih buruknya praktik Manajemen Higiene Menstruasi (MHM) remaja perempuan melatarbelakangi penelitian dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik MHM pada siswi di SMAN A dan B Jakarta tahun 2016. Pengumpulan data menggunakan self-report questionnaire pada 210 siswi. Hasil penelitian menunjukkan 45,2% siswi memiliki praktik MHM baik. Berdasarkan uji chisquare, terdapat hubungan antara faktor predisposisi (pengetahuan dengan nilai p= 0,004 dan sikap dengan nilai p= 0,003), faktor pemungkin (sarana sanitasi dan higiene dengan nilai p= 0,003 dan tempat sekolah dengan nilai p= 0,049), dan faktor penguat (paparan informasi dengan nilai p= 0,005) dengan praktik MHM.
Kata Kunci: Remaja Perempuan, Menstruasi, Manajemen Higiene Menstruasi

Still poor Menstrual Hygiene Management (MHM) practices of female adolescents is behind the research background with cross sectional study design. The purpose of this study was to determine the factors associated with MHM practices of female students at A and B SHS East Jakarta in 2016. The data was collected using a selfreport questionnaire in 210 students. The results showed 45.2% female students have good MHM practice. Based on the chi-square test, there is a relationship between predisposing factor (knowledge with p value= 0.004 and attitude with p value= 0.003), enabling factor (sanitation and hygiene with p value= 0.003 and a school with p value= 0,049), and reinforcing factor (information exposure with p value= 0.005) with MHM practice.
Keyword: Female Adolescents, Menstruation, Menstrual Hygiene Management
Read More
S-9186
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahdania Ayuni; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Julie Rostina
Abstrak:
Masa remaja putri pada anak sekolah telah dikenal sebagai masa khusus dalam kehidupannya yang memerlukan perhatian, terutama pada saat menstruasi. Kurangnya pengetahuan, akses terbatas pada fasilitas sanitasi yang layak, stigma seputar menstruasi, dan kondisi sanitasi yang buruk secara umum dapat menghambat manajemen kebersihan menstruasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi praktik manajemen kebersihan menstruasi pada siswi SMP dan MTS di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 205 siswi kelas 7 dan 8, yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswi memiliki praktik manajemen kebersihan menstruasi yang kurang baik. Analisis bivariat mengungkapkan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan praktik kebersihan menstruasi (p=0,047; OR=2,512). Namun, faktor lain seperti sikap, kepercayaan, ketersediaan pembalut, dan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menyoroti pentingnya peningkatan edukasi kesehatan reproduksi dan penyediaan fasilitas kebersihan yang memadai di sekolah untuk mendukung praktik kebersihan menstruasi yang lebih baik.

The adolescent phase for school-aged girls is recognized as a critical period in their lives that requires special attention, particularly during menstruation. A lack of knowledge, limited access to proper sanitation facilities, stigma surrounding menstruation, and generally poor sanitation conditions can hinder effective menstrual hygiene management.This study aims to analyze the factors influencing menstrual hygiene management practices among junior high school and Islamic school (MTS) students in Tanjung Priok District, North Jakarta. The research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 205 female students from grades 7 and 8, randomly selected from several schools in the area. Data were collected using a structured questionnaire covering predisposing factors (knowledge, attitudes, and beliefs), enabling factors (availability of sanitary pads, school sanitation facilities, and information exposure), and reinforcing factors (peer and teacher support). The findings revealed that the majority of students had poor menstrual hygiene management practices. Bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge levels and menstrual hygiene practices (p=0.047; OR=2.512). However, other factors such as attitudes, beliefs, availability of sanitary pads, and teacher support did not show significant associations. These findings underscore the importance of enhancing reproductive health education and providing adequate sanitation facilities in schools to promote better menstrual hygiene management practices.
Read More
S-11869
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Julia Putri Hayuni; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, M. Romli, Sari Yuli Andarini
Abstrak:
Praktik Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) oleh siswi perempuan di Sekolah Menengah di Indonesia berdasarkan penelitian masih rendah (35,9%), hal ini dapat menyebabkan infeksi pada saluran kencing dan reproduksi. Penelitian terkait MKM di Provinsi Jambi, khususnya Kabupaten Batanghari masih terbatas. Hambatan seperti kekeringan, kurangnya pendidikan mengenai MKM, serta stigma menstruasi yang tabu menghambat penerapannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air secara organoleptik terhadap MKM di Sekolah pada Siswi Sekolah Menengah di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi Tahun 2024. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan 342 sampel siswi perempuan yang berasal dari 93 sekolah menengah di Kabupaten Batanghari. Analisis data dilakukan dengan uji chi square dan uji regresi logistik ganda model faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar siswi perempuan Sekolah Menengah di Kabupaten Batanghari memiliki praktik MKM yang kurang baik (36,5%) dan bersekolah di Sekolah dengan kualitas air secara organoleptik yang baik (60,5%). Praktik MKM di Sekolah berkaitan dengan kualitas air secara organoleptik (OR = 1,851, 95% CI: (1,162 – 2,948)), ketersediaan air (OR = 2,035, 95% CI: (1,147 – 3,611)) dan ketersediaan sabun (OR = 2,424, 95% CI: (1,400 – 4,196)), ketersediaan toilet yang aman (OR = 1,768, 95% CI: (1,091 – 2,866)), ketersediaan tempat sampah tertutup (OR = 1,792, 95% CI: (1,118 – 2,872)), dukungan orang tua (OR = 2,913, 95% CI: (1,362 – 6,229)), dukungan guru (OR = 1,878, 95% CI: (1,188 – 2,970)), dukungan teman (OR = 2,657, 95% CI: (1,475 – 4,788)), pendidikan Ibu (OR = 1,891, 95% CI: (1,209 – 2,956)), pendidikan Ayah (OR = 1,821, 95% CI: (1,165 – 2,847)), serta pengetahuan (OR = 3,591, 95% CI: (2,264 – 5,697)). Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas air secara organoleptik yang berinteraksi ketersediaan toilet yang aman terhadap MKM setelah dikontrol oleh ketersediaan air dan sabun, dukungan orang tua dan guru, pendidikan Ibu, dan pengetahuan (AOR 95% CI: 3,987 – 26,710). Diharapkan pihak sekolah, dinas pendidikan, dan dinas kesehatan melakukan upaya untuk memerhatikan keamanan toilet dan fasilitas air, sanitasi dan kebersihan (Water, Sanitation, and Hygiene/WASH). 

The practice of Menstrual Hygiene Management (MHM) among female students in secondary schools in Indonesia, based on research, is still low (35.9%), which can lead to urinary and reproductive tract infections. However, MHM studies in Jambi Province, particularly in Batanghari Regency, remain limited. Barriers such as water scarcity, lack of education about MHM, and the stigma surrounding menstruation have hindered the implementation of MHM. This study aims to analyze the relationship between organoleptic water quality and MHM among secondary school students in Batanghari Regency, Jambi Province, in 2024. This study employed a cross-sectional design with 342 female student subjects from 93 secondary schools in Batanghari Regency. Data analysis was conducted using the chi-square test and multiple logistic regression with a risk factor model. The study revealed that most female secondary school students in Batanghari Regency practiced poor MHM (36.5%), but attended schools with good organoleptic water quality (60.5%). MHM practices at schools were associated with organoleptic water quality (OR = 1.851, 95% CI: (1.162 - 2.948)); water availability (OR = 2.035, 95% CI: (1.147 - 3.611)); soap availability (OR = 2.424, 95% CI: (1.400 - 4.196)); availability of safe toilets (OR = 1.768, 95% CI: (1.091 - 2.866)); availability of closed waste bins (OR = 1.792, 95% CI: (1.118 - 2.872)), parental support (OR = 2.913, 95% CI: (1.362 - 6.229)); teacher support (OR = 1.878, 95% CI: (1.188 - 2.970)); friend support (OR = 2.657, 95% CI: (1.475 - 4.788)); maternal education (OR = 1.891, 95% CI: (1.209 - 2.956)), paternal education (OR = 1.821, 95% CI: (1.165 - 2.847)), and knowledge (OR = 3.591, 95% CI: (2.264 - 5.697)). Furthermore, a significant relationship was found between organoleptic water quality interacting with availability of safe toilets for MHM, after controlling for water and soap availability at schools, parental and teacher support, mother's education, and knowledge (AOR 95% CI: 3.987 - 26.710). Schools, education departments, and health departments are encouraged to improve the toilet hygiene and water, sanitation, and hygiene (WASH) amenities.
Read More
T-7216
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Charisma Destrikasari; Pemmbimbing: Evi Martha; Penguji: Ahmad Syafiq, Sandra Fikawati, Leny Jakaria , Yayu Mukaromah
Abstrak:

Indonesia memiliki populasi remaja besar (15,8% berusia 10–19 tahun), menjadikannya kelompok strategis dalam program kesehatan reproduksi. Namun, pengetahuan dan praktik terkait pubertas serta manajemen kebersihan menstruasi (MKM) masih rendah. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, UNICEF bersama PKBI meluncurkan aplikasi OKY sebagai media digital interaktif yang ramah remaja.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan edukasi pubertas dan MKM melalui aplikasi OKY menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Desain penelitian kualitatif studi kasus dilakukan di dua SMK di Jakarta: SMK Negeri 50 yang memiliki PIK-R aktif dan SMK Muara Indonesia yang tidak lagi memiliki PIK-R. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan penanggung jawab program, guru, kepala sekolah, serta focus group discussion (FGD) bersama siswa, dan diperkuat analisis dokumen.
Hasil menunjukkan bahwa aspek konteks relevan dengan kebutuhan remaja akan informasi kesehatan reproduksi yang mudah diakses. Pada input, kolaborasi PKBI dengan sekolah berjalan baik, dengan variasi dukungan: SMK Negeri 50 memiliki PIK-R yang membantu siswa lebih terbiasa membicarakan isu kesehatan reproduksi, meskipun jumlah guru BK masih terbatas. SMK Muara Indonesia menghadapi tantangan berupa keterbatasan guru, fasilitas, dan koordinasi program. Dari sisi proses, kedua sekolah menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi masing-masing, tetapi keterlibatan dalam perencanaan, monitoring, dan evaluasi masih minim. Pada produk, kedua sekolah menunjukkan peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja, dengan perubahan lebih nyata di SMK Negeri 50 berkat dukungan PIK-R, sementara di SMK Muara Indonesia peningkatan tetap terjadi tetapi lebih terbatas dan memerlukan pendampingan intensif.
Kesimpulannya, aplikasi OKY efektif sebagai media edukasi digital, namun keberlanjutan program memerlukan penguatan kapasitas guru, monitoring berbasis hasil, keterlibatan orang tua, dan dukungan kebijakan lintas sektor


Indonesia has a large adolescent population (15.8% aged 10–19 years), making them a strategic group in reproductive health programs. However, knowledge and practices related to puberty and menstrual hygiene management (MHM) remain limited. To address this gap, UNICEF and PKBI introduced OKY, an interactive digital application designed to provide adolescent-friendly menstrual information. This study aimed to evaluate the implementation of puberty and MHM education through the Oky application using the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation model. A qualitative case study design was conducted in two vocational schools in Jakarta: SMK Negeri 50, which has an active PIK-R, and SMK Muara Indonesia, which no longer has PIK-R. Data were collected through in-depth interviews with program officers, teachers, school principals, focus group discussions (FGDs) with students, and document reviews. Findings showed that the context aligned with adolescents’ need for accessible reproductive health information. Regarding input, collaboration between PKBI and schools was effective, though support varied: SMK Negeri 50 benefited from PIK-R in fostering openness, despite limited counseling teachers, while SMK Muara Indonesia faced challenges of limited staff, facilities, and coordination. In terms of process, both schools adjusted implementation to their conditions, but engagement in planning, monitoring, and evaluation remained limited. For product, both schools demonstrated improvements in knowledge, attitudes, and behaviors, with more significant changes at SMK Negeri 50 due to PIK-R support, whereas SMK Muara Indonesia showed progress but required stronger mentoring. In conclusion, Oky is effective as a digital education tool, yet program sustainability requires strengthened teacher capacity, results-based monitoring, parental involvement, and cross-sectoral policy support.

Read More
T-7454
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive