Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Debora Octoliana C.A.; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Izhar M. Fihir, Ratna Dewi Suriani, Okta Mutiara Marlina
Abstrak:

Kebanyakan dokter gigi tidak menyadari pentingnya manfaat sistem ergonomi dengan posisi yang baik saat merawat pasien. Gangguan muskuloskeletal adalah salah satu yang jelas sebagai hazard. Saat melakukan pencabutan gigi, kadang-kadang dokter gigi membungkuk ke arah pasien, bergerak secara mendadak, memutar tubuh dari satu sisi ke sisi yang lain. Seluruh gerakan tersebut dilakukan berkali-kali dalam jangka waktu yang panjang sehingga sering mengalami rasa tidak nyaman dan sakit di daerah leher, bahu, tulang punggung serta pergelangan tangan. Penelitian ini meninjau faktor-faktor risiko ergonomi dokter gigi terhadap keluhan Musculoskeletal Disorders pada aktivitas pencabutan dengan jenis potong lintang melalui pendekatan observasional.Hasil penelitian 74,3% tindakan pencabutan gigi menimbulkan gangguan secara fisik, 61,4% melakukan gerakan berulang punggung membengkok ke depan, belakang atau ke samping , 35,7% melakukan gerakan berulang punggung membengkok dan memutar secara simultan dalam melakukan tindakan dan melalui Nordic Map Quesioner didapat frekuensi timbulnya keluhan pada daerah sekitar leher 38,6%. Intensitas keluhan rasa nyeri, sakit dan ketidaknyamanan akibat kerja yang cukup mengganggu aktifitas kerja dikemukakan pada bagian kaki kanan 61,4 %, bahu kanan atas sebanyak 48,6 %, pada bagian pergelangan tangan kanan 40% serta pada leher sebanyak 47,1%.Hasil akhir yang didapat melalui observasi dengan pengukuran metode OWAS (Ovako Working Posture Analysis System) di dapatkan kategori 2 dimana postur kerja memiliki beberapa efek yang berbahaya bagi system musculoskeletal serta diperlukan tindakan untuk perubahan posisi kerja pada perencanaan yang akan datang.


Most dentists do not realize the importance of the benefits ergonomics system with a good position when treating patients. Musculoskeletal disorders is an obvious one as a hazard. When performing tooth extraction, dentists sometimes leaned toward the patient, a sudden move, rotate the body from one side to the other. The whole movement is done many times in the long term so often experience discomfort and pain in the neck, shoulder, spine and wrist. This study reviewed the dentist ergonomic risk factors from Musculoskeletal Disorders in the type of extraction activity through cross-sectional observational approach.74.3% of research results to extract a tooth cause physical disorders, 61.4% perform repetitive motions backs bent forward, backward or sideways, 35.7% perform repetitive movements back bend and rotate simultaneously in action and through Nordic Map questioner obtained the frequency of complaints in the area around the neck of 38.6%. complaints of pain intensity, pain and discomfort caused by work is quite disturbing work activities presented in section 61.4% right foot, right shoulder up 48.6%, 40% on the right wrist and the neck 47.1%.The final result is obtained through observations with measurements of methods OWAS (Ovako Working Posture Analysis System) in which the working posture level 2 has some effects that are harmful to the musculoskeletal system and the necessary action to change the position of the work on the future planing.

Read More
T-3818
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raden Pradipta Nugroho; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Robiana Modjo, Deden Galih Ginanjar
S-6559
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qanita Fauzia; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowat; Penguji: L Meily Kurniawidjaja, Eko Sapto Priyono
Abstrak: Industri pertambangan merupakan area kerja dengan risiko tinggi. Pekerja tamban underground berisiko terhadap bahaya ergonomi karena proses kerja yang melibatkan postur janggal, posisi kerja statis, gerakan berulang, serta beban kerja berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja pada proses kerja di tambang underground menggunakan metode rapid entire body assessment (REBA) serta mengetahui keluhan musculoskeletal disorders (MSD) pada pekerja tambang di PT. Cibaliung Sumberdaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan semi-kuantitatif deskriptif dengan desain studi cross sectional. Dilakukan observasi pada seluruh proses kerja di underground, kemudian postur kerja yang kritis dianalisis menggunakan metode REBA serta membagikan kuesioner nordic body map untuk mengetahui keluhan MSD yang dialami pekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat satu postur kerja berisiko sangat tinggi (11+) yaitu penggunaan bor jackleg serta enam postur kerja berisiko tinggi (8-10) yaitu postur saat scaling, pemasangan rockbolt dan wiremesh, penanganan chocking, pemasangan ventbag, dan pengoperasian scissor lift. Bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan oleh pekerja underground yaitu area pinggang 64.15%, punggung 47.17%, leher bagian atas 45.28%, serta bahu kanan 36.79%. Hasil penelitian menyarankan agar pekerja diberikan edukasi dan informasi terkait bahaya ergonomi dan faktor risiko penyebab musculoskeletal disorders. Kata kunci: Ergonomi, postur kerja, REBA, musculoskeletal disorders, tambang underground
Read More
S-10150
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khatirah Salsabila; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Robiana Modjo, Rizki Muhammad Perceka
Abstrak:
Manufaktur menjadi satu dari tujuh industri yang paling sering menyebabkan permasalahan muskuloskeletal. Upaya pencegahan dan meminimalisasi timbulnya MSDs sangat diperlukan di lingkungan kerja. Program ergonomi dinilai dapat membantu mencegah dan mengendalikan keluhan muskuloskeletal pada pekerja. Penelitian bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian risiko muskuloskeletal yang dilakukan PT.X serta prevalensi keluhan subjektif MSDs pada operator vehicle plant sebelum dan sesudah dilaksanakan program ergonomi PT.X tahun 2024. Penelitian ini menggunakan menggunakan metode case control dengan pendekatan retrospektif. Analisis data dilakukan secara statistik deskriptif dan inferensial. Keluhan muskuloskeletal pada operator sebesar 11,7%, namun setelah dilakukan program ergonomi terjadi penurunan menjadi 0,2%. Hasil penelitian mendapatkan p 0.002 < 0,5 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keluhan muskuloskeletal sebelum dan sesudah pemberian intervensi program ergonomi. Selain itu, hasil evaluasi program yang dilakukan dengan pendekatan CIPP menunjukkan program ergonomi PT.X telah dikategorikan Baik karena memenuhi 20 indikator dari total keseluruhan 28 indikator (71,42%).

Among seven field of industry, manufacturing is one of the most industry that often causes musculoskeletal problems. The emergence of MSDs in work environment are very necessary to prevent and control. Ergonomics program is considered as a method to help prevent and become countermeasure for operator musculoskeletal problems. The research aims to evaluate the implementation of the musculoskeletal risk prevention and control program carried out by PT. X and understand the prevalence of musculoskeletal problems before and after the program is accomplished. Data analysis was carried out using descriptive and inferential statistics. The research results obtained p 0.002 < 0.5, which shows that there is a significant difference between musculoskeletal complaints before and after the ergonomics program intervention. Apart from that, the results of the program evaluation carried out using the CIPP approach showed that PT.X categorized as Good because already meets 20 out of a total of 28 indicators (71,42%).
Read More
S-11653
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aditya Dwi Purwaningsih; Pembimbing: indri Hapsari Susilowati; Penguji: L Meily Kurniawidjaja, Istiati Suraningsih
Abstrak: Pekerjaan manual handling memiliki angka tertinggi penyebab terjadinya kasus Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada tahun 2012. Oleh karena itu, penelitian inibertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko manual handling pada pekerjaangkut barang di stasiun Pasar Senen Jakarta tahun 2014. Faktor risiko manualhandling antara lain faktor pekerjaan, karakteristik pekerja, lingkungan kerja, sertalayout tempat kerja tersebut. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectionaldengan besar sampel 61 pekerja. Metode yang digunakan berupa Quick ExposureChecklist (QEC) untuk menilai faktor risiko pekerjaan serta kuesioner Nordic BodyMap untuk mengetahui keluhan subjektif MSDs pada pekerja. Berdasarkan hasilpenilaian QEC diketahui bahwa aktivitas yang memiliki risiko paling tinggi adalahaktivitas menaikkan atau mengangkat barang ke bagasi dengan tingkat risiko 86%.Sebesar 97% responden mengalami keluhan MSDs. Bagian tubuh yang palingbanyak dikeluhkan adalah pada bagian pinggang, kaki, tangan, bahu dan punggung.Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pekerjaan manual handlingpada pekerja angkut barang memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi dandibutuhkan investigasi dan perubahan segera mungkin. Porter sebaiknyamemperbaiki cara mengangkat, menurunkan, dan membawa barang dengan baik danaman untuk mencegah terjadinya keluhan MSDs.Kata Kunci: manual handling, Musculoskeletal Disorders (MSDs), QEC, faktor Risiko
Manual handling has the highest number of cases that cause of MusculoskeletalDisorders (MSDs) in 2012. Therefore, this study aims to describe the risk factors ofmanual handling among porters at Pasar Senen Station in 2014. The risk factor ofmanual handling are work factor, the caracteristics of workers, work environment,and layout of the workplace. Design research is cross sectional with total sample of61 workers. The method of this study used Quick Exposure Checklist (QEC) toassess the job factor and Nordic Body Map questionnaire to determine the subjectivecomplaints of MSDs among porters. Based on the assessment results of QEC isknown that the activity that has the highest risk is lifting into the trunk with a 86%risk level. Beside that, 97% of porters had complaints of MSDs. The most risk part ofbody are waist, legs, arms, shoulder and back. From these results it can be concludedthat manual handling have a very high level of risk and the investigations andchanges should be done as soon as possible. Porters should improve the way of theirlifting, lowering, and carrying goods properly and safely to prevent MSDs injuries.Keywords: manual handling, Muskuloskeletal Disorders (MSDs), QEC, risk factors
Read More
S-8433
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Daden Areistheika Dhelinthe; Pembimbin: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Istiati Suraningsih
Abstrak: Perkembangan teknologi yang pesat membuat hampir semua aktifitas manusia berhubungan erat dengan berbagai macam alat dan mesin. Tidak terkecuali dalam dunia industri yang terus berkembang pesat seiring dengan perkembangan manusia. Namun dalam interaksi antara manusia, mesin dan lingkungan tempat kerja terdapat berbagai risiko yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja (PAK) ataupun kecelakaan bagi manusia. Salah satu penyakit akibat kerja yang kerap diderita oleh pekerja adalah penyakit yangberkaitan dengan otot serta rangka, atau lebih dikenal dengan MusculoskeletalDisorders (MSDs). Penelitian ini dilakukan pada pekerja produksi Rumah PotongAyam (RPA) X Kota Bogor tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk melihatfaktor risiko MSDs pada tubuh bagian atas dan gejala MSds yang dialami olehpekerja. Metode penelitian ini adalah semi kuantitatif dengan desain crosssectional. Responden berjumlah 30 orang pekerja produksi yang berada di lokasiBojong Bawah. Tingkat risiko ergonomi dinilai dengan menggunakan RapidUpper Limb Assessment (RULA) dan Quick expossure Checklist (QEC). Penilaian menggunakan RULA mendapatkan hasil 2 tahapan pekerjaan (16,7%) termasuk dalam kategori medium atau masuk action level 2, 5 tahapan pekerjaan (41,7%)termasuk dalam kategori high atau masuk action level 3 dan 5 tahapan pekerjaan lainnya (41,7%) termasuk dalam kategori very high atau masuk action level 4.Penilaian menggunakan QEC mendapatkan hasil 5 tahapan pekerjaan (41,7%)termasuk dalam kategori high atau masuk action level 3 dan 7 tahapan pekerjaan lainnya (58,3%) termasuk dalam kategori very high atau masuk action level 4.Nordic Body Map (NBM) digunakan untuk mengetahui keluhan MSDs yangdirasakan pekerja dan didapatkan hasil 100% pekerja mengeluhkan mengalami gejala MSDs. Keluhan terbanyak dirasakan adalah pegal dan rasa sakit pada tubuhbagian atas pekerja seperti bahu, pinggang, punggung dan juga pergelangantangan.Kata Kunci: RULA, QEC, Tingkat Risiko, Ergonomi, Keluhan MusculoskeletalDisorders (MSDs), Nordic Body Map (NBM), Rumah Potong Ayam (RPA).
Read More
S-8064
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive