Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diana Andriyani ... [et al.]
Bulitkes Vol.41, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Novita Sari; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Agus Gojali
Abstrak: Difteri menjadi penyumbang kejadian luar biasa (KLB) bagi sebagian wilayah di Indonesia, tidak terkecuali dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Kejadian difteri yang tercatat pada tahun 2015 dan 2016 terekam naik. Kasus difteri meningkat dari 59 kasus menjadi 153 kasus. Kota Depok menjadi salah satu penyumbang kasus yang memiliki angka kejadian yang fluktuatif. Tren penyakit sempat menurun pada 2013-2015, namun kemudian naik pada tahun 2016 menjadi 8 kasus. Penelitian ini membahas tentang bagaimana implementasi kebijakan, yang dilihat dari sumber kebijakan, pengaturan sumber daya, karakteristik instansi pelaksana, struktur birokrasi, komunikasi, pengaruh disposisi dan keadaan sosial-ekonomi dan politik dalam pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri dan Outbreak Response Immunization (ORI) di Kota Depok tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif, melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terbatasnya sumber daya terutama SDM, kurangnya kepedulian lintas sektor dan faktor lingkungan sosial, yakni adanya penolakan dari masyarakat untuk vaksinasi, menjadi tantangan dalam pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri dan Outbreak Response Immunization (ORI) di Kota Depok. Diharapkan, kepada implementor kebijakan dapat berkomitmen untuk bekerja sama dengan baik, dan memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh dalam implementasi kebijakan, serta dukungan pemerintah dalam menyediakan vaksin yang halal dan aman serta penelitian mengenai bioterorisme juga dapat dilakukan sebagai pemecahan kasus difteri yang fluktuatif setiap tahunnya.
Kata kunci: Difteri, KLB, Outbreak Response Immunization (ORI)

Diphtheria is contributor of outbreak (KLB) for some regions in Indonesia, included West Java Province. Diphtheria cases recorded increased through 2015 - 2016, cases increased from 59 cases to 153 cases. Depok City became one of the contributors of cases that have fluctuating incidents. Disease trends have declined in 2013-2015, but then increased in 2016 to 8 cases. This study discusses policy implementation, viewed from policy sources, resource arrangements, the characteristics of implementing agencies, bureaucratic structures, communications, the influence of dispositions and socio-economic and political circumstances in control of Diphtheria Outbreak and Outbreak Response Immunization ORI) in Depok City in 2017. This type of research is qualitative research with descriptive design, through in-depth interviews and document review. The results showed that the limited resources, especially human resources, the lack of cross-sectoral concern and social environment factors, like the rejection of some community for vaccination, became a challenge in controlling the Diphtheria Outbreak and Outbreak Response Immunization (ORI) in Depok City. It is expected that policy implementers can commit to working together, and taking into the influential factors in policy implementation, as well as government support in providing halal and safe vaccines and research on bioterrorism can also be done as solving cases of diphtheria fluctuating annually.
Key words: Diphteria, Outbreak, Outbreak Response Immunization (ORI)
Read More
S-9780
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danang Susanto; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Budi Hartono, Nur Afiyah
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Demam Chikungunya disebabkan oleh infeksi virus yang ditularkan melalui
 
gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Penelitian ini bertujuan
 
untuk mengetahui faktor lingkungan dan perilaku yang mempengaruhi terjadinya
 
Kejadian Luar Biasa (KLB) demam Chikungunya di RW 03 Kelurahan
 
Bojongsari Baru, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok pada bulan Maret-Mei
 
2011. Desain studi yang digunakan adalah kasus kontrol dengan jumlah kasus dan
 
kontrol masing-masing sebanyak 40 responden. Teknik pengambilan sampel
 
menggunakan Simple Random Sampling. Hasil penelitian dengan uji chi square
 
(CI=95%) mendapatkan hasil tidak terdapat variabel penelitian yang memiliki
 
hubungan bermakna. Disarankan kepada pemerintah Kota Depok untuk
 
meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat dilingkungan sekitar
 
rumah melalui program yang intensif.
 

 
ABSTRACT
 
 
Chikungunya fever is caused by a viral infection occurs through the bite of the
 
mosquito Aedes Aegypti and Aedes Albopictus. This study aims to determine the
 
environmental and behavioral factors that influence the occurrence of
 
Chikungunya outbreak at RW 03 Bojongsari Baru, Bojongsari Sub-district, Depok
 
in March-May 2011. Research design is case control study. The number of case
 
group and control group is 40 patient. The sampling technique using Simple
 
Random Sampling. The results by chi square test (CI=95%) showing there is no
 
variables involved. Recommended to the government of Depok City to improve
 
hygiene behavior and healthy in the neighborhood through intensive programs.
Read More
S-6574
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deyo Alfa Christian; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Prastuti Soewondo, Nining Mularisih, Siti Khadijah Nasution
Abstrak:
Kesehatan merupakan salah satu indikator untuk menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, Perkembangan zaman tidak hanya berdampak pada kesehatan dalam segi positif, dampak perkembangan zaman juga menimbulkan berbagai penemuan baru dari penyakit-penyakit karena ada perkembangan teknologi juga berdampak pada penularan yang semakin bertambah dan sulit diatasi pengobatannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan saja menjadikan kehidupan umat manusia semakin mudah, semakin maju, tetapi nampaknya umat manusia juga diharapkan kepada tantangan-tantangan atau peringatan-peringatan baru di bidang kesehatan, dimana pada kurun waktu tertentu akan ada jenis penyakit baru yang muncul. Indonesia menduduki peringkat 65 dari 180 negara dalam kematian akibat penyakit menular, maternal dan gizi, penyakit menular ini termasuk penyakit menular akibat parasit dan infeksi pernafasan, Saat terjadinya wabah transportasi publik menempati peringkat kedua setelah Rumah sakit dan tempat layanan kesehatan dalam menularkan penyakit saat terjadi wabah, Tingginya penggunaan transportasi berpotensi menularkan penyakit, KRL sebagai moda transportasi umum dengan tingkat kepadatan rata - rata 300 - 900 ribu penumpang perhari, pemerintah telah mengeluarkan peraturan protokol kesehatan dengan mengikuti perkembangan kasus dalam implementasinya dapat dilihat dari komunikasi kebijakan, Sumber Daya, Struktur birokrasi, dan sikap hingga terlihat bagaimana implementasi penanganannya saat ini implementasi pelaksanaan protokol kesehatan di KRL sudah baik dalam penggunaan masker tetapi masih kurang dalam menjaga jarak dan sistim tracing, sehingga didapatkan rekomendasi dalam pelaksanaan mitigasi kesehatan di KRL Jabodetabek

Health is one of the indicators to become superior Human Resources (HR), The development of the times not only has an impact on health in a positive aspect, the impact of the times has also led to various new discoveries of diseases because there is technological development also has an impact on transmission that is increasing and difficult to overcome treatment, . The development of science and technology not only makes the life of mankind easier, more advanced, but it seems that mankind is also expected to new challenges or warnings in the field of health, where in a certain period of time there will be new types of diseases that appear. Indonesia is ranked 65th out of 180 countries in deaths from infectious, maternal and nutritional diseases, these infectious diseases include infectious diseases due to parasites and respiratory infections, When an outbreak of public transportation ranks second after hospitals and health service places in transmitting diseases during an outbreak, The high use of transportation has the potential to transmit disease, KRL as a mode of public transportation with an average density of 300 - 900 thousand passengers per day, the government has issued health protocol regulations by following the development of cases in its implementation can be seen from policy communication, resources, bureaucratic structures, and attitudes to see how the implementation of handling is currently the implementation of the implementation of health protocols in KRL is good in using masks but still lacking in maintaining distance and tracing systems, so that recommendations are obtained in the implementation of health mitigation in KRL Jabodetabek
Read More
T-6844
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Heryana; Promotor: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Kopromotor: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ascobat Gani, Fatma Lestari, Meiwita Paulina Budiharsana, Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, Turro Selrits Wongkaren, Raditya Jati
Abstrak:
Kejadian pandemi virus corona SARS-CoV-2 di dunia meningkatkan kesadaran bahwa pengendalian wabah penyakit di suatu daerah sangat berkaitan dengan karakteristik wilayah epidemik. Determinan sosial kesehatan dapat dijadikan sebagai kerangka kerja untuk memprediksi penyebaran penyakit dan mengusulkan upaya pengendalian wabah pada tingkat populasi berdasarkan penilaian risiko. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pengendalian wabah penyakit berbasis risiko wilayah. Metodologi: Studi kasus dilakukan terhadap pandemi COVID-19 saat gelombang Delta tahun 2021 di Indonesia. Untuk menjawab tujuan penelitian, dilakukan studi faktor risiko terhadap 128 kabupaten/kota di Jawa-Bali dengan analisis regresi linier. Penilaian risiko diukur dengan pemodelan kompartemen penyakit menular SEIRD (Susceptible, Exposed, Infected, Recovered, Dead). Usulan upaya mitigasi risiko, respon, kesiapsiagaan dan rehabilitasi dibangun berdasarkan hasil penilaian risiko. Seluruh analisis dikontrol berdasarkan tahapan pandemi yang terdiri dari pra, naik, turun, dan pasca. Hasil: terdapat 31 faktor determinan sosial kesehatan yang secara signifikan berpengaruh terhadap indikator wabah yakni kerentanan, penularan, kesembuhan, dan kematian. Hasil simulasi model diperoleh 17 faktor determinan sosial yang memiliki risiko signifikan berdasarkan vulnerability, capacity, exposure, dan hazard. Upaya pengendalian pandemi yang diusulkan ternyata memiliki perbedaan berdasarkan tahapan pandemi dan karakteristik wilayah kabupaten/kota. Kesimpulan: penelitian ini telah menghasilkan model pengendalian wabah berbasis risiko wilayah yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah krisis kesehatan lainnya pada tingkat lokal, regional, hingga global

The COVID-19 pandemic has raised awareness that the control of disease outbreaks in a region is closely linked to the characteristics of the epidemic region. Social determinants of health can be used as a framework to predict the spread of disease and propose outbreak control efforts at the population level based on risk assessment. This study aims to develop a risk region-based disease outbreak control model. Methodology: A case study was conducted on the COVID-19 pandemic during the Delta wave in 2021 in Indonesia. To answer the research objectives, a risk factor study was conducted on 128 regencies/cities in Java-Bali using linear regression analysis. Risk assessment was measured using the SEIRD (Susceptible, Exposed, Infected, Recovered, Dead) infectious disease compartment modeling. Proposed risk mitigation, response, preparedness, and rehabilitation efforts were built based on the results of risk assessment. All analyzes were controlled based on the stages of the pandemic, consisting of pre, increase, declining, and post. Results: There were 31 social determinants of health factors that significantly affected outbreak indicators, namely vulnerability, transmission, recovery, and death. The results of the model simulation showed 17 social determinants of risk based on vulnerability, capacity, exposure, and hazard. The proposed pandemic control efforts actually differ based on the stages of the pandemic and the characteristics of the regencies/cities. Conclusion: This study has resulted in a risk region-based disease outbreak control model that can be applied to address other health crisis problems at the local, regional, and global levels
Read More
D-503
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selpi Pratiwi; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Renti Mahkota, Adang Mulyana
Abstrak: Campak adalah salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak-anak meskipun vaksin yang aman dan hemat biaya tersedia. Pada tahun 2015, ada 134 200 kematian akibat campak global dan sekitar 367 kematian setiap hari atau 15 kematian setiap jam. Vaksinasi Campak mengakibatkan penurunan 79% kematian akibat campak antara tahun 2000 sampai dengan 2015 di seluruh dunia. Meskipun sudah mencapai target lebih dari 90% cakupan imunisasi campak di wilayah desa Cigudeg dan Ciampea namun masih ada kejadian luar biasa campak di Desa tersebut pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian campak pada kejadian luar biasa campak di desa Cigudeg dan Ciampea Kabupaten Bogor tahun 2016. Desain penelitian menggunakan studi kasus kontrol dengan perbandingan 1:3 menghasilkan sampel terdiri dari 36 kasus dan 108 kontrol dengan kekuatan uji 80 % memiliki derajat kepercayaan 95%. Hasil analisis dengan menggunakan regresi logistik di dapatkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian campak pada kejadian luar biasa campak di Desa Cigudeg dan Ciampea Kabupaten Bogor tahun 2016 secara signifikan adalah imunisasi (OR= 3,44; 95% CI : 1,09 10,65; Nilai P= 0,034), luas ventilasi udara (OR=4,7; 95%CI: 1,47 15,39: Nilai P= 0,009) dan riwayat kontak (OR= 28,6; 95% CI 9,06 90,42; Nilai P=0,000). Cakupan imunisasi campak di desa Cigudeg dan Ciampea sudah mencapai lebih dari 90%, namun belum bisa menjadikan desa tersebut memiliki kekebalan kelompok terhadap campak, sehingga perlu adanya kajian atau penelitian lanjutan terhadap hal tersebut. Kata Kunci : Campak, Kejadian Luar Biasa, Imunisasi, Kabupaten Bogor.

Measles is one of the leading causes of death among children although safe and cost-effective vaccines are available. By 2015, there are 134 200 deaths from global measles and about 367 deaths every day or 15 deaths every hour. Measles Vaccination resulted in a 79% reduction in measles deaths between 2000 and 2015 worldwide. Despite reaching the target of more than 90% coverage of measles immunization in Cigudeg and Ciampea villages, there is still an extraordinary incidence of measles in these two villages by 2016. This study aims to determine the risk factors associated with measles incidence in the extraordinary incidence of measles in villages of Cigudeg and Ciampea Bogor Regency in 2016. The study design using case control study with a ratio of 1: 3 resulted in a sample consisting of 36 cases and 108 controls with a strength of 80% test having 95% confidence degree. The result of the analysis by using logistic regression was found that the risk factors associated with measles incidence in measles outbreaks in Villages Cigudeg and Ciampea Bogor Regency in 2016 were significantly immunized (OR = 3.44; 95% CI: 1.09 - P = 0,034), air ventilation area (OR = 4,7; 95% CI: 1.47 - 15.39: P value = 0.009) and contact history (OR = 28.6; 95% CI 9.06 - 90.42; P value = 0.000). Measles immunization coverage in villages Cigudeg and Ciampea has reached more than 90%, but not yet able to make the village has a group immunity against measles, so the need for further studies or research on it. Keywords: Measles, Outbreak, Immunization, Bogor District.
Read More
T-5081
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Agus Setia Budi; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Sholah Imari, Syafriyal
Abstrak:

ABSTRAK Campak atau kerumut dalam bahasa Banjar adalah salah satu penyakit infeksi yang dapat di cegah dengan imunisasi dan masih masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini secara umum menyerang anak usia dibawah lima tahun (balita) yang di sebabkan oleh virus morbili. Di Kota Banjarmasin meskipun keberhasilan cakupan imunisasi campak telah mencapai lebih dari 90%, dan kelurahan yang telah mencapai UCI sebanyak 51 kelurahan, namun demikian berdasarkan laporan surveilans dinas kesehatan kota Banjarmasin selama 2011 dilaporkan telah terjadi kejadian luar biasa kasus campak sebanyak 5 kali, dengan 147 kasus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak usia 0?59 bulan di Kota Banjarmasin Tahun 2011. Untuk itu digunakan pendekatan desain kasus kontrol. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor utama yang berpengaruh terhadap kejadian campak pada anak usia (0?59 bln) adalah pendidikan Ibu (OR= 13,88), pendidikan bapak (OR =6,33), status imunisasi campak (OR= 4,64), umur anak (OR=2,46), sedangkan faktor yang bersifat protektif adalah vitamin A (OR=0,34), dan penghasilan keluarga (OR=0,18). Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak yang di imunisasi campak mempunyai orang tua yang berpendidikan baik, berpenghasilan cukup dan mendapat vitamin A dua kali dalam setahun dapat mengurangi angka kejadian campak. Dari hasil penelitian ini disarankan untuk memperbaiki kebenaran cakupan imunisasi, memberikan pelatihan safe injection dan cold chain bagi petugas pelaksana di puskesmas, penyuluhan kesehatan dengan bahasa daerah, pemberian vitamin A dan memberikan prioritas peningkatan program pada daerah dengan tingkat pendidikan Ibu dan Bapak yang rendah, serta berpenghasilan kurang sebagai sasaran di Kota Banjarmasin untuk menurunkan angka kejadian campak pada anak (0-59 bulan).


 ABSTRACT Measles or kerumut in Banjar is one of the infectious diseases that can be prevented by immunization and health in Indonesia is still a problem. This disease generally attacks children under five years of age (infants) which is caused by a virus morbili. In the city of Banjarmasin despite the success of measles immunization coverage has reached more than 90%, and the village which has reached as many as 51 villages UCI, however, based on surveillance reports Banjarmasin city health department is reported to have occurred during the 2011 outbreak of measles cases as much as 5 times, with 147 case. The study aims to determine the factors associated with the incidence of measles in children aged 0-59 months in the city of Banjarmasin in 2011. For that use case-control design approach. The results showed that the main factors that influence the incidence of measles in children aged (0-59 months) is the mother of education (OR = 13.88), the father of education (OR = 6.33), measles immunization status (OR = 4.64 ), age of child (OR = 2.46), whereas protective factors are vitamin A (OR = 0.34), and family income (OR = 0.18). This study concluded that children who have measles immunization in the elderly are well educated, and have income sufficient vitamin A twice a year can reduce the incidence of measles. From these results it is advisable to fix the truth of immunization coverage, providing safe injection training and cold chain for executive officers at the health center, health education in local languages, provision of vitamin A and gives priority to improve the program in areas with high levels of education are low mother and father, as well as earn less as a target in the city of Banjarmasin to reduce the incidence of measles in children (0-59 months).

Read More
T-3581
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Suwandono ... [et al.]
JEI Vol.8, Ed.2
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Wahyudi; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Rico Kurniawan, Artha Prabawa, Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak:

Campak dan Rubela merupakan penyakit menular berpotensi wabah yang dapat menimbulkan komplikasi serius bahkan kematian, terutama pada anak-anak. Namun keduanya dapat dicegah melalui pemberian imunisasi. Trend cakupan imunisasi yang menurun, terutama paska pandemi COVID-19, telah menyebabkan peningkatan Kejadian Luar Biasa (KLB) salah satunya Campak-Rubela, sehingga diperlukan respon cepat melalui pemberian imunisasi tambahan berupa Outbreak Response Immunization (ORI). Pelaksanaan ORI di sebagian besar wilayah terdampak KLB masih belum optimal, terutama dari sisi ketepatan waktu respon. Kementerian Kesehatan telah menyediakan alat bantu untuk mendukung proses pra-pelaksanaan ORI, namun penginputan masih bersifat manual dan sistem ini belum terintegrasi dengan sistem informasi lain, serta belum memiliki mekanisme verifikasi dan monitoring oleh tingkat administrasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu inovasi yang dapat memperbaiki sistem yang ada saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe sistem informasi terintegrasi guna meningkatkan ketepatan waktu pelaksanaan ORI di tingkat puskesmas dalam rangka penanggulangan KLB Campak-Rubela.
Metode yang digunakan adalah Pendekatan Rapid Evolutionary Prototyping yang memungkinkan pengembangan dilakukan bertahap berdasarkan masukan yang diperoleh selama proses implementasi dengan cakupan terbatas. Sistem dikembangkan melalui tahapan analisis kebutuhan, identifikasi masalah, desain (logis serta fisik) dan implementasi. Penelitian ini menghasilkan prototipe yang terintegrasi dengan sistem SKDR dan SMILE dilengkapi beberapa menu utama yaitu notifikasi status, penginputan data kajian epidemiologi, perhitungan kebutuhan vaksin dan pelaporan ORI secara real time. Hasil pengujian yang melibatkan informan dari Dinas Kesehatan Kota Depok, Puskesmas Pengasinan dan Depok Jaya menunjukkan bahwa prototipe Sistem Informasi Outbreak Response Immunization (SIORI) efektif dan efisien dalam mendukung penyelenggaraan ORI. Kesimpulannya, prototipe SIORI memiliki potensi memperbaiki sistem yang ada saat ini dalam meningkatkan ketepatan waktu penyelenggaraan ORI KLB Campak-Rubela.


Measles and Rubella are highly contagious infectious diseases that can lead to serious complications and even death, especially in children. These diseases could cause outbreaks, however, can be prevented through immunization. The declining trend in immunization coverage, particularly after the COVID-19 pandemic, has led to an increase in outbreaks, including Measles-Rubella, thus requiring a prompt response through supplementary immunization activities known as Outbreak Response Immunization (ORI). The implementation of ORI in most outbreak-affected areas remains suboptimal, particularly in terms of response timeliness. Although the Ministry of Health has provided supporting excel based tools to support the pre-implementation process of ORI, data entry is still manual, the system is not yet integrated with other relevant information systems and is not complemented with verification and monitoring mechanisms from higher administrative levels. Therefore, an innovation is needed to improve the current system. This study aims to improve the timeliness of ORI implementation at the primary health care level in response to Measles-Rubella outbreaks through development of an integrated information system prototype. The Rapid Evolutionary Prototyping approach was used as the system development model, which allows for incremental development based on feedback collected during implementation assessment. The system was developed through the stages of needs analysis, problem identification, logical and physical design, and implementation. This study resulted in the development of a prototype information system named SIORI, designed to improve the timeliness of ORI implementation. The system includes several key features including outbreak status notification that is integrated with the Early Warning Alert and Response System (SKDR), input for epidemiological assessment data, vaccine stock data obtained from the Electronic Immunization and Logistics Monitoring System (SMILE), vaccine needs calculation, and reporting functions covering response timeliness and immunization service data input. Implementation test involving informants from Depok City Health Office and selected health centers (Puskesmas Pengasinan and Depok Jaya) showed that SIORI is more effective and efficient in supporting ORI implementation. The conclusion is that prototype SIORI has potentials to improve the current system in to accelerating ORI implementation timeliness.

 

Read More
T-7251
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sadiah Nurul Falah; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C Adisasmita, Purnama Magdalena Simanullang , Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak:

Difteri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Garut terdapat 100 kasus difteri dengan CFR sebesar 17,2%. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan status imunisasi dan riwayat kontak dengan kejadian difteri di Kabupaten Garut tahun 2023–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method. Penelitian kuantitatif menggunakan desain case control (1:2) dengan matching individu berdasarkan usia dan tempat tinggal. Jumlah responden sebanyak 141 anak (47 kasus dan 94 kontrol) yang dipilih menggunakan teknik total sampling dari data KLB. Analisis kondisional regresi logistik dilakukan untuk menghitung odds ratio (OR) dan 95% Confidence Interval (CI). Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan terkait menggunakan pendekatan fenomenologi. Sebagian besar anak pada kelompok kasus tidak diimunisasi (74,47%) dan memiliki riwayat kontak dengan penderita difteri (76,6%). anak yang tidak diimunisasi dan memiliki riwayat kontak berisiko 9 kali untuk terkena difteri dibandingkan dengan yang imunisasi lengkap (95%CI: 2,67-31,79). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara status imunisasi dan kejadian difteri (OR=5,82; 95% CI: 2,17–15,61; p=0,0001) sebelum mengontrol kovariat. Setelah mengontrol kovariat, terdapat hubungan antara status imunisasi dan kejadian difteri (OR=3,08; 95% CI: 1,40–23,79; p=0,008). Hasil kualitatif menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, agama, penolakan imunisasi, serta sistem surveilans yang belum optimal sebelum KLB turut memengaruhi kejadian. Diperlukan peningkatan cakupan imunisasi, edukasi masyarakat, serta penguatan sistem surveilans untuk pencegahan difteri di wilayah berisiko tinggi.

Keywords: difteri, status imunisasi, riwayat kontak, mix-method, Kab. Garut

Background: Diphtheria remains a public health problem in Garut District, with 100 reported cases and a case fatality rate (CFR) of 17.2%. This study aimed to determine the relationship between immunization status with the incidence of diphtheria in Garut District in 2023–2024. Methods: A mixed-method approach was used. The quantitative component employed a case-control design (1:2) with individual matching based on age and residence. A total of 141 children (47 cases and 94 controls) were selected using total sampling from outbreak data. Conditional logistic regression analysis was conducted to calculate odds ratios (OR) and 95% confidence intervals (CI). The qualitative approach was carried out through in-depth interviews with key informants using a phenomenological method. Result: Most children in the case group were not immunized (74.47%) and had a history of contact with diphtheria patients (76.6%). Children who were not immunized and had contact history were 9 times more likely to contract diphtheria compared to those who were fully immunized (95% CI: 2.67–31.79). A significant association was found between immunization status and diphtheria incidence (OR=5.82; 95% CI: 2.17–15.61; p=0.0001), and remained significant after controlling for covariates (OR=3.08; 95% CI: 1.40–23.79; p=0.008). The qualitative findings revealed that socio-cultural and religious factors, vaccine refusal, and a suboptimal surveillance system prior to the outbreak contributed to the cases. Conclusion: Strengthening immunization coverage, community education, and surveillance systems is needed to prevent diphtheria in high-risk areas.  

 

Read More
T-7311
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive