Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Introduction: Babies with LBW are 4 times more likely to die during the first 28 days
of life than babies born with normal weight. In Indonesia, LBW is the second largest
type of disease related to tobacco use where the impact is a very determining factor in
adulthood. More than 57% in a household has at least one smoker where 91.8% smoke
in the household and ignore the risks and dangers of exposure to cigarette smoke.
Method: This research was conducted in all regions of Indonesia using Riskesdas 2018
results with the aim of knowing the effect of exposure to cigarette smoke in the
household on the incidence of Low Birth Weight (LBW) in Indonesia after being
controlled by baby (sex), maternal factors (level maternal education, maternal
employment status, and tuberculosis to the mother), health service factors (frequency
and quality of ANC) and environmental factors (residential area). This research was
conducted with cross-sectional design and logistic and poisson regression analysis.
Result: The results of the study with the final model of smoking behavior interacting
with gender and controlled by variables of maternal education level and frequency of
ANC in general showed that there was no effect of cigarette smoke exposure in
households with LBW events (although p value in female sex with exposure cigarette
smoke b 20btg less than 0.05, but OR 0.056 or protective).
Discussion: Based on the results of this study and a few reviews of the results of the
research that are in line concluded that birth weight is not solely influenced by a history
of exposure to cigarette smoke, but in certain conditions there are other factors that may
be more dominant. In this case it might be due to several factors such as the way data is
collected based only on interviews / questionnaires so that the measurement of cigarette
smoke exposure in the household is less able to describe the actual situation (the
measurement results are weak).
Conclution: Based on the analysis that has been used both using logistic regression
methods and poisson is that the results of this study have not been able to answer the
hypothesis that the effect of cigarette smoke exposure in households increases the
incidence of LBW in Indonesia in 2018 even after being controlled by covariate
variables
Metode: Desain studi dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk Indonesia umur ≥ 15 tahun yaitu sebesar 722.329 responden. Sampel penelitian adalah penduduk Indonesia umur ≥ 15 tahun yang menjadi responden dalam Riskesdas tahun 2013 dan memiliki data lengkap tentang variabel yang diteliti yaitu sebesar 46.823 responden. Analisis data multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengetahui hubungan paparan asap rokok dengan hipertiroid setelah dikontrol variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, kandungan iodium dalam garam yang digunakan dalam rumah tangga dan status gizi.
Hasil: Prevalensi hipertiroid pada penelitian ini adalah 0,8%. Prevalensi keterpaparan asap rokok 77,4%. Responden yang terpapar asap rokok dengan status pendidikan tinggi memiliki peluang 1,65 kali untuk mengalami hipertiroid dibandingkan pada responden yang tidak terpapar asap rokok dan bukan status pendidikan tinggi. Responden yang terpapar asap rokok dengan status pendidikan sedang memiliki peluang 1,30 kali untuk mengalami hipertiroid dibandingkan pada responden yang tidak terpapar asap rokok dan bukan status pendidikan tinggi. Responden yang terpapar asap rokok dengan status pendidikan rendah memberikan efek protektif 0,69 kali terhadap hipertiroid dibandingkan pada responden yang tidak terpapar asap rokok dan bukan pendidikan tinggi.
Kesimpulan: Paparan asap rokok berinteraksi dengan pendidikan dalam menyebabkan hipertiroid.
Kata Kunci: Hipertiroid; Paparan asap rokok; Pendidikan; Riskesdas 2013.
ABSTRAK Nama : Hairida Anggun Kusuma Program Studi : Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Lesi Prakanker Serviks di Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2017 Permasalahan kanker serviks di Indonesia sangat khas yaitu banyak dan lebih dari 70% kasus ditemukan pada stadium lanjut pada saat datang ke rumah sakit. Peningkatan upaya penanganan kanker serviks, terutama dalam bidang pencegahan dan deteksi dini sangat diperlukan oleh setiap pihak yang terlibat. Penelitian kasus kontrol ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian lesi prakanker serviks. Penelitian melibatkan 102 kasus dan 306 kontrol dari cacatan medis pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim dan payudara tahun 2013 – 2016. Penelitian di 11 puskesmas yang telah melaksanakan pemeriksaan IVA di Kabupaten Kotawaringin Timur. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan chi square dan multivariat dengan regresi logistik ganda untuk mengetahui faktor yang paling dominan. Sebagian besar umur responden ≤35 tahun, pendidikan dasar, tidak bekerja, tidak mempunyai riwayat kanker, usia melakukan hubungan seksual >17 tahun, punya pasangan seksual satu, tidak pernah menggunakan kontrasepsi oral >5 tahun, paritas ≥4 dan tidak pernah pap smear. Sedangkan untuk paparan asap rokok sama besar antara yang terpapar dan tidak terpapar. Hasil regresi logistik ganda menemukan terpapar asap rokok dengan (OR 1,9 95% CI 1,1 – 3), riwayat kanker keluarga (OR 2,5 95% CI 1,3-4,6), paritas ≥4 (OR 2 95% CI 0,9 – 4,4) dan jumlah pasangan seksual lebih dari 1 (OR 1,5 95% CI 0,9 – 2,8) dan faktor yang paling dominan adalah riwayat kanker keluarga. Kata kunci: Lesi prakanker serviks; paparan asap rokok; riwayat kanker keluarga.
ABSTRACT Name : Hairida Anggun Kusuma Study Program : Postgraduate Public Health Faculty Title : Factors Related to Cervical Precancerous Lesions in East Kotawaringin District 2017 The problem of cervical cancer in Indonesia is very distinctive that many and more than 70% of cases are found at an advanced stage upon arrival to the hospital. Increased efforts to treat cervical cancer, especially in the field of prevention and early detection is needed by each party involved. This case-control study aims to determine risk factors associated with the incidence of cervical precancer lesions. The study included 102 cases and 306 controls derived from medical records examining early detection of cervical and breast cancers from 2013 to 2016. The study was at 11 puskesmas who had performed VIA examination in East Kotawaringin District. Data analysis was done univariat, bivariate with chi square and multivariate with logistic regression to know the most dominant factor. Most of the respondents aged ≤35 years, primary education, unemployment, no history of cancer, age of sexual intercourse >17 years, had one sexual partner, never used oral contraceptives >5 years, parity ≥4 and never pap smear. As for exposed by smoke as large between the exposed and not exposed. The result of logistic regression showed exposed to cigarette smoke (OR 1,9 95% CI 1,1 – 3), family cancer history (OR 2,5 95% CI 1,3-4,6), parity ≥4 (OR 2 95% CI 0,9 – 4,4) dan sexual multipartner (OR 1,5 95% CI 0,9 – 2,8) and the more dominant risk factor was family history of cancer. Keywords: cervical precancerous lesions;exposed by smoke; family history of cancer
Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat pada balita di Indonesia. Paparan Environmental Tobacco Smoke (ETS) atau asap rokok lingkungan merupakan salah satu faktor lingkungan yang diduga berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan anak melalui proses inflamasi, gangguan sistem imun, serta gangguan absorpsi zat gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan paparan asap rokok lingkungan dengan kejadian stunting pada balita di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian terdiri atas 2.960 balita di Provinsi Jawa Barat. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian stunting, sedangkan variabel independen utama adalah paparan asap rokok lingkungan yang diukur berdasarkan status merokok, lokasi merokok, dan jumlah rokok per hari. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Prevalensi stunting pada balita sebesar 26,0%. Sebagian besar ayah balita merupakan perokok (76,8%) dan sebanyak 44,8% merokok di dalam rumah. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa paparan asap rokok ayah di dalam rumah berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita (POR=1,438; 95%CI: 1,041–1,985). Variabel lain yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting yaitu usia balita (POR=1,451; 95%CI: 1,029–2,046), riwayat BBLR (POR=2,865; 95%CI: 1,493–5,499), riwayat infeksi pencernaan (POR=1,735; 95%CI: 1,021–2,949), dan tingkat pendidikan ibu (POR=1,437; 95%CI: 1,041–1,984). Paparan asap rokok ayah di dalam rumah berhubungan dengan peningkatan risiko kejadian stunting pada balita. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi paparan asap rokok pada anak di lingkungan rumah tangga sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting.
Stunting remains a major public health problem among children under five in Indonesia. Exposure to Environmental Tobacco Smoke (ETS) is considered one of the environmental factors that may contribute to impaired child growth through inflammatory processes, immune dysfunction, and disruption of nutrient absorption. This study aimed to analyze the association between ETS exposure and stunting among children under five in West Java Province in 2023. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study sample consisted of 2,960 children under five in West Java Province. The dependent variable was stunting, while the main independent variable is exposure to environmental cigarette smoke which is measured based on smoking status, smoking location, and number of cigarettes per day. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression analyses. The prevalence of stunting among children under five was 26.0%. Most fathers were smokers (76.8%), and 44.8% of them smoked inside the house. Multivariate analysis showed that paternal smoking exposure inside the house was significantly associated with stunting among children under five (AOR=1.438; 95%CI: 1.041–1.985). Other variables significantly associated with stunting were child age (AOR=1.451; 95%CI: 1.029–2.046), low birth weight history (AOR=2.865; 95%CI: 1.493–5.499), history of gastrointestinal infection (AOR=1.735; 95%CI: 1.021–2.949), and maternal education level (AOR=1.437; 95%CI: 1.041–1.984). Exposure to paternal cigarette smoke inside the house was associated with an increased risk of stunting among children under five. Efforts to reduce children’s exposure to cigarette smoke in the household environment are needed as part of stunting prevention strategies.
