Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
ABSTRAK Nama : Gladys Apriluana Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Hubungan Pemberian MPASI dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24 Bulan di Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang Tahun 2019 Pembimbing : Dr drg. Sandra Fikawati, MPH Latar belakang: Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang banyak diderita balita di Indonesia. Kecamatan Pagedangan memiliki jumlah balita kurang gizi masih tinggi. Faktor penting pada pertumbuhan anak adalah asupan gizi. MPASI yang diberikan setelah balita berusia 6 bulan harus beraneka ragam dan adekuat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dalam mencapai pertumbuhan yang optimal. Sayangnya, di Indonesia sulit untuk mencapai asupan gizi cukup dari MPASI yang umumnya berbasis tradisional dan tidak difortifikasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara Metode: Penelitian dilakukan dengan disain kasus kontrol dan rasio sampel 1:1,5. Penelitian dilakukan dari Maret-Mei 2019. Populasi adalah balita usia 24 bulan. Total sampel sebanyak 100 anak. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pemberian MPASI (p=0,033) dan pekerjaan ibu (p=0,040) dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang paling berpengaruh adalah pekerjaan ibu (OR=7,6), pendapatan keluarga (OR=4,8), dan pemberian MPASI (OR=4,0). Kesimpulan: Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita adalah pekerjaan ibu, setelah dikontrol pendapatan keluarga, pemberian MPASI, frekuensi minum susu, konsumsi susu, dan usia mulai minum susu. Saran: Meningkatkan program “Isi Piringku” dengan membuat menu makanan yang bergizi untuk balita disesuaikan ketersediaan pangan dan status sosial ekonomi warga. Kata kunci: stunting, balita, pemberian MPASI, pekerjaan ibu
ABSTRACT Name : Gladys Apriluana Study Program : Public Health Title : Correlation Between Complementary Feeding with Stunting in Children Aged 24 Months in Pagedangan District, Tangerang Regency in 2019 Counsellor : Dr drg. Sandra Fikawati, MPH Background: Stunting is a chronic malnutrition problem that affects many children in Indonesia. Pagedangan district has a high number of malnourished children. An important factor in children's growth is nutritional intake. Complementary foods that given after a 6-month-old toddler must be diverse and adequate, so that it meets growth needs. Unfortunately, in Indonesia it is difficult to achieve sufficient nutritional intake from complementary foods which is generally traditional and not fortified. The purpose of study was to determine correlation between complementary feeding and the incidence of stunting in children aged 24 months. Methods: The study was conducted with case control design and sample ratio of 1: 1.5. The study was conducted from March to May 2019. The population was children aged 24 months. A total sample of 100 children. Results: The results of bivariate analysis showed that there was a significant correlation between complementary feeding (p=0.033) and maternal occupation (p=0.040) with the incidence of stunting. The results of multivariate analysis showed the most influential variables were maternal occupation (OR = 7.6), family income (OR = 4.8), and complementary feeding (OR = 4.0). Conclusion: The dominant factor associated with the incidence of stunting in children aged 24 months is maternal occupation, after controlled family income, complementary feeding, frequency of drinking milk, milk consumption, and age start drinking milk. Suggestion: Improving the program "Fill my plate" by making nutritious food menus for toddlers adjusted for food availability and socio-economic status of the residents. Keywords: stunting, children, complementary feeding, maternal occupation
Kata kunci: ASI eksklusif, inisiasi menyusu dini (IMD), pekerjaan ibu
Latar belakang: Perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut tidak hanya dipengaruhi oleh keyakinan dan sikap yang terbentuk dalam diri individu. Pemeriksaan gigi pada mahasiswa/I PTDI-STTD didapatkan hasil rata-rata DMF-T adalah 2,7 termasuk dalam kategori sedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku kesehatan gigi dan mulut pada mahasiswa/i PTDI-STTD ditinjau dari teori Health Belief Model (HBM). Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan potong lintang (cross-sectional). Terdapat 245 sampel penelitian mahasiswa /i PTDI-STTD yang dipilih secara acak dengan teknik stratified random sampling. Analisis data dilakukan dengan univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Skor rata-rata perilaku kesehatan gigi dan mulut sebesar 74,7 dari skala 100. Penelitian menunjukkan terdapat hubungan persepsi manfaat, persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut (p-value = 0,001), tidak terdapat hubungan yang signifikan persepsi keparahan (p = 0,580 ) dan persepsi kerentanan p = 0,685) dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut. Pekerjaan ibu (p = 0,019) memiliki hubungan dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut, jenis kelamin (p = 0,264), pendidikan ibu (p = 0,174), pendidikan ayah (p = 0,998), dan pekerjaan ayah (p = 0,369) tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut. Kesimpulan: Persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri merupakan determinan utama perilaku kesehatan gigi dan mulut. Upaya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan dan edukasi terkait pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
Background: Oral health maintenance behaviour is not only influenced by beliefs and attitudes formed within individuals. Dental examinations of PTDI-STTD students showed an average DMF-T score of 2.7, which is classified as moderate. This study aims to determine the determinants of dental and oral health behaviour among PTDI-STTD students based on the Health Belief Model (HBM) theory. Methods: This study used a quantitative cross-sectional design. There were 245 PTDI-STTD student samples selected randomly using stratified random sampling. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Results: The average oral health behaviour score was 74.7 out of 100. The study showed that there was a relationship between perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy with oral health behaviour (p-value = 0.001). There was no significant relationship between perceived severity (p = 0.580) and perceived susceptibility (p = 0.685) with oral health behaviour. The mother's occupation (p = 0.019) was associated with oral health behaviour, while gender (p = 0.264), the mother's education (p = 0.174), the father's education (p = 0.998), and the father's occupation (p = 0.369) were not significantly associated with oral health behaviour. Conclusion: Perceived barriers, cues to action, and self-efficacy are the main determinants of oral health behaviour. Efforts that can be made include examinations and education related to oral health maintenance.
