Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Niniek Suharini
MKMI Vol.XX, No.6
Jakarta : IAKMI, 1992
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zubairi Djoerban, Jubianto Judanarso
MKMI Vol.XX, No.6
Jakarta : IAKMI, 1992
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
G. Sihombing
MKMI Vol.XX, No.6
Jakarta : IAKMI, 1992
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wistianto
MKMI Vol.XX, No.6
Jakarta : IAKMI, 1992
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
H. Rustamadji
MKMI Vol.XX, No.6
Jakarta : IAKMI, 1992
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retna Mustika Indah; Pembimbing: PrastutiC. Soewondo; Penguji: Adang Bachtiar, Wahyu Sulistiadi, M. Karyana; Dewi Lokida
T-5251
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Syarifah Dewi; Pembimbing: Endah Wuryaningsih, C.; Penguji: Zarfiel Tafal, Anwar Hassan, Heni Setyowati, Prayetni
Abstrak:

ABSTRAK Latar Belakang: Perawat mempunyai risiko terinfeksi virus yang ditularkan melalui darah seperti virus HIV/AIDS, Hepatitis B dan Hepatitis C. Penularan dapat dicegah dengan penerapan prinsip kewaspadaan universal.Tujuan : Diketahuinya gambaran praktik kewaspadaan universal oleh perawat di RSUD Karawang dan hubungannya dengan faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. Metode Penelitian: Penelitian deskriptif analitik dengan metode potong lintang yang dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2013. Data diperoleh dari 77 responden melalui self administered questionnaires dan observasi. Hasil : Penelitian menunjukkan hanya 44,2% responden yang melakukan praktik kewaspadaan universal dengan baik. Dari hasil uji chi square, variabel yang secara signifikan berhubungan dengan praktik kewaspadaan universal adalah pengetahuan (p = 0,045) dan pengawasan atasan (p = 0,011) serta dukungan teman sekerja (p = 0,037). Variabel yang tidak berhubungan adalah adalah pendidikan, lama masa kerja, sikap, ketersediaan SOP, ketersediaan fasilitas dan pelatihan. Kesimpulan : Faktor yang paling berhubungan dengan praktik kewaspadaan universal adalah pengawasan atasan. Responden yang mendapatkan pengawasan atasan mempunyai peluang lebih dari 3 kali untuk melakukan praktik kewaspadaan universal dibandingkan yang tidak mendapatkan pengawasan atasan.


 ABSTRACT Background : The nurse has a risk to be invected by the virus that is infected blood borne pathogens through the blood such as the virus of HIV/AIDS, Hepatitis B and Hepatitis C. The infection can be prevented by the principle of Universal Precautions. Objective: Knowledgeable overview of the practice of universal precautions by nurses in RSUD Karawang and the associated with predisposition factor, enabling factors and reinforcing factors. Methods: The research uses the analytic descriptive with a crosssectional method which is held on June-July 2013. The data is obtained from 77 respondents through self administered questionnaires and observation. Results: Result of research shows only 44.2% of respondents who practice universal precautions as well. From the results of the chi square test, the variables that were significantly associated with the practice of universal precautions is knowledge (p = 0.045) and control superiors (p = 0.011) as well as the support of co-workers (p = 0.037). Variables are unrelated is education, length of service, attitude, availability of SOP, availability of facilities and training. Conclusions: Factors most associated with the practice of universal precautions is superior supervision. Respondents who have a chance of getting control superiors more than 3 times to practice universal precautions than not getting control superiors.

Read More
T-3745
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Finci Ommi Andriani Sikatta; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ascobat Gani, Kartika Devi Tanos, Steaven Pieterson Dandel
Abstrak: FAO menyatakan sekitar 60% penyakit infeksi emerging adalah zoonotik, 72% bersumber dari satwa liar. Sulawesi Utara memiliki pasar tradisional ekstrim di kota Tomohon dan perilaku sebagian masyarakatnya yang kontak dengan satwa liar. Kebijakan pencegahan dan pengendalian penyakit bergantung pada deteksi dini patogen dan kondisi masyarakat termasuk pemerintah yang terkait penyakit infeksi emerging adalah zoonotik, 72% bersumber dari satwa liar. Sulawesi Utara memiliki pasar tradisional ekstrim di kota Tomohon dan perilaku sebagian masyarakatnya yang kontak dengan satwa liar. Kebijakan pencegahan dan pengendalian penyakit bergantung pada deteksi dini patogen dan kondisi masyarakat termasuk pemerintah yang terkait Penelitian ini bertujuan menganalisis komponen yang mendukung kebijakan terkait pengendalian perilaku dan pencegahan penyakit infeksi emerging (PIE). Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus menggunakan data primer yang berasal dari wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku jual beli satwa liar dan dikomsumsi merupakan budaya yang sudah turun temurun, sebagai sumber protein serta finansial bagi sebagian masyarakat di Sulawesi Utara. Tidak sesuai dengan standar kesehatan dan sanitasi hygiene yang baik. Belum ada kebijakan pemerintah yang terfokus pada pengendalian perilaku masyarakat. Dapat disimpulkan virus korona yang menyebabkan penyakit SARS, MERS, dan Covid 19 menekankan adanya keberlanjutan ancaman penyakit infeksi yang baru. Faktor perilaku kontak dengan satwa liar serta keberadaan pasar ekstrim di Tomohon Sulawesi Utara merupakan ancaman Penelitian ini bertujuan menganalisis komponen yang mendukung kebijakan terkait pengendalian perilaku dan pencegahan penyakit infeksi emerging (PIE). Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus menggunakan data primer yang berasal dari wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku jual beli satwa liar dan dikomsumsi merupakan budaya yang sudah turun temurun, sebagai sumber protein serta finansial bagi sebagian masyarakat di Sulawesi Utara. Tidak sesuai dengan standar kesehatan dan sanitasi hygiene yang baik. Belum ada kebijakan pemerintah yang terfokus pada pengendalian perilaku masyarakat. Dapat disimpulkan virus korona yang menyebabkan penyakit SARS, MERS, dan Covid 19 menekankan adanya keberlanjutan ancaman penyakit infeksi yang baru. Faktor perilaku kontak dengan satwa liar serta keberadaan pasar ekstrim di Tomohon Sulawesi Utara merupakan ancaman infeksi virus baru dari hewan reservoir ke manusia. Perlu segara dibuat kebijakan substitusi dan eliminasi faktor tersebut untuk mencegah terjadinya pandemi penyakit baru di kemudian hari.
FAO states that around 60% of emerging infectious diseases are zoonotic, 72% of which originate from wild animals. North Sulawesi has an extreme traditional market in the city of Tomohon and the behavior of some of its people who come into contact with wildlife. Disease prevention and control policies depend on early detection of pathogens and the condition of the community including the relevant government. This study aims to analyze the components that support policies related to behavioral control and prevention of emerging infectious diseases (EID). Qualitative research with case study design uses primary data derived from in-depth interviews, observation and document review. The results of this study indicate that the behavior of buying and selling wild animals and being consumed is a culture that has been passed down from generation to generation, as a source of protein and finance for some people in North Sulawesi. Not in accordance with health standards and good hygiene sanitation. There is no government policy that focuses on controlling people's behavior. It can be concluded that the corona virus that causes SARS, MERS, and Covid 19 emphasizes the ongoing threat of new infectious diseases. Behavioral factors in contact with wild animals and the existence of extreme markets in Tomohon, North Sulawesi, are a threat to "hot spots" for new virus infections from reservoir animals to humans. It is necessary to immediately make a policy of substitution and elimination of these factors to prevent new disease pandemics in the future.
Read More
T-6356
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Feni Dwi Lestari; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Opy Dyah Paramita, Agus Rahmanto
Abstrak:
Latar Belakang: Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit telah memiliki pengalaman besar dalam penanggulangan bencana Penyakit Infeksi Emerging (COVID-19), namun Rumah Sakit belum melakukan analisa dan merancang hospital disaster plan untuk penyakit infeksi. Ancaman bencana PINERE di masa mendatang dilaporkan akan menjadi lebih serius, sering terjadi karena faktor perubahan ekologi yang cepat, perubahan iklim dan peningkatan perjalanan. Rumah Sakit harus memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana PINERE. Oleh karena itu, rumah sakit harus memiliki Hospital Disaster Plan Penyakit Infeksi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, riset operasional menggunakan modifikasi dari Pedoman Kesiapsiaan Rumah Sakit Terhadap Epidemi oleh WHO, Daftar Tilik Kesiapan Rumah Sakit Dalam Masa Pandemi COVID-19 oleh Kemenkes dan teori manajemen risiko bencana. Lokasi penelitian di Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit yang merupakan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hasil: Penelitian ini menghasilkan rancangan Hospital Disaster Plan Penyakit Infeksi Emerging dan Re-Emerging (PINERE) Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit. Kesimpulan: Rancangan Hospital Disaster Plan Penyakit Infeksi Emerging dan Re-Emerging (PINERE) Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit dapat dibahas lebih lanjut oleh manajemen Rumah Sakit untuk digunakan sebagai kesiapsiagaan terhadap bencana penyakit infeksi.

Background: The Duren Sawit Hospital has great experience in managing the Emerging Infectious Disease (COVID-19) disaster, but the hospital has not yet carried out an analysis and designed a hospital disaster plan for infectious diseases. The threat of future Infectious Disease disasters is reported to be more serious, often due to factors such as rapid ecological change, climate change and increased travel. Hospitals must have preparedness for the PINERE disaster. Therefore, hospitals must have a Hospital Disaster Plan for Emerging and Re-Emerging Infectious Diseases. Methods: This research is qualitative research, operational research using modifications of the WHO Guidelines for Hospital Preparedness against Epidemics, the Hospital Readiness Checklist during the COVID-19 Pandemic by the Ministry of Health and disaster risk management theory. The research location is at the Duren Sawit Hospital which belongs to the DKI Jakarta Provincial Government. Results: This research resulted in a draft Hospital Disaster Plan for Emerging and Re-Emerging Infectious Diseases (PINERE) for the Duren Sawit Regional Special Hospital Conclusion: The draft Hospital Disaster Plan for Emerging and Re-Emerging Infectious Diseases for the Duren Sawit Hospital can be discussed further by the Hospital management to be used as preparedness for infectious disease disasters.
 
Read More
B-2436
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhika Paramasatya; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, R. Budi Haryanto, Ade Irwan Afandi, Rahmi Ariyani
Abstrak:
Stunting adalah menurunnya laju pertumbuhan panjang/tinggi badan dibawah minus 2 standar deviasi. Desa Cijeruk Kecamatan Kibin merupakan desa dengan angka kejadian stunting tertinggi di Kab. Serang dimana 233 (77,66%) balita menderita stunting. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran kejadian stunting pada balita di Desa Cijeruk Kecamatan Kibin Kabupaten Serang Banten tahun 2023 dan menganalisis hubungannya dengan Riwayat Penyakit Infeksi. Desain penelitian adalah potong lintang dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian didapatkan terdapat hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting (p<0,01). Balita dengan riwayat penyakit infeksi berisiko 21,23 kali mengalami stunting (OR=21,23,95% CI 7,15-62,01). Variabel kovariat faktor balita yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah jenis kelamin (p=0,038) dan riwayat penyakit infeksi (p=<0,001); faktor keluarga yaitu pendapatan keluarga (p=0,040) dan pola asuh otoriter (p= 0,004); dan faktor lingkungan yaitu stop buang air besar sembarangan (p=0,038) dan pengamanan sampah rumah tangga (p=<0,001). Variabel MP-ASI dan stop buang air besar sembarangan merupakan variabel perancu terhadap hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting. Balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi berisiko 31,30 kali lebih tinggi mengalami stunting dibanding balita yang tidak memiliki riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel perancu (OR=21,28 95% CI 6,088-74,379).

Stunting is a decrease in the growth rate of length/height below minus 2 standard deviations. Cijeruk Village, Kibin District, is the village with the highest stunting rate in Kab. Serang where 233 (77.66%) toddlers suffer from stunting. The purpose of this study was to identify the description of the incidence of stunting in toddlers in Cijeruk Village, Kibin District, Serang Banten Regency in 2023 and analyze its relationship with a History of Infectious Diseases. The research design is cross-sectional with a quantitative approach. The results of the study found that there was a relationship between a history of infectious diseases and the incidence of stunting (p <0.01). Toddlers with a history of infectious diseases are at risk of 21.23 times experiencing stunting (OR=21.23.95% CI 7.15-62.01). The covariate variables associated with stunting were gender (p=0.038) and history of infectious diseases (p=<0.001); family factors, namely family income (p=0.040) and authoritarian parenting (p=0.004); and environmental factors, namely stopping open defecation (p=0.038) and safeguarding household waste (p=<0.001). The MP-ASI variable and stopping open defecation are confounding variables for the relationship between a history of infectious diseases and the incidence of stunting. Toddlers who have a history of infectious diseases have a 21.28 times higher risk of experiencing stunting than toddlers who do not have a history of infectious diseases after controlling for confounding variables (OR=21.28 95% CI 6.088-74.379).
Read More
T-6721
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive