Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mutia Ardhaneswari; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Zakianis, Abdur Rahman, Didi Purnama
Abstrak: Wilayah pertanian berpotensi tinggi mengalami pencemaran pada air tanah yang disebabkan penggunaan dan pemberian pupuk nitrogen pada lahan pertanian seperti NPK dan urea. Pupuk nitrogen yang diaplikasikan pada tanah akan mengalami leaching terbawa air hujan masuk ke dalam tanah. Konsumsi air tanah yang mengandung nitrat dan nitrit dapat mengakibatkan dampak kesehatan seperti Blue Baby Syndrome atau Methemoglobinemia dan kanker. Penelitian ini dilakukan di Desa Cihambulu, Kabupaten Subang dengan menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) untuk mengetahui tingkat risiko kesehatan yang ditimbulkan dari senyawa nitrat dan nitrit pada air tanah. Sebanyak 33 sampel air tanah dikumpulkan selama bulan Februari 2021 dari sumur warga yang digunakan sebagai sumber utama air minum. Wawancara dilakukan kepada 123 responden yang terdiri dari balita, anak, pria dewasa dan wanita dewasa yang merupakan anggota keluarga yang bertempat tinggal di 33 lokasi pengambilan sampel tersebut untuk memperoleh informasi berat badan, laju konsumsi dan lama tinggal responden di lokasi penelitian. Hasil analisis menunjukkan konsentrasi nitrat (NO3-N) pada air tanah berkisar antara 0,03 - 6,7 mg/L dengan rata-rata 1,38 mg/L sedangkan konsentrasi nitrit (NO2-N) pada air tanah berkisar antara 0,01 - 0,08 mg/L dengan rata-rata 0,02 mg/L. Tingkat risiko kesehatan non karsinogenik menunjukkan nilai RQ < 1 untuk kelompok responden yaitu balita, anak, wanita dan pria dewasa yang menggambarkan bahwa senyawa nitrat dan nitrit pada air tanah tersebut belum menimbulkan risiko kesehatan kepada penduduk Desa Cihambulu.
Read More
T-6230
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadifa Fikriyuanti; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Satria Pratama
Abstrak: Skripsi ini merupakan kajian kepustakaan (literature review) mengenai faktor risiko yang mempengaruhi leptospirosis dari segi individu dan lingkungan di wilayah Asia Pasifik. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko lingkungan dan individu yang menyebabkan kasus peningkatan leptospirosis di Asia Pasifik. Skripsi ini menggunakan desain literature review dan dianalisis menggunakan metode kualitatif berdasarkan desain study case control dan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder berupa artikel internasional dalam bentuk full text pdf dari database internasional seperti ScienceDirect, ProQuest, Scopus, dan PubMed. Analisis data yaitu deskriptif dengan menyajikan hasil sintesis data penelitian dalam bentuk teks narasi dan tabular untuk melihat perbandingan faktor risiko dari masing-masing literatur. Sebagian besar literatur berasal dari wilayah Sri Lanka, India, Laos, Vietnam, dan Malaysia. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa faktor risiko yang paling signifikan menyebabkan leptospirosis berdasarkan case-control study ialah jenis pekerjaan di bidang pertanian (OR 4,588), sedangkan berdasarkan cross-sectional study faktor risiko yang paling signifikan adalah keberadan tikus (p value 0,001) dan jenis pekerjaan (p value 0,005). Kesimpulan dari kajian ini adalah jenis pekerjaan dan keberadaan tikus merupakan faktor risiko yang paling signifikan menyebabkan leptospirosis. Hal ini didukung oleh jenis pekerjaan yang tergolong high risk occupational, misalnya bekerja di bidang pertanian lebih berisiko meningkatkan leptospirosis dibanding pekerjaan yang berisiko rendah.
This study is a literature review study that examine risk factors of leptospirosis from individual and environmental perspectives in the Asia Pacific region. This study aims to examine the environmental and individual risk factors that cause leptospirosis infection. This study uses a literature review study approach and analyzed using qualitative methods based on case-control study and cross-sectional study. This study uses secondary data of the international articles from the internet or websites, especially 8 international articles from the international database such as ScienceDirect, ProQuest, Scopus, and PubMed. Most of the international articles are from Sri Lanka, India, Laos, Vietnam and Malaysia. The results of this study indicate that the most significant risk factor for leptospirosis based on the case-control study is the occupation, especially in the wet cultivation sector (OR 4.588), while the most significant risk factor based on the cross-sectional study is the presence of rats (p value 0.001) and occupation (p value 0.005). The conclusion of this study is the occupation and presence of rats are the most significant risk factors for leptospirosis. This is supported by the occupation that is classified as high risk occupational, for example, working in agriculture has a higher risk of increasing leptospirosis than work with low risk.
Read More
S-10958
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Norman Hendrawan Gultom; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Adrianus Pangaribuan
S-7808
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajaria Nurcandra; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Feni Fitriani, Miko Hananto, Fariz Nurwidya
Abstrak: Latar Belakang: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan salahsatupenyakit paru yang ditandai dengan obstruksi saluran pernapasan yangmengganggu pernapasan normal dengan age-adjusted death rate 41,2/100.000pada tahun 2009. Penyebab kematian tertinggi ketiga di dunia tahun 2008 dandiperkirakan akan menjadi penyakit tertinggi di dunia pada tahun 2030. Studi iniditujukan untuk melihat besarnya hubungan pajanan pestisida terhadap PPOKpada petani.Metode: Studi kasus kontrol dilakukan pada bulan April sampai Mei 2016 diPurworjeo. Sebanyak 66 kasus merupakan petani yang didiagnosis PPOK padatahun 2015 berdasarkan data register dan rekam medis, sedangkan 59 kontrolmerupakan tetangga korban yang bekerja sebagai petani dengan hasil ukurspirometer normal. Kasus dan kontrol diukur fungsi paru menggunakanspirometer dan COPD assessment test.Hasil: Analisis regresi logistik kuantitas (OR=0,75; 95% CI 0,318-1,754) dandurasi keterpajanan pestisida (OR=1,11; 95% CI 0,430-2,891) diadjust denganpotensial confounder tidak menunjukkan hubungan yang jelas. Pestisidaditemukan sebagai risiko PPOK berdasarkan lama kerja (OR=5,61; 95% CI1,124-27,990) setelah di-adjust oleh confounder (umur, IMT, APD, riwayatpenyakit, merokok, pajanan debu dan asap.Kesimpulan: Lama kerja ditemukan sebagai faktor risiko PPOK, tetapi tidakditemukan hubungan yang jelas antara kuantitas dan durasi terhadap PPOK. Alatpelindung diri sebaiknya digunakan terutama masker untuk mengurangi efektoksik terhadap paru.Kata kunci: Pestisida, pertanian, PPOK, petani
Background: Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is a term whichrefers to a large group of lung diseases characterized by obstruction of air flowthat interferes with normal breathing with age-adjusted death rate of41.2/100,000 in 2009. It causing 3rd highest of mortality worldwide in 2008 andestimated as the highest non communicable disease worldwide in 2030. This studyaimed to determine the relationship of pesticide exposure to COPD in farmer.Methods: A case-control study performed between April to May 2016 inPurworejo. The case group were 66 farmer who suffered from COPD during 2015by medical record, while the control group were 59 farmer of cases neighbourwho tested by spirometer showed normal lung function. Both case and controlgroup was tested by spirometer and COPD assessment test.Results: Logistic regression analysis of quantity (OR=0.75; 95% CI 0.318-1.754)and duration of spraying (OR=1.11; 95% CI 0.430-2.891) adjusted for allpotential confounders showed no clear associations. Pesticide remains a potentialhealth risk by duration of farming to COPD (OR=5,61; 95% CI 1,124-27,990)adjusted by confounders (age, BMI, PPE, history of resporatory illness, smokinghabit, dust and fumes exposure).Conclusion: Duration of farming found as risk factor of COPD, but no clearassociation of quantity and duration of spraying to COPD. PPE should be usedespecially mask along spraying process to reduce the risk of respiratory illness.Keywords: pesticide, agriculture, COPD, farmer.
Read More
T-4656
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ali Abdul Aziz; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Endang Burni Prasetyowati
S-8077
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arina Syahida Hurva Radisan Saf; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ina Dewi Kania
Abstrak:
Sektor pertanian merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya dengan kecelakaan kerja, paparan bahan kimia, dan angka kematian yang tinggi. Petani padi terpapar oleh bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan bahaya keselamatan. Perilaku kesehatan merupakan gabungan dari pengetahuan, sikap, dan praktik. Perilaku K3 sangat terkait dengan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi keselamatan dan kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor karakteristik demografi yang berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi di Desa Linggar. Sampel diambil dari setiap kelompok tani padi. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur. Analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji Chi- Square, dan uji Fisher Exact. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan dengan usia (p=0,001; OR=0,183; 95% CI:0,066-0,512) dan tingkat pendapatan dengan pengetahuan (p=0,028; OR=3,111; 95% CI:1,110-8,716). Petani berusia ≥60 tahun dan petani dengan pendapatan rendah kemungkinan memiliki tingkat pengetahuan kurang baik yang lebih besar. Tingkat pendapatan berhubungan dengan sikap (p = 0,03; OR=0,271; 95% CI:0,080-0,917). Petani dengan tingkat pendapatan tinggi kemungkinan memiliki sikap negatif terhadap K3 yang lebih besar. Tingkat pendidikan berhubungan dengan praktik (p=0,041; OR=3,885; 95% CI:0,995-15,17). Petani dengan tingkat pendidikan dasar kemungkinan memiliki praktik kurang baik yang lebih tinggi. Dinas Pertanian Kabupaten Bandung dapat bekerja sama dengan instansi lain untuk menyelenggarakan promosi K3 pada petani usia ≥60 tahun, petani dengan pendapatan rendah maupun tinggi, dan petani dengan tingkat pendidikan dasar.

Agriculture is one of the most dangerous industries, with high rates of occupational accidents, chemical exposure, and fatality rates. Rice farmers are exposed to various physical, chemical, biological, ergonomic, and safety hazards. Health behavior is a combination of knowledge, attitude, and practice. Occupational safety and health (OSH) behavior plays a central role in maintaining and promoting workers' safety and health conditions. This study examined which demographic characteristics were associated with OSH knowledge, attitude, and practice among rice farmers in Linggar Village. Samples were drawn from each farmer group in the village, with data collected through structured interviews and analyzed using descriptive statistics, the Chi-Square test, and Fisher's Exact test. The analysis revealed a significant association between age and knowledge (p=0.001; OR=0.183; 95% CI: 0.066–0.512), as well as between income and knowledge (p=0.028; OR=3.111; 95% CI: 1.110–8.716). Farmers aged 60 and above, along with those in lower-income brackets, were more likely to have poor OSH knowledge. Income was also linked to attitude (p=0.03; OR=0.271; 95% CI: 0.080–0.917), with higher-income farmers more likely to hold negative attitudes toward OSH. Education level was associated with practice (p=0.041; OR=3.885; 95% CI: 0.995–15.17), with less-educated farmers more likely to engage in poor OSH practices. These findings suggest Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, in collaboration with other authorities could develop OSH promotion programs, particularly for farmers aged 60 and above, those at either end of the income spectrum, and those with only basic education.
Read More
S-12443
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umar Mulkhan Fajar; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dengan risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tertinggi di dunia, namun implementasi K3 di kalangan petani di Indonesia masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan kecelakaan kerja pada petani aktif di Desa X, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan seluruh 54 petani aktif anggota kelompok tani sebagai responden melalui metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri atas instrumen pengetahuan (11 item, skala dikotomi), sikap (7 item, skala Likert 4 poin), dan praktik (12 item, skala frekuensi 4 poin) mengenai pencegahan kecelakaan kerja. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (83,3%) dengan rata-rata usia 52,5 tahun dan rata-rata masa kerja 21,0 tahun. Sebanyak 57,4% responden belum pernah memperoleh informasi mengenai pencegahan kecelakaan kerja dan 33,3% pernah mengalami kecelakaan kerja. Dari sisi pengetahuan, sebagian besar responden (59,3%) tergolong memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan kecelakaan kerja (skor ≥8 dari 11) dengan mean 7,52 (SD ± 2,55), meskipun pengetahuan terendah ditemukan pada aspek keselamatan kelistrikan (46,3%) dan membaca petunjuk penggunaan mesin (55,6%). Dari sisi sikap, sebanyak 57,4% responden memiliki sikap positif terhadap pencegahan kecelakaan kerja (mean 21,28; SD ± 3,84) berdasarkan cut-off mean setelah uji normalitas Shapiro-Wilk. Dari sisi praktik, hanya 37,0% responden yang tergolong memiliki praktik pencegahan kecelakaan kerja yang baik (skor ≥36 dari 48) dengan mean 30,39 (SD ± 8,05). Praktik terendah ditemukan pada pencatatan penggunaan pestisida (68,5% tidak pernah) dan perlindungan kelistrikan mesin (50,0% tidak pernah). Terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan sikap yang relatif lebih baik dibandingkan dengan praktik pencegahan kecelakaan kerja yang masih rendah. Temuan ini mengindikasikan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan faktor pendukung (enabling factors) dan peningkatan akses terhadap alat pelindung diri guna mendukung penerapan pencegahan kecelakaan kerja di kalangan petani.

The agricultural sector is one of the industries with the highest occupational safety and health (OSH) risks worldwide. However, the implementation of occupational safety and health (OSH) among farmers in Indonesia remains suboptimal. This study aimed to describe the knowledge, attitudes, and practices regarding occupational accident prevention among active rice farmers in Village X, Rancaekek District, Bandung Regency. A descriptive study with a quantitative approach was conducted involving all 54 active members of farmer groups using a total sampling method. Data were collected using a structured questionnaire consisting of a knowledge instrument (11 dichotomous items), an attitude instrument (7 items on a 4-point Likert scale), and a practice instrument (12 items on a 4-point frequency scale) related to occupational accident prevention. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distributions and descriptive statistics. The results showed that most respondents were male (83.3%), with a mean age of 52.5 years and an average working experience of 21.0 years. A total of 57.4% of respondents had never received information regarding occupational accident prevention, while 33.3% had experienced a work-related accident. Regarding knowledge, most respondents (59.3%) demonstrated good knowledge of occupational accident prevention (score ≥8 out of 11), with a mean score of 7.52 (SD ± 2.55). The lowest levels of knowledge were found in electrical safety (46.3%) and reading machine operating instructions (55.6%). Regarding attitudes, 57.4% of respondents demonstrated positive attitudes toward occupational accident prevention (mean = 21.28, SD ± 3.84), based on the mean cut-off after the Shapiro-Wilk normality test. Regarding practices, only 37.0% of respondents demonstrated good occupational accident prevention practices (score ≥36 out of 48), with a mean score of 30.39 (SD ± 8.05). The poorest practices were related to recording pesticide use (68.5% never performed) and protecting machinery electrical systems (50.0% never performed). A noticeable gap was observed between respondents' relatively good knowledge and attitudes and their poor occupational accident prevention practices. These findings indicate the need for interventions that not only improve knowledge but also strengthen enabling factors and increase access to personal protective equipment to support the implementation of occupational accident prevention among farmers.
Read More
S-12373
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Tri Rizki Febriansyah; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Kondisi kerja di sektor pertanian masih ditandai oleh rendahnya pengetahuan, sikap, dan praktik keselamatan dan kesehatan kerja (K3), keterbatasan penyediaan alat pelindung diri, jam kerja yang panjang dan tidak teratur, serta beban kerja yang tinggi dengan upah yang relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi di Desa Haurpugur, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan metode survei analitik. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung kepada petani padi menggunakan kuesioner terstruktur pada Mei-Juni 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman penyuluhan dengan pengetahuan K3. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan sikap K3, serta antara pengalaman penyuluhan dengan praktik K3. Penelitian ini menyimpulkan bahwa beberapa karakteristik individu berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan penerapan K3 melalui penguatan program penyuluhan pertanian serta dukungan kebijakan dari instansi terkait yang mempertimbangkan karakteristik individu petani padi guna mendorong terbentuknya perilaku kerja yang lebih aman di sektor pertanian.

Working conditions in the agricultural sector continue to be characterized by inadequate occupational safety and health (OHS) knowledge, attitudes, and practices, limited availability of personal protective equipment (PPE), long and irregular working hours, and high workloads accompanied by relatively low wages. This study aimed to analyze the association between individual characteristics and OHS knowledge, attitudes, and practices among rice farmers in Haurpugur Village, Rancaekek District, Bandung Regency. A quantitative approach with a cross-sectional study design and an analytical survey method was employed. Bivariate data analysis was performed using the Chi square test. Data were collected through face-to-face interviews with rice farmers using a structured questionnaire between May and June 2026. The findings revealed significant associations between age, educational level, and participation in agricultural extension programs and OHS knowledge. In addition, significant associations were found between sex and OHS attitudes, as well as between participation in agricultural extension programs and OHS practices. This study concludes that several individual characteristics are associated with OHS knowledge, attitudes, and practices among rice farmers. Therefore, efforts to improve OHS knowledge and its implementation should be strengthened through enhanced agricultural extension programs and policy support from relevant institutions that take farmers' individual characteristics into account in order to promote safer work practices in the agricultural sector.
Read More
S-12382
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive