Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diah Fitri Ayuningtyas; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Mardiati Nadjib, Amila Megraini
Abstrak: Lebih dari 90% pelayanan kesehatan di rumah sakit menggunakan persediaan farmasi. Selain itu, item persediaan farmasi di rumah sakit juga sangat banyak dan beragam sehingga memiliki nilai investasi paling besar dibandingkan dengan persediaan lainnya. Oleh karena itu, maka dibutuhkan suatu sistem pengendalian yang optimal. Instalasi Farmasi RS Kanker Dharmais telah melakukan beberapa upaya pengendalian persediaan, tetapi belum menerapkan metode yang mengelompokkan persediaan berdasarkan nilai investasi dan metode pengendalian yang mempertimbangkan biaya persediaan. Jenis penelitian ini adalah studi kasus untuk melihat biaya persediaan kelompok obat kanker reguler yang memiliki nilai investasi paling besar selama periode Januari hingga Maret 2009. Hasil penelitian, terdapat 20 sediaan jadi obat kanker reguler yang termasuk kelompok A berdasarkan Analisis ABC sehingga menjadi kelompok yang paling difokuskan dalam pengendalian. Diketahui pula bahwa biaya per pemesanan persediaan farmasi adalah Rp 2.761,3 dan biaya penyimpanan persediaan farmasi adalah Rp 8.231.133,25. Setelah dihitung jumlah pemesanan paling ekonomis pada masing-masing obat kanker reguler kelompok A, ternyata jumlah pemesanan dengan metode EOQ lebih sedikit dari jumlah pemesanan RS Kanker Dharmais sehingga frekuensi pemesanan dengan metode EOQ menjadi lebih sering. Hal itu menyebabkan biaya pemesanan dengan metode EOQ menjadi lebih tinggi, sedangkan biaya penyimpanannya menjadi lebih rendah. Dilihat dari total biaya persediaan, penggunaan metode EOQ dapat mengefisiensikan biaya persediaan selama tiga bulan sebesar 36,01% dari biaya persediaan menggunakan metode yang saat ini digunakan RS Kanker Dharmais. Penulis menyarankan penggunaan Analisis ABC secara rutin karena persediaan farmasi di Instalasi Kanker Dharmais memiliki jenis dan jumlah yang sangat banyak, sehingga Analisis ABC akan mempermudah pihak Instalasi Farmasi dalam menentukan fokus pengendalian pada persediaan yang penting (kelompok A). Sedangkan untuk menerapkan metode EOQ, perlu dilakukan penelitian lain untuk mempertimbangkan hal-hal selain dari sisi biaya.
Read More
S-5616
Depok : FKM UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Corista Karamina Hanum; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Anwar Hassan, Agus Rahmanto
S-6812
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Vitaloka; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Purnawan Junadi, Wahyu Sulistiadi, Yuliantini, Endang Adriyani
B-1596
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indera; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Purnawan Junadi, Masyitoh, Ferdy D. Tiwow, Dini Handayani
Abstrak: Penelitian menggunakan desain sequential explanatory melalui analisis kuantitatif menggunakan kuesioner Survei Farmasi dalam Budaya Keselamatan Pasien dari AHRQ dilanjutkan focus group discussion untuk merumuskan strategi dan kebijakan dalam membangun budaya keselamatan pasien di Instalasi Farmasi RS Santa Elisabeth Batam Kota.

Analisis budaya keselamatan pasien menghasilkan 4 dimensi kategori budaya sedang yang memerlukan perbaikan keselamatan pasien serta 7 dimensi kategori budaya baik yang menjadi kekuatan dalam keselamatan pasien. Pengorganisasian ketenagaan, beban kerja dan pola kerja; konseling pasien; keterbukaan komunikasi; dan respons terhadap kesalahan menjadi kelemahan budaya keselamatan pasien yang menjadi prioritas perbaikan. Tingkat pelaporan kejadian masih rendah dan harus mendapat perbaikan.

Kata kunci: budaya keselamatan pasien, instalasi farmasi

This research uses sequential explanatory design started from quantitative analysis using questionnaire The Pharmacy Survey on Patient Safety Culture (PSOPSC) from AHRQ followed by focus group discussion to formulate strategy to build patient safety culture.

Analysis of patient safety culture resulted in 4 dimensions of moderate cultural categories that require improvement and 7 dimensions of good cultural categories that be strength of the patient safety culture. Staffing, Work Pressure and Pace; Patient counseling; Communication openness; and Response to Mistakes is weakness of the patient safety culture that become priority improvement. Level of incident reporting is still low and need improvement.

Keywords: patient safety culture, pharmacy installation
Read More
B-1904
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa Ega Maharani; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Masyitoh, Setyawati Permata
S-8645
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Josiah Irma; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Pujiyanto, Dewi Basmala, Takdir Mostavan
Abstrak:

Tesis ini membahas tentang waktu tunggu pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha dan mencari faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi standar minimal pelayanan waktu tunggu di instalasi farmasi yang telah ditetapkan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif  dengan desain deskriptif. Hasil penelitian bahwa waktu tunggu pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha tidak sesuai dengan standar minimal pelayanan yang ditetapkan pihak Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha. Faktor yang berpengaruh diantaranya metode pembayaran khususnya pasien jaminan karena ketidakjelasan kesepakatan obat-obatan yang di cover khususnya vitamin, jenis resep racikan yang pengerjaanya membutuhkan proses yang lebih lama, stock obat yang sering kosong, SDM terbatas, sarana & prasarana yang tidak mendukung, ketidak sesuaian formularium dan ketidakjelasan penulisan resep, evaluasi terhadap waktu tunggu yang tidak secara rutin, dan pengawasan SOP yang rendah. Kata kunci : Waktu tunggu, farmasi, pelayanan.


 

The purpose of this study was to investigate about the waiting time of services at the Hospital Pharmacy Bhakti Yudha and seek any factor that affects the minimum standards of service in the pharmacy waiting time has been determined. The study was a descriptive qualitative research design. The study shows that the waiting time of service at the Hospital Pharmacy Bhakti Yudha not complies with minimum standards of service established by the hospital pharmacy Bhakti Yudha. Factors that affect them in particular payment method guarantees patients because of uncertainty deals drugs on the cover, especially vitamins, prescription type concoction whose implementation requires a longer process, stock drugs that are often empty, limited human resources, existing facilities do not support, incompatibilities prescribing formulary and uncertainties, evaluation of waiting time that is not routine, and SOPs low supervision. Key words : Waiting time, pharmacy, services.

Read More
B-1326
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elizabeth Indah PSP; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Mieke Savitri, Vetty Yulianty Permanasari, Endang Andriyani
Abstrak: Studi pelayanan farmasi di rumah sakit dilaksanakan di Rumah Sakit PMI Bogor dengan indikasi awal masih rendahnya nilai inventory turn over. Pendekatan action research dengan fokus pada pendistribusian dan penyimpanan perbekalan farmasi dipilih sebagai jenis penelitian yang digunakan. Metodologi yang digunakan untuk melakukan perbaikan adalah kombinasi Lean dan Six Sigma. Studi dilakukan terhadap proses pendistribusian, periode permintaan barang, buffer stock, besaran permintaan, kondisi-kondisi permintaan barang, ROP, indikator farmasi, kesesuaian jumlah stok barang, barang dan obat kadaluwarsa, penanganan kadaluwarsa, penanganan barang di gudang. Rendahnya nilai inventory turnover dapat disebabkan belum dipahaminya dengan baik makna persediaan perbekalan farmasi bagi pengelola perbekalan farmasi. Data pendukung menunjukkan besarnya jumlah permintaan barang farmasi pada setiap kali periode permintaan barang yaitu data standar deviasi kelipatan permintaan barang farmasi sebesar 54.8 dan standar deviasi kelipatan pemenuhan barang farmasi adalah 50.4. Nilai Six Sigma Deffect Per Million Opportunities untuk ketepatan pemenuhan permintaan barang farmasi sesuai perkiraan permintaan barang yang tertera di dokumen surat permintaan barang farmasi adalah 0.09. Pada proses pendistribusian barang farmasi terdapat 47.6% merupakan proses tidak mempunyai nilai tambah dan menimbulkan variasi dalam langkah proses tersebut. Faktor yang mendukung terjadinya hal ini adalah waktu permintaan barang yang panjang, belum tepatnya peramalan yang dilakukan oleh ruang perawatan, tidak dipahaminya standar perkiraan permintaan yang tertera di surat permintaan barang farmasi, pemakaian barang farmasi yang belum terdata dengan akurat, bottleneck proses distribusi terdapat pada Instalasi Farmasi belum melakukan secara optimal pengendalian permintaan barang farmasi dari ruang perawatan, belum dilakukan pemantauan terhadap perputaran, persediaan, belum rincinya prosedur. Belum optimalnya pemanfaatan teknologi sistem inventori. Belum memiliki standar maksimum dan minimum setiap jenis barang farmasi dan belum menerapkan standar penyimpanan dan manajemen pergudangan. Untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas Rumah Sakit PMI Bogor perlu dilakukan beberapa perbaikan pendistribusian dan penyimpanan perbekalan farmasi antara lain: Perbaikan kebijakan dan prosedur secara rinci dan operasional. Mengembangkan otomasi sistem inventori untuk mengurangi kesalahan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SDM pengelola melalui pelatihan. Mengembangkan Key Performance Indicator seperti Inventory Turn Over, kesesuaian jumlah barang, penataan 5-S.
Read More
B-1579
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosephine Chrismayanti; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Anggita Petrareni
Abstrak:
Latar Belakang: Pelayanan farmasi merupakan komponen yang penting dalam layanan kesehatan di rumah sakit. Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang terdapat dalam Kepmenkes RI Nomor: 129/ Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Minimal Rumah Sakit, menetapkan standar minimal waktu tunggu farmasi yang meliputi obat jadi (non racikan) kurang dari 30 menit dan obat racikan kurang dari 60 menit. Tingginya angka keluhan terhadap layanan instalasi farmasi menunjukkan adanya masalah yang perlu ditangani. Berdasarkan hal tersebut, kajian ini disusun untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu tunggu di instalasi rawat jalan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan utnuk menganalisis waktu tunggu dan faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Siloam TB Simatupang. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Data penelitian dikumpulkan melalui tarikan data SIMRS Hasil Penelitian: Analisis bivariat pada resep racikan menunjukkn faktor yang berhubungan dengan waktu tunggu adalah jumlah item obat (OR= 2,002; 95% CI: 1,469–2,728; p-value <0,001), cara bayar (OR = 5,704; 95% CI: 4,923–6,608; p < 0,001), jam kunjung (OR = 0,330; 95% CI: 0,279–0,389; p < 0,001), dan jumlah kunjungan poli (OR = 2,098; 95% CI: 1,354–3,249; p < 0,001). Sedangkan pada analisis bivariat resep non racikan, faktor yang berpengaruh adalah jumlah item obat (OR = 2,119; 95% CI: 1,877–2,391; p < 0,001), cara bayar (OR = 2,270; 95% CI: 2,052–2,510; p < 0,001), tipe obat (OR = 0,698; 95% CI: 0,617–0,790; p < 0,001), dan jam kunjung (OR = 0,602; 95% CI: 0,538–0,673; p < 0,001). Analisa multivariat ditemukan faktor yang paling berpengaruh terhadap waktu tunggu farmasi adalah cara bayar, pada resep racikan (OR = 5,568; 95% CI: 4,785–6,480; p < 0,001) dan resep non racikan (OR = 2,162; 95% CI: 1,951–2,396; p < 0,001)

Background: Pharmaceutical services are an important component of hospital healthcare services. The Minimum Service Standards (SPM) contained in the Indonesian Minister of Health Decree Number: 129/Menkes/SK/II/2008 concerning Minimum Hospital Standards, stipulates minimum waiting times for pharmacy services, which include less than 30 minutes for ready-made (non-compounded) drugs and less than 60 minutes for compounded drugs. The high number of complaints about pharmacy services indicates that there are problems that need to be addressed. Based on this, this study was conducted to determine the factors related to waiting times in outpatient facilities. Objective: This study aims to analyze waiting times and factors related to prescription waiting times at the Siloam TB Simatupang Hospital Outpatient Pharmacy. Research Methodology: This study uses quantitative methods. Research data was collected through SIMRS data extraction. Research Results: Bivariate analysis of prescription formulas indicates that the factor associated with waiting time is the number of drug items (OR = 2.002; 95% CI: 1.469–2.728; p-value <0.001), payment method (OR = 5.704; 95% CI: 4.923–6.608; p < 0.001), visiting hours (OR = 0.330; 95% CI: 0.279–0.389; p < 0.001), and number of clinic visits (OR = 2.098; 95% CI: 1.354–3.249; p < 0.001). Meanwhile, in the bivariate analysis of non-compounded prescriptions, the influencing factors were the number of drug items (OR = 2.119; 95% CI: 1.877–2.391; p < 0.001), payment method (OR = 2.270; 95% CI: 2.052–2.510; p < 0.001), drug type (OR = 0.698; 95% CI: 0.617–0.790; p < 0.001), and visit time (OR = 0.602; 95% CI: 0.538–0.673; p < 0.001). Multivariate analysis found that the most influential factor on pharmacy waiting time was payment method, for compounded prescriptions (OR = 5.568; 95% CI: 4.785–6.480; p < 0.001) and non-compounded prescriptions (OR = 2.162; 95% CI: 1.951–2.396; p < 0.001).
Read More
S-12194
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titiek Resmisari; Pembimbing: Wiku Bhakti Bawono Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permansari, Veni Sari Sondani
B-1665
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufik Santoso; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Ede Surya Darmawan, Suprijanto Rijadi, Yulkanti Ruadewi
B-1778
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive