Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Pusparani Wijayanti; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Inge Mazoni
Abstrak:
Sick Building Syndrome (SBS) adalah situasi di mana penghuni sebuah gedung mengalami efek kesehatan dan kenyamanan akut yang terkait dengan waktu yang dihabiskan di dalam gedung. Kejadian sick building syndrome disebabkan oleh keempat faktor utama, antara lain faktor fisik, faktor kimia, faktor biologi, dan faktor psikososial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan faktor fisik meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan serta karakteristik individu meliputi kondisi psikososial, jenis kelamin, usia, aktivitas merokok, riwayat alergi, dan waktu radiasi monitor dengan kejadian sick building syndrome di PT X tahun 2024. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan pengambilan data menggunakan total sampling. Pengambilan data dilakukan melalui penyebaran angket online dan pengukuran parameter fisik. Hasil penelitian univariat menunjukkan 27 (29%) orang mengalami kejadian SBS dengan gejala SBS yang paling banyak dirasakan adalah gejala umum berupa pusing, kelelahan, dan sakit kepala sebanyak 11 (11,8%) orang. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi psikososial dengan kejadia SBS di PT X. Adapun dihasilkan hubungan yang tidak signifikan antara suhu (p 0,660, OR=1,739); kelembaban relatif (p 0,103, OR=3,486); pencahayaan (p 0,503, OR=2,232); jenis kelamin (p 0,560, OR=1,455); usia (p 0,505, OR=0,638); waktu radiasi monitor (p 1, OR= 1,263); riwayat alergi (p 0,248, OR=2); aktivas merokok (p 1, OR=1,094) dengan kejadian SBS. Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap SBS adalah kondisi psikososial.

Sick Building Syndrome (SBS) is a situation in which occupants of a building experience acute health and comfort effects related to time spent in the building. The occurrence of sick building syndrome is caused by four main factors, including physical factors, chemical factors, biological factors, and psychosocial factors. This study was conducted to determine the relationship between physical factors including temperature, humidity, lighting and individual characteristics including psychosocial conditions, gender, age, smoking activity, history of allergies, and monitor radiation time with the occurrence of sick building syndrome in PT X in 2024. The study design used was a research design with a quantitative approach with used total sampling. Data collection was carried out through the distribution of online questionnaires and measurement of physical parameters. The results of the univariate study showed that 27 (29%) people experienced SBS with the most common SBS symptoms being general symptoms such as dizziness, fatigue, and headaches as many as 11 (11.8%) people. The results of the bivariate test showed a significant relationship between psychosocial conditions and the incidence of SBS at PT X. While the insignificant relationship between temperature was produced (p 0.660, OR = 1.739); relative humidity (p 0.103, OR = 3.486); lighting (p 0.503, OR = 2.232); gender (p 0.560, OR = 1.455); age (p 0.505, OR = 0.638); monitor radiation time (p 1, OR = 1.263); Allergy history (p 0.248, OR = 2); smoking activity (p 1, OR = 1.094) with the incidence of SBS. The results of the multivariate analysis showed that the most dominant variables influencing SBS were psychosocial conditions.
Read More
S-11684
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuranida Fauziyah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Haryoto Kusnoputranto;
Abstrak:
Air minum merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia. Universitas Indonesia kampus Depok menyediakan fasilitas air siap minum. Pada penelitian kualitas air tanah di Kota Depok yang dilakukan tahun 2022, diperoleh bahwa kualitas air tanah parameter Fisik di Kota Depok belum sepenuhnya memenuhi standar baku mutu. Namun kualitas air siap minum di Universitas Indonesia tidak dilakukan pengecekan kualitas air secara berkala, termasuk kualitas air siap minum parameter fisik. Tujuan penelitian Menganalisis kualitas parameter Fisik air siap minum sebelum dan sesudah filtrasi yang tersedia di setiap fakultas Universitas Indonesia kampus Depok Tahun 2023. Uji yang digunakan pada penelitian ini analisis deskriptif dengan desain studi cross sectional. Sampel yang diambil adalah air siap minum sebelum dan sesudah filtrasi di Universitas Indonesia kampus Depok tahun 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 9 sampel untuk air siap minum sebelum filtrasi dan 9 sampel air siap minum. Pengukuran kualitas air parameter fisik ini dilakukan secara in situ dan uji laboratorum. Pengukuran parameter kekeruhan, warna, badan Total Zat Terlarut diuji di laboratorium Labkesda DKI Jakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas air siap minum parameter fisik sebelum filtrasi di Universitas Indonesia tahun 2023 yang memenuhi persyaratan yaitu berjumlah 3 sampel (33,3%) dari 9 sampel yang diteliti dan 66,7% lainnya tidak memenuhi syarat. hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas air siap minum sesudah filtrasi parameter fisik di Universitas Indonesia tahun 2023 yang memenuhi persyaratan berjumlah 3 sampel (33,3%) dari 9 sampel yang diteliti 66,7% lainnya tidak memenuhi syarat. hasil analisis uji bivariat, hanya parameter suhu yang terdapat perbedaan antara kualitas air siap minum sebelum dan sesudah filtrasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai p value 0,008 (p<0,05). Sedangkan untuk parameter kekeruhan, warna, bau, daya hantar listrik, Total Zat Terlarut dan pH tidak ada perbedaan yang signifikan Kesimpulan dari penelitian ini adalah 9 dari air siap minum sebelum di filtrasi yang diteliti, hanya 3 sampel yang memenuhi persyaratan parameter fisik dan 9 dari air siap minum sesudah filtrasi yang diteliti yang memenuhi persyaratan parameter fisik berjumlah 3 sampel sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023.

Drinking water is an important need for every human being. The University of Indonesia's Depok campus provides ready-to-drink water facilities. In research on the quality of groundwater in Depok City which will be conducted in 2022, it is found that the physical parameter groundwater quality in Depok City has not fully met the quality standards. However, the quality of ready-to-drink water at the University of Indonesia does not regularly check the quality of water, including the quality of ready-to-drink water on physical parameters. The research objective was to determine the quality of the physical parameters of ready-to-drink water before and after filtration available in every faculty of the University of Indonesia, the Depok campus, in 2023. The test used in this study was descriptive analysis with a cross-sectional study design. The samples taken were ready-to-drink water before and after filtration at the University of Indonesia, Depok campus in 2023 with a total sample of 9 ready-to-drink water before filtration and 9 ready-to-drink water samples. Measurement of water quality physical parameters is carried out in situ and laboratory tests. Measurement of the parameters of turbidity, color, total body dissolved substances were tested at the Labkesda DKI Jakarta laboratory. The results of the analysis show that the physical parameters of ready-to-drink water quality before filtration at the University of Indonesia in 2023 meet the requirements, namely 3 samples (33.3%) of the 9 samples studied and the other 66.7% do not meet the requirements. The results of the analysis show that the quality of ready-to-drink water after filtration for physical parameters at the University of Indonesia in 2023 meets the requirements of 3 samples (33.3%) of the 9 samples studied, 66.7% do not meet the requirements. the results of the bivariate test analysis, only the temperature parameter that there is a difference between the quality of ready-to-drink water before and after filtration. This is indicated by the p value of 0.008 (p <0.05). As for the parameters of turbidity, color, odor, electrical conductivity, total dissolved substances and pH there is no significant difference The conclusion of this study is that 9 of the ready-to-drink water before being filtered were studied, only 3 samples that met the physical parameter requirements and 9 of the ready-to-drink water after being filtered that were studied that met the physical parameter requirements, totaling 3 samples in accordance with Minister of Health Regulation Number 2 Year 2023.
Read More
S-11381
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Davin Syauqi Adli Perdana Susanto; Pembimbing, L. Meily; Penguji: Mila Tejamaya,
S-11329
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Davin Syauqi Adli Perdana Susanto; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Mila Tejamaya, Angga Hadi Nugraha
Abstrak:
Skripsi ini membahas tentang Kualitas Udara dalam Ruangan (KUDR) di area kerja kantor pusat PT. X, yang ditinjau berdasarkan hasil pengukuran parameter KUDR yang meliputi parameter kimia (NO2, CO, CO2, PM10, TVOC, formaldehida), fisika (suhu, kelembaban, laju pergerakan udara, pencahayaan), dan mikrobiologi (total bakteri dan total kapang), serta dengan mendeskripsikan faktor KUDR yang ada di area kerja (sumber kontaminan, jalur kontaminan, ventilasi dan distribusi udara, pengguna ruangan). Penelitian menggunakan metode mixed-method dengan pendekatan deskriptif observasional. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran dengan syarat KUDR menurut Permenaker 5/2018 dan Permenkes 48/2016, dan dengan menganalisis faktor KUDR yang berperan. Didapatkan rata-rata konsentrasi CO2, TVOC, dan laju pergerakan udara tidak sesuai dengan setidaknya salah satu syarat KUDR. Faktor KUDR yang teridentifikasi dan berpotensi menjadi penyebab kondisi tersebut adalah kondisi ventilasi dan aktivitas pengguna ruangan. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengukur kondisi polusi di luar gedung, performa ventilasi, dan keluhan serta gejala Sick Building Syndrome pada pekerja.

The focus of this study is to give an overview of Indoor Air Quality (IAQ) at PT. X office area. This study were conducted by analyzing the IAQ parameters measurement results which consist of chemical parameters (NO2, CO, CO2, PM10, TVOC, formaldehyde), physical parameters (temperature, humidity, ambient air velocity; illumination), and microbiological parameters (total bacteria and total mold), also by describing IAQ factors present in the work area (contaminant source, pathway, ventilation and air distribution, and occupant). The research used mixed-method with a descriptive and observational approach. Data analysis was carried out by comparing the IAQ measurement results with IAQ requirements according to Permenaker 5/2018 and Permenkes 48/2016, and by analyzing the IAQ factors that potentially play a role. This study revealed that the average CO2, TVOC, and ambient air velocity do not meet IAQ requirements which were potentially caused by poor ventilation and occupant activities. Further study is needed by measuring outdoor pollution, investigating ventilation performance, and collecting occupants’ complaints and Sick Building Syndrome symptoms.
Read More
S-11329
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Ketut Sudiatmika; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Fatma Lestari, Eko Pudjadi
Abstrak: Skripsi ini membahas tentang sistem rekrutmen dan seleksi tenaga keperawatan di Bagian Personalia Rumah Sakit Hermina Depok tahun 2014 berdasarkan pendekatan sistem. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif melalui pendekatan kualitatif dan didapatkan melalui wawancara mendalam kepada beberapa orang instrumen, hasil dari observasi, dan menelaah data sekunder. Hasil penelitian menyarankan agar membuat Surat Keputusan (SK) Direktur mengenai tim rekrutmen dan seleksi tenaga keperawatan, perlu memiliki ketentuan anggaran atau dana khusus pada tahap pelaksanaan rekrutmen dan seleksi, tidak perlu mengadakan ruangan khusus wawancara, tetapi memanfaatkan ruangan yang telah ada dan dilengkapi dengan sarana yang memenuhi syarat, formulir berkas lamaran diisi sebelum pemanggilan pelamar lewat telepon, perlu mengembangkan instrumen karakter, membuat instrumen wawancara teknis, mengadakan tes kecerdasan atau psikotest, menambah pertanyaan pada tes tertulis, tes kesehatan sebaiknya dilakukan sebelum orientasi tenaga keperawatan baru berlangsung, perlu diadakannya tes buta warna dan tes pendengaran, mengadakan tes praktek, mengatur waktu dengan sebaik mungkin untuk memberikan informasi kepada pengajar orientasi, memperketat seleksi berkas, menyusun jadwal rekrutmen dan seleksi secara tertulis, memperbanyak pelamar yang dapat dicapai dengan menggunakan sumber serta metode rekrutmen yang tepat.
Kata kunci: Rekrutmen dan Seleksi Tenaga Keperawatan, Rumah Sakit, Sumber Daya Manusia.

Humans almost 90% spend time in their room, and indoor pollution is consistently 2 to 5 times greater than outdoor pollution (EPA, 1989). The health effects of indoor air quality can be poor allergens, carcinogens, irritants, and interfere with the immune response system (Hess-Kosa, 2002). This study aims to describe the concentration of chemical contaminants (CO, CO2, HCHO, NH3, NO2, PM 2.5, PM10, and SO2) and level of exposure to physical parameters (light, temperature, and humidity) indoor air quality in Mall X Depok, West Java in 2014. The quantitative and qualitative research is descriptive, observational cross-sectional approach. Quantitative research conducted by reviewing the concentration of chemical contaminants and exposure levels of physical parameters of indoor air quality as well as qualitative research carried out by the data supporting the subjective complaints of sick building syndrome in a structured interview. Results worst measurement of all parameters, namely, temperature (29,4oC), humidity (69%), light (240 lux), CO (32.5 ppm), CO2 (2345.7 ppm), HCHO (0.05 ppm) , NH 3 (0.3 ppm), NO2 (2.5 ppm), SO2 (2.4 ppm), PM2,5 (0.646 mg / m3 ), PM10 (0.654 mg / m3 ). The conclusion of this study, several indoor air quality parameters exceed the Threshold Limit Values set the CO, SO2, PM2,5, PM10, temperature, and humidity
Keywords: Indoor air quality, Mall, Physical parameter exposure, Chemical contaminant consentration
Read More
S-8587
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Talitha Shaka Maritza; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Fakhry Muhammad
Abstrak:
Kualitas air minum rumah tangga merupakan salah satu indikator penting untuk menentukan kesehatan masyarakat dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) 6.1.1 terkait akses air minum aman. Kota Bogor merupakan wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan penggunaan sumber air minum beragam yang berpotensi memiliki resiko pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas air minum rumah tangga dan menganalisis hubungan patameter mikrobiologi, fisik, kimia, jenis sumber air minum, pengolahan, dan wadah penyimpanan air minum terhadap kualitas air minum rumah tangga di Kota Bogor. Desain studi penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional yang menggunakan data sekunder SKAM-RT 2024 dengan besar sampel 259 rumah tangga. Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar rumah tangga memiliki kualitas air minum yang tidak aman (94,2%), dengan parameter kimia yang tidak memenuhi syarat (92,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa parameter mikrobiologi (p=0,008), parameter fisik (p=0,013), dan parameter kimia (p=0,000) memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas air minum rumah tangga. Sementara itu, jenis sumber air minum, pengolahan air minum, dan wadah penyimpanan air minum tidak terdapat hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan kualitas air minum rumah tangga serta edukasi masyarakat terkait pengelolaan air minum dan higiene sanitasi untuk mencegah kontaminasi air minum di tingkat rumah tangga. 

Household drinking water quality is an important indicator for determining public  health in achieving Sustainable Development Goal (SDG) 6.1.1 regarding access to  safely managed drinking water. Bogor City is an urban area with high population  density and diverse drinking water sources that may increase the risk of water  contamination. This study aimed to describe the quality of household drinking  water and analyze the relationship between microbiological, physical, and chemical  parameters, types of drinking water sources, water treatment methods, and drinking  water storage containers with household drinking water quality in Bogor City. This  research employed a quantitative descriptive study with a cross-sectional design  using secondary data from SKAM-RT 2024, involving 259 households as samples.  The univariate analysis showed that most households had unsafe drinking water  quality (94.2%), with chemical parameters failing to meet the required standards  (92.7%). The bivariate analysis indicated that microbiological parameters  (p=0.008), physical parameters (p=0.013), and chemical parameters (p=0.000) were  significantly associated with household drinking water quality. Meanwhile, the type  of drinking water source, drinking water treatment, and drinking water storage  containers were not significantly associated with household drinking water quality.  Therefore, improved monitoring of household drinking water quality and public  education regarding drinking water management and sanitation hygiene are needed  to prevent drinking water contamination at the household level. 
Read More
S-12243
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yogani Saktya Dewarani; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Fatma Lestari, Eko Pudjadi
Abstrak: Sejak biaya energi meningkat di tahun 1970, pembangunan banyak mengalami modifikasi dengan menurunkan komposisi pertukaran udara luar ke dalam ruangan sehingga meningkatkan ketergantungan pada ventilasi mekanis. Hal ini dapat membawa dampak buruk terhadap kualitas udara dalam ruangan dengan menyebabkan beberapa efek kesehatan, salah satunya sick building syndrome (SBS). Pusat perbelanjaan adalah salah satu tempat umum yang menggunakan ventilasi mekanis untuk sirkulasi udaranya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsentrasi kontaminan kimia (CO, CO2, HCHO, NH3, NO2, PM 2,5, PM10, dan SO2) dan tingkat pajanan parameter fisik (cahaya, suhu, dan kelembaban) kualitas udara dalam ruangan di Pusat Perbelanjaan X Kota Depok, Jawa Barat tahun 2014. Penelitian kuantitaitf dan kualitatif ini bersifat deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Berdasarkan penelitian didapatkan beberapa parameter kualitas udara seperti CO, SO2, PM2,5, PM10, suhu, dan kelembaban
 

 
Since costs of energy increased from the 1970s, the building ventilation systems has been many modified by lowering the composition of the exchange of outdoor air into the room thus increasing the dependence on mechanical ventilation. This could have an adverse impact on indoor air quality by causing some health effects, one of them is sick building syndrome (SBS). Mall is one of the indoor public places which uses mechanical ventilation for its air circulation. This study aims to obtain an overview the concentration of chemical contaminants (CO, CO2, HCHO, NH3, NO2, PM2.5, PM10, and SO2) and the exposure level of physical parameters (illumination, temperature, and humidity) indoor air quality in Mall X Depok, West Java in 2014. This quantitative and qualitative research is descriptive, observational cross-sectional approach. This research resulted in a finding that some of the indoor air quality parameters such as CO, SO2, PM2,5, PM10, temperature, and humidity do not comply with the standard. Thus, some controls need to be implemented.
Read More
S-8586
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arma Adi Prasetya; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Fatma Lestari, Eko Pudjadi
Abstrak: Aktivitas pekerja atau penyewa kios pada pusat perbelanjaan Y yang selalu di dalam ruangan dengan beban kerja 8 jam sampai dengan 10 jam. Oleh karena itu, salah satu penentu kesehatan mereka adalah kualitas udara di dalam ruangan. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pajanan fisik dan konsentrasi kontaminan kimia lantai mezzanine, lantai 1, dan lantai 3 pada pusat perbelanjaan Y kota Depok, Jawa Barat tahun 2014. Terdapat tingkat pajanan parameter fisik yang melewati nilai ambang batas yaitu suhu, dan kelembaban. Terdapat juga beberapa konsentrasi kontaminan kimia yang melewati nilai ambang batas, yaitu CO, SO2, PM2,5, dan PM10. Kata kunci: Kualitas udara di dalam ruangan, tingkat pajanan parameter fisik, konsentrasi kontaminan kimia, nilai ambang batas, pusat perbelanjaan Activity workers or tenants at a Y shopping center are always in the room with the workload of 8 hours up to 10 hours every day. Therefore, one of the determinants of their health is indoor air quality. This study aims to describe the level of exposure to physical and chemical contaminant concentrations mezzanine floor, first floor, and third floor of the Y shopping center at Depok, West Java in 2014. There is a level of exposure to physical parameters that passed throught the threshold limit value is the temperature, and humidity. There are also several concentrations of chemical contaminants that passed throught the threshold limit value, like CO, SO2, PM2,5, and PM10. Keywords: Indoor air quality, exposure levels of physical parameters, the concentration of chemical contaminants, threshold limit value, shopping center
Read More
S-8564
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arina Qonita; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Bambang Wispriyono, Debbie Valonda S.
Abstrak:
Diare masih menjadi masalah kesehatan dengan tren cenderung meningkat di Provinsi DKI Jakarta dalam kurun 5 tahun terakhir. Kejadian diare di wilayah Provinsi DKI Jakarta perlu mendapat perhatian karena dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor risiko, salah satunya adalah kualitas air yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum pada tingkat rumah tangga dan pengaruhnya terhadap kejadian diare di Provinsi DKI Jakarta dengan turut melihat faktor kondisi sarana air minum, faktor sanitasi, faktor perilaku, dan juga faktor sosiodemografi. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan data sekunder yang berasal dari Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025. Kualitas air minum rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta sebagian besar belum memenuhi syarat (86,8%). Sebagian besar kualitas air minum rumah tangga ditinjau dari parameter mikrobiologi (57,6%) dan juga fisik (57,2%) di Provinsi DKI Jakarta belum memenuhi syarat sesuai dengan baku mutu yang berlaku. Mayoritas rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta memiliki sumber air minum yang layak (97,9%), lokasi yang aman (98,7%), wadah penyimpanan tertutup (74,6%), tidak mengetahui jarak penampungan tinja dengan sumber air minum (53,0%), tidak melakukan pengolahan air sebelum diminum (56,4%), memiliki tingkat pendidikan menengah dan tinggi (91,0%), bekerja (95,0%), dan juga berusia produktif (96,9%). Hasil analisis diperoleh bahwa tidak terdapat variabel yang berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian diare (p > 0,05). Namun, faktor yang paling dominan adalah sumber air minum sebagai faktor yang turut berperan secara signifikan. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya upaya pencegahan diare melalui pemantauan kualitas air minum rumah tangga secara berkala, edukasi pengolahan dan penyimpanan air minum, serta penguatan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga.

Diarrhea continues to pose a significant public health challenge with an increasing trend in DKI Jakarta Province over the last five years. The incidence of diarrhea in DKI Jakarta Province requires attention, as it may be influenced by various risk factors, one of which is household drinking water quality. This research sought to investigate the association between household drinking water quality and diarrhea incidence in DKI Jakarta Province by also considering factors related to drinking water facilities, sanitation, behavior, and sociodemographic characteristics. Utilizing a cross-sectional design approach, the research analyzed secondary data derived from the 2025 Household Drinking Water Quality Surveillance conducted by the DKI Jakarta Provincial Health Office. The results showed that of household drinking water failed to meet the quality standards (86,8%), particularly in the microbiological (57.6%) and physical (57.2%) parameters. Even though most households had improved water sources (97.9%), safe locations (98.7%), and closed storage containers (74.6%), many respondents were unaware of the distance to the septic tank (53.0%) and did not treat their water before consumption (56.4%). Furthermore, the majority of respondents had secondary or higher education (91.0%), were employed (95.0%), and belonged to the productive age group (96.9%). The findings indicated that no factors were statistically significantly associated with diarrhea incidence (p > 0.05). However, water source was the most dominant factor that played a significant role. These results indicate the need for diarrhea prevention efforts through regular monitoring of household drinking water quality, education on drinking water treatment and storage, and strengthening clean and healthy living behaviors at the domestic level.
Read More
S-12244
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive