Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sada Rasmada; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Anies Irawati, Hera Nurlita
Abstrak:

Masalah mengantuk pada mahasiswa berdampak negatif pada konsentrasi belajar dan produktifitas mahasiswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain asupan zat gizi, asupan energi, status gizi dan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berpengaruh terhadap masalah mengantuk pada mahasiswa S-1 reguler FKM UI tahun 2011. Penelitian dilakukan selama bulan Mei 2011 di FKM UI menggunakan desain cross sectional dengan jumlah responden yang didapatkan 139 orang. Data primer yaitu data IMT, Masalah mengantuk, aktivitas sehari-hari (aktivitas fisik, durasi tidur dan keterpaparan media), asupan energi dan asupan zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, serat, triptofan dan Fe). Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik. Persentase mahasiswa S-1 reguler FKM UI angkatan 2008-2010 tahun 2011 yang sering mengantuk adalah 28,80%. Pada penelitian ini ada hubungan yang signifikan antara durasi tidur dengan masalah mengantuk. Variabel yang paling dominan adalah durasi tidur. Mahasiswa dengan durasi tidur yang  <8 jam/ hari akan sering mengantuk sebesar 0,478 kali lebih tinggi dibandingkan mahasiswa dengan durasi tidur ≥8 jam/ hari (ada efek protektif). Kata Kunci : Masalah Mengantuk, Asupan Zat Gizi, Mahasiswa S-1 Reguler FKM UI


 

The highest problem sleepiness among students has a negative impact to their concentrate and productivity. Nutrient and energy intake, nutrition status and daily activity could give an impact for sleepiness frequency. This study is aimed at knowing the dominant factor that can give influence for problem sleepiness among Public Health Students in 2011. The sample consisted of 139 public health students participating in a cross sectional study in Faculty of Public Health, University of Indonesia. The percentage of students who is almost sleepy is 28,80%. This research showed the association between sleep duration and problem sleepiness is significant. The dominant factor is sleep duration. Students with sleep duration < 8 hours/ day could be 0,478 times more sleepy than students with sleep duration ≥ 8 hours/ day (has a protective effect). Keywords : Problem Sleepiness, Nutrient Intake, Public Health Students

Read More
T-3449
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Shaffira Aulia; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Syafirah Hardani
Abstrak: Latar Belakang: Kekerasan seksual merupakan salah satu masalah kesehatan  masyarakat yang berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan sosial pada korban. Salah  satu faktor yang berkontribusi terhadap keberlangsungan kekerasan seksual adalah rape  myth acceptance (RMA), yaitu penerimaan terhadap keyakinan yang menyalahkan  korban, membenarkan tindakan pelaku, atau meminimalkan terjadinya kekerasan seksual.  Penelitian mengenai RMA pada mahasiswa kesehatan masyarakat di Indonesia masih  terbatas, padahal kelompok ini merupakan calon tenaga kesehatan masyarakat yang  berperan dalam upaya promotif, preventif, dan edukasi terkait pencegahan kekerasan  seksual. Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan mengenai kekerasan seksual dan tingkat  rape myth acceptance pada mahasiswa aktif S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat  Universitas Indonesia tahun ajaran 2025/2026. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak  305 responden dipilih menggunakan teknik convenience sampling dan mengisi kuesioner  daring pada April 2026. Pengetahuan mengenai kekerasan seksual diukur menggunakan  kuesioner yang dikembangkan peneliti, sedangkan rape myth acceptance diukur  menggunakan Updated Illinois Rape Myth Acceptance Scale (uIRMA) versi 22 item  dengan rentang skor teoretis 22-110. Analisis data dilakukan secara deskriptif  menggunakan distribusi frekuensi, rerata, median, dan simpangan baku.. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai  kekerasan seksual (74,1%). Meskipun demikian, masih ditemukan kesenjangan  pengetahuan mengenai marital rape serta pelecehan seksual verbal dan digital. Rerata  skor rape myth acceptance sebesar 43,27 dari rentang skor teoretis 22-110, yang  menunjukkan tingkat rape myth acceptance relatif rendah. Dimensi He Didn't Mean To memiliki rerata skor tertinggi, sedangkan dimensi It Wasn't Really Rape memiliki rerata  skor terendah. Kesimpulan: Mahasiswa S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas  Indonesia memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai kekerasan seksual dan  tingkat rape myth acceptance yang relatif di bawah nilai tengah teoretis (55). Meskipun  demikian, masih terdapat bentuk mitos tertentu yang berkaitan dengan minimisasi  tanggung jawab pelaku serta kesenjangan pengetahuan mengenai beberapa bentuk  kekerasan seksual. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan edukasi mengenai  kekerasan seksual yang secara eksplisit membahas konsep persetujuan (consent),  perspektif kekerasan berbasis gender, dan pembongkaran mitos pemerkosaan di  lingkungan perguruan tinggi.
Background: Sexual violence is a major public health issue with significant physical,  psychological, social, and reproductive health consequences for survivors. One factor  contributing to its persistence is rape myth acceptance (RMA), which refers to beliefs  that blame victims, excuse perpetrators, or minimize acts of sexual violence. Research  examining RMA among public health students in Indonesia remains limited, despite their  future role in health promotion, prevention, and education related to sexual violence. Objective: To describe knowledge of sexual violence and the level of rape myth  acceptance among undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas  Indonesia, in the 2025/2026 academic year. Methods: A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted  among 305 respondents recruited through convenience sampling. Data were collected  using an online questionnaire in April 2026. Knowledge of sexual violence was assessed  using a researcher-developed questionnaire, while rape myth acceptance was measured  using the 22-item Updated Illinois Rape Myth Acceptance Scale (uIRMA), with a  theoretical score range of 22 to 110. Data were analyzed descriptively using frequency  distributions, means, medians, and standard deviations. Results: Most respondents demonstrated good knowledge of sexual violence (74.1%).  However, gaps in understanding remained regarding marital rape and verbal and digital  sexual harassment. The mean RMA score was 43.27 out of a theoretical range of 22 to  110, indicating a relatively low level of rape myth acceptance. The highest mean score  was observed in the He Didn't Mean To dimension, whereas the lowest was found in the  It Wasn't Really Rape dimension. Conclusion: Undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas  Indonesia demonstrated good knowledge of sexual violence and a relatively low level of rape myth acceptance. Nevertheless, misconceptions related to minimizing perpetrator  responsibility and gaps in understanding certain forms of sexual violence remain. These  findings highlight the importance of strengthening university-based education that  explicitly addresses consent, gender-based violence, and the deconstruction of rape  myths.
Read More
S-12465
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive