Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kenti Friskarini, Helper Sahat Manalu
BPK Vol.42, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuri Anggreini; Pembimbing : Pujiyanto; Penguji: kurnia Sari, Michael Wijaya
Abstrak: Skripsi ini membahas analisis manajemen program TB paru di Puskesmas Kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis input dan proses berdasarkan analisis sistem. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam, telaah dokumen dan daftar tilik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis input diketahui jumlah petugas TB sudah cukup, terdapat laboratorium yang dilengkapi dengan peralatan diagnostik yang sesuai, ketersediaan obat TB sudah lengkap dan cukup, tata laksana progamsudah tepat, pelaksanaan kegiatan berdasarkan kebijakan, tetapi anggaran belumd apat dinilai kecukupannya karena diperlukan analisis terhadap manfaat yangdidapat, dan sasaran suspek TB paru tidak dapat diketahui karena tidak ada pencatatan dan pelaporan. Pada analisis proses diketahui bahwa kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan perencanan yang dibuat, tugas pokok dan fungsi tetapkan secara jelas, petugas diikut sertakan dalam pelatihan sebagai upaya pengembangan keterampilan, promosi kesehatan yang efektif adalah dengan penyuluhan kepada pasien, adanya kemitraan membantu dalam penanganan program TB paru, kegiatan pengawasan dilakukan 1 kali setahun melaluisupervisi oleh tingkat Kabupaten/kota, sedangkan evaluasi didasarkan dari hasil pencatatan dan pelaporan namun terdapat pencatatan dan pelaporan yang belum lengkap. Guna meningkatkan kegiatan program TB paru di Puskesmas Kecamatan Kemayoran maka perlu ada pelatihan bagi petugas TB yang belum terlatih,melakukan analisis biaya guna mengetahui kecukupan anggaran kegiatan,meningkatkan penyuluhan sebagai bagian dari promosi kesehatan, dan melakukan pencatatan dan pelaporan pada setiap kegiatan program TB paru.Kata kunci : Analisis, Manajemen, TB Paru
In the research showed that the analysis input of TB officer in sufficient, hasapproriate laboratory with diagnostic equipment, availability medicine, effectivemanaging program, implemetation of activities based on policies, but the budgetcan not be assessed for adequacy because there are no record keeping andreporting. On the analysis process is known as the activities carried out by theplanning made, duties and clearly defined function. The officer participate in thetraining as skills development effort, effective health promotion counseling, theexistent of partnership program help in pulmonary TB. Surveillance activitiescarried out once a year through supervision by any country or city level. While theevaluation is based on the keeping and reporting result, but the are keeping andreporting no yet completed. In order to increase the activity of pulmonary TB inPuskesmas Kecamatan Kemayoran, it is necessary to hold training for officer whohave not been trained. Check cost analysis to determine the adequacy of budgetactivities, improvement counseling as a part of health promotion and keeping andreporting on any pulmonary TB progam activities.Key words : Analysis, Pulmonary TB, Management
Read More
S-8254
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indreni Fatmayanti Waridjo; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Sulistyo, Titik Kartiningsih
Abstrak:

Angka Keberhasilan TB di Kabupaten Merauke masih cukup rendah (80%), angka
keberhasilan TB sangat erat hubungannya dengan tingkat kepatuhan pengobatan TB
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Pengetahuan Pasien dengan
Kepatuhan Pengobatan TB Paru. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
crossectional, dimana sampel adalah penduduk Kabupaten Merauke yang berusia >15
tahun yang menjalankan pengobatan TB Paru sensitive obat dan tercatat dalam register
form TB 01 puskesmas, Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang
bermakna antara pengetahuan Pasien dengan Kepatuhan Pengobatan TB Paru. Responden
dengan pengetahuan yang buruk berpeluang sebesar 1,59 kali untuk patuh dalam
pengobatn TB Paru hanya pada fase intensif saja dibandingkan responden yang
berpengetahuan baik, setelah dikontrol dengan variable umur, sikap, dan perilaku. Nilai
PR adjusted sebesar 1,59; 95% CI 0,706 – 3,608; p-value 0,262. Pemerintah perlu
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat melalui kegiatan penyuluhan yang
dilakukan secara rutin oleh petugas kesehatan dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh
masyarakat untuk ikut menyampaikan pesan kesehatan.
Kata kunci:
TB Paru, Kepatuhan, Merauke


The success rate of TB in Merauke Regency is still quite low (80%), the success rate of
TB is very closely related to the level of TB treatment compliance
This study aims to determine the relationship between patient knowledge and compliance
with pulmonary TB treatment. The study design used in this study was cross-sectional, in
which the sample was a population of Merauke Regency aged> 15 years who were
undergoing drug-sensitive pulmonary TB treatment and was recorded in the TB 01 health
center register form. The results of this study stated that there was no meaningful
relationship between patient knowledge with Lung TB Treatment Compliance.
Respondents with poor knowledge are 1.59 times as likely to be obedient in the treatment
of pulmonary TB only in the intensive phase compared to respondents who are
knowledgeable, after being controlled by variables of age, attitude, and behavior. PR
value adjusted for 1.59; 95% CI 0.706 - 3.608; p-value 0.262. The government needs to
increase public knowledge and awareness through counseling activities carried out
routinely by health workers by involving religious and community leaders to participate
in delivering health messages.
Key words:
Pulmonary TB, Complience treatment, Merauke

Read More
T-7493
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kadek Deanova Kusuma Wanti; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:
Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular dari manusia ke manusia lain melalui udara yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban kasus tuberkulosis terbanyak di dunia dan 91% merupakan kasus tuberkulosis paru. Kota Depok menempati peringkat ke-11 dengan kasus tuberkulosis terbanyak di Jawa Barat. Tujuan: Mengetahui hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 11 kecamatan di Kota Depok tahun 2021. Metode: Menggunakan desain studi ekologi dengan uji korelasi untuk menganalisis hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 11 kecamatan di Kota Depok tahun 2021 dengan data bulanan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan cakupan pengobatan memiliki hubungan yang signifikan di 11 kecamatan (p = 0,000; r = 0,969–1,000), success rate memiliki hubungan yang signifikan di Kecamatan Tapos (p = 0,040; r = 0,598), dan kepadatan penduduk memiliki hubungan yang signifikan (p = 0,004–0,030) di Kecamatan Beji (r = 0,763), Cimanggis (r = 0,726), Cipayung (r = 0,669), Sawangan (r = 0,625, Tapos (r = 0,660), dan Cinere (r = –0,626). Rekomendasi bagi Dinas Kesehatan Kota Depok dapat mengadvokasi untuk melaporkan program tuberkulosis dan memberikan anggaran bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk menyediakan tenaga kesehatan terkait pelaporan kasus tuberkulosis, bagi fasilitas pelayanan kesehatan dapat meningkatkan pemberian edukasi, bagi masyarakat dapat menerapkan PHBS dan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala tuberkulosis

Background: Pulmonary tuberculosis is a disease transmitted from humans to other humans through the air caused by Mycobacterium tuberculosis. Indonesia ranks second with the highest tuberculosis caseload in the world and 91% are pulmonary tuberculosis cases. Depok City is ranked 11th with the most tuberculosis cases in West Java. Objective: The purpose of this study was to determine the relationship between case detection rate, treatment success rate, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 11 sub-districts in Depok City in 2021. Methods: This study used an ecological study design to analyze the relationship between treatment coverage, success rate, and population density on pulmonary tuberculosis incidence rate in 11 districts in Depok City in 2021 with monthly data. Results: The results of this study showed that treatment coverage had a significant relationship in 11 districts (p =0,000; r = 0.969–1.000), success rate had a significant relationship in Tapos District (p = 0,040; r = 0.598), and population density had a significant relationship (p = 0,004–0,030) in Beji District (r = 0.763), Cimanggis (r = 0.726), Cipayung (r = 0.669), Sawangan (r = 0.625, Tapos (r = 0.660), and Cinere (r = –0.626). Recommendations for the Health Department of the City of Depok can advocate to report the tuberculosis program and provide a budget for healthcare facilities to provide healthcare related to the reporting of cases of tuberculosis, healthcare facilities can improve education, the community can implement clean and health behavior and immediately to healthcare facilities when experiencing symptoms of tuberculosis.
Read More
S-11281
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Audia Jasmin Armanda; Pembimbing: Rachmadhi Purwana; Penguji: I Made Djaja, Anang Kuncoro Adi
Abstrak: Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan olehMikrobakterium Tuberkulosis. Kasus TB paru di Puskesmas KecamatanPesanggrahan pada tahun 2015 ditemukan 203 penderita dengan BTA (Basil TahanAsam) (+). Penelitian ini bertujuan agar diketahuinya faktor yang mempengaruhi(meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, status gizi, pendidikan, statusmerokok, jumlah rokok yang dihisap, pengetahuan, sikap, perilaku, kepadatanhunian, pencahayaan, ventilasi, suhu, dan kelembaban) terhadap kejadian TB paruBTA(+) di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatantahun 2016. Penelitian ini menggunakan studi kasus-kontrol, sampel penelitianadalah penderita TB Paru BTA(+) yang berobat di Puskesmas KecamatanPesanggrahan pada April-Mei 2016 sebagai kasus, dan pasien non-TB sebagaikontrol. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuisioner teruji.Analisis data dilakukan dengan analisis univariat, analisis bivariat, dan analisismultivariat (uji regresi logistik). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwavariabel yang berpengaruh signifikan terhadap kejadian TB paru BTA+ adalah Statusgizi (p=0,000, adjusted OR=6,329), dan Sikap (p=0,003, adjusted OR=4,529).Disarankan agar responden memperoleh asupan gizi seimbang setiap harinya.
Kata Kunci : sikap, status gizi, TB Paru BTA+
Tuberculosis disease is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis.There were 203 new cases of AFB (Acid-Fast Bacilli) (+) pulmonary TB inPesanggrahan District Community Health Centers in 2015. The purpose of studywas to known the factors influenced (which include age, sex, occupation, income,nutritional status, education, smoking, number of smoked, knowledge, attitude,behaviour, populous household, house lights, ventilation, room temperature, andhumidity) the incidence of AFB(+) pulmonary TB in Pesanggrahan DistrictCommunity Health Centers, South Jakarta, in 2016. The method used in this studywas a case-control study, , have done within April-May 2016, the cases is AFB(+)pulmonary TB patients registered in Pesanggrahan District Community HealthCenters, with other non-TB patients as the control. The data was collected withinterview using tested questionnaires. Data analysis was performed with univariateanalysis, bivariate analysis, and multivariate analysis (logistic regression test).Multivariate analysis shows that variables with significant impact on AFB(+)pulmonary TB are nutritional status (p=0,000, adjusted OR=6,329), and attitude(p=0,003, adjusted OR=4,529). Recommended to respondent get nutrition thatcontain balanced nutrition every day.
Keywords : AFB(+) pulmonary TB, attitude, nutritional status
Read More
S-9044
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Alif Setiadi; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Lusi Widiastuti
Abstrak: Rendahnya persentase rumah sehat diduga ikut memperbesar penularan TB paru. Kecamatan Cengkareng mempunyai prevalensi TB paru tertinggi di Kota Administrasi Jakarta Barat dengan jumlah kasus 825 dan CDR 95% pada tahun 2013, sedangkan cakupan rumah sehat pada tahun 2012 sebesar 51,78%. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi lingkungan fisik rumah (kepadatan hunian rumah, kepadatan hunian kamar, pencahayaan, suhu udara, kelembaban udara, dan luas ventilasi) dengan kejadian TB paru.
 
Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 181 orang suspek TB Paru berumur minimal 15 tahun yang terdaftar di register TB Puskesmas Kecamatan Cengkarang bulan Oktober-Desember tahun 2013 terdiri dari 60 penderita TB paru dan 121 bukan penderita TB paru yang diambil secara propotional stratified random sampling.
 
Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kejadian TB Paru adalah kepadatan hunian rumah (p-value = 0,011 OR : 2,344 95% CI : 1,223-4,492), kepadatan hunian kamar (p-value = 0,002 OR : 2,895 95% CI : 1,499-5,592), kelembaban udara (p-value = 0,022 OR : 2,261 95% CI : 1,138-4,491) dan luas ventilasi rumah (p-value = 0,034 OR : 0,489 95% CI : 0,259-0,924). Disarankan penderita TB paru menggunakan masker dan tidak tidur sekamar untuk mencegah infeksi silang, perbaikan kondisi lingkungan fisik rumah secara mandiri atau melalui program pemerintah, penyuluhan TB paru dan rumah sehat di tempat kerja.
 

The low percentage of healthy home allegedly enlarge of pulmonary TB transmission. Sub-district of Cengkareng has the highest prevalence of pulmonary TB in Administration City of West Jakarta with the number of cases 825 and CDR 95% in 2013, while the healthy home coverage in 2012 was 51.78%. The purpose of this study was to analyze the home environment physical condition (home occupancy density, bedroom occupancy density, lighting, air temperature, air humidity, and ventilation wide) with pulmonary TB incidence.
 
This research is an observational cross-sectional design. The sample was 181 people suspected of pulmonary TB at least 15 years old enrolled in the Sub-district Puskesmas of Cengkareng TB registration month of October to December of 2013 consisted of 60 patients with pulmonary TB and 121 patients were not with pulmonary TB taken by proportional stratified random sampling.
 
The results showed that the variables associated with the incidence of pulmonary TB is home occupancy density (p-value = 0.011 OR: 2.344, 95% CI: 1.223 to 4.492), bedroom occupancy density (p-value = 0.002 OR: 2.895, 95% CI: 1.499 - 5.592), air humidity (p-value = 0.022 OR: 2.261, 95% CI: 1.138 to 4.491) and ventilation wide (p-value = 0.034 OR: 0.489, 95% CI: 0.259 to 0.924). Recommended pulmonary TB patient using masks and not sleeping roommate to prevent cross-infection, the improvement of home physical environment condition independently or through government programs, counseling pulmonary TB and healthy home in the workplace.
Read More
S-8190
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sefti Fazila; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Zarteti
S-8987
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sitti Rahmawati; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Suyud Warno Utomo, Endah Kusumowardhani
Abstrak: Angka penemuan kasus (Case Detection Rate) di Kota Sukabumimerupakan tertinggi ketiga di Provinsi Jawa Barat yaitu 75,83% pada tahun 2013.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas lingkungan rumah dengankejadian TB Paru BTA (+) di Kota Sukabumi tahun 2014. Penelitian inimenggunakan desain studi unmatched case control. Sampel penelitian sebanyak116 responden yang terdiri dari 58 kasus dan 58 kontrol dan tercatat dalam bukuregister bulan Februari-April 2014. Teknik pengambilan sampel dalam penelitianini menggunakan purposive sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi daneksklusi. Data variabel independen diperoleh dengan wawancara, observasi danmengukur.Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antarapencahayaan (p-value: 0,000; OR: 4,222; 95%CI: 1,943-9,176), kepadatan rumah(p-value: 0,009; OR: 3,237; 95%CI: 1,401-7,477), jenis kelamin (p-value: 0,000;OR: 7,283; 95% CI: 3,161-16,782), status gizi (p-value: 0,000; OR: 10,667; 95%CI: 4,426-25,705) kejadian TB Paru BTA (+), sedangkan kelembaban, suhu,ventilasi, kepadatan kamar, umur dan pengetahuan tidak berhubungan dengankejadian TB paru.Kata kunci : TB Paru, kualitas lingkungan rumah, unmatched case control.
Case Detection Rate of Sukabumi City is the third highest in West JavaProvince 75,83% in 2013. The purpose of this study is to determine quality ofhome environment with the incidence of pulmonary TB BTA (+) in SukabumiCity in 2014. This study used unmatched case-control design. The sample 116people consists of 58 cases and 58 control recorded in the register book ofFebruary-April 2014. Sampling technique in this research using purposivesampling which is appropriate with the criteria of inclusion and exclusion. All ofthe data and informations in this research are collected using interviews,observations and variables measurement.The result of bivariat analysis showed that there were correlation betweenlighting (p-value: 0,000; OR: 4,222; 95%CI: 1,943-9,176), housing density (p-value: 0,009; OR: 3,237; 95%CI: 1,401-7,477), sex (p-value: 0,000; OR: 7,283;95% CI: 3,161-16,782), nutrition status (p-value: 0,000; OR: 10,667; 95% CI:4,426-25,705) with the incidence of pulmonary TB. While other variables likehumidity, temperature, ventilation, room density, age and knowledge have nocorrelation with the incidence of pulmonary TB.Keyword: Pulmonary TB, quality of home environment, unmatched case control
Read More
S-8392
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Hasnanisa; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: HMartya Rahmaniati Makfuli, Arif Burhanudin
Abstrak:
Latar Belakang : Banyumas adalah Kabupaten dengan dengan jumlah kasus TB paru BTA + tertinggi di Jawa Tengah. Untuk melakukan upaya pengendalian TB perlu diketahui terlebih dahulu faktor risiko, sehingga pelaksanaan program dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan sumber dayanya. Tujuan : Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas. Metode : Deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi ekologi dan unit analisis kecamatan. Teknik analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat, dan spasial. Hasil : Uji statistik menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas pada 2019 adalah jumlah bayi diimunisasi BCG (0,005) dan jumlah rumah sehat (0,006). Sedangkan pada tahun 2021 variabel yang berhubungan adalah jumlah bayi diimunisasi BCG (0,000), jumlah rumah sehat (0,000), jumlah rumah tangga ber-PHBS (0,001), jumlah balita gizi buruk (0,011), dan jumlah kasus HIV/AIDS (0,050). Berdasarkan pemetaan secara spasial didapatkan hasil wilayah berisiko tinggi TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas pada tahun 2019 terdiri dari 5 kecamatan. Sementara pada tahun 2021, seluruh kecamatan di Kabupaten Banyumas termasuk dalam wilayah berisiko sedang.

Background : Banyumas is a district with the highest number of smear + pulmonary TB cases in Central Java. To control TB, it is necessary to know the risk factors first, so that the program implementation can be adjusted to the region’s conditions and resources. Objective : To determine the risk factors associated with the incidence of smear + pulmonary TB in Banyumas. Methods : Quantitative descriptive with an ecological study approach and sub-district analysis units. The analysis techniques performed included univariate, bivariate, and spatial. Results : Statistical tests show that the variables associated with the incidence of smear + pulmonary TB in 2019 are the number of babies immunized with BCG (0.005) and the number of healthy homes (0.006). Whereas in 2021 the related variables are the number of babies immunized with BCG (0.000), the number of healthy homes (0.000), the number of households with PHBS (0.001), the number of malnourished children under five (0.011), and the number of HIV/AIDS cases (0.050) . Based on spatial mapping, the results show that the high-risk area for pulmonary TB BTA + in 2019 consists of 5 sub-districts. Meanwhile in 2021, all sub-districts in Banyumas is included in moderate risk areas.
Read More
S-11198
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Made Nujita Mahartati; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Putri Bungsu, I Wayan Gede Artawan Eka Putra
Abstrak:
Angka kematian penderita TBC selama menjalani pengobatan di Kabupaten Badung selalu melewati target maksimal tingkat kematian TBC di Indonesia. Pada tahun 2023 angka kematian TBC di Kabupaten Badung meningkat menjadi 6,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor – faktor yang mempengaruhi kematian orang dengan TBC Paru di Kabupaten Badung. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TBC Paru yang memulai pengobatan tahun 2021-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan hingga Mei 2024 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat dengan menggunakan cox regression proportional Hazzard. Dari 1.246 orang dengan yang eligible pada penelitian ini terdapat 1.149 orang dengan yang menjadi sampel penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 6,7% orang dengan meninggal dengan laju kejadian keseluruhan adalah 11 per 1000 orang bulan dan probabilitas survival sebesar 92,54%. Analisis multivariat menunjukkan faktor – faktor yang mempengaruhi kematian orang dengan TB RO selama masa pengobatan di Indonesia adalah kelompok umur 45-65 (aHR 3,616; 95% CI 2,110-6,195) tahun dan > 65 (aHR 10,892; 95% CI 5,630-21,071), Komorbid HIV (aHR 7,293; 95% CI 4,203-12,655), tidak konversi (HR 17,132; 95% CI 4,674-62,787), TBC RO ( aHR 10,921; 95%CI 1,458-81,774), waktu inisiasi pengobatan >7 hari (aHR 1,944; 95% CI 1,148-3,291) dan kepatuhan pengobatan (HR 3,546; 95% CI 1,895-6,634). Diperlukan peningkatan tatalaksana pengobatan TBC Paru dan skrining kesehatan pada kelompok lansia dan pasien yang memiliki komorbid HIV dan orang dengan TBC Resisten Obat serta media informasi yang meningkatkan kewaspadaan masyarakat yang terinfeksi TBC Paru tidak terlambat melakukan pengobatan.

The mortality rate for TB sufferers while undergoing treatment in Badung Regency always exceeds the maximum target for TB death rates in Indonesia. TB death rate in Badung Regency increased again to 6.6%. The aim of this research is to determine the influence of factors that influence the death of pulmonary TB patients in Badung Regency. The design of this study is a retrospective cohort using data on pulmonary TB cases who started treatment in 2021-2023 and had final treatment results until May 2024 and were recorded in the Tuberculosis Information System. The analysis used in this research is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using Cox proportional Hazard regression. Of the 1,246 eligible patients in this study, 1,149 patients were included in the research sample. The results of this study showed that 6.7% of patients died with an overall incidence rate of 11 per 1000 person months and a cumulative probability of survival of 92.54%. Multivariate analysis shows that the factors that influence the death of RO TB patients during the treatment period in Indonesia are the age group 45-65 (aHR 3.616; 95% CI 2.110-6.195) years and > 65 (aHR 10.892; 95% CI 5.630-21.071), Comorbid HIV (aHR 7.293; 95% CI 4.203-12.655), not converted (HR 17.132; 95% CI 4.674-62.787), TB RO (aHR 10.921; 95%CI 1.458-81.774), treatment initiation time >7 days (aHR 1.944; 95% CI 1.148-3.291) and treatment adherence (HR 3.546; 95% CI 1.895-6.634). It is necessary to improve the management of pulmonary TB treatment and health screening in the elderly group and patients who have comorbid HIV and people with drug-resistant TB as well as information media that increase the awareness of people infected with pulmonary TB so that it is not too late to undergo treatment.
Read More
T-7107
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive