Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ranti Fitri Agustina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Bahrain Munir
Abstrak:
Keselamatan kerja merupakan aspek krusial dalam operasional perusahaan, khususnya pada sektor kelistrikan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara safety leadership dan safety perception terhadap safety behavior pada pekerja di site PT X tahun 2025. Pendekatan yang digunakan adalah semikuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner yang diisi oleh 87 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,227; p = 0,035), serta antara safety leadership dan safety perception (r = 0,579; p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara safety perception dan safety behavior (r = 0,149; p = 0,169). Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja, baik secara langsung maupun melalui persepsi terhadap keselamatan. Hasil wawancara dengan key person juga menguatkan bahwa keteladanan dan keterlibatan langsung pimpinan menjadi faktor yang mendorong budaya keselamatan yang positif. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan meningkatkan efektivitas kepemimpinan keselamatan melalui pelatihan, keterlibatan aktif pemimpin, serta evaluasi berkelanjutan terhadap program keselamatan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor lain yang dapat memediasi atau memoderasi hubungan antarvariabel.


Occupational safety is a crucial aspect of company operations, especially in the electricity sector which carries a high level of risk. This study aims to examine the relationship between safety leadership and safety perception on safety behavior among workers at the PT X site in 2025. A semi-quantitative approach was employed using a survey method with questionnaires completed by 87 respondents. Data were analyzed using Spearman and Pearson correlation tests. The results indicate a positive and significant relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.227; p = 0.035), as well as between safety leadership and safety perception (r = 0.579; p = 0.000). However, no significant relationship was found between safety perception and safety behavior (r = 0.149; p = 0.169). These findings suggest that safety leadership plays an important role in shaping workers’ safety behavior, both directly and indirectly through safety perception. Interviews with key persons also support the conclusion that leadership engagement and role modeling are key drivers of a positive safety culture. The study recommends that the company improve the effectiveness of safety leadership through targeted training, active leadership involvement, and continuous evaluation of safety programs. Future research is encouraged to explore other variables that may mediate or moderate the relationships among these constructs.
Read More
S-12082
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Naura Nurannisa; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Heri Heryadi
Abstrak:
Tingginya angka unsafe action dan unsafe condition yang ditemui oleh PT X selama satu tahun terakhir menunjukkan bahwa perusahaan perlu membangun iklim keselamatan yang lebih positif. Adanya faktor tersebut dapat bermuara pada terjadinya kejadian kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran iklim keselamatan di PT X melalui survei persepsi pekerja terhadap keselamatan menggunakan kuesioner NOSACQ-50. PT X saat ini belum pernah melakukan pengukuran terhadap iklim keselamatan. Penelitian ini merupakan penelitian semikuantitatif dengan desain studi cross sectional. Pada 124 sampel digunakan proportionate stratified random sampling agar setiap strata dalam populasi mewakili secara proporsional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan di PT X tahun 2025 berada dalam kategori baik dengan nilai rata-rata sebesar 3,34. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar pekerja di PT X sudah memiliki persepsi yang positif terhadap keselamatan. Persepsi pekerja terhadap komitmen mereka tentang keselamatan mendapatkan nilai tertinggi, artinya sebagian besar pekerja mempunyai komitmen untuk berperilaku selamat. Akan tetapi, persepsi pekerja terhadap pemberdayaan pekerja oleh manajemen, keadilan keselamatan oleh manajemen, serta prioritas pekerja terhadap keselamatan dan penolakan risiko masih membutuhkan perhatian untuk dapat ditingkatkan. Upaya seperti pelatihan keselamatan yang berkelanjutan, pemberdayaan pekerja, penguatan komunikasi keselamatan, dan pembentukan budaya kerja yang positif dapat dilakukan untuk meningkatkan persepsi pekerja terhadap keselamatan.


The high rate of unsafe actions and unsafe conditions encountered by PT X over the past year indicates that the company needs to build more positive safety climate. These factors pose a significant risk of occupational accidents. This study aims to assess the safety climate at PT X by exploring workers' perceptions of safety using NOSACQ-50. PT X has never measured the safety climate. This study is semi-quantitative study with cross-sectional study design. In 124 samples, proportionate stratified random sampling was used so that each stratum in the population could be represented proportionally. The findings revealed that the overall safety climate at PT X was categorized as good, with an average score of 3.34. This indicates that the majority of workers possess a positive perception of safety. The highest score was observed in the dimension of workers’ commitment to safety, reflecting a strong individual commitment to safe behavior. However, workers' perceptions of management safety empowerment, management safety justice, and workers’ safety priority and risk non-acceptance still need attention to be improved. Interventions such as ongoing safety training, worker empowerment, strengthening safety communication, and establishing a positive work culture can be made to strengthen workers' perceptions and overall safety climate.
Read More
S-12058
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrea Fahira Hanareza; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Holillah
Abstrak:
Sektor manufaktur lebih mungkin menghadapi tantangan implementasi keselamatan akibat sifat operasionalnya yang berisiko tinggi. Oleh karena itu, pengukuran iklim keselamatan perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa baik upaya keselamatan dijalani dan dipahami oleh pekerja. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi bersama pekerja terhadap nilai, kebijakan, dan praktik keselamatan di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran iklim keselamatan pada bagian produksi PT X berdasarkan enam dimensi: komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, peraturan dan prosedur keselamatan, lingkungan yang mendukung, akuntabilitas personal, serta pelatihan keselamatan, serta mengidentifikasi dimensi yang perlu ditingkatkan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang, menggunakan kuesioner oleh Lestari et al. (2020) yang diisi secara mandiri oleh pekerja. Jawaban responden kemudian dilakukan analisis uji beda mean. Besar sampel ditentukan dengan metode stratified random sampling menggunakan rumus Slovin. Dari 81 responden, didapatkan bahwa iklim keselamatan pada pekerja di bagian produksi PT X termasuk dalam kategori baik (5,14 dari 6,00). Tidak ditemukan perbedaan rata-rata yang signifikan antarkelompok demografi, kecuali pada persepsi komitmen manajemen antarkelompok masa kerja. Komitmen nyata dari manajemen terhadap keselamatan berperan penting dalam upaya keselamatan kerja. Namun, masih diperlukan peningkatan pada akuntabilitas personal dan pelatihan keselamatan untuk meningkatkan upaya keselamatan di PT X.


The manufacturing sector is more likely to face challenges in safety implementation due to its high-risk operational nature. Measuring safety climate is essential to evaluate how well safety efforts are understood and practiced by workers. Safety climate reflects employees’ shared perceptions of safety values, policies, and practices in the workplace. This study aims to assess the safety climate among production workers at PT X, focusing on six dimensions: management commitment, safety communication, safety rules and procedures, supportive environment, personal accountability, and safety training, and to identify areas needing improvement. A quantitative, cross-sectional design was used, employing a self-administered questionnaire adapted from Lestari et al. (2020). Data from 81 respondents were analyzed using mean difference tests. The safety climate was rated as good, with a mean score of 5.14 out of 6.00. No significant differences were found across demographic groups, except for perceived management commitment, which varied by length of service. Findings highlight the importance of genuine management commitment in fostering a strong safety culture. However, improvement is still needed in personal accountability and safety training to enhance overall safety performance at PT X.
Read More
S-12096
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Faradina Astini; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Dian Ayubi, Wachyu Sulistiadi, Hasan Salim Alatas, Rahayu Astuti
Abstrak:

Rumah sakit merupakan salah satu organisasi yang sangat kompleks yang didalamnya terdapat berbagai jenis tenaga kesehatan dengan perangkat kelilmuan yang beragam dan saling berinteraksi satu sama lain. Pelayanan rumah sakit yang sarat dengan kompleksitas prosedur diagnostik sangat memungkinkan risiko mencederai pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran persepsi serta hubungan karakteristik tenaga bidan dan perawat terhadap budaya keselamatan pasien di RS Budi Kemuliaan. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Budi Kemuliaan Jakarta, menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 83 orang dipilih secara acak sistematik. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner serta dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan 54,2% responden memiliki respon positif terhadap budaya keselamatan pasien. Hasil analisis membuktikan bahwa usia (p=0,002), masa kerja (p=0,040) dan unit kerja (p=0,040) berhubungan dengan budaya keselamatan pasien. Usia merupakan variabel independen utama yang mempengaruhi respon terhadap budaya keselamatan pasien. Tenaga kesehatan dengan usia 30 tahun. Untuk itu perlu diadakan pelatihan perawatan dasar secara rutin guna menghindari kesalahan dalam memberikan pelayanan. Kata kunci: Budaya Keselamatan Pasien; Persepsi, Karakteristik; Tenaga Kesehatatatan 


 

The hospital is a very complex organization in which there are various types of health workers with diverse scientific devices and interact with each other. Hospital service which is loaded with the complexity of the diagnostic procedure is a very possible risk of injuring the patient. This study aims to describe the perceptions and the relationship between the characteristics of midwives and nurses on patient safety culture at Budi Kemuliaan Hospital. The study was conducted at Budi Kemuliaan Mother and Child Hospital, Jakarta, using a cross-sectional design with a sample of 83 people selected by systematic random sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the chi-square test and multiple logistic regression. The results showed that 54.2% of respondents had a positive response to patient safety culture. The results of the analysis proved that age (p = 0.002), years of service (p = 0.040), and work unit (p = 0.040) were associated with patient safety culture. Age is the main independent variable affecting the response to patient safety culture. Health workers aged 30 years. Thus, it is necessary to hold regular basic maintenance training in order to avoid mistakes in providing services Key words: patient safety, perception, characteristic.

Read More
T-6840
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Pratiwi Ranteallo; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Dwitya Dhanurendra
Abstrak:
Pendahuluan: Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor dengan risiko kecelakaan kerja yang tinggi baik secara global maupun nasional. Tingginya angka kecelakaan kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perilaku tidak aman dan kondisi safety climate di tempat kerja. Safety climate mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen organisasi dalam penerapan keselamatan yang membentuk perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety climate pada proyek pembangunan apartemen PT X Tahun 2026 serta menganalisis perbedaan tingkat safety climate berdasarkan karakteristik demografi pekerja. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross – sectional, metode pengumpulan data menggunakan kuesioner oleh Lestari et al. (2020). Jumlah sampel sebanyak 74 responden menggunakan teknik stratified random sampling. Analisis data responden dengan analisis univariat (deskriptif) dan bivariat (Uji Kruskal – Wallis). Hasil: Secara umum profil safety climate pada proyek pembangunan apartemen PT X tahun 2026 termasuk kategori baik (5,05 dari 6,00). Dimensi tertinggi adalah komunikasi keselamatan sedangkan dimensi terendah adalah aturan dan prosedur. Terdapat perbedaan signifikan pada tingkat safety climate berdasarkan karakteristik demografi pekerja. Kesimpulan: PT X telah menunjukkan komitmennya melalui pelaksanaan program keselamatan di area proyek Dibutuhkan upaya untuk meningkatkan persepsi pekerja terkait keselamatan kerja khususnya penerapan aturan dan prosedur kerja.

Introduction: The construction sector is one of the sectors with a high risk of workplace accidents, both globally and nationally. The high rate of workplace accidents is influenced by various factors, including unsafe behavior and the safety climate in the workplace. The safety climate reflects workers’ perceptions of the organization’s commitment to safety implementation, which shapes workers’ safety behavior. This study aims to analyze the safety climate profile in PT X’s 2026 apartment construction project and to analyze differences in safety climate levels based on workers’ demographic characteristics. Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design; data collection utilized a questionnaire adapted from Lestari et al. (2020). The sample consisted of 74 respondents selected via stratified random sampling. Respondent data were analyzed using univariate (descriptive) and bivariate (Kruskal–Wallis test) analyses. Results: Overall, the safety climate profile for PT X’s 2026 apartment construction project falls into the “good” category (5.05 out of 6.00). The highest-scoring dimension was safety communication, while the lowest-scoring dimension was rules and procedures. There were significant differences in safety climate levels based on workers’ demographic characteristics. Conclusion: PT X has demonstrated its commitment through the implementation of safety programs at the project site. Efforts are needed to improve workers’ perceptions regarding workplace safety, particularly regarding the implementation of work rules and procedures.
Read More
S-12450
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rina Febri Panjaitan; Oembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Arif Prihantono
Abstrak:
Iklim keselamatan merupakan persepsi pekerja tentang pentingnya perilaku aman saat bekerja berkaitan dengan kebijakan, keselamatan, prosedur, praktik, serta seluruh kepentingan dan prioritas keselamatan kerja. Iklim keselamatan yang buruk akan ditandai dengan peningkatan stress pekerja, komunikasi keselamatan yang buruk, dan kurangnya dukungan sehingga dapat menormalkan perilaku tidak aman, merusak kesadaran situasional, dan meningkatkan kemungkinan kecelakaan. Pengukuran iklim keselamatan dapat dijadikan perusahaan sebagai leading indicator untuk acuan dalam membuat/memperbaiki program keselamatan yang sudah ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety climate pada area support point di PT X Tahun 2025 berdasarkan dimensi komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, aturan dan prosedur, lingkungan yang mendukung, akuntabilitas pribadi, dan pelatihan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner (data primer). Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 118 orang. Analisis data digunakan melalui analisis deskriptif dan inferensial (Uji Mann Whitney dan Kruskal Wallis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profil safety climate di area support point PT X tahun 2025 sudah baik, dengan rata – rata  nilai 5,18. Seluruh dimensi yang diukur mendapatkan rata – rata skor 4,98 – 5,31. Skor rata – rata safety climate pada kelompok usia, masa kerja, dan pendidikan menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada dimensi komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, dan pelatihan.


Safety climate is a worker's perception of the importance of safe behavior at work in relation towards policies, safety, procedures, practices, and overall safety interests and priorities. A poor safety climate will be characterized by increased worker stress, poor safety communication, and lack of support thus normalizing unsafe behavior, decreasing situational awareness, and increasing the likelihood of accidents. Safety climate measurements can be used by companies as a leading indicator in establishing / improving existing safety programs. This study aims to analyze the safety climate profile in the support point area at PT X in 2025 based on the dimensions of management commitment, safety communication, rules and procedures, supportive environment, personal accountability, and training. The research design used is cross sectional with data collection methods using questionnaires (primary data). The number of samples analyzed was 118 respondents. Data analysis was used through descriptive and inferential analysis (Mann Whitney and Kruskal Wallis Test). The results of this study indicate that the safety climate profile in the PT X support point area in 2025 is good, with an average score of 5.18. All dimensions measured get an average score of 4.98 - 5.31. The average safety climate score in the age, tenure, and education groups showed significant differences in the dimensions of management commitment, safety communication, and training.
Read More
S-12064
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salwa Irzi Alifya; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Musonip
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety climate dan mengetahui hubungan antara karakteristik personal dengan safety climate pada petugas di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional, data primer dikumpulkan melalui kuesioner Fire Service Safety climate Scale dari 72 petugas menggunakan teknik total sampling. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan profil safety climate, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman untuk karakteristik personal berskala ordinal (kelompok usia, tingkat pendidikan, masa kerja, status kepegawaian, jabatan) dan uji Chi-Square serta Odds Ratio untuk karakteristik personal berskala nominal (pengalaman cedera). Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety climate secara umum di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa tergolong tinggi (skor rata-rata 3,88). Dimensi Dukungan Supervisor (skor rata-rata 4,02) lebih tinggi daripada Komitmen Manajemen (skor rata-rata 3,73), mengindikasikan adanya kesenjangan persepsi. Ditemukan hubungan positif signifikan antara safety climate dengan kelompok usia (ρ=0,274, p=0,020), tingkat pendidikan (ρ=0,325, p=0,005), dan masa kerja (ρ=0,327, p=0,005). Sebaliknya, terdapat hubungan negatif signifikan dengan status kepegawaian (ρ=−0,304, p=0,010), di mana PNS cenderung memiliki persepsi safety climate lebih rendah. Jabatan (ρ=−0,212, p=0,074) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Selain itu, terdapat hubungan signifikan antara pengalaman cedera dan safety climate (χ2=14,015, p=0,001), di mana petugas yang pernah cedera 20,5 kali lebih mungkin menilai safety climate dalam kategori 'Cukup'. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif safety climate dan hubungannya dengan karakteristik personal, serta berkontribusi pada peningkatan keselamatan kerja di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa.


This study aims to analyze the safety climate profile and determine the relationship between personal characteristics and safety climate among personnel at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District. Employing a quantitative approach with a descriptive cross-sectional design, primary data was collected through the Fire Service Safety climate Scale questionnaire from 72 officers using a total sampling technique. Univariate analysis was used to describe the safety climate profile, while bivariate analysis utilized the Spearman correlation test for ordinal-scaled personal characteristics (age group, education level, years of service, employment status, position) and the Chi-Square test and Odds Ratio for nominal-scaled personal characteristics (injury experience). The results indicate that the overall safety climate at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District, is categorized as high (average score 3.88). The Supervisor Support dimension (average score 4.02) is higher than Management Commitment (average score 3.73), indicating a perception gap. A significant positive relationship was found between safety climate and age group (ρ=0.274, p=0.020), education level (ρ=0.325, p=0.005), and years of service (ρ=0.327, p=0.005). Conversely, there was a significant negative relationship with employment status (ρ=−0.304, p=0.010), where civil servants tended to have a lower perception of safety climate. Position (ρ=−0.212, p=0.074) showed no significant relationship. Furthermore, there was a significant relationship between injury experience and safety climate (χ2=14.015, p=0.001), where officers with a history of injury were 20.5 times more likely to rate the safety climate as 'Sufficient'. This study is expected to provide a comprehensive overview of the safety climate and its relationship with personal characteristics, as well as contribute to the improvement of occupational safety at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District.
Read More
S-12130
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive