Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yulia Rahmadona Putri; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Budi Haryanto, Soehatman Ramli
S-6757
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Adelina Limbong; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Mila Tejamaya, Huala Nadapdap
Abstrak: Keadaan darurat merupakan situasi yang dapat mengancam keselamatan manusia serta mengakibatkan kerusakan lingkungan dan properti akibat bencana industri atau bencana alam. Kerugian dapat diminimalkan dengan menerapkan program manajemen keadaan darurat. Talisman Energy Indonesia sebagai salah satu perusahaan yang tidak lepas dari ancaman kerugian akibat bencana, telah melaksanakan program manajemen keadaan darurat. Peneliti melakukan penilaian terhadap 67 komponen program manajemen keadaan darurat berdasarkan NFPA 1600 Edisi 2010 di Talisman Energy dengan desain penelitian deskriptif melalui pendekatan observasional. Hasil penelitian menunjukkan 52 komponen telah sesuai, 14 komponen sesuai sebagian, dan 1 komponen yang masih belum sesuai, yaitu terkait manajemen donasi. Baik komponen yang telah sesuai maupun belum, masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.
 

Emergency is a situation that could treaten human safety and causing property and environmental damage due to natural or industrial disasters. Losses can be minimized by implementing emergency management program. Talisman Energy Indonesia as one of the companies at risks of losses due to emergency situation, has been implementing an emergency management program. A descriptive study through observational approach had been conducted to assess 67 components of the emergency management program at Talisman Energy in accordance with NFPA 1600, standard reference used. The results showed 52 components conform, 14 components partially conform, and one component nonconform with the criteria. Conform or nonconform components still need further development.
Read More
S-7626
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aziza; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Deni andrias, Diantika Prameswara
Abstrak:
Petugas penanggulangan bencana memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya membantu populasi paling rentan dalam mencapai tujuan kesehatan global. Dalam penelitian Curling & Simmons (2010), didapatkan 74% petugas penanggulangan bencana yang mengalami distres sedang atau berat. Tesis ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres pada petugas penanggulangan bencana di Palang Merah Indonesia Tahun 2024. Metode penelitian ini adalah gabungan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif yang biasa disebut dengan nama Mixed Methods Research dengan desain eksplanatoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 139 responden, 38 petugas (27,3%) dengan tingkat distres rendah dan 101 petugas (72,7%) dengan tingkat distres sedang-tinggi dan gejala paling tinggi adalah gejala psikologis (57,45%). Hasil analisa bivariat ditemukan faktor yang berhubungan secara signifikan (p-value≤0,05) dengan tingkat distres adalah variabel masa kerja p-value 0,031, mendapatkan pelatihan p-value 0,046, hubungan interpersonal p-value 0,043, jadwal kerja p-value 0,011, variabel dukungan sosial p-value 0,008, dan variabel dukungan anggota keluarga p-value 0,000. Variabel yang dominan berhubungan dengan distres adalah dukungan anggota keluarga yang ditunjukkan oleh nilai OR paling besar 5,75 kali (OR 5,75 95%CI 2,45-13,48). Selanjutnya dilakukan uji interaksi didapatkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan anggota keluarga dengan jadwal kerja terhadap distres. Pada petugas yang jadwal kerja buruk, petugas dengan dukungan anggota keluarga buruk berisiko 44,03 kali lebih tinggi untuk mengalami distres sedang-tinggi dibandingkan petugas dengan dukungan anggota keluarga baik setelah dikontrol variabel umur. Saran dari penelitian ini agar dapat dilakukannya family gathering dan dibuatkannya kegiatan setiap minggunya untuk menyalurkan hobi berupa olahraga dan senam pada petugas penanggulangan bencana guna untuk refreshing. Serta menentukan standar dan kebijakan yang jelas berupa sistem istirahat bergantian terkait dengan jadwal kerja pada saat dilokasi bencana, sehingga dapat mengurangi terjadinya distres pada petugas.

Disaster response workers have a critical role in efforts to help the most vulnerable populations achieve global health goals. In research by Curling & Simmons (2010), it was found that 74% of disaster management officers experienced moderate or severe distress. This thesis aims to analyze factors related to distress among disaster management officers at the Indonesian Red Cross in 2024. This research method is a combination of quantitative and qualitative research which is usually called Mixed Methods Research with an explanatory design. The results showed that of the 139 respondents, 38 officers (27.3%) had low levels of distress and 101 officers (72.7%) had medium-high levels of distress and the highest symptoms were psychological symptoms (57.45%). The results of the bivariate analysis found factors that were significantly related (p-value≤0.05) to the level of distress, namely the variable length of service, p-value 0.031, receiving training, p-value 0.046, interpersonal relationships p-value 0.043, work schedule p-value 0.011 , the social support variable has a p-value of 0.008, and the family member support variable has a p-value of 0.000. The dominant variable related to distress is the support of family members as indicated by the highest OR value of 5.75 times (OR 5.75 95%CI 2.45-13.48). Furthermore, an interaction test was carried out and it was found that there was a relationship between the support of family members and work schedules on distress. For officers with poor work schedules, officers with poor family support are 44.03 times more likely to experience moderate-high distress than officers with good family support after controlling for the age variable. The suggestion from this research is that family gatherings can be held and activities are created every week to channel hobbies in the form of sports and gymnastics among disaster management officers in order to refresh themselves. As well as determining clear standards and policies in the form of an alternating rest system related to work schedules at disaster locations, so as to reduce the occurrence of distress among officers.
 
Read More
T-7104
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syukra Alhamda; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Yuni Kusminanti
S-7031
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isna Mayzora; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Muhamad Dawaman
Abstrak: Studi ini membahas tentang manajemen keadaan darurat dan bencana pada institusi perguruan tinggi, Universitas Indonesia tahun 2016. Studi merupakan studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang akan mendeskripsikan aspek manajemen keadaan darurat dan bencana berdasarkan kerangka Perencanaan - Implementasi - Pemeriksaan - Pengembangan atau Plan - Do - Check Action (PDCA). Hasil studi diperoleh dari wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen.
 
Hasil studi menunjukkan bahwa meski baru ditetapkan pada tahun 2015, penerapan manajemen keadaan darurat UI telah cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan kesesuaian implementasi dengan pedoman dan teori yang ada. Hasil analisis kesesuaian penerapan manajemen keadaan darurat Universitas Indonesia berdasarkan penilaian mencapai 83,63%.
 

This study discusses about emergency and disaster management of University of Indonesia in 2016. It is descriptive study with qualitative approach that describes emergency and disaster management aspect based on plan-do-check-action (PDCA) framework. The result of the study is obtained through in-depth interviews, observation and review of related document.
 
The result of this study indicates the implementation of emergency management in University of Indonesia has been pretty good although it was newly implemented in 2015. It is based on the conformity to the guidelines and theories. The analysis result of this study shows that Universitas Indonesia?s conformity to NFPA 1600 regarding emergency and disaster management is 83,63%.
Read More
S-9175
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiori Amelia Putri; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Ina Agustina Isturini
Abstrak: Universitas merupakan salah satu institusi yang memiliki kemungkinan terjadi bencana. Selama dua dekade, terdapat sejumlah bencana yang memberikan dampak negatif terhadap universitas. Ketangguhan adalah sebuah konsep penting yang telah dikembangkan dalam bidang manajemen bencana. Hal ini merupakan konsep yang menekankan untuk membangun kapasitas adaptif melalui pengembangan sosial, kompetensi komunitas, dan komunikasi yang kuat dan sistem informasi. Mahasiswa sebagai komunitas yang sering berada di kampus untuk melakukan aktivitas, baik kegiatan belajar, penelitian, maupun kegiatan organisasi memiliki risiko dan bahaya, dan merupakan hal penting bahwa mahasiswa seharusnya memiliki kesiapan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Sehingga mampu meningkatkan ketangguhan apabila terjadi bencana di universitas. Mahasiswa fakultas kedokteran, fakultas kedokteran gigi, fakultas ilmu keperawatan, dan fakultas farmasi universitas indonesia dalam menghadapi bencana sebagai upaya peningkatan ketangguhan menghadapi bencana di universitas. Desain penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa sudah tangguh dalam menghadapi bencana di universitas. Namun perlu dilakukan perbaikan pada beberapa variabel, antara lain persiapan menghadapi bencana di kampus, pengetahuan sistem peringatan dini di lingkungan kampus, kepemilikan asuransi bencana, sumber informasi, dan keikutsertaan dalam pelatihan penanggulangan bencana.
Kata kunci: bencana, manajemen bencana, kesadaran, kesiapsiagaan, ketangguhan, sistem peringatan dini bencana, respon tanggap darurat

The university is one of the institutions that have the possibility of disaster event. For two decades, there have been a number of disasters that negatively impacted the university. Resilience is an important concept that has been developed in disaster management. This is a concept that emphasizes building adaptive capacity through social capital development, community competences, and solid communication and information systems. Students as a community that is often on campus to conduct activities, both learning activities, research, and organizational activities have risks and dangers, and it is important that students should be prepared for the possibility of disaster event, as of to increase the resiliency of disaster at university. The purpose of this study is to explain the preparedness and awareness of the students from the faculty of medicine, faculty of dentistry, faculty of nursing, and faculty of pharmacy university of indonesia in facing disaster as efforts to enhance the resilience of the university. The research design of this study using cross sectional study conducted with a quantitative approach. The results show that students are already resilient facing disaster at university. However, several variables needs to be improved, there are: disaster preparedness, knowledge of disaster early warning system in university, disaster insurance ownership, resources of information, and participation in disaster management training.
Keywords: disaster, disaster management, awareness, preparedness, resilience, disaster early warning system, emergency responses
Read More
S-9519
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raissa Rifkandini; Pembimbing: Hendra; Penguji: Fatma Lestari, Ali Syahrl Chairuman, Megawati Kartika
Abstrak: Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan esensial yang harus mampu mempertahankan fungsinya pada saat dan setelah bencana terjadi. RSUD Koja sebagai rumah sakit rujukan regional yang berlokasi di Jakarta Utara menghadapi profil bahaya majemuk (multi-hazard profile), mencakup risiko tinggi banjir/rob, gelombang ekstrim dan abrasi, serta cuaca ekstrim, di samping risiko gempa bumi berskala sedang dan bahaya antropogenik yang bersumber dari kepadatan kawasan industri dan pelabuhan di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan bencana RSUD Koja menggunakan instrumen Hospital Safety Index (HSI) yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) dan Pan American Health Organization (PAHO), guna menghasilkan rekomendasi berbasis bukti bagi penguatan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif, didukung data kualitatif dari wawancara mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan informan kunci dari unit Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS), Kesehatan Keselamatan dan Lingkungan Kerja (K3KL), dan bagian umum, serta telaah dokumen teknis. Penilaian keamanan struktural dilakukan secara terpisah untuk lima gedung RSUD Koja (Gedung A-E) mengingat perbedaan periode konstruksi dan riwayat pemeliharaan tiap gedung. Instrumen penilaian yang digunakan adalah Safe Hospital Checklist WHO/PAHO yang terdiri dari empat modul, yaitu bahaya, keamanan struktural (bobot 50%), keamanan non-struktural (bobot 30%), dan manajemen bencana serta kegawatdaruratan (bobot 20%), dengan nilai tiap komponen ditransformasi menggunakan formula pembobotan HSI untuk menghasilkan indeks keselamatan agregat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RSUD Koja memperoleh nilai HSI sebesar 0,81 (81%) yang menempatkannya dalam Kategori A berdasarkan klasifikasi WHO/PAHO. Nilai indeks keamanan struktural mencapai 0,58 (kategori sedang), keamanan non-struktural mencapai 0,96 (kategori tinggi), dan manajemen bencana serta kegawatdaruratan mencapai 0,89 (kategori tinggi). Penilaian per gedung menunjukkan variasi signifikan, dengan Gedung A (dibangun tahun 2019) memperoleh indeks tertinggi (0,69) dan Gedung B (berusia lebih dari 30 tahun) memperoleh indeks terendah (0,49) dengan nilai kerentanan tertinggi (0,51), mengindikasikan adanya weakest link phenomenon pada kompleks rumah sakit. Komponen non-struktural menjadi kontributor nilai tertinggi, didukung oleh sistem kelistrikan cadangan berkapasitas total 3.600 kVA dengan cadangan bahan bakar untuk 7 hari operasional serta kapasitas cadangan air bersih sebesar 150.000 m3, keduanya jauh melampaui standar minimum kesiapsiagaan bencana rumah sakit. Komponen struktural menjadi limiting factor utama, dengan nilai yang bahkan lebih rendah dibandingkan tiga rumah sakit pembanding pada penelitian terdahulu. Analisis komparatif dengan instrumen kesiapsiagaan bencana lain, yaitu Kaiser Permanente Hazard Vulnerability Analysis, FEMA P-154 Rapid Visual Screening, dan WHO Comprehensive Safe Hospital Framework, menegaskan posisi HSI sebagai instrumen paling komprehensif dan sesuai konteks regulasi Indonesia, meskipun memiliki keterbatasan pada kedalaman data teknik struktural. Penelitian ini menyimpulkan bahwa RSUD Koja memiliki kapasitas kesiapsiagaan bencana yang tinggi secara agregat, namun memerlukan penguatan mendesak pada aspek keamanan struktural, khususnya melalui kajian teknis dan retrofit pada Gedung B dan Gedung C, evaluasi jarak pemisah antar-gedung, serta pengembangan skenario Hospital Disaster Plan yang lebih komprehensif untuk mengakomodasi bahaya kegagalan teknologi/siber dan tsunami.
Hospitals are essential healthcare facilities that must be capable of maintaining their functions during and after disasters. As a regional referral hospital located in North Jakarta, Koja District Hospital (RSUD Koja) operates within a complex multi-hazard environment encompassing risks of flooding, earthquakes, extreme weather events, and anthropogenic hazards arising from the surrounding high-density industrial and port areas. This study aims to analyze the level of disaster preparedness at RSUD Koja using the Hospital Safety Index (HSI) instrument developed by the World Health Organization (WHO) and the Pan American Health Organization (PAHO), with the objective of generating evidence-based recommendations for strengthening the Hospital Occupational Health and Safety (K3RS) program. This study employed a quantitative approach with a descriptive design. Data were collected through direct field observation, in-depth interviews with key informants from the Hospital Facilities Maintenance Unit (IPSRS), the Head of the Occupational Health, Safety, and Environment Installation (K3KL), and the Head of General Affairs, Marketing, and Human Resources, as well as review of relevant technical documents. The assessment instrument used was the WHO/PAHO Safe Hospital Checklist, comprising three modules: structural safety (weight 50%), non-structural safety (weight 30%), and emergency and disaster management (weight 20%). Scores for each component were transformed using the HSI weighting formula to derive an aggregate safety index. The results indicate that RSUD Koja achieved an HSI score of 0.88 (88%), placing it in Category A (high safety) under the WHO/PAHO classification. The structural safety index reached 0.84, the non-structural safety index reached 0.96, and the emergency and disaster management index reached 0.89. The non-structural component emerged as the highest-contributing factor, supported by a reliable backup power system with a total capacity of 3,600 kVA, Uninterruptible Power Supply (UPS) systems in critical care areas, emergency fuel reserves sufficient for a minimum of 72 hours of operation, and a certified hazardous waste (B3) management system. The structural component constituted the primary limiting factor, attributed to the technical age disparity across building blocks and the presence of several structures built prior to the implementation of SNI 1726:2019. Comparative analysis with three prior studies revealed that RSUD Koja demonstrates a balanced score distribution profile across all three HSI dimensions, indicating the absence of a single point of failure within the facility's preparedness system. Key findings highlight critical gaps, including incomplete instrument sterilization scenarios and the absence of contingency planning for cyber disasters and tsunami scenarios, both of which require prioritization within the K3RS program. This study concludes that RSUD Koja demonstrates a high level of disaster preparedness; however, continuous improvement remains necessary, particularly with regard to aging building rehabilitation, completion of decontamination facilities, expansion of disaster scenarios within the Hospital Disaster Plan, and integration of periodic HSI assessments as a quantitative basis for K3RS risk management.
Read More
T-7625
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive