Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rizza Auli Shava; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Sahrul Syah
S-9863
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wita Nurul Aini; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Santri Fikawati, Abas Basuni Jahari
Abstrak: Validitas dan reliabilitas semiquantitative FFQ dalam mengukur asupan kalsium masih banyak menjadi perdebatan karena tidak melakukan pengukuran kuantitatif secara langsung. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui validitas dan reliabilitas pengukuran asupan kalsium menggunakan semiqauntitative FFQ dengan golden standard food weighing. Penelitian ini menggunakan disain studi cross-sectional yang dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei 2018 pada 54 Mahasiswa Gizi Universitas Indonesia yang dipilih dengan simple ramdom sampling. Validitas semiquantitative FFQ dalam mengukur kalsium dibandingkan dengan food weighing yang dilakukan selama dua hari, dan reliabilitas ditentukan dengan membandingkan asupan kalsium dua kali pengukuran menggunakan semiquantitative FFQ. Median asupan kalsium mahasiswa gizi Universits Indonesia berdasarkan semiquantitative FFQ (median±SD) adalah 537±407,5 mg/hari. Sedangkan median asupan kalsium dari dua hari food weighing adalah 569±375,6 mg/hari. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan kalsium dari kedua metode (P>0,05). koefisien korelasi asupan kalsium kedua metode sebesar r=0,42 dengan korelasi yang signifikan (P=0,001). Analisis surrogate category menunjukan bahwa semiquantitative FFQ dapat membedakan asupan kalsium pada berbagai tingkat kuartil asupan (ANOVA, P80% mulai dari cutoff asupan 800mg/hari. Namun spesifisitas dan negative predictive value tetap <80% dari keempat cutoff yang digunakan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan kalsium semiquantitative FFQ pada dua kali pengukuran P(<0,05). Namun korelasi antar dua pengukuran cukup tinggi, yaitu r=0,74 dengan korelasi yang signifikan (P<0,05). Semiquantitative FFQ valid dan reliabel dalam mengukur asupan kalsium mahasiswa gizi Universitas Indonesia dengan karakteristik perempuan, usia dewasa muda dan ekonomi yang beragam. Metode ini baik untuk menemukan individu dengan asupan yang kurang untuk mendapatkan intervensi maupun mengevaluasi program intervensi.
Kata Kunci : asupan kalsium, food weighing, reliabilitas, semiquantitative FFQ, validitas.
Read More
S-9830
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dessy Pratiwi; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Mury Kuswari
Abstrak: Pengukuran VO2max secara langsung merupakan pengukuran terbaik kebugaran kardiorespiratori tetapi metode ini tidak efisien, perlu keakhlian dan ruang laboratorium khusus, serta melelahkan. Pengukuran VO2max submaksimal dinilai lebih mudah, sederhana, tidak melelahkan, dan tanpa risiko. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengukuran lain yang lebih sederhana namun akurat dalam mengukur VO2max dengan Bruce Treadmill Test sebagai acuan. Dilaksanakan pada bulan April 2019 dengan responden 32 mahasiswi tingkat 1 Program Studi S1 Gizi Universitas Indonesia, penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Variabel dependen yang diukur adalah VO2maxBruce, sementara variabel independen meliputi VO2maxQCST, VO2maxRFWTKline, dan VO2maxRFWTDolgener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VO2maxQCST, VO2maxRFWTDolgener, VO2maxRFWTKline berturut-turut memiliki nilai koefisien validitas (-0,15), (0,17) dan (0,19). VO2maxQCST yang tidak valid dapat disebabkan karena ketidaksesuaian tinggi balok kayu dengan panjang tungkai orang Indonesia. Hasil lain, VO2maxRFWTDolgener memiliki selisih rata-rata dengan VO2maxBruce lebih sedikit dibandingkan dengan VO2maxRFWTKline
Read More
S-9948
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rohayati Rahafat; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Vetty Yulianty Permanasari, Nur Ratih Purnama
T-4264
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Linda Susanti; Pembimbing: Kusdinar Achmad; Penguji: Besral, Wachyu Sulistiadi, Dede Sri Mulyana, Verdhany Puspitasari
Abstrak: Kuesioner yang sahih merupakan persyaratan untuk menghasilkan data pengukuran yang akurat. Kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan yang relevan dengan keadaan yang diukur didapatkan data pengukuran yang valid dan sesuai sasaran. Data yang berasal dari hasil pengukuran digunakan sebagai alat evaluasi untuk melakukanperbaikan dalam menentukan keputusan sesuai dengan masalah yang spesifik dan prioritas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan validitas pada dua kuesioner kepuasan pasien terhadap pelayanan di instalasi hemodialisis Rumah Sakit Haji Jakarta. Pengukuran kepuasan pasien di instalasi hemodialisis dengan menggunakan Instrumen Evaluasi Persepsi Pasien/Keluarga Terhadap Mutu Asuhan Keperawatan Hemodialisa dan kuesioner kepuasan pasien terhadap pelayanan di instalasi hemodialisis Rumah Sakit Haji Jakarta dengan model servqual. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan analisis data kuantitatif yang meliputi analisis univariat untuk mendapatkan gambaran tingkat kepuasan pasien berdasarkan dua kuesioner kepuasan pasien terhadap pelayanan di instalasi hemodialisis Rumah Sakit Haji Jakarta, dan analisis bivariat untuk mengukur validitas Instrumen Evaluasi Persepsi Pasien/Keluarga Terhadap Mutu Asuhan Keperawatan Hemodialisa yang dibandingkan dengan kuesioner kepuasan pasien terhadap pelayanan di instalasi hemodialisis Rumah Sakit Haji model servqual. Hasil dan pembahasan penelitian menunjukkan bahwa pada uji validitas sewaktu dan prediktif Instrumen Evaluasi Persepsi Pasien/Keluarga Terhadap Mutu Asuhan Keperawatan Hemodialisa menunjukkan nilai sensitivitas 81,3 %, spesifisitas 35,7%, NPP 59,1% dan NPN 62,5%. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa Instrumen Evaluasi Persepsi Pasien/Keluarga Terhadap Mutu Asuhan Keperawatan Hemodialisa kurang valid dalam mengukur kepuasan pasien setelah dibandingkan dengan instrumen kepuasan pasien terhadap pelayanan di instalasi hemodialisis model servqual. Kata kunci: Validitas, kuesioner, kepuasan pasien, hemodialisis, servqual A valid questionnaire is a requirement to produce accurate measurement data. Questionnaires consisting of several questions relevant to the measured condition obtained valid measurement data and targeted. The data derived from the measurement results are used as an evaluation tool to make improvements in determining decisions according to specific problems and priorities. This study aims to compare the validity of two patient satisfaction questionnaires to services at hemodialysis installation of Haji Jakarta Hospital. Measuring patient satisfaction at hemodialysis installation by using Patient / Family Perception Evaluation Instrument on Hemodialisa Nursing Care Quality and patient satisfaction questionnaire on service at hemodialysis installation of Haji Hospital Jakarta with servqual model. The study used cross sectional design with quantitative data analysis which included univariate analysis to get description of patient satisfaction level based on two patient satisfaction questionnaires to service at hemodialysis installation of Haji Jakarta Hospital, and bivariate analysis to measure validity of Patient / Family Perception Evaluation Instrument on Nursing Care Quality Hemodialysis compared with patient satisfaction questionnaire to service in hemodialysis installation Haji Hospital servqual model. The results and discussion of the research indicate that in the validity test at the time and predictive of Patient / Family Perception Evaluation Instrument on Hemodialisa Nursing Quality showed 81,3% sensitivity value, 35,7% specificity, 59,1% NPP and NPN 62,5%. The results of this study indicate that Patient / Family Perception Evaluation Instrument on Hemodialysis Nursing Quality is less valid in measuring patient satisfaction after compared with patient satisfaction instrument to service in servqual hemodialysis model installation. Keywords: Validity, questionnaires, patient satisfaction, hemodialysis, servqual
Read More
T-5106
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lupi Trijayanti; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Adang Bachtiar, Pujiyanto, Maria Hotnida, Christina Yana Bintari
Abstrak:
Kapitasi berbasis kinerja (KBK) merupakan sistem pembayaran kapitasi setiap bulannya yang didasari penilaian kinerja pelayanan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang bersangkutan dalam rangka upaya meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembiayaan kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Namun pada pelaksanaannya banyak faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi capaian KBK. Capaian pembayaran KBK di puskesmas wilayah Kota Depok hanya 2 (5,3%) puskesmas dari 38 puskesmas yang menerima pembiayaan kapitasi sebesar 100%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis validitas dari setiap indikator penilaian KBK menurut persepsi petugas puskesmas di wilayah kerja kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental melalui pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan di 4 (empat) puskesmas dengan kriteria 2 (dua) puskesmas dengan capaian capaian tertinggi atau meningkat dan 2 (dua) puskesmas dengan capaian terendah atau tidak mencapai target. Informan pada penelitian ini dipilih dengan aspek kecukupan dan kelayakan yang mana dianggap sesuai dengan topik terdiri dari (i) Kepala Bagian Penjaminan Manfaat dan Utilisasi, BPJS Kesehatan Ka. Cab. Kota Depok, (ii) Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer Dinas Kesehatan Kota Depok, (iii) Kepala Puskesmas, (iv) PIC UKP Puskesmas, dan (v) PIC prolanis. Sumber data bersumber dari data primer (wawancara mendalam) dan data sekunder (telaah dokumen). Hasil penelitian menunjukan bahwa indikator RRNS benar menggambarkan dari kinerja layanan rujukan yang mana pemberian rujukan dibawah wewenang puskesmas tanpa ada intervensi dari pasien atau keluarga pasien. Indikator angka kontak tidak valid dikarenakan tidak dapat menggambarkan kontak rate, banyak faktor yang mempengaruhinya yaitu karakteristik peserta (mobilitas, kerentanan, kecenderungan berobat dan kepercayaan), lokasi puskesmas yang mempengaruhi biaya transportasi, sarana prasarana serta sistem kerja. Serta indikator rasio peserta prolanis terkendali (RPPT) tidak valid karena belum tepat menilai kinerja pelaksanaan kegiatan prolanis, banyak faktor yang mempengaruhi yaitu perilaku peserta prolanis terhadap gaya hidup (rutin berobat, pola makan minum, aktifitas fisik) yang banyak dipengaruhi budaya dan lingkungan sosial, sistem pencatatan dan perhitungan indikator, sistem pelayanan puskesmas dan kecenderungan berobat (health belief).

Performance-based capitation (KBK) is a monthly capitation payment system based on an assessment of the service performance of the first level health facility (FKTP) concerned in an effort to increase the effectiveness and efficiency of health financing and improve the quality of health services. However, in practice, there are many external and internal factors that affect KBK achievements. Only 2 (5.3%) out of 38 puskesmas received capitation financing at the Depok City Health Centers for KBK payments. The purpose of this study was to analyze the validity of each KBK assessment indicator according to the perceptions of health center staff in the working area of the city of Depok. This research is a non-experimental research using a qualitative approach. The research locations were conducted in 4 (four) puskesmas with the criteria of 2 (two) puskesmas with the highest or increasing achievements and 2 (two) puskesmas with the lowest achievements or not reaching the target. The informants in this study were selected based on the adequacy and feasibility aspects which were considered appropriate to the topic consisting of (i) Head of Benefit Guarantee and Utilization Section, BPJS Kesehatan Ka. Cab. Depok City, (ii) Head of the Primary Health Service Section of the Depok City Health Office, (iii) Head of the Puskesmas, (iv) PIC UKP Puskesmas, and (v) PIC prolanis. Sources of data come from primary data (in-depth interviews) and secondary data (document review). The results showed that the RRNS indicator correctly described the performance of referral services in which referrals were made under the authority of the puskesmas without any intervention from the patient or the patient's family. The contact number indicator is invalid because it cannot describe the contact rate, many factors influence it, namely the characteristics of the participants (mobility, vulnerability, tendency to seek treatment and trust), the location of the puskesmas which affects transportation costs, infrastructure and work systems. As well as the controlled prolanis participant ratio indicator (RPPT) is invalid because it is not yet appropriate to assess the performance of the implementation of prolanis activities, many factors influence, namely the behavior of prolanis participants towards lifestyle (routine treatment, eating and drinking patterns, physical activity) which is heavily influenced by culture and the social environment, system for recording and calculating indicators, health center service systems and tendencies to seek treatment (health beliefs).
Read More
T-6705
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Meutia Sari; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Besral, Triya Damayanti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Putri Bungsu, Eva Susanti, Chandra Rudyanto, Arief Bakhtiar
Abstrak:
Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dibutuhkan instrumen skrining yang valid, sederhana dan mudah yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia untuk meningkatkan penemuan kasus secara dini. Penelitian ini bertujuan menyusun dan mengembangkan instrumen skrining PPOK baru, yaitu TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko), serta membandingkan validitasnya dengan instrumen PUMA (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). Metode: Penelitian menggunakan desain exploratory sequential mixed methods, dimulai dengan penelitian kualitatif dan dilanjutkan dengan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif menggunakan pendekatan qualitative case study dalam kerangka general inquiry, dilakukan melalui wawancara mendalam dan panel expert judgment untuk menyusun instrumen baru. Penelitian kuantitatif menggunakan desain studi kasus-kontrol, melibatkan 200 responden (100 kasus dan 100 kontrol) berisiko PPOK yang berkunjung ke Poliklinik Paru RSUD Jakarta pada Januari-Mei 2025 untuk pengisian instrumen dan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. Analisis mencakup uji bivariat dan multivariat, serta uji sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (PPV), nilai prediksi negatif (NPV), Youden Index, dan area under the curve (AUC). Hasil: Instrumen TAMI menunjukkan kinerja diagnostik yang baik dengan AUC 0,773, serta keseimbangan sensitivitas dan spesifisitas yang stabil. Instrumen PUMA memiliki AUC 0,736 dengan sensitivitas dan spesifisitas lebih rendah dibandingkan TAMI. Nilai PPV dan NPV yang lebih besar pada TAMI juga menunjukkan kemampuan diskriminasi yang lebih baik dalam mengidentifikasi dan membedakan kasus PPOK dibandingkan PUMA. Kesimpulan: Instrumen TAMI terbukti valid dan dapat menjadi alat skrining PPOK yang lebih sesuai digunakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Indonesia. TAMI juga lebih praktis sebagai instrumen skrining PPOK untuk penggunaan rutin di masyarakat. Implementasi TAMI di FKTP diharapkan meningkatkan penemuan kasus PPOK dan memperkuat upaya pencegahan serta edukasi pada masyarakat berisiko.

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a major public health problem that is often underdiagnosed in its early stages, particularly in primary healthcare settings. A valid, simple, and user-friendly screening instrument tailored to population characteristics in Indonesia is needed to improve early case detection. This study aimed to develop a new COPD screening tool, TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko), and to compare its validity with the PUMA instrument (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). Methods: This study employed an exploratory sequential mixed-methods design, beginning with a qualitative phase followed by a quantitative phase. The qualitative phase used a qualitative case study approach within a general inquiry framework, conducted through in-depth interviews and expert judgment panels to construct the new instrument. The quantitative phase applied a case–control study design involving 200 respondents (100 cases and 100 controls) at risk for COPD who attended the Pulmonary Clinic of RSUD Jakarta between January and May 2025. All respondents completed the screening instruments and underwent spirometry as the gold standard. Data analysis included bivariate and multivariate testing, as well as assessment of sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV), Youden Index, and area under the curve (AUC). Results: The TAMI instrument demonstrated strong diagnostic performance with an AUC of 0.773 and a stable balance between sensitivity and specificity. The PUMA instrument showed a lower AUC of 0.736, along with lower sensitivity and specificity compared with TAMI. Higher PPV and NPV values for TAMI further indicated superior discriminatory ability in identifying and excluding COPD cases compared with PUMA. Conclusion: The TAMI instrument is valid and suitable for use as a COPD screening tool in primary healthcare facilities in Indonesia. It also offers practical advantages for routine community-based screening. Implementation of TAMI in primary healthcare settings is expected to enhance early COPD detection and strengthen preventive and educational efforts among at-risk populations.
Read More
D-608
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratu Intang; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Vetty Yulianty, Amila Megraini
B-1515
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vioreyna Towi; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Teguh Jati Prasetyo
Abstrak:
Penilaian konsumsi gizi/dietary assessment merupakan metode penilaian status gizi untuk mendapatkan informasi terkait pola makan, baik berupa jumlah, jenis, hingga frekuensi pangan yang dikonsumsi. Salah satu metode yang sering digunakan dalam penelitian dengan topik pangan dan kesehatan adalah metode semiquantitative food frequency questionnaires (SFFQ). Namun, SFFQ memiliki berbagai kelemahan, salah satunya yaitu daftar makanan dalam kuesioner tidak dapat ditanyakan seluruhnya kepada seluruh kelompok populasi, sehingga diperlukan adaptasi serta tes validitas. Bahan makanan dalam SFFQ disusun berdasarkan penelitian terdahulu, hasil uji coba, dan observasi lingkungan sasaran. SFFQ yang terbentuk terdiri dari 19 bahan makanan dan 135 jenis pangan. Perbandingan dilakukan kepada satu kali pengambilan SFFQ untuk mencatat asupan selama sebulan terakhir dengan dua kali pengambilan 24-hour food recall untuk mewakili weekday dan weekend sebagai real intake. Sebanyak 73 siswa kelas 11 dengan rentang usia 16-18 tahun ikut serta dalam penelitian. Hasil uji t berpasangan menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara asupan energi, karbohidrat, dan protein SFFQ dengan recall. Setelah dilakukan energy adjustment, hasil uji korelasi menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara asupan SFFQ dengan recall. Hasil uji validitas menunjukkan tingkat validitas sedang (fair) dengan catatan hasil recall weekend saja tidak dapat dianggap sebagai asupan rata-rata harian akibat variance yang terlalu besar.

Dietary assessment is a method used to evaluate nutritional status by collecting information on eating patterns, including the quantity, types, and frequency of foods consumed. One commonly used tool in public health nutrition research is the semi-quantitative food frequency questionnaire (SFFQ). However, SFFQ has several limitations, including the fact that its food list may not be universally applicable across different population groups, requiring cultural adaptation and validation. The food items included in SFFQ were selected based on previous studies, preliminary testing, and environmental observations of the target population. The finalized SFFQ consisted of 19 food groups and 135 food items. A single SFFQ reflecting intake over the previous month was compared against two 24-hour food recalls representing weekday and weekend as the real intake. A total of 73 eleventh-grade students aged 16–18 years participated in the study. Paired t-test showed significant differences in energy, carbohydrate, and protein intake between SFFQ and recalls. After energy adjustment, correlation analysis showed no significant associations between nutrients derived from SFFQ and those from recalls. The validation results indicated a fair level of validity. However, recall data from the weekend alone should not be considered representative of usual daily intake due to high variability.
Read More
S-11930
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Huda; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Tyriyani Kresnawati
Abstrak: Keakuratan dari skrining risiko malnutrisi merupakan hal yang penting untuk memberikan dukungan gizi yang optimal yang sesuai bagi kondisi pasien sebagai salah satu upaya untuk mencegah kejadian malnutrisi di rumah sakit dan mempercepat proses penyembuhan. Berdasarkan hal tersebut, menjadi suatu hal yang penting untuk mengetahui validitas alat skrining risiko malnutrisi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas MST pada pasien rawat inap dewasa di RSCM, Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian obervasional dengan desain studi cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 105 pasien rawat inap dewasa di RSCM. Semua pasien dilakukan skrining menggunakan MST dan SGA oleh observer dan tenaga kesehatan lain. Validitas MST ditentukan dengan mengetahui nilai sensitivitas dan spesifisitas yang dibandingkan dengan SGA. Inter-rater reliability ditentukan dengan nilai kappa (κ) untuk mengetaui tingkat kesepakatan antar obsever. Prevalensi malnutrisi berdasarkan MST adalah 46,47% untuk malnutrisi ringan, 40% untuk malnutrisi sedang, dan 13,33% untuk malnutrisi berat. Prevalensi malnutrisi berdasarkan SGA adalah 47,62% untuk malnutrisi ringan, 37,15% untuk malnutrisi sedang, dan 15,23% untuk malnutrisi berat. Kemudian apabila dibandingkan dengan SGA, MST memiliki sensitivitas dan spesifisitas masingmasing 96 % dan 98,2 % untuk malnutrisi ringan, 94,9 % dan 92,4 % untuk malnutrisi sedang, serta 81,3 dan 98,9% untuk malnutrisi berat. Reliabilitas antar observer MST adalah 0,492 untuk malnutrisi ringan, 0,315 untuk malnutrisi sedang, dan 0,437 untuk malnutrisi berat. Berdasarkan hasil penelitian ini, MST direkomendasikan untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi pada pasien dewasa. Namun diperlukan evaluasi dan pelatihan yang berkelanjutan terhadap tenaga kesehatan yang menggunakan alat skrining ini. Kata Kunci: Skrining Gizi; reliabilitas inter-rater; validitas; malnutrition screening tool; subjective global assessment The accuracy of nutritional screening are necessary to ensure the provision of optimal nutrition support for the patient to prevent hospital malnutrition and speed up the healing process. Thus, it is necessary to validate the nutrition screening tool used. The present study determined validities and reliabilities of MST among adult patients at risk of malnutrition at RSCM, Jakarta. This is an observational study with cross sectional design. The subjects were 105 adult patients admitted to RSCM. All patients were screened using the MST and SGA by the observer and other health care workers. The validity of the MST will be tested by measuring the sensitivity and specificity of MST were conducted against the SGA. Inter-rater reliability was evaluated using kappa value (κ) to determine the level of agreement between raters. A total of 105 adult patients participated in this study. Prevalence of malnutrition according to MST was 46,47% for mild malnutrition, 40% for moderate malnutrition, and 13,33% for severe malnutrition. Prevalence of malnutrition according to SGA was 47,62% for mild malnutrition, 37,15% for moderate malnutrition, and 15,23% for severe malnutrition. As compared to SGA, MST had a sensitivity and specificity 96 % and 98,2 % for mild malnutrition, 94,9 % and 92,4 % for moderate malnutrition, and 81,3 and 98,9% for severe malnutrition, respectively. The inter-rater reliability of MST was 0,492 for mild malnutrition, 0,315 for moderate malnutrition, and 0,437 for severe malnutrition. MST is a simple, quick and valid tool which can be used to identify patients at risk of malnutrition. Based on our result, MST is recommended for use in identifying adult patients. It can be used as a malnutrition screening tool but there is a need to evaluate and train the health care workers who use this tools. Keywords: Nutrition screening; inter-rater reliability; validity; malnutrition screening tool; subjective global assessment
Read More
S-9466
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive