Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Michelle L. Frisco, Jason N. Houle, Adam M. Lippert
Abstrak: By using data from wave 2 (in 1996) and wave 3 (in 2000-2001) of the US-based National Longitudinal Study of Adolescent Health, we investigated the association between young women's body weight and depression during the transition to adulthood. Respondents (n = 5,243) were 13-18 years of age during wave 2 and 19-25 years of age during wave 3. We used Center for Epidemiologic Studies Depression Scale scores to classify young women as never depressed, consistently depressed, experiencing depression onset, or experiencing depression recovery from wave 2 to wave 3. Results from adjusted multinomial logistic regression models indicated that respondents who experienced significant weight gain were at risk of depression onset. Normal weight (adjusted odds ratio = 2.10, 95% confidence interval: 1.14, 3.84) and overweight (adjusted odds ratio = 1.86, 95% confidence interval: 1.15, 2.99) adolescent girls who were obese by young adulthood, as well as young women who were consistently obese during adolescence and young adulthood (adjusted odds ratio = 1.97, 95% confidence interval: 1.19, 3.26), had roughly twice the odds of depression onset as did young women who were never overweight. We concluded that weight gain and obesity are risk factors for depression onset during the transition to adulthood. Policies prioritizing healthy weight maintenance may help improve young women's mental health as they begin their adult lives.
Read More
AJE Vol.178, No.1
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mariyatul, Triawanti, Meitria Syahadatina Noor
JPKMI Vol.1, No.1
Banjarbaru : FK Universitas Lambung Mangkurat - IAKMI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratih Puspa Rahmani; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Anies Irawati
Abstrak: ABSTRACT
 
 
Pertambahan berat badan selama hamil (PBBH) adalah salah satu faktor yang dapat menjadi penentu kesehatan ibu dan bayi postpartum. Untuk mencapai PBBH yang ideal, Institute of Medicine (IOM) merekomendasikan angka pertambahan berat badan selama hamil yang dilihat berdasarkan IMT prahamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PBBH terhadap status gizi ibu selama menyusui dan status gizi bayi usia 1-4 bulan pada studi kasus di wilayah Jakarta Selatan tahun 2014. Desain penelitian yang digunakan adalah kohort prospektif (longitudinal), dengan jumlah responden sebanyak 22 pasang ibu-bayi yang menerapkan pemberian ASI predominan. Analisis statistik pada penelitian ini menggunakan independent t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang bermakna antara PBBH terhadap Z-score bayi berdasarkan BB/U dan IMT/U. Terdapat pengaruh yang bermakna antara PBBH terhadap Z-score bayi berdasarkan PB/U pada bulan keempat. Terdapat pengaruh yang bermakna antara PBBH terhadap IMT ibu selama menyusui. Pada bulan kedua menyusui, didapatkan pengaruh yang bermakna antara penyakit infeksi bayi terhadap Z-score bayi berdasarkan BB/U dan IMT/U.
 

 
ABSTRACT
 
 
Gestational weight gain (GWG) is one of the factors that affect lactating women and infant health status. To reach ideal GWG, Institute of Medicine recommends the number of GWG based on prepregnancy BMI. The objectives of this study were to analyze the effect of GWG to lactating women and infant nutritional status on case study in South Jakarta area on 2014. This study was conducted by prospective cohort (longitudinal) design. As many as 22 pair mother-infant applying predominant or exclusive breasfeeding had been followed since 1 mo until 4 mo. Using independent t-test, the results are there was no significant association between GWG on Z-score of infant based on weight on age and BMI on age. There was a significant association between GWG on Z-score of infant based on height on age when the infant was 4 mo. Besides, there was a significant association between GWG and BMI of lactating women nutrition status. There was a significant association between infectious disease and Z-score of infant based on weight on age and BMI on age.
Read More
S-8426
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Wahyuni; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Kusharisupeni Djokosujono, Anies Irawati, Susianto
T-3318
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tita Ristiani; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Ade Saprudin, Cecep Heriana
Abstrak: Berat lahir merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering dijadikan indikator ukuran pertumbuhan bayi. Bayi yang memiliki berat lahir kurang dari 2500 gram, mengindikasikan adanya gangguan kesehatan dan gizi ibu ketika hamil, yang dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas bayi dan berkaitan dengan risiko terjadinya penyakit degeneratif ketika usia dewasa. Penelitian ini memakai desain cross sectional, menggunakan data rekam medis ibu hamil yang melahirkan di UPTD Puskesmas Mandirancan periode Januari sampai dengan Desember 2016 yang berjumlah 397 rekam medis. Hasil uji statistik regresi linier ganda menyatakan bahwa IMT awal kehamilan, pertambahan BB ibu hamil, kadar Hb, dan Lila berhubungan signifikan dengan berat lahir bayi. Faktor yang paling dominan mempengaruhi berat lahir adalah faktor IMT awal kehamilan (β=0,573) setelah dikontrol oleh variabel pertambahan BB ibu hamil, kadar Hb, dan Lila. Disarankan agar puskesmas memberikan informasi kepada ibu hamil dan ibu yang akan merencanakan kehamilan, mengenai pentingnya IMT awal kehamilan, pertambahan BB ibu hamil, kadar Hb, dan Lila yang sesuai rekomendasi untuk mencapai berat lahir yang normal.
Kata Kunci : IMT awal kehamilan; pertambahan berat badan ibu hamil;berat lahir

Birth weight is the most important anthropometric measure and is most often used as an indicator of infant growth. Babies with a birth weight of less than 2500 grams indicate a maternal health and nutritional disorder when pregnant, which may increase the risk of infant morbidity and mortality and are associated with the risk of degenerative diseases in adulthood. This study used cross sectional design, using maternity medical record data that gave birth at UPTD Puskesmas Mandirancan from January to December 2016 which amounted to 397 medical records. The result of double linear regression statistic test stated that early pregnancy BMI, maternal weight of pregnant mother, Hb, and Lila were significantly correlated with infant birth weight. The most dominant factor influencing birth weight was early pregnancy IMT factor (β = 0,573) after controlled by weight variable of pregnant mother, Hb level, and Lila. It is recommended that the puskesmas provide information to pregnant women and mothers who will plan for pregnancy, on the importance of early pregnancy IMT, maternal fatigue, Hb, and Lila levels as recommended to achieve normal birth weight.
Key words : Body Mass Index of early pregnancy; Maternal weight gain, birth weight
Read More
T-4993
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nindhita Pricilia Muharrani; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Trini Sudiarti, Eti Rohati
Abstrak: Peningkatan berat badan terus-menerus dapat meningkatkan risiko penyakitjantung koroner. Penelitian ini menggunakan desain studi prospective cohortselama enam minggu yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku makanrestrained eating, external eating, dan emotional eating terhadap peningkatanberat badan dengan mengontrol asupan energi, aktivitas fisik, dan sosial ekonomi.Penelitian melibatkan 40 responden yang merupakan mahasiswi S1 Reguler FKMUI Depok. Umumnya terdapat peningkatan berat badan yang bermakna sebesar0,32 kg. Selama pemantauan, terdapat 25% responden mengalami perubahanperilaku makan, dan sisanya konsisten. Dari ketiga perilaku makan, hanyaexternal eating yang berpengaruh bermakna terhadap peningkatan berat badansebelum dan setelah dikontrol dengan asupan energi (p<0,05).

Aktivitas fisik dan status sosial ekonomi tidak berhasil ditemukan sebagai confounding. Externaleating ditemukan paling berpengaruh terhadap peningkatan berat badan daripadaemotional eating dan restrained eating. Penelitian ini juga menemukan bahwaproporsi restrained eating lebih tinggi pada status gizi normal daripadaoverweight, emotional eating lebih tinggi pada underweight daripada overweight,dan external eating lebih tinggi pada status gizi normal dan underweight daripadaoverweight dan obesitas.

Kata Kunci:Peningkatan berat badan, restrained eating, external eating, emotional eating,studi kohort
The continuous weight gain increases the risk of coronary heart disease. Thisresearch is a six-week prospective cohort study which is aimed to identify theeffect of eating styles restrained eating, external eating, and emotional eating toweight gain with controlling energy intake, physical activity, and social economystatus. A total of 40 female students were assessed at three points in this studyduring the whole six weeks. There is a significant weight gain in female studentsaveraged 0,32 kg. Twenty five percent of respondents experienced changes ineating style while the rest of them are consistent with one eating style. Out of alleating styles, the significant effect to weight gain is only found in external eatingbefore and after being controlled by energy intake (p<0,05).

Physical activity andsocial economy status could not be found as confounders in this study. Thisindicates that external eating, rather than emotional eating and restrained eating,drives weight gain in female college students. This study also found that theproportion of restrained eating is higher in normal weight than overweight,emotional eating is higher in underweight than overweight, and external eating ishigher in normal and underweight than overweight and obesity.

Keywords:Weight gain, restrained eating, external eating, emotional eating, cohort study.
Read More
S-9069
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mery Christy; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Ruri Harini
S-7755
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghevira Aulia Sahara; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Triyanti, Fajrinayanti
Abstrak:

Masalah kekurangan gizi pada balita usia 12–59 bulan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, termasuk di Kota Depok. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal merupakan salah satu upaya intervensi yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dan faktor-faktor lain terhadap kenaikan berat badan balita di Puskesmas Cimpaeun Kota Depok Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 71 balita usia 12–59 bulan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan data sekunder dari Puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,6% balita mengalami kenaikan berat badan yang adekuat setelah mengikuti program PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal. Terdapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dengan kenaikan berat badan balita (p = 0,027; OR = 4,464; 95% CI: 1,155–17,252), yang berarti balita yang menerima PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal tidak habis memiliki risiko 4,464 kali lebih besar untuk mengalami kenaikan berat badan yang kurang dibandingkan dengan balita yang menerima PMT habis terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi dengan kenaikan berat badan (p = 0,015). Balita yang mengalami infeksi memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami kenaikan berat badan. Sementara itu, variabel seperti pola makan, pendidikan ibu, pengetahuan, pola asuh, kunjungan posyandu, dan PHBS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kenaikan berat badan balita.


Malnutrition among children aged 12-59 months remains a major challenge in Indonesia, including in Depok City. Local Food-Based Supplementary Feeding (PMT) is one of the government's intervention efforts to improve children's nutritional status. This study aims to determine the relationship between the provision of Local Food-Based Recovery PMT and other factors on toddler weight gain at the Cimpaeun Health Center in Depok City in 2024. This study used a cross sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 71 toddlers aged 12-59 months who were purposively selected. Data were collected through questionnaires and secondary data from the health center. The results showed that 60.6% of toddlers experienced adequate weight gain after participating in the Local PMT program. There was a significant association between the appropriateness of the provision of local PMT and weight gain (p = 0.027; OR = 4.464; 95% CI: 1.155-17.252), meaning that toddlers who received inadequate local food-based recovery PMT had a 4.464 times greater risk of underweight gain compared to toddlers who received inadequate PMT. There was a significant association between infection and weight gain (p = 0.015). Infected toddlers had a higher tendency to gain weight. Meanwhile, variables such as diet, mother's education, knowledge, parenting, posyandu visits, and PHBS did not show a significant relationship with toddler weight gain. 

Read More
S-11937
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Awaludin Ashar; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Mahmud Fauzi, Susi Tursilowati
Abstrak:
Balita menjadi salah satu kelompok usia paling rentan mengalamai permasalahan gizi. Salah satu upaya penanggulangan masalah gizi melalui pemberian makanan tambahan makanan. Intervensi melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal dan Pemberian Pangan Olahan Diet Khusus (PDK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cost, outcome berupa kenaikan berat badan balita, cost and outcome analysis, serta mengindentifkasi faktor yang berpotensi mempengaruhi kenaikan berat badan balita. Desain penelitian menggunakan cross-sectional study dengan perspektif penyedia layanan kesehatan. Data dikumpulkan mulai Februari hingga Juli 2023. Hasil perhitungan total cost/anak untuk Pemberian PDK sebesar Rp. 236.250,- dan PMT Berbasis pangan lokal sebesar Rp.231.000.-. Baik secara persentase maupun hasil uji statistik pemberian PDK maupun PMT berbasis pangan lokal terbukti dapat menaikkan berat badan balita. Hasil cost and outcome analysis tidak memperlihatkan perbedaan yang mencolok pada pemberian PDK dan PMT berbasis pangan lokal. Hasil uji penyakit penyerta (ISPA, diare dan TB Paru) dan akses sanitasi (kepemilikan jamban dan jarak sumber air dengan tempat pembuangan limbah) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kenaikan berat badan balita. Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu baseline dalam keberlanjutan program baik dari sisi anggaran, jenis intervensi, lokus pemilihan intervensi dan nantinya bisa menjadi salah satu alternatif adopsi intervensi di tingkat keluarga.

Childs are one of the most vulnerable age groups to nutritional problems. One of the efforts to overcome nutritional problems is through the provision of additional food. Intervention through local food-based supplementary feeding (PMT) and special diet processed food (PDK). This study aims to determine the cost, outcome in the form of toddler weight gain, cost and outcome analysis, and to identify factors that have the potential to influence toddler weight gain. The research design used a cross-sectional study with a health care provider perspective. Data were collected from February to July 2023. The results of the calculation of total cost / child for PDK provision amounted to Rp. 236,250, - and PMT based on local food amounted to Rp. 231,000. Both the percentage and statistical test results of the provision of PDK and local food-based PMT are proven to increase the body weight of toddlers. The results of the cost and outcome analysis did not show a significant difference in the provision of PDK and local food-based PMT. Comorbidities (ISPA, diarrhea and pulmonary tuberculosis) and access to sanitation (ownership of latrines and distance from water sources to waste disposal sites) did not have a significant relationship with weight gain. This study is expected to be one of the baselines in the sustainability of the program both in terms of budget, type of intervention, locus of intervention selection and later can be an alternative intervention adoption at the family level.
Read More
T-6815
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive