Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Guruh Sabtyawiraji; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Mufti Wirawan, Samy Awaludin, Muhammad Aditya Pradana
Abstrak:
Investigasi kecelakaan adalah proses sistematis dalam menganalisis suatu kecelakaan berdasarkan data dan fakta yang dikumpulkan melalui pemeriksaan menyeluruh terhadap berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan dan penyebab kecelakaan. Penelitian ini membahas mengenai sistem investigasi kecelakaan kerja di PT. X yang dibandingkan dengan penelitian lain, peraturan pemerintah, dan standar dari beberapa lembaga yang ada di dunia seperti OHSA, HSE Executive, ILO, dan ILCI. Pernelitian dilakukan dengan membandingkan elemen yang ada di dalam sistem investigasi kecelakaan di PT. X dengan elemen hasil sintesis dari tinjauan pustaka untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari sistem tersebut. Penelitian ini bersifat kualitatif dan unit analisis yang digunakan adalah prosedur, materi pelatihan, laporan investigasi, dan hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. X sudah memiliki komitmen manajemen yang mendukung proses investigasi dengan menyediakan prosedur, sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendukung investigasi, pelatihan terhadap tim investigasi, dan penunjukan Sponsor sebagai perwakilan pimpinan tertinggi perusahaan untuk memastikan bahwa proses investigasi dilakukan. Selain itu terdapat beberapa hal yang masih bisa ditingkatkan dari pelaksanan investigasi kecelakaan seperti pemberian kesempatan kepada tim investigasi untuk dibebaskan dari pekerjaan harian, pemberian umpan balik kepada RCA Facilitator terkait analisis penyebab, dan proses validasi dilakukan secara konsisten dan tercatat sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Kesimpulan penelitian ini adalah sistem investigasi kecelakaan kerja di. PT. X sudah baik dibandingkan dengan elemen hasil sintesis. Penerapan sistem investigasi di PT. X memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan yang masih bisa ditingkatkan sehingga meningkatkan kualitas dari investigasi

Accident investigation is a systematic process in analyzing an accident based on data and facts collected through a thorough examination of the factors that contribute to the accident and cause of the accident. This research discusses the accident investigation system at PT. X compared with research, government regulations, and standards from several institutions such as OHSA, HSE Executive, ILO, and ILCI. A comparison is conducted by comparing the elements that exist in the accident investigation system at PT. X with the synthesis of elements to identify the plus and delta of the implemented system. The research is using the qualitative method and the analysis units used are procedures, training material, investigation reports, and interview results. The results showed that PT. X already has a management commitment to support the investigation process by providing procedures, human resources, facilities and infrastructure to support the investigation, training the investigation team, and appointing sponsors as representatives of the company's highest leadership to ensure that the investigation process is carried out appropriately. The following are several things that can be improved from the accident investigation such as providing an opportunity for the investigation team to be released from daily work, giving feedback to the RCA Facilitator  18 related to the analysis of causes, and the validation process is carried out consistently and recorded so it can be accounted for. The conclusion of this research is that PT. X has a good accident investigation system compared to the synthesis of elements. Implementation of the investigation system at PT. X has several plus and delta that can still be improved thus increasing the quality of the investigation.

Read More
T-5885
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Okky Hartono; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Samy Awaludin, Alfa Khinani
Abstrak:
Belajar dari kecelakaan berarti kecelakaan dipelajari untuk mengidentifikasi penyebab dan kelemahan sistem sehingga kecelakaan di masa depan dapat dicegah. Walaupun kecelakaan dipelajari, namun kecelakaan dengan skenario yang serupa masih terjadi di PT X. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Untuk menjaga validitas hasil penelitian, dilakukan triangulasi yaitu triangulasi data, triangulasi metode, dan triangulasi sumber. Proses belajar dari kecelakaan yang diterapkan oleh PT X yaitu mengenali kejadian, melaporkan kejadian, mencatat dan mengklasifikasikan kejadian, mengumpulkan data investigasi, mencari akar penyebab, membuat rekomendasi/tindakan perbaikan, mengkomunikasikan pembelajaran, memonitor penutupan tindakan perbaikan, dan melakukan verifikasi dan validasi. Penelitian menunjukkan bahwa pekerja telah mengerti kejadian yang dikategorikan sebagai kecelakaan, namun sebagian kecil pekerja masih bingung dalam membedakan antara kejadian hampir celaka dengan kondisi atau tindakan tidak selamat Kejadian dilaporkan melalui surel atau SharePoint namun pelaporan kejadian hampir celaka masih relatif sedikit jika dibandingkan dengan jumlah kecelakaan. Kejadian diklasifikasikan berdasarkan pedoman baku serta dicatat di dalam IT Tool walaupun tindak lanjut dari pelaporan di dalam SharePoint masih kurang. Investigasi dimulai dengan mengumpulkan informasi yang dikelompokkan menjadi 4P yaitu orang (people), posisi (position), kertas (paper), dan bagian (parts). Pengumpulan data untuk investigasi level 3 cenderung meninjau kecelakaan dengan skenario serupa pada kasus sebelumnya. Akar penyebab kecelakaan ditentukan dengan menggunakan metode five why atau why tree yang dimulai dengan menentukan top event hingga mendapatkan akar penyebab kecelakaan. Pada investigasi yang melibatkan kecelakaan kendaraan yang diklasifikasikan menjadi level 1, masih ditemukan akar penyebab manusia alih-alih akar penyebab sistem. Rekomendasi/ tindakan perbaikan disusun berdasarkan kriteria SMART yaitu spesifik (specific), dapat diukur (measurable), memiliki penanggung jawab (accountable), relevan (relevant), dan memiliki batasan waktu (time limits). Namun keberlanjutan tindakan perbaikan kurang ditekankan. Pembelajaran disebarkan melalui peringatan kejadian (alert) dan buletin yang dibagikan kepada pekerja melalui surel dan media lainnya. Namun pembuatan alert dan buletin kurang konsisten serta mekanisme penyebaran kurang efektif. Tindakan perbaikan dimonitor dan diselesaikan tepat waktu serta sponsor melakukan verifikasi dan validasi penyelesaian tindakan perbaikan untuk mengecek efektivitasnya. Dengan kelebihan dan kekurangan yang ada, namun proses belajar dari kecelakaan yang diterapkan oleh PT X mampu menurunkan tren kecelakaan pada kurun waktu dari 2015 hingga 2019.

Learning from accident means accident is learned to identify the causes and weaknesses of the system so the future accidents be prevented. Although accidents are studied, accidents with similar scenarios still occur at PT X. Therefore, research is conducted which aims to study the process of "learning from accidents" implemented by PT X. The study was conducted using qualitative descriptive method. To maintain the validity of the results, triangulation was carried out using data triangulation, method triangulation, and source triangulation. The learning from accidents that implemented by PT X starts from recognizing events, reporting events, recording and classifying events, collecting data to support the investigation process, finding root causes, making recommendations/corrective actions, communicating learning, monitoring closure of corrective actions, and verifying and validating corrective actions. The study shows that workers have understood events that are categorized as accidents, but a small proportion of workers are still confused in distinguishing between near miss with unsafe conditions or act. Accidents and near miss are reported through e-mail or SharePoint but the reporting of near miss is still relatively lack when compared to the number of accidents. Events are classified based on standard guidelines and recorded in the IT Tool even though the follow-up of reporting event in SharePoint is still lacking. Investigation is begun by gathering the information that grouped into 4Ps, namely people, positions, paper, and parts. Data collection for level 3 investigations tends to review accidents with a similar scenario in the previous cases. The root cause of an accident is determined using the five why or why tree method that starts by determining the top event and progressing to find the root cause of accident. It is found human root causes instead of systemic root causes for the investigation involving motor vehicle crash that is classified as level 1. Recommendations/corrective actions are developed based on SMART criteria i.e., specific, measurable, accountable, relevant, and time limits. However, the sustainability of corrective actions is not emphasized enough. Learning is spread through alerts and bulletins that are distributed to workers through e-mail and other media. However, the making of alerts and bulletins are less consistent and the mechanism of dissemination is less effective. Corrective actions are monitored and completed on time and the sponsor verifies and validates the completion of corrective actions to check the effectiveness. With the advantages and disadvantages that exist, but the learning from accidents that is implemented by PT X was able to reduce the trend of accidents in the period from 2015 to 2019.

Read More
T-5900
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fikri Aulia Rachman; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, Dadan Erwandi, Samy Awaludin, Wulan Sary
Abstrak: Faktor kelalaian manusia dalam berkendara merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan kendaraaan bermotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi perilaku berkendara tidak selamat yaitu overspeeding
Read More
T-5967
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Awang Joko Purnomo; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya, Samy Awaludin, Dody Hartawan
Abstrak: Sebagian besar perusahaan-perusahaan di berbagai industri yang mempunyai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) mengimplementasikan Job Safety Analysis (JSA). Penelitian-penelitian merekomendasikan agar JSA harus mempunyai kualitas yang tinggi. Penyebab kecelakaan paling tinggi pada operasi pengeboran dan perawatan sumur minyak di PT XYZ berhubungan dengan kualitas JSA. Pada bulan Februari sampai Juli 2019 PT XYZ melakukan pelatihan analisis bahaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pelatihan yang diberikan kepada pemimpin kerja operasi perawatan sumur minyak di PT XYZ dalam meningkatkan kualitas JSA. Pelatihan dilakukan dengan jumlah peserta per sesi adalah 10-11 orang, interaktif di dalam kelas, materi merujuk pada prosedur internal PT XYZ tentang analisis bahaya, macro horizon dalam membuat JSA, dan positioning dari risk assessment dalam JSA dengan Risk Register. Peserta dilatih melakukan analisis bahaya sesuai dengan pekerjaan, termasuk mengidentifikasi bahaya, mengidentifikasi proteksi yang diperlukan, mengetahui peran dan tanggung jawab setiap pekerja, diskusi dua arah, praktik membuat JSA, dan mendiskusikannya. Data kualitas JSA diambil dengan observasi secara langsung di tempat pekerjaan dilakukan. Data kemampuan pemimpin kerja diambil dengan meminta mereka membuat JSA dari pekerjaan saat itu dengan diawasi oleh konsultan keselamatan yang ditunjuk oleh peneliti. Untuk menjaga standarisasi penilaian oleh konsultan keselamatan, tahapan yang dilakukan adalah perencanaan, pembekalan, pelaksanaan, dan evaluasi. Konsultan yang sama menilai JSA sebelum dan setelah pelatihan dengan judul sama. Pemimpin kerja yang dinilai sebelum dan setelah pelatihan adalah orang yang sama termasuk tim dan rignya. Hasil perhitungan SPC XL menunjukkan nilai-p (probabilitas kesalahan) dari Uji-t terhadap data sebelum dan setelah pelatihan sebesar 0,000 atau lebih kecil dari dari tingkat signifikansi yang ditetapkan oleh peneliti yaitu α=0,05 yang berarti hipotesis alternatif menyimpulkan terjadi perubahan mean yang signifikan. Dengan keyakinan lebih dari 99% telah terjadi perubahan mean yang signifikan karena (1-p) X 100 = 100 atau hampir 100. Skor pemimpin kerja setelah mendapatkan pelatihan menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum dilakukan. Skor rata-rata 75 orang pemimpin kerja sebelum pelatihan adalah 44,93 dan skor rata-rata setelah pelatihan mengalami kenaikan menjadi adalah 87,43.
Most companies in various industries that have Occupational Safety and Health Management Systems implement Job Safety Analysis (JSA). Studies recommend that JSA must has high quality. The highest cause of incidents in drilling and workover operations of PT XYZ was related to JSA quality. From February to July 2019, PT XYZ conducted hazard analysis trainings. This study was conducted to determine the effect of training provided for workover operations leaders at PT XYZ in improving the quality of JSA. Training was conducted with 10-11 participants, interactive in classroom, referred to PT XYZ's procedures on hazard analysis, macro horizon in making JSA, and positioning of risk assessment in JSA with the Risk Register. Participants were trained to do hazard analysis in accordance with work, including identifying hazards and safeguards, knowing roles and responsibilities of each worker, two-way discussion, practice to develop JSA, and discussion. JSA quality data was taken by direct observation at work area. Ability of work leaders data was taken by asking them to make JSA from current work, supervised by a safety consultant appointed by the researcher. To maintain the standardization of assessments by safety consultants, the steps taken were planning, briefing, implementation, and evaluation. The same consultant assessed JSA before and after training with the same title. Work leaders who were assessed before and after training are the same people including team and rig. The SPC XL calculation results show the p-value (probability of error) of the t-Test on data before and after training is 0,000 or smaller than the significance level set by the researcher of α = 0.05 which means that the alternative hypothesis concludes that there is a change in the mean significantly. With a confidence level more than 99%, there is a significant change in the mean because (1-p) X 100 = 100 or almost 100. The work leader's score after training shows higher than before. The average score of 76 work leaders before training was 44.93 and the average score after training increased to 87.43.
Read More
T-5996
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iqbal Dwiputra; Pembimbing: Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Iqbal Mochtar, Samy Awaludin
Abstrak: Tesis ini membahas teori institutional analysis pada manajemen heat stress di perusahaan konstruksi. Kompleksnya teori institutional analysis yang dikembangkan memicu penulis untuk melakukan penelitian karena banyaknya faktor yang teridentifikasi, selain itu terdapat pula beberapa institutional level eksternal perusahaan yang tidak dapat diintervensi langsung oleh perusahaan konstruksi. Penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan tinjauan sistematis dengan metode analisis tematik. Didapatkan hasil penelitian berupa gambaran tematik mengenai underlying factors dan tools and tecnhiques pada setiap institutional level dan keseluruhannya sebagai salah satu metode dalam manajemen heat stress. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan konstruksi menerapkan teori institutional analysis dan mengaplikasikan gambaran tematik yang dihasilkan penelitian dalam pelaksanaan manajemen heat stress pada institutional level yang dapat diintervensi langsung oleh perusahaan
This study mainly discussing about institutional analysis theory for managing heat stress in construction company. The complexity of that theory urge Author to conduct this research because of many identified factors and some institutional levels that have been identified are an external factors that could not be interfeared directly by construction company. Systematic review with thematic analysis are the methods for this research. The results show thematic analysis about underlying factors and tools and techniques of each institutional level and altogether as one method to manage heat stress. This research recommends the application of institutional analysis combined with thematic analysis from this research to manage heat stress in construction company
Read More
T-6107
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Donny Agustinus Sitanggang; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Baiduri Winarko, Benyamin Argubie, Samy Awaludin
Abstrak: Tesis ini membahas iklim keselamatan pada pekerja di industri minyak dan gas, data iklim keselamatan pekerja diperoleh melalui survei daring. Pengumpulan data menggunakan metode survei yang bersumber dari survei yang digunakan pada jurnal (Sunindijo et al. 2019) dan (Loosemore et al. 2019) yang sudah digunakan pada industri lainnya yaitu industri bangunan, infrastruktur, konstruksi di Indonesia dan Australia. Survei dilakukan terhadap karyawan dan partner di industri minyak dan gas, hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada beberapa bagian antara karyawan dan partner, dan antara pekerja industri minyak dan gas dan pekerja industri lainnya. Dapat disimpulkan bahwa iklim keselamatan di industri migas sudah baik dan secara rerata lebih tinggi dari industri konstuksi, dimana di sisi positif pekerja industri migas merasa lingkungan kerjanya aman untuk bekerja, namun di sisi lain memerlukan perbaikan dalam implementasi peraturan dan prosedur keselamatan di tempat kerja.

The focus of this thesis is safety climate on oil and gas industry worker, the objective is to analyze safety climate in oil & gas industry and compare it with construction industry. Data collection is performed using a survei method which sourced from journal (Sunindijo et al. 2019) and (Loosemore et al. 2019) which already used in other industry such as building, infrastructure, construction in Indonesia and Australia. Safety climate data is obtained through online survei. Survei performed to employees and partners in oil and gas industry, this study shows that there is a significant difference on some part of employees and partners, and between oil and gas worker and construction industry worker. We can conclude that safety climate in oil & gas industry is already good and in average has higher value than construction industry, where on the positif side oil & gas industry worker feels their work environment is safe to work ,but need some improvement in safety rules and procedures implementation at work.
Read More
T-5864
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medonna Febrina Putri; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Doni Hikmat Ramadhan, Samy Awaludin, Alfa Khinani
Abstrak:
Tesis ini membahas mengenai penilaian risiko kesehatan berdasarkan task analysis pada aktivitas well services industri pengeboran minyak bumi di PT X Tahun 2019. Penelitian ini adalah penelitian semikuantitatif dengan desain deskriptif berdasarkan HRA model PT Pertamina (2018) berdasarkan factor tingkat pajanan dan tingkat. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi aktivitas well services berdasarkan task yang ada pada SOP dan JSA, walkthrough survey dan menilai risiko. Berdasarkan penilaian risiko kesehatan didapatkan tingkat risiko tinggi (high) untuk bahaya bising terhadap SEG floorman, driller, derrickman, dan mechanic dan bahaya ergonomi terhadap SEG floorman, driller, derrickman, dan operator dozer. PT AB dan PT CD perlu melakukan pengendalian tambahan terhadap bahaya bising dan bahaya ergonomi antara lain: Hearing Loss Prevention Program (HLPP), audit terhadap SOP & peralatan, melakukan pengukuran dosis personal bahaya bising, pembatasan jam kerja, pengukuran audiometri, melakukan supervisi dilapangan terhadap pengunaan earplug, pengunaan double earplug & earmuff, melakukan sosialisasi bahaya bising secara konsisten, menyediakan perancah (scafolding) pada aktivitas nipple up & nipple down horse head, melakukan pelatihan posisi tubuh yang ergonomi serta menambahkan Ergonomic Postur Assessment sebagai salah satu item dalam pemeriksaan kesehatan berkala. Bahaya gas H2S terhadap SEG floorman, driller dan derrickman dan bahaya gas CO terhadap SEG mechanic mendapatkan tingkat risiko medium, sehingga perlu dilakukan pemantauan implementasi pengendalian yang sudah ada serta pengendalian tambahan secara konsisten. Selanjutnya bahaya getaran mendapatkan tingkat risiko low terhadap SEG mechanic dan bahaya gas O2 terhadap SEG floorman, driller, derrickman, mechanic dan operator Dozer mendapatkan tingkat risiko very low, oleh karena itu PT AB dan PT CD melalui HES departemen perlu melakukan monitoring secara berkala dan konsisten terhadap impelementasi pengendalian yang sudah ada. Selain itu hasil penelitian ini juga menyarankan bahwa identifikasi potensi bahaya lainnya seperti pencahayan, radiasi gamma, heat stress, welding fume, bahaya biologi dan bahaya psikososial pada pekerjaan well services berdasarkan task analysis.

This thesis discusses the health risk assessment based on task analysis on the well services activities of the petroleum drilling industry at PT X 2019. This research is a semiquantitative study with a descriptive design based on the HRA model of PT Pertamina (2018) bases factor exposure level and hazard level. The first step is to identify performed the task well services based on SOP and JSA, walkthrough survey and risk assessment. Based on the health risk assessment, there is a high risk level for noise hazards to similar exposure group (SEG) floorman, driller, derrickman, and mechanic and ergonomic hazards to floorman, driller, derrickman, and dozer operators. PT AB and PT CD need to conduct additional controls for noise hazards and ergonomic hazards, including: Hearing Loss Prevention Program, auditing SOPs & equipment, measuring personal dose of noise hazards, limiting working hours, audiometric measurements, conducting field supervision of the use of earplugs, using double earplugs and earmuffs, disseminating noise hazards consistently, providing scaffolding for Nipple Up and Nipple Down Horse Head activities, conducting ergonomic body position training, and adding Ergonomic Posture Assessment as an item in periodic health checks. The hazard of H2S gas to the SEG floorman, driller and derrickman and the danger of CO gas to the SEG mechanic has a medium level of risk, it is necessary to monitor the implementation of existing controls as well as additional controls consistently. Furthermore, the vibration hazard gets a low risk level for the SEG mechanic and the danger of O2 gas against the SEG floorman, driller, derrickman, mechanic and Dozer operators get a very low risk level, therefore PT AB and PT CD through the HES department need to monitor regularly and consistently the implementation of existing controls. In addition, the results of this study also suggest that the identification of other potential hazards such as lighting, gamma radiation, heat stress, welding fume, biological hazards and psychosocial hazards in well-service work based on task analysis
Read More
T-6016
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive