Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dian Novita; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Trini Sudiarti, Dien Sanyoto Besar
S-5452
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Ani; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Dien Sanyoto Besar
S-5883
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmah Housniati; Pembimbing: Asih Setiarini; Kusharisupeni, Sandra Fikawati, Dien Sanyoto Besar
Abstrak: Latar Belakang. Program 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusuiyang merupakan panduan dalam menjalankan Rumah Sakit Sayang Bayi. Banyakstudi menunjukkan program ini dapat membantu keberhasilan proses menyusuidan meningkatkan angka cakupan pemberian ASI eksklusif. Dalam menjalankanprogram ini dibutuhkan tenaga kesehatan, manajemen dan semua pihak agar bisaterlaksana. Kualitas tenaga kesehatan yang melayani juga perlu diperhatikan sertakelengkapan prosedur standar pelayanan. Sarana dan prasarana yang mendukungjuga dibutuhkan bagi keberlangsungan program. Sosialisasi dari kegiatan ini jugadiperlukan dalam proses pelaksanaan program. RSIA Kemang Medical Care telahmenjalankan langkah-langkah tersebut yang diharapkan dapat membantukeberhasilan menyusui bagi pasiennya.Metode. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuanuntuk mendapatkan gambaran masukan, proses dan keluaran dalam program 10Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui. Pengumpulan data dilakukan denganmelakukan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion denganmanajemen, tenaga kesehatan serta pasien dan informan ahli dan juga observasidengan total 16 narasumber. Juga dilakukan survei kepada pasien RSIA KemangMedical Care yang melahirkan di awal tahun 2013 sebanyak 100 orang dari 184data yang ada. Penelitian dilakukan sejak 15 Oktober 2013 sampai 6 Desember2013 dan berlangsung di RSIA Kemang Medical Care.Hasil. Hasil analisa menunjukkan bahwa RSIA Kemang Medical Caretelah menjalankan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui dengan baik dariberbagai temuan yang ada. Hasil survei menunjukkan angka ASI eksklusif pasiendi awal tahun 2013 adalah sebesar 88%.Kata Kunci: Menyusui, Rumah Sakit Sayang Bayi, ASI Eksklusif, 10 LangkahMenuju Keberhasilan Menyusui.
Read More
T-4036
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delima Citra Dewi Gunawan; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Kusharisupeni, Triyanti, Dien Sanyoto Besar, Yani Suryani
Abstrak: Abstrak

Masalah utama rendahnya pemberian ASI di Indonesia dikarenakan rendahnya pengetahuan dan perilaku ibu serta kurangnya dukungan dari suami dan keluarga. Pendidikan kesehatan dengan pendampingan suami pada ibu hamil diharapkan akan lebih dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku pemberian ASI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kelas edukasi dengan pendampingan suami terhadap pengetahuan dan praktek pemberian ASI yang diadakan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Pusat di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan quasy experimental dengan rancangan non-randomized control group pretest posttest design. Penelitian dilakukan terhadap ibu hamil yang mengikuti kelas edukasi, terbagi menjadi 33 ibu dengan pendampingan suami sebagai perlakuan dan 33 ibu tanpa pendampingan suami sebagai kontrol. Pengetahuan diukur dengan pretest dan segera setelah kelas edukasi (post test 1) sedangkan praktek diukur satu tahun setelah kelas edukasi (post test 2). Untuk mengetahui hubungan kelas edukasi dengan pengetahuan digunakan Uji McNemar. Untuk melihat hubungan kelas edukasi dengan praktek digunakan uji Chi-square. Analisis Multivariat menggunakan regresi logistik. Kelas edukasi berhubungan secara bermakna dengan pengetahuan baik pada kelompok perlakuan(p=0,006) maupun kontrol(p=0,045) Hubungan juga bermakna pada kelas edukasi dengan praktek pemberian ASI(p=0,000). Hasil dari analisis multivariat menunjukkan bahwa kelas edukasi dengan pendampingan suami merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap praktek pemberian ASI(p=0,000) dengan OR 3,8. Kelas Edukasi dengan pendampingan suami lebih meningkatkan pengetahuan dan praktek pemberian ASI dibandingkan kelas edukasi tanpa pendampingan suami.


The main problem lack of breastfeeding in Indonesia due to lack of knowledge and behavior of the mother as well as a lack of support from her husband and family. Health education, accompanied by husband in pregnant women are expected to be able to increase the knowledge and behavior of breastfeeding. The objective of this study is to determine the effect of education class accompanied by husband on knowledge and practice of breastfeeding in pregnant women organized by AIMI in DKI Jakarta. This study was a quasi experimental research using non-randomized control group pretest-posttest design. Research conducted on pregnant women who take class education, divided into 33 mothers with accompanied by husband as treatments and 33 mothers with no accompanied by husband as a control. Knowledge is measured by pretest and immediately after class education (post-test 1) while practices were measured one year after (post-test 2). To determine the relationship of education class with knowledge used McNemar test. Chi-square test was used to determine relationship betwen education class with practice. Multivariate analysis using logistic regression. Education class was significantly associated with better knowledge of the treatment group (p = 0.006) and controls (p = 0.045) were also significant in relationship education class with breastfeeding practices (p = 0.000). Results of multivariate analysis showed that education class accompanied by husband is the most influential ones on breastfeeding practices (p = 0.000) with OR 3.8. Education class with accompanied by husband further enhance the knowledge and practice of breastfeeding compared with no husband accompanied.

Read More
T-3811
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irna Trisnawati; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Besar, Dien Sanyoto, Eni Gustina
Abstrak: Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif menjadi ancaman serius meningkatnya angka kesakitan dan kematian pada bayi. Persepsi kurang cukup suplai ASI menjadi salah satu penyebab kegagalan pemberian ASI eksklusif. Status gizi ibu terutama selama hamil merupakan salah satu faktor penyebab ibu memiliki persepsi tersebut karena ibu dengan status gizi kurang akan mempengaruhi kemampuan ibu untuk mensintesisi air susu yang menyebabkan bayi tidak cukup ASI untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
 
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan status gizi ibu selama hamil dengan Persepsi Kemampuan Laktasi (PKL) setelah dikontrol oleh variabel umur, kenaikan berat badan selama hamil, pekerjaan, bimbingan laktasi prenatal, paritas, IMD, berat bayi lahir dan penggunaan kontrasepsi. Desain yang dipakai adalah Crossectional terhadap 87 ibu yang memiliki bayi umur >6-12 bulan diwilayah Kabupaten Karawang tahun 2010. Analisis data yang digunakan adalah uji chi square, Uji T independen dan regresi logistik.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,6% ibu memiliki PKL mampu laktasi. Hasil analisis bivariat yang terbukti berhubungan secara bermakna adalah status gizi selama hamil (0,009), kenaikan berat badan selama hamil (0,002), pekerjaan (0,034) dan berat bayi lahir (0,030). Hasil analisis multivariat menjelaskan bahwa status gizi selama hamil yang sesuai rekomendasi berpeluang 2,176 kali untuk memiliki PKL mampu laktasi dibanding dengan status gizi yang tidak sesuai rekomendasi setelah dikontrol oleh variabel kontrasepsi, umur, paritas, IMD, kenaikan berat badan selama hamil dan berat bayi lahir.
 
Disarankan untuk bidan/nakes agar memberikan konseling menyusui, mencatat dan memantau status gizi ibu, melatih ibu untuk menilai kondisi bayi yang cukup/tidak cukup ASI, mengajarkan cara penyediaan dan penyimpanan ASI bagi ibu yang bekerja. Bagi Dinas kesehatan mengadakan pelatihan konseling dan penilaian serta pengukuran status gizi, pemberian reward dan mengkaji ulang kebijakan pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan untuk ibu-ibu dengan status gizi kurang.
 

Low adequate supply of exclusive breastfeeding becomes a serious threatment of increasing number in infant mortality and morbidity. Perception of insufficient breastmilk supply in one of the causes on a failure of exclusive breastfeeding supply. Maternal nutrition status especially during pregnancy is one of the factors that causes mother has this perception, because mother who has insufficient nutritional status will influence her ability to synthesize breastmilk that causes infant doesn't have enough breastmilk for his growth and development.
 
The objectives of this study were to see the correlation of maternal nutrition status during pregnancy with perceived lactation ability after controlled by age variabel, increased body weight during pregnancy, occupation, counseling prenatal lactation, parity, early initiative breastfeeding, baby birth weigh, and the used of contraception. The design crossectional study on 87 mothers who have infants age >6-7 months in Karawang Regency-West Java, Indonesia 2010. The analysis data is used by Chi Sguare Test, T independent Test and Logistic Regression.
 
The Result study shows that 58,6% mothers who have perceived lactational ability. The Results of bivariate analysis that proved significant correlation are nutritional status during pregnancy (0,009), increased body weight during pregnancy (0,002), Occupation (0,034), and baby birthweight (0,030). The Result of multivariate analisys explains that nutritional status during pregnancy that meets breastfeeding recommendation, has an opportunity 2,176 times to have perceived ability then nutritional status that doesn't meet breastfeeding recommendation after controlled by contraception variable, age, parity, early initiative breastfeeding, increased body weight during pregnancy and baby birth weight.
 
Conclusions: suggested to health professional can give lactation counseling, record it, monitor maternal nutritional status, train mother to assess baby condition whether he has enough breastmilk or not. They can teach the mother how to provide and keep breastmilk if they work. For health service, they should give a training for counseling, assessment, nutrition status measurement, give reward and recite the policy in giving exclusive breastmilk for 6 month to the mothers who have insufficient nutritional status.
Read More
T-3211
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Muryanto; Pembimbing: Helda, Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sri Duryati Boedihardjo, Dien Sanyoto Besar
Abstrak:

Latar belakang: Inisiasi menyusu dini memberikan efek yang menentukan bagi kelanjutan pemberian ASI Eksklusif hingga 6 bulan pada bayi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa bayi yang berhasil menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir cenderung akan terus menyusu lebih lama. Satu jam pertama merupakan periode emas yang akan menentukan keberhasilan seorang ibu untuk dapat menyusui bayinya secara optimal. Keberhasilan memberikan ASI Eksklusif yang diawali oleh keberhasilan dalam memberikan kesempatan dalam satu jam pertama ini berkaitan dengan refleks menghisap (suckling reflex) pada bayi. Dimana pada jam-jam pertama setelah lahir refleks menghidap bayi sangat kuat dan setelah itu bayi akan tertidur (Sidi et al, 2007). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh antara inisiasi menyusu dini terhadap kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada baya berusia 6 - 12 bulan di Kabupaten Kuantan Singingi. Metodologi: Penelitian merupakan studi observasional yang menggunakan desain kros seksional. Namun dalam penelitian ini terdapat variabel waktu yang merupakan periode follow up yang peroleh melalui recall (ingatan) responden. Temporal ambiguity dapat dihindari, karena event terjadi setelah exposure. Analisis dilakukan dengan life fable, uji log rank dan Kaplan Meier serta cox proportional hazard. Hasil dan Pembahasan: Inisiasi menyusu dini di Kabupaten Kuantan Singingi dilakukan bervariasi dengan waktu tercepat 15 menit setelah bayi lahir. Sebagian besar (73,1 %) bayi di Kabupaten Kuantan Singingi baru diberikan kesempatan untuk inisiasi menyusu dini > 1 jam setelah lahir, sedangkan bayi yang diberikan kesempatan menyusu pada < 1 jam pertama setelah lahir 26,9%. Ini jauh lebih besar dari angka nasional yang baru mencapai 3,7%. Ini dimungkinkan terjadi karena tingkat pandidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang relatif lebih baik serta low birth weight yang sangat kecil. Rata - rata pemberian ASI Eksklusif bayi usia 6-12 di Kabupaten Kuantan Singingi 6,23 minggu (1,51 bulan). Jika merujuk pada standar yang ditetapkan Depkes RI (6 bulan), maka pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Kuantan Singingi 4,49 bulan jauh dibawah yang diharuskan. Bayi yang inisiasi menyusu dini < 1 jam cenderung lebih lama menyusu secara eksklusif dibandingkan >1 jam (p=O,OOO). Dari pengujian hazard ralio bayi yang inisiasi menyusu dini 1 jam (HRcrude 5,17 dan HRadjusted 4,98). Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Fikawati dan Syafiq tahun 2003 menyebutkan bahwa bayi yang diberikan kesempatan untuk menyusu dini delapan kali akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif. Kesimpupan: Inisiasi menyusu dini merupakan faktor yang mempengaruhi kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6 - 12 bulan dengan HRadjusted 4,98 (95% CI 3,74-6,64). Hanya 11,50% bayi di Kabupaten Kuantan Singingi diberikan ASI Eksklusif hingga 26 minggu (6 bulan), pemberian ASI eksklusif menurun drastis pada akhir 4 bulan.


Background: Early Innitiation of Breastfeeding have a significant effect in determining the continuity of Exclusive Breastfeeding for 6 months period of the infant. A few study concluded that infant who succeed breastfeed for the first hour of birth tend to continue breastfeed for a long period. The first hour of birth is a golden period which will determine the succeed of mother in breastfed the infant optimally. The Succeed of Exclusive Breastfeeding is innitiate with succeed of giving the first hour of birth as a chance for the infant to suck the nippJe in order to develop the suckling reflex. In the first hour of birth the infant has a powerfull suckling reflex, and after that the infant will fall asleep (Sidi et al, 2007). This study is conduct to investigate the effect of early innitiation on the continuity of administering exclusive breatfeeding for the 6-12 months infant in Kuantan Singingi District. Metodology: This study is an observasional study which used cross-sectional design. However this study has a time variable which is follow up period taken through the recall of the respondents. Temporal Ambiguity can be reside, because the event is happened after the exposure. The analysis of the study is conduct through life table, log rank test, Kaplan Arfeir and Cox Proportional Hazard. Results and Discussion: EarJy innitiation of beastfeeding in Kuantan Singingi District is conduct varied with shortest time is 15 minutes after the infant is gavebirth. Most of the infant in Kuantan Singingi District (73,1%) is let to innitiate the breastfeed after 1 hour nf birth, meanwhie infant who let to have breastfeed before the first I hour of birth is 26,9%. This number is bigger than National number which reach 3.7%. This is possible because the education and socioeconomic level ofthe society is higher and the low birth weight infants is lower. The mean of exclusive breastfeeding upon the 6-12 months old baby in Kuantan Singingi Districts is 6,23 weeks (l,51 months). Referred to the standard setting by Department of health (6 months), the mean of Exclusive Breastfeeding in Kuantan Singingi is 4,49 months below the standard setting. The infant who innitiate the early breastfeed before 1 hour afterbirth is tend to have longer exclusive breasfeeding period compare with more than 1 hour after birth. Based on the Hazard test, the ratio of infant innitiating of early breastfeeding before and 1 hour of time breastfeed exclusively longer compared with more than 1 hour afterbirth. (BRerude 5.17 and HRacijusled 4.98). This result is similar with the study conducted by Pikawati and Syafiq in 2003 which showed that the infant let to have earJy breastfeed 8 times will more succeed in Exclusive breastfeed. Conclusions: Early innitiation of breastfeeding is a factor influencing a continuity of Exclusive breastfeeding on the 6-12 months old baby with HRadjusled 4,98 (95% CI 3.74-6.64). Only 11.50% infants Kuantan Singingi District is given exclusive beastfeading until 26 weeks old (6 months), Exclusive breasfeeding is decreasing dramatically in the end of 4 months.

Read More
T-2781
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Muryanto; Pembimbing: Helda; Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sri Duryati Boedihardjo, Dien Sanyoto Besar
Abstrak:

Latar belakang: Inisiasi menyusu dini memberikan efek yang menentukan bagi kelanjutan pemberian ASI Eksklusif hingga 6 bulan pada bayi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa bayi yang berhasil menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir cenderung akan terus menyusu lebih lama. Satu jam pertama merupakan periode emas yang akan menentukan keberhasilan seorang ibu untuk dapat menyusui bayinya secara optimal. Keberhasilan memberikan ASI Eksklusif yang diawali oleh keberhasilan dalam memberikan kesempatan dalam satu jam pertama ini berkaitan dengan refleks menghisap (suckling reflex) pada bayi. Dimana pada jam-jam pertama setelah lahir refleks menghidap bayi sangat kuat dan setelah itu bayi akan tertidur (Sidi et al, 2007). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh antara inisiasi menyusu dini terhadap kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada baya berusia 6 - 12 bulan di Kabupaten Kuantan Singingi. Metodologi: Penelitian merupakan studi observasional yang menggunakan desain kros seksional. Namun dalam penelitian ini terdapat variabel waktu yang merupakan periode follow up yang peroleh melalui recall (ingatan) responden. Temporal ambiguity dapat dihindari, karena event terjadi setelah exposure. Analisis dilakukan dengan life fable, uji log rank dan Kaplan Meier serta cox proportional hazard. Hasil dan Pembahasan: Inisiasi menyusu dini di Kabupaten Kuantan Singingi dilakukan bervariasi dengan waktu tercepat 15 menit setelah bayi lahir. Sebagian besar (73,1 %) bayi di Kabupaten Kuantan Singingi baru diberikan kesempatan untuk inisiasi menyusu dini > 1 jam setelah lahir, sedangkan bayi yang diberikan kesempatan menyusu pada < 1 jam pertama setelah lahir 26,9%. Ini jauh lebih besar dari angka nasional yang baru mencapai 3,7%. Ini dimungkinkan terjadi karena tingkat pandidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang relatif lebih baik serta low birth weight yang sangat kecil. Rata - rata pemberian ASI Eksklusif bayi usia 6-12 di Kabupaten Kuantan Singingi 6,23 minggu (1,51 bulan). Jika merujuk pada standar yang ditetapkan Depkes RI (6 bulan), maka pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Kuantan Singingi 4,49 bulan jauh dibawah yang diharuskan. Bayi yang inisiasi menyusu dini < 1 jam cenderung lebih lama menyusu secara eksklusif dibandingkan >1 jam (p=O,OOO). Dari pengujian hazard ralio bayi yang inisiasi menyusu dini 1 jam (HRcrude 5,17 dan HRadjusted 4,98). Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Fikawati dan Syafiq tahun 2003 menyebutkan bahwa bayi yang diberikan kesempatan untuk menyusu dini delapan kali akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif. Kesimpupan: Inisiasi menyusu dini merupakan faktor yang mempengaruhi kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6 - 12 bulan dengan HRadjusted 4,98 (95% CI 3,74-6,64). Hanya 11,50% bayi di Kabupaten Kuantan Singingi diberikan ASI Eksklusif hingga 26 minggu (6 bulan), pemberian ASI eksklusif menurun drastis pada akhir 4 bulan.


Background: Early Innitiation of Breastfeeding have a significant effect in determining the continuity of Exclusive Breastfeeding for 6 months period of the infant. A few study concluded that infant who succeed breastfeed for the first hour of birth tend to continue breastfeed for a long period. The first hour of birth is a golden period which will determine the succeed of mother in breastfed the infant optimally. The Succeed of Exclusive Breastfeeding is innitiate with succeed of giving the first hour of birth as a chance for the infant to suck the nippJe in order to develop the suckling reflex. In the first hour of birth the infant has a powerfull suckling reflex, and after that the infant will fall asleep (Sidi et al, 2007). This study is conduct to investigate the effect of early innitiation on the continuity of administering exclusive breatfeeding for the 6-12 months infant in Kuantan Singingi District. Metodology: This study is an observasional study which used cross-sectional design. However this study has a time variable which is follow up period taken through the recall of the respondents. Temporal Ambiguity can be reside, because the event is happened after the exposure. The analysis of the study is conduct through life table, log rank test, Kaplan Arfeir and Cox Proportional Hazard. Results and Discussion: EarJy innitiation of beastfeeding in Kuantan Singingi District is conduct varied with shortest time is 15 minutes after the infant is gavebirth. Most of the infant in Kuantan Singingi District (73,1%) is let to innitiate the breastfeed after 1 hour nf birth, meanwhie infant who let to have breastfeed before the first I hour of birth is 26,9%. This number is bigger than National number which reach 3.7%. This is possible because the education and socioeconomic level ofthe society is higher and the low birth weight infants is lower. The mean of exclusive breastfeeding upon the 6-12 months old baby in Kuantan Singingi Districts is 6,23 weeks (l,51 months). Referred to the standard setting by Department of health (6 months), the mean of Exclusive Breastfeeding in Kuantan Singingi is 4,49 months below the standard setting. The infant who innitiate the early breastfeed before 1 hour afterbirth is tend to have longer exclusive breasfeeding period compare with more than 1 hour after birth. Based on the Hazard test, the ratio of infant innitiating of early breastfeeding before and 1 hour of time breastfeed exclusively longer compared with more than 1 hour afterbirth. (BRerude 5.17 and HRacijusled 4.98). This result is similar with the study conducted by Pikawati and Syafiq in 2003 which showed that the infant let to have earJy breastfeed 8 times will more succeed in Exclusive breastfeed. Conclusions: Early innitiation of breastfeeding is a factor influencing a continuity of Exclusive breastfeeding on the 6-12 months old baby with HRadjusled 4,98 (95% CI 3.74-6.64). Only 11.50% infants Kuantan Singingi District is given exclusive beastfeading until 26 weeks old (6 months), Exclusive breasfeeding is decreasing dramatically in the end of 4 months.

Read More
T-2781
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Ansori; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Endang Laksminingsih Achadi, Dien Sanyoto Besar, Kirana Pritasari
Abstrak:

Bayi umur 4 - 6 bulan mulai mendapatkan makanan pendamping ASI (MP-AS1) secara bertahap, disamping masih tetap mendapat ASI. Pada masa ini kekebalan anak yang didapat secara pasif dari ibunya mulai menurun, sementara bayi mulai mendapatkan makanan yang kurang mencukupi dari kebutuhannya. Beberapa basil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi KEP pada bayi lebib dari 15% berdasarkan indeks status gizi (BB/U). Hal ini menunjukkan bahwa masalah gizi pada bayi merupakan hal yang serius yang perlu segera ditangani.Penelitian ini menganalisis data sekunder dari Penelitian " Pola menyusui, Usia penyapihan dan Pemberian MP-ASI dalam Kaitannya dengan Status Gizi Batita (6 - 36 bulan) Di Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Mir Sumatera Selatan Tabun 2001". Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh tentang kekuatan hubungan umur pertama kali pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi. Pada penelitian ini desain yang digunakan adalah cross sectional (potong lintang). Sampel adalah bayi umur 6 - 12 bulan yang mendapatkan ASI. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dan multivariat_Hasil penelitian didapatkan bahwa prevalensi KEP sebesar 20,7%, rata-rata umur pemberian MP-ASI 3,8 bulan, sedangakan bayi yang diberi MP-ASI < 4 bulan sebesar 31,0%. Asupan energi dari rata-rata 764 kkal sedangkan asupan protein 16 gr. Dari basil analisis multivari.at didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara umur pertama kali pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi umur 6 - 12 bulan. Bayi yang mendapatkan MP-ASI pada umur < 4 bulan kemungkinan akan mengalami risiko gizi kurang 5,2251 kali dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan MP-ASI pads mnur 4 - 6 bulan setelah dikontrol oleh asupan energi. Ternyata asupan energi berperan sebagai confounder, atau mempunyai pengaruh dalam meningkatkan hubungan umur pertama kali pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi.Untuk meningkatkan status gizi bayi maka perlu dilakukan peningkatan pelaksanaan monitoring pertumbuhan melalui kegiatan UPGK di posyandu, selain itu kepada ibu menyusui hams diupayakan untuk tidak memberikan makanan prelakteal dan memberikan MP-ASI dini, karena bila sudah mendapat makanan prelakteal dan IvfP-ASI yang diberikan pada umur < 4 bulan bisa merugikan bayi. Petugas kesehatan berperan penting dalam memberikan pendidikan/konseling terhadap ibu hamil tentang manajemen laktasi. Agar bayi dapat memenuhi kebutuhan gizinya perlu dikembangkan makanan lokal melalui pelatihan pembuatan makanan lokal yang memenuhi syarat gizi dan cita rasa.


 

The Relationship between the First Age of Introducing Complementary Feeding with Nutritional Status of Babies aged 6 - 12 Months at Pedamaran Subdistrict Ogan Komering Ilir District South Sumatera in 2001Babies aged 6 -12 months begins to get complemernary feeding gradually while still breast feeded. In this age, baby immunity which was received passively from his mother decreases, while he begins to receive an inadequate food. Several researches show that protein energy malnutrition (PEM) prevalence to babies is more than 15% based on nutritional status index (Weight/Age). This shows that baby nutrition remains serious matter to overcome.The research analyzes secondary data obtained from the previous research titled "Breast feeding pattern, weaning age and complementary feeding in relation to the nutrition status of baby under three years ( 6 - 36 months) at Pedamaran Subdistrict, Ogan Komering Ilir District, South Sumatera in 2001". This research purpose is to obtain the relational strength between the first age of introducing complementary feeding and nutritional status of babies 6 - 12 months. This research uses cross sectional design, through univariat, bivariat, and multivariate analyses. Samples are baby aged 6 - 12 months who received Breast milkThe research result shows that Protein Energy Malnutrition (PEM) prevalence is 20,7%, mean of ages introducing complementary feeding is 3,8 months, mean of  babies of age of introducing complementary feeding < 4 months is 31,0%, mean of energy intake is 764 kkal, and mean of protein intake is 16 gr. Multivariate analysis shows that there is significant relationship between first age of introducing complementary feeding and nutritional status of infant age 6 -12 months. Babies who received complementary feeding <4 months possible might experience with under nutrition (Weight/Age) risk more than 5,2251 than babies who received complementary feeding at 4 - 6 months of age after controlled by energy intake. Apparently, energy intake plays as confounder role, or has influence to increase the relationship between first age of complementary feeding and nutritional status of infants.In order to improve baby nutritional status, there should be monitoring improvement through UPGK program at Posyandu. In addition, mother is expected not to administer prelacteal food and able to administer exclusive breast-feeding, because babies given prelacteal and administered of introducing complementary feeding at the age <4 months, they will be harmful. On the other hand there should be information given both to health officers and pregnant mothers about lactation management . In order to baby nutrient necessity, there should be it needs local/ordinary foods development through the training of local food production which fulfills nutrition condition and flavor.

Read More
T-1484
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive