Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Agus Setyo Widodo; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmita, Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Yosyah, Syafik, Artha Budi Susila Duarsa
Abstrak: Latar belakang : Selama lima tahun terakhir angka kesakitan malaria di wilayah Kecamatan Padangcermin Kabupaten Lampung Selatan cenderung meningkat dan salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan kenaikan tersebut adalah terjadinya resistensi obat anti malaria program PCD. Penelitian tentang resistensi obat yang dilakukan oleh Sutanto (2002) memperlihatkan angka resistensi obat anti malaria klorokuin diwilayah Puskesmas Hanura Kecamatan Padangcermin Kabupaten Lampung Selatan sebesar 80%. Salah satu penyebab kegagalan program pemberantasan malaria didaerah endemis adalah banyaknya penderita tidak patuh minum obat sesuai aturan atau prosedur. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran perilaku kepatuhan minum obat pada penderita malaria klinis dan faktor-faktor apa saja yang berhubungan. Desain studi : telah dilakukan studi cross sectional terhadap 108 sampel (responden/penderita) di Kecamatan Padangcermin Kabupaten Lampung Selatan yang tercatat sebagai kasus 2004. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara terstruktur kepada penderita (responden), selanjutnya dilakukan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil : penelitian yang dilakukan menunjukkan, bahwa 73,1% responden menyatakan tidak patuh minum obat anti malaria yang artinya bahwa selain minum obat anti malaria dari Puskesmas dalam waktu yang sama juga minum obat dari warung/toko yang ada dengan harapan mempercepat kesembuhan. Dari 13 variabel yang diduga berhubungan dengan kepatuhan, setelah diuji dengan chi – square ternyata ada 9 variabel yang bermakna. Kemudian dari 9 variabel tersebut dimasukkan dalam seleksi variabel kandidat model menggunakan regresi logistik sederhana dan didapatkan hasil variabel pengetahuan dan kualitas obat yang bermakna. Dan setelah diuji dengan analisis seleksi variabel interaksi, maka didapat faktor persepsi tentang kualitas obat yang paling dominan. Ini berarti responden yang menyatakan kualitas obat tidak baik berpeluang tidak patuh minum obat lebih besar dibanding responden yang menyatakan kualitas obat baik setelah dikontrol variabel pengetahuan. Diskusi : Dengan demikian, kesimpulan dari studi ini adalah kepatuhan penderita malaria di Kecamatan Padangcermin Kabupaten Lampung Selatan tahun 2004 dalam minum obat anti malaria dari Puskesmas masih rendah, sebagian besar masyarakat masih mengkonsumsi obat malaria dari luar pada waktu yang sama. Oleh karena itu disarankan segera memberdayakan kader desa untuk dilatih dalam pengobatan malaria sehingga nantinya bisa dijadikan Pengawas Minum Obat (PMO) bagi warganya sekaligus membantu petugas dalam menjelaskan, memberi pemahaman dan sekaligus mengawasi agar penderita minum obat malaria sesuai dosis dan prosedur yang benar Kata kunci : Terjadi resistensi obat malaria program PCD di Kec. Padangcermin Kab. Lampung Selatan, dimana salah satu penyebabnya adalah diduga faktor Kepatuhan minum obat
Read More
T-2144
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Suparman; Pembimbing: Pandu Riono, Besral; Penguji: Tris Eryando, Artha Budi Susila Duarsa
Abstrak: Latar Belakang: Di Kabupaten Lampung Selatan selama lima tahun berturut turut yaitu dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 telah terjadi peningkatan kasus campak. Upaya penanggulangan untuk menurunkan kasus campak belum berhasil. Tujuan: Penelitian ini akan mengembangkan Sistem Informasi Surveilans Campak di Kabupaten Lampung Selatan yang dirancang secara otomasi sehingga dapat memberikan kemudahan pengoperasionalannya bagi pengelola sistem dan menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh para pengambil keputusan. Rancangan Penelitian: Pengembangan sistem ini disusun dengan menggunakan metode System Development Life Cycle (SDLC) yang terdiri dari tahap perencanaan, analisis, perancangan dan implementasi. Bahan dan Cara Kerja: Pengumpulan data dan informasi melalui observasi atau pengamatan langsung di lapangan, dan wawancara mendalam. Hasil: Dari pengembangan sistem ini telah berhasil disusun; form input yang dirancang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pemasukan data; Basis data yang telah dinormalisasi, dan dibuat relasi antar tabel sehingga dokumen menjadi terstruktur dan terorganisir dengan baik. Kesimpulan: Sistem Informasi Surveilans Campak di Kabupaten Lampung Selatan yang telah dikembangkan dapat segera diimplementasikan. Dalam pengaplikasian sistem yang baru ini perlu ada komitmen yang kuat dari penentu kebijakan dan stake holders serta motivasi dan kerjasama yang baik dari pelaksana sistem ini. Kata Kunci: Sistem Informasi Surveilans Campak, analisis sistem, rancangan sistem, dan siklus hidup pengembangan sistem.
Background: In Lampung Selatan during following five years, from 2000 to 2004, measles cases have been increased. The eradication efforts to decrease measles cases haven’t succeded yet. Objektive: The general purpose of this research is to develope computerized measles surveilance information system in Kabupaten Lampung Selatan that could give the amenity of function to system operator and yield needed information for decission maker. Design research: The method for this research using system development life cycle approach that consist of planning, analysis, design and implementation stages. Mareian and methods: Data and information needed were collecting by observation and depth interview. Result: On the design stage, input form have to be compiled that it designed by requirement, so that could improve efficacy and efficiency of inputing data. Normalization of databases and entitiy relationship technic be made to organized data be well. Conclusion: Measles Surveilance Information System in Kabupaten Lampung Selatan that have been developed can implement immediately. Implementation of this new system application need a strong commitment of stake holders and decision maker and also good motivation and cooperation of personnels. Keyword: Measles Surveilance Information System, analysis system, design system, and system development life cycle.
Read More
T-2129
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hery Djoko Subandriyo; Pembimbing: Sandi Iljanto, Yovsyah; Penguji: Pujiyanto, Ferdinand J. Laihad, Artha Budi Susila Duarsa
Abstrak: Selama lima tahun terakhir angka AMI di Puskesmas Hanura Kabupaten Lampung Selatan cenderung meningkat. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan kenaikan kasus ini adalah adanya resistensi obat. Resistensi obat malaria di Lampung pertama kali dilaporkan oleh NAMRU pada tahun 2000, penelitian terakhir yang dilakukan oleh Sutanto pada tahun 2002 memperlihatkan angka resistensi klorokuin di wilayah Puskesmas Hanura mencapai 80 %. Departemen Kesehatan menganjurkan untuk dilakukan penggantian obat malaria dengan Artemisin Combination Therapy ( ACT ), tapi di Puskesmas Hanura belum pernah dilakukan analisis kelayakan penggunaan obat Artemisin Combination Therapy ( ACT ). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan Artemisin Combination Therapy ( ACT ) sebagai obat malaria pengganti Klorokuin di Puskesmas Hanura Lampung Selatan tahun 2005. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Efikasi obat berupa kecepatan menghilangkan parasit, kecepatan menghilangkan gejala klinis; Penerimaan Masyarakat berupa efek samping dan sikap terhadap obat serta perbedaan efektifitas biaya. Dari hasil penelitian terhadap 56 penderita malaria yang menggunakan obat klorokuin dan 53 yang menggunakan obat ACT, diketahui bahwa dari lima variabel yang ada dan diduga berhubungan dengan efek pengobatan ( variabel jenis obat malaria, kepadatan parasit, berat badan, umur, jenis kelamin ) setelah diuji dengan analisis regresi sederhana dengan variabel dependen yaitu Efek pengobatan, ternyata yang mempunyai batas nilai signifikan ( p-value < 0,25 ) didapat 4 variabel ( jenis obat malaria, kepadatan parasit, berat badan, umur ). Dari 4 variabel tersebut kemudian diseleksi ( full model ) dengan uji signifikansi p-wald untuk melihat seberapa penting variabel itu masuk model ( dengan cara mengeluarkan satu persatu variabel yang mempunyai p-wald paling besar ). Dari seleksi tersebut tinggal satu variabel yang bertahan ( Jenis obat malaria ) dan mempunyai p-wald signifikan ( < 0,05 ). Skor penilaian kelayakan obat malaria didapat ACT mempunyai skor 9,67 dan klorokuin mempunyai skor 5,62. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Artemisin Combination Therapy ( ACT ) layak digunakan sebagai obat malaria pengganti Klorokuin di Puskesmas Hanura Lampung Selatan Melihat efikasi obat anti malaria terutama Klorokuin di Puskesmas Hanura 19,65 % perlu segera dilakukan kebijakan penggantian obat malaria yang efikasinya lebih baik (ACT). Pengobatan dengan menggunakan regimen obat anti malaria yang efektif (ACT) harus segera diperkenalkan dan dilaksanakan. Pemerintah daerah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran daerah untuk pengadaan obat ACT.
In the last five years AMI (Anual Malaria Inciden) rate in Puskesmas Hanura Kabupaten Lampung Selatan trend increased.. One factors that are predicted relation to increase this case is drug resistance. The first findung of Malaria drug resistance in Lampung reported by NAMRU at 2000, the last research by Sutanto at 2002 showed that resistance rate of kloroquin at Puskesmas Hanura Area is 80 %. Health Departemen of Republic Indonesia suggest that is done to change malaria drug with Artemisin Combination Therapy ( ACT ), but at Puskesmas Hanura never be done to analysis the fesibility of Artemisin Combination Therapy ( ACT ) as malaria drug. The objective of this studi to know the feasibility of Artemisin Combination Therapy ( ACT ) as a changed of malaria drug from Kloroquin at Puskesmas Hanura Lampung Selatan tahun 2005. The Variabel are used in this study are Drug Eficacy consist of the speed to lose parasite, the speed to lose malaria syndrome; The Community Acceptance are side efect and respon to the drug and the different of cost efective. The result of this study to 56 patient of malaria that use kloroquin and 53 use ACT, known that 5 varible are drug efect ( malaria drug kinds, the density of parasite , body weight, age, sex ) after tested by simple regeration analysis with dependent variable are treatment side efect pengobatan, have p-value < 0,25 are 4 variable ( malaria drug kinds, parasite density, body weight, age). For those variable (4 variable) are selected ( full model ) by uji signifikansi p-wald to know how important those variable to became in model ( the way by to get out one by one the varible that have p-wald very big ). From this selection just one varible that have p-wald signifikan ( < 0,05 ) is malaria drug kinds. The value skore of malaria drug feasibility that ACT 9,67 and kloroquin have score 5,62. The result of this studi that Artemisin Combination Therapy ( ACT ) feasible to use as a changed of Kloroquin of malaria drug at Puskesmas Hanura Lampung Selatan The eficacy of malaria drug, Klorokuin at Puskesmas Hanura just 19,65 %, so need the policy to change the malaria drug that the eficacy more better (ACT). The treatment by malaria drug more efective (ACT) soonly to promote dan be done. The local goverment have to alocate the budget to the ACT drug.
Read More
T-2173
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Al Asyary Upe; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Purwantyastuti, Tris Eryando; Penguji: Sudijanto Kamso, Bambang Supriyatno, Sandi Iljanto, Artha Budi Susila Duarsa, Yodi Mahendradharta
D-316
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fatimah; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Purwantyastuti, Erlina Burhan; Penguji: Purnawan Junadi, Bachti Alisjahbana, Soewarta Kosen, Artha Budi Susila Duarsa, Besral
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Disertasi ini membahas tentang determinan infeksi tuberkulosis laten pada wargabinaan pemasyarakatan di Rutan klas 1 Bandung. Penelitian ini menggunakandesain cross sectional dan dianalisis dengan regresi logistik berganda. Hasilpenelitian ini menunjukan prevalensi infeksi TB laten sebesar 76,9 dan TB aktif2,3 . Risiko tinggi dan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadianinfeksi TB laten yaitu kebiasan merokok sering sebesar 12,99 kali dan kebiasanmerokok kadang-kadang sebesar 9,34 kali. Determinan lainnya yang berisikomengalami infeksi TB laten yaitu riwayat kontak TB diluar rutan sebesar 3,02kali, status gizi kurang dari normal sebesar 2,64 kali dan status gizi lebih darinormal sebesar 0,21 kali, penahanan lebih dari 1 kali sebesar 0,44 kali, usia lebihdari 26-34 tahun sebesar 0,23 kali, usia 34-42 tahun sebesar 0,41 kali dan usialebih dari 42 tahun sebesar 0,63 kali. TB laten sangat tinggi sehingga diperlukanskrining TB laten agar dapat memutus mata rantai TB. Determinan utama TBlaten adalah merokok sehingga perlu pembatasan penjualan rokok dan membuatregulasi hingga kebiasaan merokok warga binaan pemasyarakatan berhenti. Selainitu, juga perlu meningkatkan status gizi sesuai dengan angka kecukupan gizi.
 

 
ABSTRACT
 
 
This dissertation discusses the determinant latent tuberculosis infection ofprisoners in state prison class 1 Bandung. This study used cross sectional designand analyzed by multiple logistic regression. The results of this study show theprevalence of latent TB infection is 76.9 and active TB is 2.3 . The highest riskand the most dominant factors associated with the incidence of latent TB infectionwho have smoking habits frequently are 12.99 times and intermitent smokinghabits are 9.34 times. Other determinants who have risk of latent TB infectioninclude a history of TB contact outside the prison is 3.02 times, less nutritionalstatus from normally is 2.64 and nutritional status more than normally is 0.21times, incarceration more than once is 0,44 times, age range of 26 34 years old is0.23 times, the age 34 42 years is 0.41 times and the age more than 42 years is0.63 times. The occurence of latent TB is very high that latent TB screening isnecessary to be able to cut the transmission of TB. The main determinant of latentTB is smoking so it is necessary to restrict the sale of cigarettes and make aregulation to stop smoking habits of prisoners. In the other hand, it also needs toimprove nutritional status in accordance with the nutritional adequacy rate.
Read More
D-371
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Artha Prabawa; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Purwantyatuti; Soewarta Kosen; Penguji: Purnawan Junadi, Ratna Djuwita, Besral, Artha Budi Susila Duarsa, Bachti Alisjahbana
D-372
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triseu Setianingsih; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Adang Bachtiar, Penguji: Sudijanto Kamso, Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Soewarta Kosen, Artha Budi Susila Duarsa, Aria Kusuma
Abstrak: Di Indonesia Angka kematian neonatus masih belum mengalami penurunan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2012 yaitu 19/1000 KH (SDKI,2012).Sebagian besar kematian neonatal yang terjadi setelah 6-48 jam pasca kelahiran dapat dicegah dengan perawatan bayi baru lahir yang tepat dan dimulai segera setelah melahirkan melalui Kunjungan neonatal pertama (KN1) yang adekuat dan sesuai standar (WHO,2012). Namun kualitas pelayanan KN1 masih belum sesuai dengan target yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara multivel faktor-faktor yang mempengaruhi Kunjungan neonatal pertama dari berbagai level.
 
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan didukung oleh penelitian kualitatif. Sampel yang digunakan untuk masing-masing level adalah 1014 ibu bayi untuk level 1, 95 orang pengelola desa untuk level desa, 51 pengelola Program kesehatan anak Puskesmas untuk level 3 dan 13 pengelola Program kesehatan anak kabupaten untuk level 4 yang ada di 8 Propinsi di Indonesia. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat, multivariat dengan Regresi Logistik dan permodelan Multilevel dengan menggunakan analysis multilevel regression logistic random intercept model dengan menggunakan Program Stata 14.0. Metode triangulasi digunakan dalam studi kualitatif untuk menjaga validitas data.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian KN1 askes sebesar 47.5% lebih tinggi dibanding KN1 berkualitas yaitu 29.3 %. Hasil pemodelan multilevel menunjukkan bahwa variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap KN1 Akses dan kualitas adalah Penolong persalinan dengan PValue.0.000 dan OR=3.359 untuk KN1 akses dan PValue 0.04 dan OR = 3.035 untuk KN1 kualitas. Pada permodelan akhir, secara bersama-sama kontribusi semua level pada KN1 akses sebesar 57.27 % sedangkan untuk KN1 kualitas sebesar 87.76%. Berdasarkan penerapan manajemen mutu total sebagian besar 52.6 % Puskesmas berada pada fase 2 dan Level 2 yaitu masih berorientase ke Proses belum mengarah ke penerapan Total manajemen mutu (TQM). Penelitian ini menunjukkan kesesuaian pola hubungan antara enabler dan result sesuai pola dalam EFQM model.
 
Disarankan kepada Dinas Kesehatan kabupaten dan Kementerian Kesehatan, untuk mengupayakan dan menjamin keberadaan dan pendistribusian bidan di setiap desa dan mengoptimalkan perencanaan tenaga kesehatan (bidan) sesuai PMK N0.33 Tahun 2015. Disarankan kepada Puskesmas untuk mengupayakan kontak antara petugas kesehatan dengan ibu bayi sebelum kelahiran bayi untuk meningkatkan akses pada periode berikutnya yaitu KN1. Perlu adanya kerjasama dan kemitraan yang baik antara puskesmas dengan pengelola desa untuk menguatkan keberdayaan desa dalam bidang kesehatan sehingga pada level individu ibu menjadi lebih berdaya dan memiliki peluang yang besar untuk membawa anaknya dalam pelaksanaan KN1 , selain itu untuk meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas perlu adanya supervisi dan penerapan SMM (Sistem Manajemen Mutu) Puskesmas misalnya melalui penerapan ISO untuk menjamin Pelayanan Prima dan pengelolaan Puskesmas yang berkualitas.
 

 
Neonatal mortality rate in Indonesia is still experiencing a decrease from 2007 up to 2012, namely 19/1000 KH (IDHS, 2012) .Most of neonatal deaths that occur after 6-48 hours after birth can be prevented with newborn care is appropriate and started soon after birth through the first neonatal visit (KN1) adequate and appropriate standards (wHO, 2012). However KN1 service quality still does not meet the expected target.
 
This study aims to analyze multivel factors affecting neonatal visit was the first of a variety of levels. This research is a quantitative research was supported by qualitative research. The sample used for each level is 1014 mothers of infants to level 1, 95 managers of the village to the village level, 51 managers of health programs Child Health Center for level 3 and 13 managers Program child health districts to level 4 in 8 Provinces in Indonesia , The data analysis was done through univariate, bivariate, and multivariate logistic regression modeling Multilevel analysis using multilevel logistic regression models with random intercept using the program Stata 14.0. Triangulation method used in a qualitative study to maintain the validity of the data.
 
The results showed that the achievement KN1 askes by 47.5% higher than the quality KN1 ie 29.3%. Multilevel modeling results indicate that the variables that most influence on KN1 Access and quality are labor Helper with PValue.0.000 and OR = 3.359 for KN1 access and pvalue 0:04 and OR = 3,035 for KN1 quality. At the end of the modeling, jointly contribute to the KN1 access all levels of 57.27% while for KN1 quality of 87.76%. Based on the application of total quality management largely PHC 52.6% are in Phase 2 and Level 2 is still berorientase to process not yet led to the implementation of total quality management (TQM). This study demonstrated the suitability of the pattern of relationships between enablers and the result according to the pattern in the model EFQM.
 
Suggested to the District Health Office and the Ministry of Health, to seek and ensure the presence and distribution of midwives in every village and optimize the planning of health professionals (midwives) in accordance PMK N0.33 Year 2015. It is suggested to contact the health center to seek health care workers with the baby's mother before birth baby to improve access in the next period that is KN1. The need for cooperation and partnership between local health centers with managers of the village to strengthen the empowerment of villagers in the health sector so that at the level of individual mothers become more empowered and have a great opportunity to bring his son in the implementation KN1, in addition to improving the quality of management of PHC need for supervision and implementation of QMS (quality Management System) health centers for example through the implementation of ISO to guarantee the quality Service and quality management of the health center.
Read More
D-347
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive